Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Februari 2019

BERBAKTI KEPADA ORANGTUA





Gaes….

Sering dengarkan  kata bijak “ Orang tua dapat merawat 10 anak, tapi  10 anak tidak dapat merawat orang tuanya.”

“Orang tua kaya anak jadi raja, tapi  anak kaya  orang tua  jadi pembantu anaknya.”
“Harta orang tua adalah harta anak, tapi harta anak bukan harta orangtua.”
 “Orang tua tidak  takut menghabiskan harta untuk anak, dan anak takut miskin bila membiayai orangtua.”

Aku sih welcome aja kalau ada teman yang mau curhat, tapi  aku suka baper kalau ada teman sharing tentang orang tua. Tapi harus bagaimana lagi, kalau seorang teman yang sharing   kesedihannya, masa ditolak.

Dia bercerita kalau orang tuanya sudah lebih dari 10 tahun meninggal. Bersama saudara sekandungnya, mereka bergiliran mengeluarkan biaya untuk orang yang merawat makam orang tuanya. Namun ada saja yang menolak mengeluarkan biaya tersebut, dengan   alasan yang dicari-cari.

“Memang yang lain bisa membiayainya,  tapi hal ini kan sebaiknya dipikul bersama.  Hal itu sebagai bakti anak kepada orang tua, dengan  merawat  makamnya. Biayanya juga  ngga besar,  hanya seharga dua ekor ayam potong,”  tambahnya diujung telepon.  
  
Kenapa sih, aku harus mendengar cerita ini?


Gaes….   Aku paling ngga tahan kalau mendengar  cerita anak yang tidak mau mengurus orang tuanya. Mataku basah tanpa bisa ditahan huhuhu….

Menurut teman tersebut,  setiap anak mendapat giliran hamper setahun sekali doang! Masa sih ngga bisa,  mungkin bukan ngga bisa tapi memang tidak niat. Aku langsung terbayang saat ibu dan bapak masih ada, rasanya belum banyak yang bisa dibalas semua kebaikannya. 

“Aku lelah tarik urat dengan saudara yang menolak mengeluarkan biaya, saat gilirannya tiba.  Tapi  aku tetap memaksa,  agar dia tidak menjadi anak durhaka dan terus berbakti.  Padahal  makam orang tuaku itu ngga perlu mengeluarkan uang sewa setiap tahunnya, karena penghargaan negara atas jasa-jasa bapak.”  Lanjut teman dengan suara tersendat.

 Menurut QS An-Nisa (4:36)
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapakmu.”

Gaes……..
Menurut teman tersebut, memang anak yang tidak mau  mempunyai riwayat yang kurang bagus terhadap orang tua.  Mereka menguasai  beberapa harta orang tua dan sempat  ribut dengan orang tua.

Astaqfirullah…….
Aku   percaya apapun yang kita lakukan, akan kembali kepada kita. Jadi apa yang telah kita lakukan untuk ibu bapak, in shaa Allah  kelak anak-anak akan melakukan itu pula kepada kita. Siapa menanam, maka dia pula yang akan menuai. Aku istilahkan hukum sebab akibat,  kebaikan yang kita lakukan akan kembali kepada kita. Andai baik, kebaikan pula yang akan diterima. Begitu pula sebaliknya. 

Gaes…… berbakti kepada orang tua atau ibu dan bapak adalah perintah utama, maka hukumnya jelas. Berbaktinya seorang anak kepada Orangtuanya adalah hak yang Allah berikan kepada ibu dan bapaknya.  Jangan lupa berdoa yang terbaik untuk orang tua dan sayangi mereka, seperti mereka menyangangi kita sejak kecil.


Berapapun uang yang kita berikan kepada orang tua, itu tidak akan cukup untuk membalas pengorbanan yang telah dilakukannya kepada anak-anaknya. Malah dianjurkan kita bersedekah  untuk orang tua yang telah meninggal.
     
Dalam hadits ini dibolehkan bersedekah untuk mayit dan itu disunahkan melakukannya. Sesungguhnya pahala sedekah itu sampai kepadanya dan bermanfaat baginya, dan juga bermanfaat buat yang bersedekah.  Karena  bersedekah untuk orangtua yang telah meninggal dunia memiliki 3 keutamaan:

1.       Pahala sedekah sampai kepada orang tua yang telah meninggal dunia
2.       Sedekah tersebut bermanfaat/berguna bagi orang tua yang telah berada di alam barzah
3.       Sedekah tersebut dapat menjadi penebus kesalahan orang tua.

Jadi apa yang akan Anda tanam?


Jumat, 18 Januari 2019

ANAK PUNYA KEHIDUPAN SENDIRI






Smart Ladies….

Beberapa  hari belakangan  ini,  aku menyaksikan dan  mendengarkan curhatan   beberapa ibu yang membuat  mata aku basah. Sedih!!  Apa pasalnya?..... silakan simak dan beri masukan untuk menjadi koreksi.

Smart Ladies, siapa yang pernah meminta atau menyuruh anaknya mengambil jurusan kuliah sesuai keinginan Emaknya? 

Tiga hari yang lalu,  waktu sudah cukup malam, karena saya telah berada diatas peraduan. Tiba-tiba ada WA masuk dari  salah satu keluarga yang sudah cukup lama tidak berkomunikasi.  Mau  ngobrol masalah anaknya, itu topik yang tertera dilayar hpku.  

“Ok,  ada kabar apakah?”

Meluncurlah kalimat-kalimat  yang membuat aku tercenang, sekaligus sedih!  Anaknya yang baru menyelesaikan semester pertamanya, hasilnya jeblok.  Ada nilai “E” lebih dari satu mata kuliah, bahkan tiga SKS karena mata kuliah utama jurusan.
“Kok, bisa?  Apa anakmu ngga ikut UAS?” 

Setahu aku, waktu jaman kuliah dulu.  Hampir jarang dosen memberi nilai “E”, kecuali di anak sering bolos dimata kuliah tersebut dan ngga ikut UAS. Kalau rajin masuk, sejelek-jeleknya masih di kasih C- atau D.  Betul kan?

“Dia main terus Mba, setiap hari pulang malam sama teman-temannya. Tuh….anaknya lagi nangis, abis aku omelin” Tulis si ibu lagi.

“Kenapa harus diomelin, anakmu itu sudah besar. Sebaiknya diajak ngomong, bukan diomelin.” Sementara itu, aku coba menghubungi anaknya. Daaan….aku langsung dapat pokok permasalahannya.

Smart Ladies, jawaban sang anak adalah” Aku kan sudah mengikuti maunya mama, ambil jurusan ini. Aku ngga suka dan ternyata ngga mampu mengikuti  mata kuliah jurusan disini. Sekeras apapun aku belajar dan udah ikut les juga.”  Mungkin kalau pelajaran hapalan masih bisa dilakukan, tapi kalau pelajaran eksakta ya gga bisa kan.

WA terakhir yang masuk sebelum aku jatuh tertidur: “Dia minta pindah kuliah dan mau mengambil jurusan yang menjadi minatnya”  Lalu kita bisa apa, kalau sudah begini.

So…Smart ladies, siapa yang rugi?.  Tentu si ibu kehilangan dana yang terbuang, sementara si anak kehilangan waktu dan tertinggal dengan teman-temannya. Namun kalau hanya seperti itu kejadiannya, mungkin tidak terlalu terlambat walau 1 tahun hilang. Setiap anak yang mengalami hal tersebut, tidak selalu sama  respon. Teman anak saya,  dia ikuti keinginan ibunya untuk kuliah di perguruan tinggi dan jurusan yang dipilihkan.  Anak tersebut menurut dan menjalaninya dengan baik, tapi setelah selesai dia serahkan ijasahnya dan  raib entah kemana. 

Anak tersebut sering ke rumah dan curhat tentang  jurusan yang ditetapkan orangtuanya. Bahkan tempat kos pun orangtuanya yang memilihkan. Aku hanya bisa membesarkan hatinya dan menganjurkan untuk mengikuti dengan baik. Namun saya coba mengajak bicara ibunya (kebetulan kami bertentangga dekat), tapi setiap dia bicarakan dengan suaminya terjadi perang besar.  Akhirnya aku lebih banyak menenangkan sang anak, karena sering menginap di rumah.  Kuliahnya selesai lalu si anak memilih pulang kampong ikut neneknya dan kuliah sesuai keinginannya. Bayangkan Smart ladies,  segalanya merugi dan saat ini masih kuliah. Sementara teman-temannya sudah bekerja, bahkan sudah berumah tangga.  Miris kan!

Melihat tayangan di TV tadi malam, tanpa sengaja aku sampai berteriak “Mamanya gila!” UUps….maaf,  jadi seorang ibu mencoba mencari anaknya yang katanya sudah selesai kuliah diluar negeri, tapi tidak pulang ke rumah.  Anak tersebut tidak pernah pulang selama kuliah daaaan ternyata, anak tersebut tidak mau bertemu  dengan ibunya. 

Ibunya  memang terlihat sangat tegas  dan menuntut anaknya untuk menjadi orang sukses, tapi caranya salah (menurut aku).  Menurut cerita si anak,  si ibu selalu memukuli kalau mendapat nilai 80.  Semua nilai harus 100, kalau tidak sabuk pinggang yang bicara.  Sampai saat melihat ikat pinggan, anak tersebut langsung menutup muka dengan badan gemetar.

Masih ada beberapa curhatan yang hampir sama masalahnya, bahwa ibu atau orangtua memaksakan kehendaknya kepada pendidikan sang anak. Sementara tidakan anak pun bermacam-macam, ada yang menjalani dengan diam dan menyerahkan ijasahnya kepada sang ibu. Dengan berkata: “Ini ijasah yang  Mama pinta,  sekarang aku mau kuliah sesuai yang aku pilih.” See……sebenarnya, aku ingin melihat dan mengetahui reaksi dari ibu atau orangtuanya. Namun sayang ngga ada yang mau cerita…. 

Smart Ladies…
Anak itu mempunyai pribadi dan memiliki kehidupan sendiri, mereka  itu merdeka. Jangan pernah memaksakan kehendak   kepada anak-anak, untuk kebahagiaan kita. Sebagai orangtua, sebaiknya:

1.  Bimbing anak-anak menuju gerbang masa depan yang diinginkan dan cari informasi sebanyak-banyaknya tentang apa yang dipilihnya.  Setelah itu sampaikan kepada anak apa saja yang perlu diperhatikan, tentang pilihannya. Atau bahkan menyarankan untuk mencari pilihan lain, apabila  yang dipilihnya tidak tepat.

2.     Sedapat mungkin kenali teman-teman anak-anak Anda, agar kita mengetahui kegiatan anak-anak. Hal ini sangat penting, apalagi bagi ibu yang bekerja diluar rumah.  Rangkul anak-anak dan jadikan teman, tentu tetap ada aturannya. In shaa Allah, anak akan dengan sendirinya bercerita kegiatan dan apapun kepada kita. Bahkan dengan suka rela memberikan nomor hp teman-teman yang dekat dengannya.

Sesuai pengalaman saya,  kedua anak mengatakan begini: “Ma, catat ya nomor hp dan telpon rumah si A. Kalau aku ngga bisa dihubungi, mama telpon aja di A.”  Bahkan dia kasih tau  daerah rumah temannya tersebut. Asli, saya ngga pernah memintanya.

3.  Mendidik dan membimbing anak bukan melulu dengan nasehat, tapi anak akan lebih menangkap dan mengingatnya jika kita memberi contoh.  Sebaiknya orangtua menjadi role model bagi anak-anaknya.

4. Biarkan anak-anak memilih jalan hidupnya sendiri, begitu pula dengan pilihan pendidikannya. Sebagai orangtua, kita hanya perlu membimbingnya dengan menginformasikan mana yang terbaik bagi anak-anak.

Smart Ladies,..

Menurut anak-anak aku nih. Mama memang ngga pernah memaksa kita, tapi apapun pilihan kita harus dipertanggung jawabkan. Semua harus sesuai rencana dan tepat waktu, kalau ngga tanggung sendiri. Misalnya, kuliah itu 4 tahun. Ya harus selesai 4 tahun, tapi kalau molor, silakan bayar sendiri uang kuliahnya dan ngga ada alasan tidak lulus!....Hehehe....

Galak kah akuh?....Ngga lah, itu salah satu bentuk pendidikan agar mandiri dan bertanggungjawab dengan keputusan yang diambilnya.  Betuk ngga Smart Ladies?

Aku berharap, tidak ada lagi ibu atau orangtua yang memaksakan kehendaknya kepada anak-anak. Apalagi dalan hal pendidikan. Anak berhak menentukan jalan hidupnya sendiri dan orangtua wajib membimbingnya.  Aku doakan, semoga semua ibu dimuka dunia ini dapat mengantarkan anak-anaknya ke gerbang kesuksesan, dengan akhlak & iman yang baik.

Senin, 13 Agustus 2018

PELIBATAN KELUARGA PADA PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DI ERA KEKINIAN :


                                      Oleh:  Srie Ningsih,  6 Agustus     2018

“ SEKOLAH MERUPAKAN MITRA KELUARGA DALAM MEMBANTU PENDIDIKAN ANAK”

Pada umumnya semua pasangan  dalam berumah tangga  berharap anak-anaknya  dapat sukses  dan hidup lebih baik dari orangtunya.  Untuk itu, semua orang tua tentu sudah mempersiapkan  rencana masa depan bagi anak-anaknya.  Namun untuk mendidik  anak-anak sampai ke sana bukan hanya tanggungjawab sekolah, juga diperlukan  peran orang tua secara nyata. Kesibukan orang tua seringkali dijadikan alasan untuk melepas tanggungjawab dalam mendidik anak-anaknya dan menyerahkan   sepenuhkan kepada sekolah.

Pendidikan  utama sejatinya di rumah, karena  keluarga  adalah  pendidik terbaik bagi  anak. Untuk membentuk karakter anak sebagai individu yang siap  belajar dan berinteraksi  terhadap lingkungan, tentu dilakukan oleh keluarga. Ada pemahaman  dari seorang pendidik yang sekaligus penulis terkenal Elton Trueblood menyatakan,  bahwa “Keluargalah yang membentuk setiap individu didalamnya.”  Sekolah sebagai mitra keluarga  akan bersinergi untuk keberhasilan pendidikan  anak, yang tentu perlu  dukungan   orang tua.  

Banyak orang tua yang  salah kaprah  dengan dalih sibuk,   menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak   kepada sekolah.  Hal ini tentu  akan menghambat  proses   pengembangan akademik, keahlian, dan bakat anak. Karena  tugas keluarga dalam membentuk individu anak  yang siap belajar  terabaikan.  Suka tidak suka, akhirnya  sekolah yang  memikul  tanggungjawab  tersebut.  Sehingga proses pendidikan menjadi tidak efektif, karena  keluarga  tidak berperan sebagai mitra sekolah.  

Bahkan tidak jarang keluarga  tidak menjalankan dengan baik hubungan kemitraan tersebut, malah berlaku sebaliknya. Tidak sedikit  yang  ikut menyalahkan sekolah apabila anak ditindak karena melanggar  peraturan sekolah. Hal ini membuat anak tidak mandiri di sekolah, bahkan keluarga tidak jarang  malah mengintervensi  proses belajar mengajar anak di sekolah.


PERAN EYANG PUTRI DAN ASISTEN RUMAH TANGGA 

Kebiasaan yang berlaku dalam keluarga, ketika kakak  saya melahirkan Ibu akan menungguinya selama empat puluh hari.   Ibu datang minggu sore dan pulang hari sabtu, untuk membantu membimbing kakak  dalam merawat anaknya.   Namun ada pengecualian saat aku melahirkan, Ibu yang merawat dan mengurusi anakku  sampai berusia satu tahun.  Dengan alasan, karena aku bekerja di luar rumah  dan Ibu  mengajari dan  mengawasi  asisten yang khusus mengasuh anakku. Begitu juga saat anak kedua ku lahir yang berjarak lima tahun dengan kakaknya. Setelah itu anak sepenuhnya menjadi tanggungjawab aku sebagai ibunya dan dirawat pengasuhnya saat aku bekerja.

Praktis anak-anak selama aku bekerja, tinggal bersama pengasuhnya di rumah.  Aku memisahkan antara asisten rumah tangga yang mengurusi urusan rumah tangga dan asisten rumah tangga yang aku didik khusus untuk mengasuh anak.  Untuk  mencari seorang pengasuh anak, aku menetapkan   beberapa persyaratan  yang harus dipenuhi. 

Pendidikan : Bukan hanya bisa baca tulis, tapi minimal lulus sekolah dasar.  Hal ini  agar  pada saat anak-anak bertanya dia bisa memberikan penjelasan dengan bahasa yang baik.  Dia juga dapat membacakan buku cerita buat anak-anakku, saat aku tugas keluar kota.

Kebersihan:  Kebersihan diri sang pengasuh juga tidak kalah penting. Pengasuh anak-anak aku dapatkan dari keluarga jauh yang kebetulan tinggal di kampung dan  sudah mengenal  sang pengasuh beserta   keluarganya.  Hal ini sangat membantu aku menentukan pilihan, bahkan  kadang aku terima beres yang direkomendasikan.

Belajar: sebelum bekerja, aku  meminta tolong kepada Eyang Putri untuk mengajari cara merawat anak dan mengawasinya dalam waktu paling lama satu bulan. Setelah itu, aku cukup mengandalkan alat komunikasi berupa telepon genggam. Setiap kurang dari dua jam, aku memantau kondisi anak-anak melalui video call. Hal ini cukup membantu aku dalam mengawasi  anak-anak dari jauh dan mengecek sang pengasuh melakukan jadwal makan dan aktivitas anak sesuai dengan yang telah aku berikan.

Setiap pagi sebelum   berangkat ke kantor, aku menyiapkan sendiri  makanan untuk anak-anak. Begitu tiba di rumah  setelah membersihkan diri, aku langsung mengambil alih pengasuhan anak-anak. Hal ini aku lakukan,  agar  anak-anak tidak lengket kepada pengasuhnya dari pada kepada ibunya sendiri.   Peran sang pengasuh anak ini sangat besar dan aku hargai, sehingga dapat membuat aku tenang dalam bekerja. 

Memang tidak lelah?

Bukan tidak lelah, tapi tidak boleh lelah. Seorang ibu yang berperan ganda, sebagai  ibu rumah tangga dan bekerja, menurut pendapat aku tidak boleh mengenal kata lelah.   Namun menerima itu sebagai suatu konsekwensi atas pilihan yang diambilnya, agar anak  tetap merasakan kehangatan kasih  ibunya.

Memang sesekali Eyang Putrinya datang menjenguk cucunya, tapi Eyang Kakung sangat jarang ikut, karena  tidak tega melihat cucunya di rumah tanpa ditemani ibunya sendiri…..Itu alasan Eyang Kakungnya, karena hanya aku anak perempuannya yang bekerja di luar rumah.  Namun anak bungsu aku paling senang bila Eyang Kakungnya datang dan selalu meminta gendong. Anak-anak cukup dekat dengan ibu-bapak dari pihakku, namun sayang tidak ada yang  mengenal eyang dari pihak bapaknya, karena sudah pergi sebelum anak-anak lahir.

HUBUNGAN   KOMUNIKASI KELUARGA DI ERA DIGITAL

Untuk lancarnya operasional keluarga yang terpisah-pisah karena menjalankan aktivitasnya, dibutuhkan komunikasi yang baik antar anggota keluarga.  Di masa era digital seperti saat ini, kami kapan saja bisa saling  berkomunikasi. Aku dapat langsung mengetahui pergerakan anak-anak dan tugas-tugas apa saja yang diberikan sekolah. Bahkan si bungsu paling tidak sabar, andai mendapat tugas dari guru. Dia akan langsung menghubungiku dan memberitahu apa saja tugas yang diberikan. Bahkan tidak jarang bercerita kegiatannya selama di sekolah. 

Untuk  tugas yang diberikan, kadang ada yang perlu dibeli. Aku memanfaatkan  jam istirahat untuk mencari kebutuhan tersebut atau meminta tolong OB kantor membelikan. Maklum lokasi kantor cukup jauh dari rumah dan saat pulang, aku harus tepat waktu tiba di rumah.  Sesuai kesepakatan kami diawal setelah kehadiran anak, bahwa aku wajib  mengusahankan pulang tepat waktu untuk secepatnya dapat menemani anak-anak.  Karena   suami memang tiba di rumah lebih malam, kecuali aku ada tugas kantor yang harus diselesaikan. Saat itu suami yang akan lebih dahulu menemani anak-anak di rumah, semua itu bisa berjalan dengan mulus berkat bantuan alat komunikasi di era digital saat ini yang membantu tugas orang tua. 

SEKOLAH  SEBAGAI MITRA KELUARGA  

Sebagai ibu yang bekerja di luar rumah, aku membutuhkan sekolah yang dapat memberikan kenyamanan anak dalam belajar.  Dan dapat  menjalin hubungan dua arah antara guru dan orang tua, untuk memantau perkembangan anak.  Hal ini diharapkan  dapat  pengembangkan pendidikan akademik anak dengan  maksimal di sekolah.  Memang secara akademik menjadi tanggungjawab sekolah untuk mengembangkan anak didiknya, sementara  penanaman nilai-nilai budi pekerti, pembentukan karakter dan dapat  berinteraksi  adalah tugas dari keluarga atau orangtua. 

Sebagai orang tua yang memiliki waktu terbatas dalam membantu anak-anak belajar,  aku membutuhkan mitra yang dapat bekerjasama  untuk mewujudkan  pendidikan yang diharapkan.  Saat di rumah aku berusaha membantu anak-anak belajar dan berusaha agar tidak memberi les tambahan. Karena aku masih sanggup mengajarinya sendiri dan beberapa langkah yang aku  ambil:

Hubungan dua arah:  Sekolah sebagai mitra orang tua, aku manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Komunikasi dua arah yang rutin aku lakukan untuk mengetahui perkembangan anak. Aku berkonsultasi dengan guru kelasnya, andai  gagal  menerangkan pelajaran yang ditanyakan.  Bahkan aku pernah ikut  les matematika  bersama beberapa  wali murid lainnya dengan guru sekolah.

Ikut belajar :  Aku ikut  mempelajari bab per bab mata pelajaran sekolah anak-anak, agar dapat menjelaskan saat belajar di rumah sebelum bab tersebut dipelajari di kelas.  Si Kakak apabila penjelasan dari guru  telah dimengerti, ketika belajar di rumah dia meminta aku memberikan pertanyaan seputar pelajaran yang tadi dibahas di sekolah.  Sementara  si Ade, aku harus meringkas  dan menjelaskan menggunakan  white board.  Untuk si Kakak, akhirnya aku membuat pertanyaan-pertanyaan yang diambil dari buku pelajarannya. Untuk si Ade, aku meringkas setiap mata pelajaran guna  dijelaskan di rumah. Sampai anak-anak duduk dibangku SMA, aku masih bisa membantu pelajarannya.  

Semua itu dapat aku lakukan dengan bantuan tehnologi dan berteman dengan Mas Google. Apapun yang ingin kita ketahui dapat ditemukan, hanya dengan ujung jari. Anak-anak aku beli fasilitas  telepon genggam saat  telah duduk di bangku SMP dan   aku tegaskan bahwa  itu untuk mempermudah   komunikasi. Untuk main game,  ada waktu yang sudah kita sepakati. Kapan waktunya dan berapa lama.

LES PELAJARAN TAMBAHAN

Aku memang tidak memberikan pelajaran tambahan atau les kepada anak-anak, selain les musik dan Bahasa inggris. Kakak  les gitar dan Ade les piano, tapi semua itu atas permintaan anak-anak. Si Kakak sampai masuk kuliah, tidak pernah masuk dibimbingan belajar. Namun  saat Ade  kelas tiga SMA, aku  sudah tidak dapat mengikuti lagi pelajarannya. Bersama teman-temannya, aku   ikutkan dibimbingan belajar   untuk persiapan ujian akhir dan mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Alhamdulillah dapat di terima di PTN.

Pada era kekinian, orang tua dimudahkan dalam mencari informasi tentang segala hal. Namun dampak yang ditimbulkan pun tidak sedikit. Orang tua perlu ektra  pengawasan anak yang  dengan gawainya,   dan agama merupakan  salah satu jalan untuk  meredam pengaruh kemajuan tehnologi.  



referensi:
https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php
https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=39
http://www.penajuara.com/2018/03/lomba-menulis-blog-nasional-2018-gratis.html
Sumber gambar : Pinterest, kantor meme.blogspot
#sahabatkeluarga