Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Juli 2021

MEMILIH SEKOLAH

 

 

 

Memilih Sekolah 

 

Sekolah yang menjadi pilihan ku

Memilih sekolah buat anak memang bukan perkara mudah. Setelah menjalani pendidikan pertama di lingkungan rumah, tiba  saatnya  anak untuk bersekolah  agar mendapat  bekal pengetahuan, wawasan dan ketrampilan yang lebih luas sesuai tingkatan usianya.   

Sebagai ibu rumah tangga yg bekerja diluar rumah dari pagi hingga petang, membuat aku memilih sekolah yang muatan agamanya lebih banyak. Hal itu aku ambil dengan pertimbangan, menumbuhkan kemampuan beragama yang benar. Menurut aku pendidikan agama merupakan landasan dasar  bagi pencapaian tujuan pendidikan akhlak. 


 

Menurut aku pendidikan awal anak-anak dari TK sampai SMP, wajib bermuatan agama yang lebih besar. Untuk aku memang sudah  mengincar  sebuah sekolah swasta yang menyediakan  jenjang TK sampai SMP, setelah lulus SMP anak-anak boleh memilih sekolah negeri. Aku mencanangkan beberapa syarat penting untuk menentukan sekolah bagi anak-anaku, antara lain:

1.    Muatan agama lebih banyak

Aku merasa pendidikan dasar agama perlu ditekankan pada  anak sejak usia dini sampai tingkat SMP. Di rumah pun aku memasukan anak-anak ke Taman Pendidikan Al Quran dekat  rumah setelah pulang sekolah. Aku ingin anak-anak memiliki dasar agama, agar memiliki aqidah  kuat, berkarakter dan berakhlakul karimah.  Untuk itu selepas dari sekolah menengah pertama, anak-anak aku bebaskan untuk masuk ke SMA negeri.  Tentunya dengan syarat sekolah negeri unggulan, agar situasinya tidak terlalu beda jauh dengan sekolah yang ditinggalkan. 

2.    Kurikulum sekolah

Sudah setahun aku mengikuti dan bertanya tentang sekolah yang aku nilai sesuai dengan kriteria yang diperlukan. Kurikulum merupakan salah satu hal utama dalam mencari sekolah bagi anak-anak, dan  aku coba mencari informasi ke pihak sekolah. Alhamdulillah, kurikulum yang disampaikan sesuai dengan yang aku harapan. Muatan pendidikan agamanya porsinya cukup besar, bahkan ada kegiatan ekskul belajar membaca Al Quran dengan baik dan benar.

3.    Hubungan kemitraan yang baik dengan pihak sekolah

Aku ingin antara rumah dan sekolah bisa bekerjasama demi keberhasilan anak. Jadi aku menyerahkan anak ke sekolah, lalu lepas tangan begitu saja. Namun orang tua bisa bekerjasama dengan pihak sekolah, utamanya para guru dalam memberikan informasi perkembangan anak. Jalinan komunikasi yang baik antara guru dan orang tua menjadi begitu penting, sehingga aku atau guru dapat kapan saja memberikan informasi tentang perkembangan anak. Guru juga tidak sukan untuk meminta bantuan kepada orangtua tentang tujuan bersama yang akan dicapai dalam proses pembelajaran.  Hal ini diharapkan  orangtua dan guru memiliki cara pandang  sama tentang tujuan proses pembelajaran.

4.    Sarana dan prasarana sekolah

Sekolah itu merupakan rumah kedua bagi anak, sekolah yang baik menurut aku dapat memenuhi kebutuhan anak didiknya dan mereka nyaman didalamnya. Sekolah tersebut lengkap memiliki gedung sendiri, masjid, perpustakaan, sarana olahraga, taman yang terawat, alat peraga, sarana kesenian dan katin yang bersih.

5.    Sekolah memiliki tingkat pendidikan dari TK sampai SMP

Syarat berikutnya, sekolah memiliki jenang pendidikan dari TK sampai SMP. Hal tersebut aku perlukan agar tidak perlu repot mencari sekolah lagi saat naik ke  jenjang berikutnya.

6.    Lokasi sekolah

Lokasi sekolah juga menjadi pertimbangan yang perlu aku pikirkan. Sekolah tidak terlalu jauh dari rumah dan sejalan dengan rute yang aku lalui untuk berangkat ke kantor.  Aku dapat   mengantar anak-anak ke sekolah  saat akan berangkat ke kantor, dan pulang dengan jemputan sekolah. 

Syarat tersebut hanya ada di sekolah swasta yang sudah  aku incar, lokasinya tidak terlalu jauh dan semua sesuai dengan yang persyaratkan. Sekolah tersebut menjadi sekolah pertama bagi si Kakak dan juga adiknya.   

Aku bersyukur masa anak-anak ku sekolah, tehnologi belum sehebat sekarang. Gawai juga masih baru keluar dan belum ada akses ke internet. Aku salut  kepada orang tua terutama para ibu di era tehnologi  seperti saat ini. Apalagi di masa pandemi ini,  melihat bagaimana para orang tua berjuang  membantu  anak-anak yang belajar di rumah melalui online yang tentunya tidak mudah. 

 


Dunia bergerak begitu cepat, anak-anak telah melalui pendidikannya dengan baik. Si kakak selesai kuliah pada tahun 2007, sementara adik lulus tahun 2012 dengan predikat cum laude dalam waktu tiga tahun, dengan IPK nyaris sempurna. Alhamdulillah selesai kuliah dilanjut dengan bekerja dan sekarang telah memiliki kehidupan masing-masing.

Diakhir tulisan ini, aku bersyukur dapat memilih sekolah yang tepat bagi anak-anakku dan membekalinya dengan  ilmu yang baik dan semoga dapat bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. 

 


 

Artikel ini diikutkan dalam Tantangan Artikel Pasukan Blogger Joeragan Artikel bulan Juni 2021 dengan tema “Memilih Sekolah”

Jumat, 25 September 2020

 JANGAN PERNAH KEMBALI KE SANA

 

 

Menanti  saatnya pulang

 

Alhamdulilah tiga bulan terlewati, tepatnya tgl 11 September  yang lalu. Kondisi Juragan dinyatakan dokter sangat bagus, sesuai  hasil  lab,  echografi, bekas luka operasi &  rehab fisik pada kontrol terakhir  4 september lalu. Aku tak lepas mengucap syukur dan terima kasih tak terhingga kpd Yang Kuasa dan tim dokter yang luar biasa kerjasamanya dengan keluarga pasien. Sekecil apapun informasi pasien disampaikan dengan sangat simpatik dan keramahan yang patut diacungi jempol. Aku  sampai bertanya-tanya, bagaimana rumah sakit ini dalam membina para tenaga medisnya.  Para dokternya begitu ramah kepada pasien dan keluarganya, begitu juga  tenaga perawatnya.  

Kondisi Juragan saat ini ga semudah yang dibayangkan, tapi melalui perjalanan cukup panjang dan berliku. Disamping tim medis yang luar biasa, begitu juga  doa dan support  dari keluarga, para sahabat dan teman-teman  yang  sangat berarti bagi aku. Doa dan support tersebut membuat aku tegar, kuat  dan ga sendirian.

 

Diruang perawatan after  operasi

Setelah diundur karena adanya pandemic, alhamdulilla akhirnya dihubungi  agar datang besok hari untuk  dilakukan persiapan operasi.  Juragan juga  gagah berani dan siap mental, karena udah ga tahan dengan keluhan yang dirasakan.

Pada hari  yang ditentukan persiapan operasi pun dilakukan,  dimulai dengan briefing dari perawat. Apa saja yang harus dilakukan pasien. Dilanjut  pertemuan dengan  dokter yang akan melakukan operasi beserta timnya. Dijelaskan secara detail apa yang akan dilakukan dalam operasi bental ini. Operasi bental adalah pengantian katub pada jantung dan repair pembuluh darah aorta. Juga diberitahu apa saja yang dilarang pasca operasi, berapa lama boleh aktivitas kembali dan kegiatan terakhir mengikuti tour ke ruang operasi dan ruang ICU. Jam 9 malam selesai mendampingi, aku langsung pulang dan kembali besok jam 6 pagi.

Aku dan anak2 diminta ikut mengantar juragan ke ruang operasi, kita berpisah dipintu ruangan. Operasi akan berjalan selama 5-6 jam, begitu penjelasan dokter tadi dan penantian itu terasa begitu panjang. Lantunan doa tak putus aku panjatkan, juga dari keluarga, sahabat dan teman2 yang sangat mensupport. Ditengah perjalanan operasi, menantu yang sedang menunggu kelahiran, mengeluarkan flek dan mulai mules. Aku suruh mereka berangkat ke rumah sakit dan aku akan menyusul setelah urusan juragan selesai.

 

setia merawat..hehehe

Baru tiga jam berjalan, aku dipanggil dokter. Alhamdulillah operasi sudah selesai dgn lancar dan sukses tanpa perdarahan sama sekali,  aku dan si kk diajak menemui Juragan di ruang ICU. Dia mulai sadar dengan segala selang  yang menghiasi tubuhnya dari kaki, hingga kepala. Luar biasa hebat kuasaMu yaa…Rabb dan acungan jempol buat tim dokter. Aku bisa bernapas lega dan bermunajat kalau boleh, cucu lahir setelah juragan kembali ke rumah.  Komat-kamit mulutku  melantunkan doa dengan khu’su kembali, Alhamdulillah mendapat kabar kalau belum akan melahirkan.

Cucu lahir 

Semalam diruang ICU, paginya dipindah ke ruang pemulihan. Ga gampang menunggu di masa pandemic, keluarga ga boleh ada diruang tunggu bila malam, sementara ditinggal pulang juga ga boleh. Aku mbambung tidur di mobil. Sewa kamar  disamping rumah sakit,  nyaliku ciut karena zona merah covid. Di hotel yg ga jauh pun, aku ga berani. Mobil adalah tempat teraman untukku saat itu. Hari ketiga boleh ditinggal dan aku kabur pulang, saat itu badan rasanya butuh istirahat. Dua malam dirumah, pagi ditlp dokter  agar datang ke rumah sakit, karena juragan udah akan dipindah ke ruang perawatan. Alhamdulillah…. aku bisa menemani juragan di kamar perawatan dan dihari ke delapan sudah boleh meninggalkan rumah sakit. Alhamdulillah yaa Allah…

Doa ku dikabulkan Allah,  sehari setelah juragan di rumah cucu lahir. Alhamdulillah…walau harus melalui SC karena baby kebesaran, 4,3 kg bo’…hehehe.  NikmatMu yang mana lagi yg aku dustai yaa Rabb..

Kembali  after operasi
 

Aku diberi pelatihan praktis untuk merawat luka operasi dan lainnya di rumah sehari sebelum Juragan pulang, jadi perawat pribadilah aku…hehehe….  5 hari setelah di rumah, mulai  menjalani rehabilitasi fisik sebanyak 12 x pertemuan. Jam 6 pagi kita udah jalan ke RS dan jam 10 kegiatan selesai. Juragan dilatih senam dan berjalan, untuk mengetahui  kekuatan jantungnya setelah operasi. Tapi ternyata pasiennya bandel, jadi ada 2x dia over capacity dalam berolahraga. Atau tangannya gatal, aku meleng sedikit, dia beberes dan cuci mobil. Naah…kejadian lagi, katanya berasa muter, pandangan gelap dan keluar keringet dingin.  Dasar emang orangnya ga bisa diam, jadi pengawasan diperketat.

Klo aku lagi di dapur, setiap 10-20 menit aku panggil….”Bos lagi apa?” Klo ga ada jawaban, langsung  aku cari, dan ditemui lagi  nongkrong di warung  atau ketemu teman-teman di masjid. Pokoknya berbagai alasanlah. Aku paham kok kalau dia boring di rumah dan ga ada aktivitas apa-apa, tapi mau gimana lagi. Memang hanya istirahat yang diperlukan untuk memulihkan dan menyembuhkan seperti awal.

 

Luka operasi yg sdh  bagus

Namun kejadian –kejadian kecil  tersebut  membuat kondisi juragan terus menurun,  dan akhirnya aku memutuskan untuk stop melanjutkan rehab. Sore itu dia keluar lagi  entah kemana, saat aku tinggal salat. Juragan cengar cengir saat kutemui lagi ngobrol di pos keamanan. Yaaa…emang butuh kesabaran tingkat dewa, ngadepin juragan..hehehe…

Sore itu setelah aku mandikan, merawat luka operasi dan  aku buatkan teh manis hangat dengan  camilan mari regal  sambil  nonton TV. Aku tinggal  setrika di  lantai atas. Ternyata tiba-tiba napasnya sesak,  dia  manggil2, tapi aku ga dengar.   

Saat aku turun, juragan tidur di kamar tp mukanya pucat dengan napas satu-satu. “Aku ga bisa napas, Ma.” Badannya bersimbah keringat, aku memberikan obat yang diletakan dibawah lidahnya.  Pelan-pelan napasnya mulai teratur kembali, “Alhamdulillah…udah enak napasnya Ma.”

 

Bahagia sdh bisa main dg cucu 

Aku melanjutkan memasukan  baju ke lemari, tetiba  dengar juragan teriak-teriak.  Juragan  anfal dan  ga sadar, matanya terbuka tapi ga ada reaksi. Si Ade baru pulang kantor, langsung tlp ke kantornya minta dikirim ambulan sambil nangis liat kondisi papanya  seperti itu.

Aku tetap tenang menghadapi situasi ini, karena sudah mendapat pelatihan praktis di RS jika hal ini terjadi. Satu persatu tetangga datang, karena mendengar tangisan si Ade. Juragan masih terus meracau ga jelas, pelan tapi pasti juragan mulai sadar tapi masih belum mengenal aku.  Si Ade makin meraung tangisnya dan aku tenangkan.

“Papa ga boleh dibawa ke rumah sakit Ade, kondisi pandemic seperti ini IGD bukan  tempat aman bagi penderita jantung. Kalau obat yang mama kasih sebanyak 3x dan ga ada reaksi, baru kita bawa.”  Ade mulai tenang dan juragan mulai sadar penuh, satu persatu tetangga yang dilihat dia sapa. “Ada apa Ma, kok pada ke sini?  Mama di sini aja dekat aku dan  jangan kemana-mana ya” 

Setelah tenang, aku ganti bajunya yang basah kuyup. Sejak itu juragan mulai susah makan, sering mengigil kedinginan dan sesekali  napas terasa sesak. Melihat kondisinya  yang terus menurun, aku ga mau ambil resiko.  Aku menghubungi dokternya.  dan disuruh untuk dibawa ke rs keesokan harinya.  Sesuai pesan dokternya untuk periksa darah, HB, INR dan membawa hasil echografi terakhir.  

Juragan  ga kuat  jalan jauh, terpaksa aku tinggal di mobil sementara kau mengambil  kursi roda di klinik. Ternyata hasil labnya semua turun, yang paling  parah keencerahan darahnya melambung tinggi, sementara  lainnya meluncur turun, begitu juga  tekanan darahnya hanya 70/59 aja. Ada beberapa obat yang harus diatur ulang dosisnya  dan harus  echografi kembali. Dua hari lagi kembali dengan hasil lab dan echografi terbaru.

Dua hari berikutnya, kondisinya makin  drop. Akhirnya diputuskan untuk dirawat, tapi sementara di tempatkan di IGD karena ICU penuh.  Aku lebih khawatir dengan kondisi ini dari pada saat menjalankan operasi.  Aku terdampar kembali di rumah sakit ini  tanpa membawa baju sama sekali.  Alhamdulillah selepas magrib Juragan dipindah ke ruang ICU, karena ada pasien yang dipindah ke ruang perawatan. Dokter memberitahu kondisi juragan setelah semua hasil cek keluar. Dengan INR yang tinggi tapi tidak terjadi perdarahan, maka sesak yang dirasakan karena ada cairan di selaput jantung dan harus disedot.

Untuk dapat mengeluarkan cairannya ga semudah itu, kondisi harus stabil dulu. Juragan di transfusi darah 2 kantong,  karena HB nya terjun bebas.  Si kk dan keponakan  sebagai pendonornya, Alhamdulillah  golongan darahnya sama dengan papanya. Bukan hanya itu, tekanan darah juga ikut meluncur  kebawah tapi keenceran darah berkibar diatas dengan pongahnya.

Lantunan doa ku tak putus menggedor langit, berharap semua ini cepat berlalu.  Hari pun seakan berjalan begitu lambatnya, pertanyaanku pun tetap sama saat bertemu dokter. “Bagaimana dengan HB, tensi & INR nya dokter?”   Alhamdulillah HB normal setelah transfusi, tensi pun mulai stabil. Hanya INR agak lambat bergerak turun,  sehingga belum dapat dilakukan tindakan. Di hari ketujuh  INR mulai menurun dan  dokter merencanakan akan melakukan tindakan untuk mengeluarkan cairan. Namun  hari yang ditentukan batal dilaksanakan, karena ruang tindakan full.  Akhirnya hari yang dinanti pun tiba, aku diminta ikut mengatarkan  ke ruang tindakan.

Kondisi ini membuat aku terpukul, apakah karena aku kurang ketat dalam mengawasi dan teledor dalam mengurusnya atau Juragan yang kurang mau bekerjasama melalui pasca operasi ini?   Sudahlah, rasanya aku ga perlu mencari  jawabannya. Lantunan  doa  tak putus  aku panjatkan, berharap dapat  menggedor  langit  agar Juragan ku kembali sehat. 

 

Juragan saat ini 

Kadang kita merasa orang yang paling menderita, ternyata masih ada yang tidak seberuntung kita. Diruang tunggu keluarga pasien, kami layaknya keluarga. Saling menguatkan, mendoakan dan saling bantu. Beragam kisah pilu tertuang di sini dan kita bisa bercermin, apakah perlu bersedih berlebihan menghadapi  kondisi  ini. Walau bagaimana pun rasa khawatir itu seakan merobek dinding jantungku, perih  yang tak ada duanya. Seakan separoh jiwa ini nyaris raib.

Kata pepatah “Di atas langit, masih ada langit” Kita merasa paling sedih dengan kondisi keluarga yang sedang di rawat, tapi ada orang lain yang lebih patut sedih dari kita. Seorang keluarga dari daerah harus menahan lapar, karena tidak memegang uang untuk dapat mengisi perut. Biasanya kita sama-sama berbagi dan ada pula yang biayanya ditanggung perusahaan, tapi setelah tiga tahun sudah tidak bekerja lagi dan asuransi tertebut tidak pernah diurus untuk menjadi asuransi personal.

Dokter memberitahu, kalau biaya asuransinya telah limit. Ruang ICU kelas tiga semalam biayanya 15 juta belum termasuk obat, sementara suaminya telah 10 hari di ICU.  Dia disarankan untuk mengurus BPJS agar biaya pengobatan suaminya dapat dicover. Tau ga gaes!....saat makan siang, dokter tersebut mengirimkan nasi box buat istri pasiennya dan malam pun dikirimkan kembali. Masya Allah……betapa mulianya dokter tersebut.

Ngomong-ngomong soal BPJS sesuai yang aku alami, ini luar biasa. Aku tidak banyak keluar biaya, boleh dibilang sangat sedikit.  Sejak tahun 2019 dirujuk ke sana, hanya biaya transportasi yang kami keluarkan. Semua free….bahkan aku sampai bilang serasa punya rumah sakit pribadi..hehehe

Souvenir dr  Rumah Sakit

 

Bayangkan untuk ruang ICU kelas tiga aja 15 juta perhari, kebayangkan untuk kelas satu berapa. Sementara saat dirawat terakhir, Juragan 10 hari di ruang ICU. Padahal waktu operasi hanya 2 malam di sana. Obat yang dibeli sendiri seharga 280.000, tapi itu bukan obat minum. Namun obat untuk merawat luka selama seminggu dan membeli plester seharga 32000, karena Juragan alergi dengan plester yang digunakan diruangan perawatan. Mahalan biasa  konsumsi yang nungguin kale….hahaha… Setiap bulan control dan pulang membawa obat untuk sebulan, itupun gretong.

Daftar ga perlu berdesakan, apalagi harus datang pagi-pagi. Cukup melalui online, kita akan dapat nomor urut dan harus datang jam berapa semua sudah tertulis. Enak kan! Tapi itu yang aku alaminya. Sementara surat rujukan dari klinik dekat rumah, diperpanjang 3 bulan sekali aja & ngurusnya juga ga ribet.  Pokoknya Alhamdulillah, kalau kata  si Ade. Kalau bayar pasti mama harus jula mobil, rumah dll, itu juga belun tentu cukup kali…hehehe.  Jadi BPJS itu, “Kau dicaci tapi di puja”…….

Apapun alasannya, kalau boleh milih aku ogah sakit aja aaah…..Tapi  Allah akan selalu memberikan cobaan kepada umatnya, agar lebih kuat dan banyak bersyukur.  Melihat perkembangan kondisi Juragan, aku mulai  melonggarkan aktivitasnya  sesuai pesan dokter, andai sudah tiga bulan beberapa kran aktivitas  sudah boleh  dilakukan.   Sehat ya Juragan kuuuh dan jangan pernah  kembali ke ICU lagi.

 

Jumat, 19 Juli 2019

TERNYATA NGGA SEMUDAH ITU





Sejak diketahui  ada masalah dengan jantungnya awal tahun ini, membuat aku gamang. Namun  teman dan sahabat yang  memberi support, bercerita bahwa penyakit itu sudah ga terlalu masalah di masa kini dengan tehnologi pengobatan yang cukup canggih. Hal  itu cukup meredam rasa gamangku, terima kasih support kalian. 

Aku urus semua dengan mencari informasi  apa sih sebenarnya tindakan  yang akan dilakukan dokter. Pemasangan ring itu sebentar, ga butuh operasi tapi  cukup tindakan kecil, apalagi hanya satu sumbatan. Begitu  omongan teman-teman yang selalu  aku dengan, dan itu cukup membesarkan hati. Anakku yang bekerja di rs juga mengatakan seperti itu. 

Langkahku mantab mengurus tindakan pertama yang berakhir gagal, karena kondisi yang ga memungkinkan. Aku ikut menyaksikan diruang tindakan dan mendapat penjelasan dokternya. Saat kembali control,  hasil pemeriksaan membuat langit diatasku seakan runtuh. Setelah dokter mengatakan diduga ada kebocoran dikatupnya. Juragan keliatan tegang denger keterangan dokter. Aku meminta dokter  untuk bicara sama aku aja & menyuruh juragan nunggu di luar. 

“Yaa ….Allah..kenapa malah merembet  yang lain” rintihku dalam doa di mushalah rs. Juragan harus melakukan sederat pemeriksaan secara intensif. Alhamdulillah hasilnya baik dan ga ada kebocoran seperti dugaan awal.  Sudah dapat jadwal untuk mengulang tindakan pemasangan ring kembali di pertengahan bulan Ramadhan.  

Persiapan untuk tindakan sudah selesai dilakukan dan jam 10 pagi mulai dibawa ke ruang tindakan. Aku mengatarkannya sampai pintu ruangan dengan pesan harus pasrah dan berani, “lakukan dzikir ya” pesanku terakhir sebelum pintu ditutup. Tindakan akan berlangsung selama satu sampai dua jam, begitu kata dokter tadi. Aku menunggu di ruang tunggu beserta keluarga lainnya, dua jam berlalu belum ada tanda-tanda aku dipanggil. Sementara belakang sudah selesai dan dipindah ke kamar perawatan.

Detak jantungku makin cepat dan keresahan mulai menghinggapi hati. Aku mencari informasi ke ruang tindakan dan diminta untk bersabar, karena belum selesai. Perasaanku mulai ga enak, apalagi melihat waktu terus bergerak. Dzikir dan berdoa tak putus aku lantunkan, aku telpon anak-anak untuk mendoakan papanya. Juga ke teman-temannya yang kebetulan mengirim pesan di hp, untuk bantu mendoakannya.  Akhirnya aku menyerah tindakan sudah berrjalan 4 jam, aku ke mushala. Membasuh wajah dengan wudhu, salat dan terus berdoa. Alhamdulillah..pelan tapi pasti aku mulai tenang, Anak-anak sudah datang menemaniku dan tepat 5 jam pelaksanaan tindakan, aku dipanggil.

“Yaa….Allah, suami saya kenapa dokter?" teriakku melihat Juragan dipenuhi alat medis dan badannya dingin. “Sabar ya Bu, nanti dokter akan menjelaskan,” kata perawat di ruang pemulihan. Aku menyapukan pandangan ke monitor tekanan darah,  tertera angka 70/60.

“Aku takut Ma, jadi ga berhasil lagi dipasang ringnya. Tiga dokter  sudah angkat tangan dan terakhir  profesornya yang  turun,  dengan  alatnya  dibengkokin.  Belum sampai titiknya,  badan aku dikompres handuk  panas karena sudah dingin semua.  Ga taunya karena tensiku drop, jadi dihentikan  pemasangan”  terbata-bata Juragan bercerita.  Dokternya memanggil aku dan menjelaskan dengan detail  tindakan dan kondisi Juragan.

“Kondisi jantungnya bengkak hampir 50 % dan hal itu yang membuat sulit pencapai titik sumbatnya. Tadi  distop karena tekanan darahnya drop dan bisa  disebabkan karena bapak stress. Nanti akan kita coba ulang, andai tidak berhasil akan dilakukan bypass.” Begitu panjang penjelasannya dan juragan masuk icu. Aku sudah ga tau lagi harus berkata apa, hati seperti tercabut dari tempatnya. Tapi  aku mencoba tetap berpikir waras. 

Akhirnya dijadwalkan kembali bulan depan untuk dicoba kembali. “Saya menyiapkan alatnya dan ibu bantu agar bapak tidak stress.”   Masih ada waktu sebulan untuk menyiapkan mental juragan. Aku ajak bicara dan dilalah, di apotik bertemu orang yang  habis di bypass. “Apakah kamu mau di bypass seperti itu?”  tanyaku.  “Ngga ma, aku mau dipasang ring aja”    

“Ok, makanya pasrah aja. Ga usah dipikirin dan focus dengan dzikir dan baca ayat kursi.”  Satu momen tak terduga  yang cukup ampuh mendongkrak keberaniannya.  Aku ijin dokter bawa juragan jalan-jalan dan mencoba MRT,  dokter  menyetujui.  Setelah itu memang perubahan menakjubkan terjadi, kemangatkan timbul dan mengatakan siap  pasang ring.

Saat waktunya tiba, dia dengan gagah berani  ke ruang persiapan dan masuk tidak mau menggunakan kursi roda seperti sebelumnya. “Ingat ya, pasrah dan focus berdzikir,” pesanku sebelum dia masuk ruang tindakan. Jam tiga sore masuk, aku tetap berpegang bahwa tindakan  akan memakan waktu 1-2 jam saja.  Namun  tiga jam telah berlalu masih belum ada kabar, selain tiga dokter dikabarkan  sudah angkat tangan dan menyarankan untuk bypass.  Profesor  menolak dibypass setelah dihubungi dan akan melakukannya, setelah menyelesaikan operasi seorang anak dari  UGD.  

Sementara Juragan tetap semangat, sampai digangguin sama para dokter dan saat Profesornya datang. Tindakan dilakukan kembali, akhirnya berhasil dalam waktu kurang dari setengah jam. Walau sebelumnya 3 dokter angkat  tangan.  Jam 19.00 Juragan keluar dari ruang tindakan dengan wajah sumringah dan bilang, "Berhasil mama!"  Alhamdulillah, ternyata yang kata orang awalnya mudah memasang ring, ternyata ngga semudah itu bagi Juragan. Hal itu disebabkan kasusnya tidak sama dengan yang lain.  Jam 21.00 masuk kamar perawatan dan jam 10 pagi keesokan harinya sudah diijinkan pulang.

Sementara Juragan dipersiapkan untuk diantar ke ruang perawatan, dokter menemui aku dan membicarakan tindakan yang baru dilakukan. "Alhamdulillah Ibu, profesor berhasil melakukan pemasangan. Padahal saya dan dua dokter yang lain sudah angkat tangan, 3 jam kami berusaha tapi memang sulit kondisinya. Jantung bapak sekarang sudah seperti bayi baru lahir bu,  titik sumbat hanya satu tapi panjangnya kurang lebih 5 cm. Tolong dijaga ya Bu."

"Terima kasih dokter" 

"Sekarang napasku enak ma,  rasa nyeri tangan, kaki dan sendi-sendi semua hilang." Lapor Juragan paskah dua hari pemasangan. 

Tiga hari setelah pulang, kami kembali untuk kontrol dan dokter teriak melihat hasil cek laboraturium. Asam uratnya mencapai 9. "Aduh Pak, selama 3 bulan asam urat, tensi darah & kolesterol harus normal agar ring yang dipasang bisa menyatu dengan pembuluh darah. Saya kasih obat penurun asam urat dan jaga asupan makannya ya."

Menurut aku yang terberat adalah menjaga 3 bulan pasca pemasangan ring, karena susah dikontrol. Semoga bisa melewati waktu tersebut dengan baik, aamiin yra.