Rabu, 21 Juni 2017

RUMAH KONTRAKAN


Barusan mendapat kabar dari adik yang mengurusin rumah kotrakanku. Katanya penghuni rumah nomor satu pindah tadi sehabis magrib, tepatnya kabur. Kunci rumah dibawa dan rumah ditinggalkan tanpa dikunci. Kabar itu didapat dari penghuni kontran nomor dua melalui WA. Dia belum bayar uang kontrakan bulan lalu pula. Padahal dia sudah menghuni rumah kotrakanku selama enam tahun dan aku harus panjang sabar menghadapinya. Orangnya nggak punya sopan santun dan kalau bayar kontrakan sesuka dia waktunya. 

Hasil gambar untuk gambar rumah kontrakan
                                                 kira-kira seperti ini desing kontrakanku

Padahal kontrakan ini aku bangun untuk menyambung  hidup, karena dari situlah biaya rumah tanggaku setelah pensiun. Maklum nggak punya pensiun bulanan, tapi ternyata mengelola kontrakan kecil seperti itu sebagiannya adalah membantu orang. Karena penghuninya kebanyakkan keluarga sederhana, tapi memang hanya satu dua orang yang berlaku seperti itu. Dan kalau menurut aku itu adalah karakter yang memang udah dibawa dari sononye. Menyebalkan, apalagi kalau waktunya bayar. Ternyata galakan dia...hehehe
Padahal sudah beberapa kali aku bebaskan dari kewajibannya membayar. Bermacam alasannya, yang suami di PHK, belum terima gaji dalan seribu macam alasan. Yo wis sing waras ngalah, tapi menurut adikku. Aku terlalu baik, jadi dia berbuat seenaknya.

Jadi saudara-saudara menyandarkan hidup dari kontrakan kecil itu, nggak bisa menjadi lancarnya pembayaran setiap bulannya. Belum lagi mereka tidak merawat rumah tersebut seperti rumahnya. Jadi setiap ganti penghuni, ada saja yang harus diperbaiki. bahkan ada yang membawa serta pompa air dan bak mandi yang dari ember besar. Semoga aja para penghuni disadarkan Allah yak

Atau benar kata adikku, aku terlalu baik. Bahkan saat akan dianikan biaya sewanya, aku selalu menanyakan kepada para pengontrak. Apakah setuju dinaikan sebesar sekian? Aku kan kasian juga kalau mereka keberatan karena keterbatasan dana. Ya itulah seperti aku bilang, mengontrakkan rumah lebih banyak sisi sosialnya. Tapi siapa yang mikirin aku ya, kalau dapurku nggak ngebul karena nggak pada bayar sewanya.

#Edisikeselsamakontrakan no1#

Selasa, 20 Juni 2017

KLOTER 43 (1) UMROH


Setiap muslim tentu  ingin berkunjung ke Mekah untuk memenuhi rukun islam ke lima, yaitu berhaji. Minimal dapat  umroh, sementara rejeki biar Allah yang mengaturnya. Hanya kita tidak dapat memungkiri, bahwa ketentuan & kehendak Allah itu pasti. Saya yakin setiap umat muslim, pasti ingin dapat ke tanah suci, baik berhaji maupun umroh. Namun kita ketahui untuk  mendapatkan undangan dari Allah agar dapat sampai disana itu yang sulit. Kok begitu? Ya iyalah kalau pemilik rumah nggak memberikan undangan gimana mau sampai disana. Ga percaya?

Yuuk mari kita bahas. Banyak orang yang memiliki rejeki berlebih dan untuk sampai ke Mekah, tentu bukan sesuatu yang sulit. Dana yang tersedia sudah tersedia, tapi kalau Allah belum mengundangnya atau menggerakan hatinya untuk berniat. Yaaa.. ngga akan bisa tentunya.  Coba perhatikan, begitu banyak orang yang memiliki uang banyak & mobil berderet di garasi dan  belum berhaji, bahkan umrohpun belum. Aku percaya hal itu, karena Allah belum menggerakan hatinya untuk ke sana dan pastinya belum bersiap mengirimi orang tersebut undangan berhaji.  Sementara seorang tukang beca, dan tukang urut selama 30 tahun menabung agar bisa menginjakan kakinya di rumah Allah serta memenuhi panggilannya. Iya nggak sih?

Aku mengalami sendiri tetiba ingin berumroh dan hanya dalam waktu seminggu, mendaftar & persiapan lalu bisa berangkat. Semua begitu mudah, seorang teman mengajukan diri untuk membantu mengurus tiket & vaksin. Teman lain memberikan bekal  obat-obatan dan yang mengurusi ke travel bironya. Subhanallah...dimudahkan.

Mina pada th 1995, tempat melempar jumroh
                                                        
Pada saat itu, aku  sendiri sedikitpun belum  terlintas untuk bisa berhaji bareng suami. Aku sedih berangkat umroh sendiri, karena suami belum mau ikut. Jadi berangkatlah aku sendiri dan ternyata aku sangat beruntung karena tidak harus membayar tiket pesawat. Gratis dapat dari perusahaan, bahkan aku dapat tambahan 100 real dari travelnya karena jadi kepala rombongan.

Subhanallah....begitu beruntungnya  aku, pada  saat itu  masih bisa melihat makam Nabi Muhammad SAW yang masih terbuka. Jadi hanya tanah yang nisannya hanya sebuah batu, dipagar setengah tembok dan atasnya ditutup dengan papan, tapi jamaah dapat melihat ke dalam dengan jelas. Bergeser ke kanan dari makam Nabi, terdapat mimbar nabi & alhamdulillah aku dapat sholat persis di tengah antara makam &  mimbar Nabi Allah. Jamaah  umroh masih  belum sepadat sekarang dan waktu pelaksanaan juga cukup lama, yaitu dua belas hari pul di sana.

Aku bahagia dapat melihat langsung sumber sumur air zam zam yang terletak tidak jauh dari Ka'bah dan berwudhu di sana. Kapan saja kita bisa bolak-balik ke masjidil haram, karena hotel tempatku menginap terletak tidak lebih dari 10 langkah saja. Makananpun selalu tersedia di hotel, dengan menu indonesia. Aku bisa berpuas-puas menyiram air zam-zam dari ujung kepala sampai kaki. Jadi di sumur tersebut, ada seperti wastafel dengan gelas kaleng yang diikat rantai. Di depan pintu sebelum kita masuk ke sumur, ada ubin yang lebih rendah dan dialiri air yang berfungsi untuk kita cuci kaki.

Saat  di Madinah hotelnya lebih dekat lagi dengan Masjid Nabawi, keluar hotel sudah ada di halaman masjid aja. Pertama sampai di Madinah, kita disambut hujan deras. Halaman Masjid Nabawi tergenang air, namun dalam sekejap air tersebut hilang tanpa bekas, sementara penduduknya keluar semua untuk menampung air hujan dan beramai-ramai mandi hujan.

Di tahun itu menyiapkan perlengkapan umroh  tidak semudah sekarang. Dulu mencari baju muslim sangat sulit karena masihh belum marak seperti saat ini. Aku  khusus menjahit pakaian muslim berwarna putih dan dengan model   celana panjang longgar dan baju muslim panjang 3 stel. Namun disana aku lebih nyaman menggunakan baju muslim, model celana panjang, baju dan mukena panjang yang menutupi bokong. Kita harus hati-hati dalam berpakaian selama di sana, kalau tidak mau  di tegur askar  yang mengatakan "haram...haram Siti Rahma" kalau pakaian atas kita tidak menutupi bokong. Juga harus ekstra hati-hati kalau nggak mau dibawa kabur supir taksi.

Jam besar di Mekah, dulu belum ada dan disekitar  halaman Masjidil Haram & Masjid Nabawi, penuh dengan pedagang mulai dari pernak-pernik sholat sampai karpet & perhiasan emas. Jika waktunya sholat, dagangan mereka tinggal tanpa di tutup apapun, kecuali toko emas, etalasenya ditutup dengan kain.   Saat itu 1 US dollar masih Rp. 300 aja.

Di Jabal Rachma
                                                               
Kalau di masjid Nabawi, saat kita   berwudhu yang terletak   di sisi kanan, andai kita menghadap kiblad. Kita berwudhu bisa  memandang ke pemakaman. Pintu masuk ke dalam masjid juga hanya satu, yaitu dari makam Nabi yang ada kubah warna hijau. Saat  aku berhaji, semua sudah berubah total. Menu makan dengan ikan atau daging onta yang masih alot, sementara sayur asam yang isinya terong medan (terong sebesar jari dan berwarna hijau). Kita makan di hotel dengan prasmanan dan tersedia susu bubuk merk klim yang gurihnya selangit. Karena belom ada yang jualan seperti sekarang, kalaupun ada yang daging kebab dan martabak telor yang keras karena terigu doang tanpa ada telurnya.
Di Jabal Rachma & nampak dikejauhan Arofah tempat wukuf saat musim haji
                                        
Sementara air zam-zam belum tersedia   di Masjid Nabawi, seperti sekarang yang disediakan dalam   tong-tong dari alumunium dan gelas plastik. Tanah arab masih gersang, belum sehijau sekarang. Betapa terkejutnya aku ketika kembali ke sana semua sudah berubah 180 derajat dan sangat modern. Namun sayangnya aku tidak dapat lagi melihat makan Nabi, karena sekarang hanya terlihat bangunan yang ditutup dengan dinding serba hijau. Sholat jauh dari mimbar Nabi, karena dibatasi partisi yang paten dan hanya ditandai dengan karpet warna hijau, itulah raodah. Kita juga belum menemukan payung raksasa yang super keren.

Keluar dari pintu hotel kita sudah berada di halaman Masjidil Harom. subhanallah, beruntungnya Allah telah mengundangku di saat semua masih bisa disaksikan masih apa adanya. semoga aku bisa kembali kesana membawa anak-anak ku umroh.
                                                       halaman masjid Qiblatain




Minggu, 04 Juni 2017

RISOLES AYAM KULIT TAHU


Memasak itu butuh kreativitas biar ga monoton & menggugah selera anak. Bisa juga buat menekan biaya dan menghemat waktu. Modalnya hanya niat & kemauan, karena tanpa dua faktor tersebut ga akan jadi Mak.  Satu macam isi tapi bisa berbagai macam rupa, yang pasti menyehatkan dan terjamin kebersihannya.

Aku sendiri bingung memberi nama adonanya, tapi bisa digunakan untuk somay, ekado, risoles ayam, nuget ayam dan cabe isi ayam. Yuuuk kita mulai dengan bahan2 utama :

Bahan isi:
1/2kg ayam fillet, cincang
2 batang daun bawang iris halus
2 bh wortel iris dadu kecil
1 bh tahu cina besar haluskan
3 siung bawang putih cincang
2 lembar kulit tahu (potong menjadi 48 lbr)
4 bh sosis ( 1 bh potong jadi 8) bisa diganti keju
1 btr telur
Garam, gula, lada

Cara membuat:
-Campur ayam cincang, tahu, telur,  garam, gula & lada, aduk rata. lalu masukan  wortel & daun bawang.
-Ambil 1 lembar kulit tahu, letakan 1 sendok makan munjung adonan, beri sosis di tengahnya & bungkus seperti risol. Lakukan sampai bahan adonan habis (bisa jadi 40-50 bh).
-Lalu kukus selama 15 mnt, angkat & goreng untuk dihidangkan.

Cara lain:
Ambil daun pisang, lalu letakan adonan secukupnya & letakan sosis ditengahnya  & gulung seperti lontong lau semat dengan tusuk gigi dikedua ujungnya. Lalukan sampai adonan habis (bisa 4 bungkus)
Kukus selama 15 mnt, angkat. Potong2 tipis & goreng jika ingin dihidangkan.






anda juga bisa mencobanya dengan memasukan ke dalam cabai besar seperti ini, setelah itu tinggal digoreng.




Selamat mencoba



Rabu, 10 Mei 2017

LUNASI HUTANG SEBELUM DIPANGGIL YANG KUASA





Dalam kehidupan sehari-hari manusia  tidak lepas dari hutang piutang, karena  pasti ada yang membutuhkan untuk suatu keperluan. Bahkan  ada yang   mengatakan  “hidup tanpa hutang itu  nggak dinamis dan diam di tempat.   Hal ini  terjadi karena kita butuh membeli sesuatu, tapi tidak punya uang tunai yang cukup. Beli dengan cari kredit memang memudahkan, maka menjamurlah pembelian dengan cara non tunai.

Saya mengetahui bayar dengan cara mencicil, pada waktu kecil biasanya ibu bisa membeli peralatan rumah tangga, ada panci, dandang, sendok dan lainnya dengan cara dicicil. Kegiatan ini diberikan oleh tukang kredit yang rata-rata berasal dari daerah Tasik, ada yang bayar setiap hari, 2 hari sekali, seminggu sekali sampai satu bulan sekali. Hebatnya saya belum pernah mendengar ada yang kabur dan tidak mau melunasi.

Bermacam alasan orang berhutang untuk suatu keperluan, tapi  alangkah bijaknya jika dalam kebutuhan mendesak atau  hal yang tidak dapat dijangkau kalau harus  membayar tunai. Misalnya membeli rumah atau kendaraan  yang mungkin  tidak terbeli tanpa berhutang.  Sebaiknya  hindari berhutang   untuk urusan konsumtif, apalagi buat kebutuhan sehari-hari  harus  dipikirkan  masak-masak.  

Saya pertama kali berani ngutang saat mau beli rumah, tapi apa daya dana yang cukup. Sementara saat itu sedang marak penjualan rumah dengan cara di kredit, Alhamdulillah uang muka terkumpul dan rumahmu ditangan.

Berhutang itu sah-sah saja, apalagi setiap orang   mempunyai kebutuhan masing-masing dengan kondisi yang berbeda.  Di sekitar  kita  ada orang  terpaksa berhutang karena tuntutan perut, tapi ada juga yang  berhutang karena kebutuhan mendesak dan  paling bahaya adalah berhutang karena tuntutan gaya hidup. Namun yang manapun alasan untuk berhutang, silakan   saja asal jangan lupa  untuk melunasinya. Ada baiknya berpikir masak-masak sebelum  berhutang  dan kalau pun itu jalan yang harus ditempuh, lakukan  sesuai kemampuan  agar tidak terbelit dibelakang hari.  

Dalam ajaran Islam berhutang   diperbolehkan, tapi diharuskan untuk memenuhi  ketentuan yang  disepakati.  Karena seseorang yang  berhutang, maka  sering berkata  berdusta  dan  memungkiri  bila berjanji.  Rasulullah pernah menolak menshalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya. 

Kalau berhutang   hendaknya  berusaha  untuk melunasi secepatnya, sebab bagi yang menunda-menunda membayar  hutang padahal  telah mampu, maka tergolong orang yang berbuat zhalim. Barang Siapa   yang berhutang  dan  berniat nggak  mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri  (HR. Ibnu Majah no. 2410). 

Islam dengan tegas mengatur tentang hutang piutang, antara lain: Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan menanggung hutang,  maka dibayarilah dengan diambilkan  dari kebaikannya di hari akhir (HR. Ibnu Majah II/807 no: 2414) dan  orang yang  berniat nggak  mau melunasi hutangnya, maka  akan dihukum sebagai pencuri.

Pernah nggak sih melihat orang yang ditagih hutang itu marah-marah, malah  galakan yang punya hutang. Padahal  seseorang yang menagih hutang,  dia sedang berusaha menolong kita agar terhindar dari azab nanti.  Untuk Anda  yang saat ini sedang berhutang, ada baiknya  menyimak sembilan adab berhutang sesuai ajaran Al-Qur’an dan Hadist  sebagai berikut  :

1.     Jangan lupa untuk mencatat hutang  Anda, untuk  menghidari terjadinya selisih paham nantinya.  Karena hutang tetap  hutang dan harus dibayar, tidak ada hutang yang lunas dengan sendirinya.  Sebagaimana  tertuang   dalam AL-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian melakukan hutang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya..” (Q.S Al Baqarah 282)
.
2.       Berniat tidak melunasi hutang  sama dengan PENCURI!  Yang di tuangkan “Siapa saja yang berhutang, dan  berniat tidak melunasi hutangnya, maka ia akan bertemu Allah sebagai seorang pencuri...” (HR Ibnu Majah). 
.
3.       Jangan pernah menunda untuk membayar hutang,  karena menunda membayarnya  sama saja dengan orang yang zholim (HR Bukhari dan Muslim).

4.       Jangan pernah menunggu ditagih dulu baru membayar hutang, karena  sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam pembayaran hutang  (HR Bukhari dan Abu Daud). 
 
5.       Jangan pernah mempersulit dan banyak alasan dalam pembayaran hutang Allah   akan memasukkan ke dalam surga orang yang mudah ketika membeli, menjual, dan melunasi hutang..” (HR Ahmad, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah).

6.       Jangan pernah meremehkan hutang walaupun sedikit, karena Ruh seorang mukmin itu tergantung kepada hutangnya sampai   hutang  dilunasi  (HR Ahmad, at-Tirmidzi, ad-Darimi, dan Ibnu Majah).

7.       Jangan pernah berbohong kepada pihak yang menghutangi, sesungguhnya  orang berhutang dia dusta  bila berbicara dan mengingkari  bila (HR Bukhari dan Muslim).

8.        Jangan pernah berjanji jika tidak mampu memenuhinya, karena   bila ingkar anda telah menjadikan diri anda sendiri  sebagai orang yang munafik.

9.       Bila Anda   tidak membalas   kebaikan orang yang telah memberikan hutang kepada Anda,   maka berdoalah untuknya  sebagai  balasan atas  kebaikannya (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Seringkali berhutang itu  dianggap remeh, bayarlah sebelum  Allah mengambil nyawamu. 



  #ALUMNI_SEKOLAHPEREMPUAN dan #sekolahperempuan

Minggu, 09 April 2017

#Memesonaitu Ikhlas Berkorban





Mempesona merupakan kata yang banyak mempunyai makna, tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Namun bukan melulu  secara fisik dengan wajah cantik dan penampilan menawan,  perbuatan pun dapat membuat seseorang jadi mempesona.

Mempesona dilihat dari sudut pandang fisik, biasanya tidak bertahan lama. Karena saat berubah maka rasa kagumnya pun sirna, karena penampilan fisik itu secara pasti akan berkurang seiring berlalunya  waktu. Dan setiap orang mempunyai kriteria sendiri apa yang membuatnya terpesona. Untuk saya pribadi mempesona lebih dari perbuatan yang dilakukan seseorang untuk kepentingan orang lain, dan itu membuat orang lain terinspirasi dan termotivasi.  

Jangan Egois
Berbuat sesuatu untuk kepentingan orang lain dengan mengorbankan kepentinganya sendiri merupakan perbuatan yang luar biasa, apalagi yang dilakukan untuk kepentingan orang lain.  Sebagai seorang anak dari dua belas bersaudara yang dilahirkan dari orangtua yang berprinsip, bahwa banyak anak banyak rejeki, mencoba menyelamatkan pendidikan adik-adiknya dengan mengorbankan masa depannya sendiri.

Mimpinya untuk berkuliah terpaksa harus dikuburnya dalam-dalam demi untuk memenuhi  permintaan sang ibunda, yang memohon kesediaanya berbagi dengan adik-adiknya yang masih membutuhkan biaya pendidikan. Padahal kuliah itu sudah di depan mata yang didapat dengan mudah, karena apresiasi dari hasil prestasinya. Awalnya tidak rela dan menangisi keadaan ini, namun melihat wajah adik-adik serta permohonan bundanya dengan terpaksa dilakukannya. Aku tidak boleh egois hanya memikirkan diri sendiri, sementara adik-adiknya harus putus sekolah. Memang tidak mudah  untuk menaklukan rasa egois ini, tapi bukan tidak bisa.


Rela Berkorban
Jodoh, umur dan rejeki adalah rahasia Ilahi, begitu juga dengan perjalanan hidup seseorang merupakan sebuah misteri. Kita hanya dapat  berencana, tapi  keputusan akhir tetap ditangan Yang Kuasa. Aku terombang-ambing dalam ketidakpastian akan masa depan yang masih abu-abu selepas sekolah menengah atas, tanpa punya rencana masa depan diusia begitu belia. 

Masa yang seharusnya aku lalui dengan belajar dibangku kuliah, pupus sudah dan harus segera move on secepatnya untuk memutar haluan  ke tujuan lain. Mungkin memang jalan ini yang harus ku lalui dan telah Allah gariskan untukku. Tanpa pernah terlintas dibenakku, apalagi bercita-cita menjadi seorang pramugari tapi justruk itu haluan yang ditujukan untuk ku.

Tanpa sengaja aku melewati kerumunan orang di sebuah halaman kantor dan ternyata itulah awal karierku. Aku mencoba peruntunganku dengan ikut mendaftar dan itu benar-benar diluar perkiraan. Aku hanya berdoa, semoga ini jalan yang Allah berikan untuk ku dalam memenuhi keinginan ibundaku. Setelah melalui seleksi yang ketat akhirnya aku lolos untuk dapat mengikuti pendidikan calon pramugari dan alhamdulilah semua berjalan mulus. Kurang lebih setahun sampai akhirnya aku dapat bekerja dikabin pesawat udara sebagai seorang pramugari udara. Pengorbananku berbuah manis dan dapat ikut membantu membiayai sekolah adik-adik. Aku yakin semua ini pasti berkat doa ibundaku.



Tetap mengejar mimpi
Kesibukanku bekerja ternyata tidak pernah bisa menghapus keinginanku untuk kuliah, disela-sela kesibukan itu aku berhasil masuk di perguruan tinggi negeri khusus karyawan yang dapat aku selesaikan tepat waktu. Aku senang melihat adik-adikku dapat bersekolah dan bahagia dapat membantu ibunda, lebih bahagia lagi saat aku dapat mengejar mimpiku yang pernah pupus. Ibundaku menangis bahagia saat menghadiri wisuda sarjanaku. Itulah arti memesona bagiku yang kini menjadi inspirasi dan motivasi bagi orang lain.

Rabu, 22 Maret 2017

SIAPKAN MASA DEPAN ANAK DAN DIRI SENDIRI




Mengurus  dan mendidik anak adalah kewajiban setiap orang tua, terutama ibu. Di belahan dunia mana pun tidak ada ibu  yang ingin mencelakakan anaknya, bahkan apapun yang diusahakannya   hanya untuk anak-anaknya. Senyuman anak adalah kebahagiaan orang tua, itu selalu dilakukannya. Sejak   anak masih kecil sampai dewasa, bahkan setelah anak-anak berumah tangga  seorang  ibu  akan   tetap melakukan yang terbaik. 

Apapun yang dimiliki orang tua dipersiapkan hanya  untuk anak-anaknya, rumah dan harta orang tua  adalah rumah dan harta anak.  Kebahagiaan anak adalah juga kebahagiaan ibu, sedihnya anak adalah kehancuran hati orang tua.  Bahkan orang tua rela menyerahkan nyawanya untuk anak-anaknya.  Tujuan orang tua adalah membahagiakan anak, agar kehidupan buah hatinya menjadi lebih baik dari dirinya.

Namun yang perlu diingat, dalam menyiapkan masa depan anak, jangan lupa pikirkan juga masa depan diri sendiri. Karena dalam perjalanan membimbing anak semua telah kita ajarkan, tetapi ada masa dimana anak akan kurang peduli kepada orang tuanya. Dia akan focus kepada diri sendiri dan pasangannya saat dewasa tiba. Bukan anak tidak berbakti, tapi itulah perjalanan masa yang dilaluinya seperti saat kita sebayanya. Pasangannya adalah yang utama dan  digugu, tapi bukan tidak mendengar saran orang tua. Itu lah masa dimana perasaan cinta yang berkuasa, seperti ibu  mencintai anaknya. Semua yang terbaik hanya untuk yang dicintai.

Kebayang nggak  sih,  pada  masa tua  kita tidak memiliki bekal yang cukup. Sementara sudah tidak punya penghasilan karena pensiun. Apakah kita akan meminta kepada anak?  Dari seribu ibu, mungkin hanya satu yang berani meminta  bantuan kepada anak untuk menopang hidupnya sehari-hari. Sementara lainnya  tidak tega mengatakannya dan berharap sang anak mengerti kebutuhannya. Aku, boro-boro berani minta, ngomong aja suara tidak keluar. Aku sangat yakin, anakku akan memberi kalau aku memintanya tapi meminta itu adalah hal yang mustahil bisa aku lakukan.  

“Kenapa sih mama nggak bilang,”  protes  si kakak kalau  tau aku perlu sesuatu tapi  nggak bilang ke dia. Sementara si Ade, selalu  rajin  bertanya. “Mama, mau aku beliin  ini atau itu”  Itu aja  kadang aku nggak bisa jawab. Alhamdulillah anak-anak paham, kalau mama nya nggak akan pernah mau bilang bila butuh sesuatu. Mereka berdua berinisiatif memberikan, tapi justru hal itu yang membuat aku meleleh.

Aku tersenyum dan leleh bahagia, saat si kakak mengatakan akan menikah dalam waktu dekat. Walau aku terkejut, karena belum punya persiapan apa-apa. Rencananya 2 tahun lagi tapi malah maju dan yang bikin aku melongo, ucapan selanjutnya. “Mama tenang aja, aku berdua udah ada tabungan untuk biaya semuanya. Bulan depan juga aku mau selamat rumah, dulu.”

“Rumahmu yang di depok? (uang asuransi beasiswanya  aku tarik saat dolar tembus 15.500 th 1998, karena ga sanggup bayar preminya sebesar  US$600. Uang itu aku belikan rumah untuknya).
“Bukan, aku berdua juga udah beli rumah. Nyicil kok Ma dan udah selesai di renovasi. Lokasinya nggak jauh  dari  sini, hanya beda kecamatan sama Mama.”   
“Subhanallah, Alhamdulillah..yaaa….Allah, nikmat mana lagi yang bisa aku dustai ucapku dalam hati.

Sebaiknya   orang tua harus menyiapkan bekal di hari tua untuk dirinya, disamping untuk anak-anak. Hal ini perlu, agar  orang tua tidak bergantung  kapada anak setelah pensiun dan tetap bisa tersenyum.  Perlu saya ingatkan kembali, bahwa rumah dan harta anak bukan milik orang tua.  Banyak terjadi orang tua yang tetap bekerja di masa tuanya. Hal itu dilakukan,  agar tidak menjadi beban anak-anaknya dan tidak  menangis mengharap bantuan anak.