JANGAN PERNAH KEMBALI KE SANA
 |
Menanti saatnya pulang
|
Alhamdulilah tiga bulan
terlewati, tepatnya tgl 11 September
yang lalu. Kondisi Juragan dinyatakan dokter sangat bagus, sesuai hasil lab,
echografi, bekas luka operasi & rehab fisik pada kontrol terakhir 4 september lalu. Aku tak lepas mengucap
syukur dan terima kasih tak terhingga kpd Yang Kuasa dan tim dokter yang luar
biasa kerjasamanya dengan keluarga pasien. Sekecil apapun informasi pasien
disampaikan dengan sangat simpatik dan keramahan yang patut diacungi jempol.
Aku sampai bertanya-tanya, bagaimana
rumah sakit ini dalam membina para tenaga medisnya. Para dokternya begitu ramah kepada pasien dan
keluarganya, begitu juga tenaga
perawatnya.
Kondisi Juragan saat ini ga
semudah yang dibayangkan, tapi melalui perjalanan cukup panjang dan berliku. Disamping
tim medis yang luar biasa, begitu juga doa
dan support dari keluarga, para sahabat
dan teman-teman yang sangat berarti bagi aku. Doa dan support
tersebut membuat aku tegar, kuat dan ga
sendirian.
 |
Diruang perawatan after operasi
|
Setelah diundur karena adanya
pandemic, alhamdulilla akhirnya dihubungi agar datang besok hari untuk dilakukan persiapan operasi. Juragan juga
gagah berani dan siap mental, karena udah ga tahan dengan keluhan yang
dirasakan.
Pada hari yang ditentukan persiapan operasi pun
dilakukan, dimulai dengan briefing dari
perawat. Apa saja yang harus dilakukan pasien. Dilanjut pertemuan dengan dokter yang akan melakukan operasi beserta
timnya. Dijelaskan secara detail apa yang akan dilakukan dalam operasi bental ini. Operasi bental adalah pengantian katub pada
jantung dan repair pembuluh darah aorta. Juga diberitahu apa saja yang
dilarang pasca operasi, berapa lama boleh aktivitas kembali dan kegiatan
terakhir mengikuti tour ke ruang operasi dan ruang ICU. Jam 9 malam selesai
mendampingi, aku langsung pulang dan kembali besok jam 6 pagi.
Aku dan anak2 diminta ikut
mengantar juragan ke ruang operasi, kita berpisah dipintu ruangan. Operasi akan
berjalan selama 5-6 jam, begitu penjelasan dokter tadi dan penantian itu terasa
begitu panjang. Lantunan doa tak putus aku panjatkan, juga dari keluarga,
sahabat dan teman2 yang sangat mensupport. Ditengah perjalanan operasi, menantu
yang sedang menunggu kelahiran, mengeluarkan flek dan mulai mules. Aku suruh
mereka berangkat ke rumah sakit dan aku akan menyusul setelah urusan juragan
selesai.
 |
setia merawat..hehehe
|
Baru tiga jam berjalan, aku
dipanggil dokter. Alhamdulillah operasi sudah selesai dgn lancar dan sukses
tanpa perdarahan sama sekali, aku dan si
kk diajak menemui Juragan di ruang ICU. Dia mulai sadar dengan segala
selang yang menghiasi tubuhnya dari
kaki, hingga kepala. Luar biasa hebat kuasaMu yaa…Rabb dan acungan jempol buat
tim dokter. Aku bisa bernapas lega dan bermunajat kalau boleh, cucu lahir
setelah juragan kembali ke rumah.
Komat-kamit mulutku melantunkan
doa dengan khu’su kembali, Alhamdulillah mendapat kabar kalau belum akan
melahirkan.
 |
Cucu lahir
|
Semalam diruang ICU, paginya
dipindah ke ruang pemulihan. Ga gampang menunggu di masa pandemic, keluarga ga
boleh ada diruang tunggu bila malam, sementara ditinggal pulang juga ga boleh.
Aku mbambung tidur di mobil. Sewa kamar
disamping rumah sakit, nyaliku
ciut karena zona merah covid. Di hotel yg ga jauh pun, aku ga berani. Mobil
adalah tempat teraman untukku saat itu. Hari ketiga boleh ditinggal dan aku
kabur pulang, saat itu badan rasanya butuh istirahat. Dua malam dirumah, pagi ditlp
dokter agar datang ke rumah sakit,
karena juragan udah akan dipindah ke ruang perawatan. Alhamdulillah…. aku bisa
menemani juragan di kamar perawatan dan dihari ke delapan sudah boleh
meninggalkan rumah sakit. Alhamdulillah yaa Allah…
Doa ku dikabulkan Allah, sehari setelah juragan di rumah cucu lahir.
Alhamdulillah…walau harus melalui SC karena baby kebesaran, 4,3 kg
bo’…hehehe. NikmatMu yang mana lagi yg aku
dustai yaa Rabb..
 |
Kembali after operasi
|
Aku diberi pelatihan praktis
untuk merawat luka operasi dan lainnya di rumah sehari sebelum Juragan pulang,
jadi perawat pribadilah aku…hehehe…. 5
hari setelah di rumah, mulai menjalani rehabilitasi
fisik sebanyak 12 x pertemuan. Jam 6 pagi kita udah jalan ke RS dan jam 10
kegiatan selesai. Juragan dilatih senam dan berjalan, untuk mengetahui kekuatan jantungnya setelah operasi. Tapi
ternyata pasiennya bandel, jadi ada 2x dia over capacity dalam berolahraga.
Atau tangannya gatal, aku meleng sedikit, dia beberes dan cuci mobil.
Naah…kejadian lagi, katanya berasa muter, pandangan gelap dan keluar keringet
dingin. Dasar emang orangnya ga bisa
diam, jadi pengawasan diperketat.
Klo aku lagi di dapur, setiap
10-20 menit aku panggil….”Bos lagi apa?” Klo ga ada jawaban, langsung aku cari, dan ditemui lagi nongkrong di warung atau ketemu teman-teman di masjid. Pokoknya
berbagai alasanlah. Aku paham kok kalau dia boring di rumah dan ga ada
aktivitas apa-apa, tapi mau gimana lagi. Memang hanya istirahat yang diperlukan
untuk memulihkan dan menyembuhkan seperti awal.
 |
Luka operasi yg sdh bagus
|
Namun kejadian –kejadian kecil tersebut membuat kondisi juragan terus menurun, dan akhirnya aku memutuskan untuk stop
melanjutkan rehab. Sore itu dia keluar lagi
entah kemana, saat aku tinggal salat. Juragan cengar cengir saat kutemui
lagi ngobrol di pos keamanan. Yaaa…emang butuh kesabaran tingkat dewa, ngadepin
juragan..hehehe…
Sore itu setelah aku mandikan,
merawat luka operasi dan aku buatkan teh
manis hangat dengan camilan mari
regal sambil nonton TV. Aku tinggal setrika di
lantai atas. Ternyata tiba-tiba napasnya sesak, dia manggil2, tapi aku ga dengar.
Saat aku turun, juragan tidur di
kamar tp mukanya pucat dengan napas satu-satu. “Aku ga bisa napas, Ma.” Badannya
bersimbah keringat, aku memberikan obat yang diletakan dibawah lidahnya. Pelan-pelan napasnya mulai teratur kembali, “Alhamdulillah…udah
enak napasnya Ma.”
 |
Bahagia sdh bisa main dg cucu
|
Aku melanjutkan memasukan baju ke lemari, tetiba dengar juragan teriak-teriak. Juragan anfal dan ga sadar, matanya terbuka tapi ga ada reaksi. Si
Ade baru pulang kantor, langsung tlp ke kantornya minta dikirim ambulan sambil
nangis liat kondisi papanya seperti itu.
Aku tetap tenang menghadapi
situasi ini, karena sudah mendapat pelatihan praktis di RS jika hal ini
terjadi. Satu persatu tetangga datang, karena mendengar tangisan si Ade.
Juragan masih terus meracau ga jelas, pelan tapi pasti juragan mulai sadar tapi
masih belum mengenal aku. Si Ade makin
meraung tangisnya dan aku tenangkan.
“Papa ga boleh dibawa ke rumah sakit
Ade, kondisi pandemic seperti ini IGD bukan tempat aman bagi penderita jantung. Kalau obat
yang mama kasih sebanyak 3x dan ga ada reaksi, baru kita bawa.” Ade mulai tenang dan juragan mulai sadar
penuh, satu persatu tetangga yang dilihat dia sapa. “Ada apa Ma, kok pada ke
sini? Mama di sini aja dekat aku
dan jangan kemana-mana ya”
Setelah tenang, aku ganti bajunya
yang basah kuyup. Sejak itu juragan mulai susah makan, sering mengigil
kedinginan dan sesekali napas terasa
sesak. Melihat kondisinya yang terus
menurun, aku ga mau ambil resiko. Aku menghubungi
dokternya. dan disuruh untuk dibawa ke
rs keesokan harinya. Sesuai pesan
dokternya untuk periksa darah, HB, INR dan membawa hasil echografi terakhir.
Juragan ga kuat jalan jauh, terpaksa aku tinggal di mobil
sementara kau mengambil kursi roda di
klinik. Ternyata hasil labnya semua turun, yang paling parah keencerahan darahnya melambung tinggi,
sementara lainnya meluncur turun, begitu
juga tekanan darahnya hanya 70/59 aja. Ada
beberapa obat yang harus diatur ulang dosisnya dan harus echografi kembali. Dua hari lagi kembali
dengan hasil lab dan echografi terbaru.
Dua hari berikutnya, kondisinya
makin drop. Akhirnya diputuskan untuk
dirawat, tapi sementara di tempatkan di IGD karena ICU penuh. Aku lebih khawatir dengan kondisi ini dari
pada saat menjalankan operasi. Aku
terdampar kembali di rumah sakit ini tanpa membawa baju sama sekali. Alhamdulillah selepas magrib Juragan dipindah
ke ruang ICU, karena ada pasien yang dipindah ke ruang perawatan. Dokter
memberitahu kondisi juragan setelah semua hasil cek keluar. Dengan INR yang tinggi
tapi tidak terjadi perdarahan, maka sesak yang dirasakan karena ada cairan di
selaput jantung dan harus disedot.
Untuk dapat mengeluarkan cairannya
ga semudah itu, kondisi harus stabil dulu. Juragan di transfusi darah 2
kantong, karena HB nya terjun
bebas. Si kk dan keponakan sebagai pendonornya, Alhamdulillah golongan darahnya sama dengan papanya. Bukan hanya
itu, tekanan darah juga ikut meluncur
kebawah tapi keenceran darah berkibar diatas dengan pongahnya.
Lantunan doa ku tak putus
menggedor langit, berharap semua ini cepat berlalu. Hari pun seakan berjalan begitu lambatnya,
pertanyaanku pun tetap sama saat bertemu dokter. “Bagaimana dengan HB, tensi
& INR nya dokter?” Alhamdulillah HB
normal setelah transfusi, tensi pun mulai stabil. Hanya INR agak lambat
bergerak turun, sehingga belum dapat dilakukan
tindakan. Di hari ketujuh INR mulai
menurun dan dokter merencanakan akan
melakukan tindakan untuk mengeluarkan cairan. Namun hari yang ditentukan batal dilaksanakan,
karena ruang tindakan full. Akhirnya
hari yang dinanti pun tiba, aku diminta ikut mengatarkan ke ruang tindakan.
Kondisi ini membuat aku terpukul,
apakah karena aku kurang ketat dalam mengawasi dan teledor dalam mengurusnya
atau Juragan yang kurang mau bekerjasama melalui pasca operasi ini? Sudahlah, rasanya aku ga perlu mencari jawabannya. Lantunan doa
tak putus aku panjatkan, berharap
dapat menggedor langit agar Juragan ku kembali sehat.
 |
Juragan saat ini
|
Kadang kita merasa orang yang
paling menderita, ternyata masih ada yang tidak seberuntung kita. Diruang
tunggu keluarga pasien, kami layaknya keluarga. Saling menguatkan, mendoakan
dan saling bantu. Beragam kisah pilu tertuang di sini dan kita bisa bercermin,
apakah perlu bersedih berlebihan menghadapi
kondisi ini. Walau bagaimana pun rasa khawatir itu seakan merobek dinding jantungku, perih yang tak ada duanya. Seakan separoh jiwa ini nyaris raib.
Kata pepatah “Di atas langit, masih
ada langit” Kita merasa paling sedih dengan kondisi keluarga yang sedang di
rawat, tapi ada orang lain yang lebih patut sedih dari kita. Seorang keluarga
dari daerah harus menahan lapar, karena tidak memegang uang untuk dapat mengisi
perut. Biasanya kita sama-sama berbagi dan ada pula yang biayanya ditanggung
perusahaan, tapi setelah tiga tahun sudah tidak bekerja lagi dan asuransi
tertebut tidak pernah diurus untuk menjadi asuransi personal.
Dokter memberitahu, kalau biaya asuransinya
telah limit. Ruang ICU kelas tiga semalam biayanya 15 juta belum termasuk obat,
sementara suaminya telah 10 hari di ICU.
Dia disarankan untuk mengurus BPJS agar biaya pengobatan suaminya dapat
dicover. Tau ga gaes!....saat makan siang, dokter tersebut mengirimkan nasi box
buat istri pasiennya dan malam pun dikirimkan kembali. Masya Allah……betapa
mulianya dokter tersebut.
Ngomong-ngomong soal BPJS sesuai
yang aku alami, ini luar biasa. Aku tidak banyak keluar biaya, boleh dibilang sangat
sedikit. Sejak tahun 2019 dirujuk ke
sana, hanya biaya transportasi yang kami keluarkan. Semua free….bahkan aku
sampai bilang serasa punya rumah sakit pribadi..hehehe
 |
Souvenir dr Rumah Sakit
|
Bayangkan untuk ruang ICU kelas
tiga aja 15 juta perhari, kebayangkan untuk kelas satu berapa. Sementara saat
dirawat terakhir, Juragan 10 hari di ruang ICU. Padahal waktu operasi hanya 2
malam di sana. Obat yang dibeli sendiri seharga 280.000, tapi itu bukan obat
minum. Namun obat untuk merawat luka selama seminggu dan membeli plester
seharga 32000, karena Juragan alergi dengan plester yang digunakan diruangan
perawatan. Mahalan biasa konsumsi yang
nungguin kale….hahaha… Setiap bulan control dan pulang membawa obat untuk
sebulan, itupun gretong.
Daftar ga perlu berdesakan,
apalagi harus datang pagi-pagi. Cukup melalui online, kita akan dapat nomor
urut dan harus datang jam berapa semua sudah tertulis. Enak kan! Tapi itu yang
aku alaminya. Sementara surat rujukan dari klinik dekat rumah, diperpanjang 3
bulan sekali aja & ngurusnya juga ga ribet.
Pokoknya Alhamdulillah, kalau kata
si Ade. Kalau bayar pasti mama harus jula mobil, rumah dll, itu juga
belun tentu cukup kali…hehehe. Jadi BPJS
itu, “Kau dicaci tapi di puja”…….
Apapun alasannya, kalau boleh
milih aku ogah sakit aja aaah…..Tapi
Allah akan selalu memberikan cobaan kepada umatnya, agar lebih kuat dan
banyak bersyukur. Melihat perkembangan kondisi
Juragan, aku mulai melonggarkan
aktivitasnya sesuai pesan dokter, andai
sudah tiga bulan beberapa kran aktivitas
sudah boleh dilakukan. Sehat
ya Juragan kuuuh dan jangan pernah kembali ke ICU lagi.