Selasa, 12 Juli 2022

DUNIA KU KINI

 

Apakah Myelofibrosis itu?

 

 

Rawat  terakir 7 Juli 2022

Setahun lalu, tepatnya   bulan  puasa /juni 2021.  Aku merasa ga nyaman dengan perut bagian kiri, klo kaki kiri diangkat ulu hati serasa ada yang nonjok. Sehabis idul fitri aku ke dokter & dinyatakan maagnya kambuh, tapi sumpah aku ga merasa lambungku yang sakit. Apalagi kalau perut atas bagian kiri dipegang,  teraba ada yang membesar didalam. Tapi dokternya bertahan mengatakan kalau lambungnya bermasalah, & diberikanlah obat lambung.

Tentu aja sama sekali ga mengurangi rasa sakitnya, bahkan makin terasa sakit. Melihat mamanya  kesakitan, si Ade anak bungsunya membawanya ke rumah sakit untuk di USG. Kebetulan di kerja di RS tersebut sebagai HRD merangkap lawyer. Hasilnya bahwa limpahku membengkak dan indikasi penyakit jika limpah membengkak adalah penyakit darah, tapi kebanyakan sakit thalassemia. Hanya menurut dokter USG dan internis, penyakit thalassemia hanya  diderita anak-anak, bukan orang dewasa. Jadi harus didalami lebih lanjut.

Dengan berbekal hasil USG, aku kembali ke dokter yang mengatakan hanya penyakit maag. Dia kaget dan memberikan surat rujukan ke dokter internis. Hasil  pemeriksaan darah dari labolatorium yang dibacakan dokter internis, HB ku hanya 6. Dokter tersebut memberikan rujukan ke rumah sakit yang lebih besar untuk penanganan lebih lanjut, karena HB dibawah 8 sudah harus ditransfusi. Aku memilih ditangani di rumah sakit sakit tempat Ade bekerja, Alhamdulillah langsung ditangani dengan baik dan harus rawat inap setelah hasil pengecekan darah, jantung dan lainnya keluar.

                Saat itu pertama kali aku ditransfusi dua kantong isi 300 ml, tapi waktu itu covid lagi hebat-hebatnya persediaan darah kosong. Alhamdulillah anak dan keponakan siap mendonorkan darahnya. 2 hari aku sudah boleh pulang dengan HB telah 11 dan tiga hari lagi harus kontrol pasca rawat. Namun setiap bulan harus rutin control dan diawali dengan cek darah.  Bulan pertama control cukup mengejutkan dokter, karena HB sudah melorot dari 11 tinggal 9. Tapi masih diatas delapan dan akan dilihat lagi bulan berikutnya.

Pada bulan berikutnya HB sudah melorot jadi 7 dan harus rawat inap kembali, untuk transfusi kembali. tapi juga dikirim ke dokter ahli darah untuk pemeriksaan lebih lanjut.  Si kakak dan  ade memelukku dan membisikan, “ Mama harus semangat ya, pasti sembuh.” Alhamdulillah….aku tidak merasa sakit ini sebuah beban dan tanpa terselip rasa sedih sama sekali. Kesedihan ku hanya karena Juragan/ suami tidak dapat mendampingi. Anak-anak ga mau mengambil resiko, karena papanya  komorbid, jadi dijauhkan dari rumah sakit.  Suamiku baru operasi bental (penggantian 1 katup jantung} setahun lalu, takut kena covid.

                Aku menerima transfusi ke 2 dengan 3 kantong darah kembali,  HB naik menjadi 12. Kontrol pasca transfusi  Dokter ahli darah mecurigai epnyakit yang lebih serius, bukan animea akut karena HB cepat sekali drop. Dengan pelan dan hati-hati dia menyampaikan ke Ade, mau memeriksa sumsum tulang belakangku agar cepat ada kepastian penyakit apa. Dokter ahli darah itu  baik, bahkan baik banget menurutku. Tanpa menunggu lama dia meminta untuk pengecekan sumsum tulang belakang  dilakukan di RS Fatmawati.  Aku langsung  bertanya, “apakah  di RS Fatmawati kita bisa langsung, tanpa menunggu antrian?”   Maklum RS Fatmawati adalah rumah sakit umum yang mempunyai aturan sendiri.

“Ga Ibu,  nanti  Ibu ditangani di  Gria Eksekutif Fatmawati dan saya sendiri yang akan melakukannya. Hanya kalau disana  ibu tidak perlu keluar uang untuk biaya pengecekan sumsum tulang tersebut, sebesar Rp. 6 juta, karena dicover BPJS. Kalau di sini ibu harus bayar, karena ini rumah sakit swasta dan tidak mengcover biaya tersebut,” jelasnya panjang lebar.

Yaa…Allah…baiknya dokter ini. Aku dan Ade menyetujuani dan  dia langsung membuatkan memo. “Ini memo berikan ke perawat di sana ya bu dan yang ini berikan ke tempat pendaftaran. Kita akan ketemu di sana 2 hari lagi.”  Aku mengangguk mengiyakan.

Tugas si Kakak yang mengurus aku di RS Fatmawati dan ga perlu waktu lama, 2 jam semua urursan di sana sudah selesai. Mendapat jadwal dua hari lagi untuk pengambilan sumsum tulang belakang, karena menyesuaikan dengan dokter di labolatorium yang akan memeriksan sumsum tersebut. Hari yang ditentukan jam 9 pagi  aku sudah dipersiapkan untuk pelaksaan pengambilan sumsum tulang, dokter darah siap membius lokal dadaku dan dokter Lab siap dengan peralatannya.  Proses pengambilan  jadi santai karena  dua dokter tersebut  mengajak ngobrol aku. Pengambilan pertama ditolak  dokter Lab, karena kurang bagus. Lalu dilakukan pengambilan ke dua dan dinyatakan ok.  Spontan aku mengatakan “alhamdulilah,”  ternyata kita mengucapkannya berbarengan.   Aku diminta untuk tidak bangun dulu selama  ½ jam.  Saat pengambilan memang tidak berasa, tapi setelahnya dada terasa ditindih  2 kiloan  besi, berat.

“Luka ini  tidak boleh kena air selama tiga hari ya bu,”  pesan dokter darahnya dan  hasilnya bisa diambil  seminggu kemudian. Setelah ada hasilnya, pengobatanku kembali ke rumah sakit awal. Hasilnya keluar dan saat control ke dokter darah, dibacakanlah hasilnya. Ade menggenggam tanganku erat-erat dan alhamdlillah aku datar aja mendengarkan. Penjelasannya:

“Hasil dari pemeriksaan sumsum tulangya, ibu dinyatakan mengindap penyakit  Myelofibrosis, yaitu jenis kanker sumsum tulang yang memengaruhi kemampuan tubuh untuk memproduksi sel darah. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan jaringan parut di sumsum tulang sehingga membuat produksi sel-sel darah terganggu. Gampangnya begini, bahwa sumsum tulang belakangnya sudah malas memproduksi darah jadi harus disupply dari luar melalui transfuse darah. Ujungnya penyakit ini dapat menjadi LEUKIMIA alias KANKER DARAH,” jelasnya panjang lebar sambil tersenyum kearahku.

“Ibu harus tetap semangat untuk  sembuh ya!.  Melihat data awal, interval trasnsfusi ibu setiap dua bulan sekali.”

“Iya dokter, terima kasih banyak. Apakah ada obat yang harus saya konsumsi?”

“Ada bu, hanya vitamin saja.”

“Apakah ada makanan yang bisa membantu untuk dikonsumsi, dokter?” 

“Sayangnya tidak ada, karena pabrik darahnya sudah tutup dan ga mau berproduksi lagi. Satu-satunya harus disupply dari luar melalui transfusi. Ibu harus tetap semangat, in shaa Allah bisa sembuh dengan banyak berdoa kepada pemilik hidup.”  “Siaaap dokter, terima kasih.”

Sejak hasil pemeriksaan tersebut, aku merasa biasa aja karena tidak ada yang berubah. Hanya memang cepat sekali merasa lelah. Keluarga besar juga tidak ada yang diberitahu, sementara keponakan yang mendonorkan darah hanya tau aku kurang darah. Apalagi sejak transfuse ke-3 sudah ga perlu lagi mencari donor, karena darah tersedia di rumah sakit. Ternyata BPJS hanya mengcover 2 kantong saja, selebihnya kita harus bayar.  Memang  setiap rawat  ada kelebihan biaya yang harus kita bayar tapi anak-anak  ga ada yang mau  cerita ke mamanya.  Mari kita membuka wawasan tentang penyakit  MYELOFIBROSIS yang telah aku himpun dari berbagai sumber.

Penyakit apakah Myelofibrosis itu?

Myelofibrosis adalah jenis penyakit kanker sumsum tulang yang memengaruhi kemampuan tubuh untuk memproduksi sel darah. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan jaringan parut di sumsum tulang sehingga membuat produksi sel-sel darah terganggu. Penyakit ini merupakan penyakit langka, kebanyakan langsung kanker darah.

Penderita yang mengalami myelofibrosis sering kali tidak merasakan gejala pada awal kemunculan penyakit. Namun, seiring memburuknya gangguan pada produksi sel darah di sumsum tulang, penderita akan merasakan gejala anemia, seperti pucat dan kelelahan, serta mudah berdarah.

Penyebabnya

Belum diketahui secara pasti penyebab dari myelofibrosis primer Terjadinya Myelofibrosis ini ketika sel-sel induk di sumsum tulang mengalami mutasi atau perubahan DNA (gen). Sel-sel induk ini seharusnya memiliki kemampuan untuk membelah diri menjadi beberapa sel khusus yang membentuk darah, seperti sel darah merah, sel darah putih, dan sel keping darah (trombosit). Setelah itu, sel-sel induk darah yang bermutasi akan bereplikasi dan membelah sehingga akan makin banyak sel yang berubah. Hal tersebut  menyebabkan efek serius pada produksi sel darah, sehingga berakibat  pertumbuhan jaringan parut di sumsum tulang. Meski sering dikaitkan dengan mutasi atau perubahan gen, myelofibrosis tidak diturunkan dari orang tua atau bukan penyakit keturunan.  

Beberapa faktor risiko yang meningkatkan  terjadinya mutasi gen tersebut, yaitu:

1.      Bertambahnya usia

Myelofibrosis dapat menyerang siapa saja, tetapi paling sering terjadi pada orang usia di atas 50 tahun.

2.      Menderita kelainan sel darah

Orang dengan kelainan sel darah, seperti essential thrombocythemia atau polisitemia vera, bisa menderita myelofibrosis.

3.       Terpapar bahan kimia tertentu

Risiko terjadinya myelofibrosis akan meningkat jika sering terpapar bahan kimia industri, seperti toluene dan benzene.

4.      Terpapar radiasi

Orang yang terpapar radiasi pada tingkat yang sangat tinggi lebih berisiko menderita myelofibrosis.

Gejala Myelofibrosis

Gejala penyakit ini   sering kali tidak terlihat di awal sehingga banyak penderitanya yang tidak menyadari kemunculan penyakit ini. Namun, ada beberapa gejala yang muncul ketika penyakit ini berkembang dan mulai mengganggu produksi sel darah. Gejala tersebut meliputi:

1.      Gejala anemia, seperti cepat lelah, kulit pucat, hingga sesak napas

2.      Sakit di bagian sekitar tulang rusuk, karena limpa membesar

3.      Demam

4.      Sering berkeringat

5.      Tidak nafsu makan

6.      Berat badan menurun

7.      Kulit mudah memar

8.      Mimisan

9.      Gusi berdarah

Seringkali  penderita tidak menyadari bahwa keluhan yang dialaminya merupakan gejala dari myelofibrosis. Oleh sebab itu, periksakan diri ke dokter jika mengalami gejala-gejala di atas, terutama bila tidak kunjung membaik.

Penderita myelofibrosis perlu melakukan kontrol rutin ke dokter untuk memantau perkembangan penyakit. Kontrol rutin juga bertujuan untuk mengantisipasi dan mendeteksi terjadinya komplikasi lebih dini.

Pemeriksaan awal yang dilakukan  bertujuan untuk mencari tanda-tanda myelofibrosis, seperti kulit pucat akibat anemia atau pembengkakan pada organ limpa. Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang berikut ini:

1.     Tes darah

Dokter akan melakukan tes hitung darah lengkap untuk mengetahui jumlah sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Dugaan myelofibrosis akan makin kuat bila jumlah sel darah terlalu banyak atau terlalu sedikit, serta ditemukan sel darah yang bentuknya tidak normal dan HB rendah.

2.     Pemindaian

Pemindaian dengan USG perut bertujuan untuk mendeteksi pembesaran organ limpa. Pembesaran limpa bisa menjadi tanda dari myelofibrosis.

3.     Aspirasi dan biopsi sumsum tulang

Biopsi dan aspirasi sumsum tulang dilakukan dengan mengambil sampel darah dan jaringan sumsum tulang pasien menggunakan jarum halu Sampel jaringan tersebut kemudian akan diperiksa di laboratorium untuk melihat gangguan yang terjadi.

4.     Tes genetik

Tes genetik dilakukan dengan mengambil sampel darah atau sumsum tulang pasien untuk kemudian diperiksa di laboratorium. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mencari perubahan gen di dalam sel darah yang berhubungan dengan myelofibrosis.

Pengobatan  Myelofibrosis

Langkah yang akan dilakukan untuk pengobatan penyakit ini, tergantung dari  hasil pemeriksaannya dan disesuaikan dengan kondisi berat-ringannya penyakit.  Berikut ini adalah metode pengobatan yang dilakukan:

1.     Transfusi darah

Transfusi darah yang dilakukan secara berkala dapat meningkatkan jumlah sel darah merah dan meredakan gejala anemia.

2.     Obat-obatan

3.     Kemoterapi

Kemoterapi adalah pemberian obat untuk membunuh sel kanker. Obat ini dapat diberikan dalam bentuk tablet atau melalui suntik.

4.     Radioterapi

Radioterapi adalah penggunaan radiasi sinar khusus untuk membunuh sel. Radioterapi bertujuan untuk membantu mengurangi ukuran organ limpa.

5.     Transplantasi sumsum tulang

Transplantasi sumsum tulang dilakukan jika myelofibrosis sudah sangat parah. Pada prosedur ini, dokter akan mengganti sumsum tulang yang sudah rusak dengan sumsum tulang yang sehat.

Komplikasi Myelofibrosis  dapat menyebabkan komplikasi serius bila tidak segera ditangani. Beberapa komplikasi tersebut adalah:

1.     Tekanan darah meningkat di pembuluh darah hati (hipertensi portal)

2.      Sakit punggung kronis karena limpa yang membesar

3.       Pertumbuhan tumor di bagian tubuh tertentu

4.     Perdarahan pada saluran cerna

5.     Perubahan myelofibrosis menjadi leukemia akut

Penyakit Myelofibrosis tidak dapat dicegah dan tidak dapat disembuhkan, tetapi risikonya bisa dikurangi dengan menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin. Dengan begitu, myelofibrosis dapat terdeteksi lebih dini dan dapat segera ditangani.

Bagaimana  Kondisi Aku?

Rawat bln Mei 2022

 

            Alhamdulillah……penyakit ini sangat awal diketahui, sehingga dokter juga bergerak cepat untuk biopsi sumsum tulang dan ditangani dengan baik. Aku memang ga merasakan apa-apa selain cepat lelah dan berharap tidak banyak yang mengetahui, agar tidak perlu banyak menjelaskan. Di keluarga besar tidak semua diberitahu dan tentangga juga hanya 2 orang yang tau, setiap harus dikandangin (istilah aku kalau masuk rawat), hanya anak dan suami yang tau. Tapi anak-anak memang lebih ketat mengawasi mamanya, namun aktivitas semua berjalan normal. Hanya sekarang ga boleh nyupir mobil jarak jauh, semisal ke Jakarta, jadi bolehnya seputaran tangerang doang…hehehe..

Proses Transfusi

Awalnya  parno kalau mau naik busway, takut ga dapat duduk. Sementara aku ga kuat berdiri lama, tapi dengan berjalannya waktu dan aku mulai mengenali penyakit ini dan gejala apa yang terjadi dibadanku. Setelah hampir setahun aku mulai lagi berani kelayapan dengan busway, bahkan pergi keluar kota dengan keluarga atau tetangga dan teman-teman. Hanya sekarang semua harus diperhitungkan, jika sudah mendekati waktu untuk dikandangin memang aku cepat lelah. Ibarat lampu minyak yang akan kehabisan minyaknya dan mulai meredup. Jadi perlu dicas lagi dengan melakukan transfuse.

Aku sudah 6 kali menjalani transfusi dan sejauh ini baik-baik aja, hanya  yang terakhir agak horror karena ijin dokternya habis, sementara IDI lagi bermasalah dan pengurusan ijinnya tertunda sampai aku benar-benar nyaris padam. Jalan  ke masjid untuk tarawih dengan jarak 300 m dari rumah aja, ga kuat. Ngos-ngosan dan lemas, juga ga kuat berdiri lama. Jadi praktis  di rumah, masak untuk persaipan lebaran aja,  setengah jam aku tinggal tiduran dulu dan meneruskan jika sudah  agak segar kembali. Tapi  akhir mei kemarin aku sudah benar-benar ga kuat dan setelah konsultasi dokternya, dibawalah ke IGD karena sudah lemah banget. Dokter di IGD sampai geleng-geleng kepala, apalagi begitu keluar hasil cek darah. HB hanya 5. Oksigen langsung terpasang dan 4 kantong darah siap untuk dimasukan. Alhamdulillah…..pulang dengan HB 12 dan hari ini siap untuk control lagi.

Proses transfusi

 

Hal yang aku lakukan di rumah

                Selain rutin control setiap bulan, aku juga mekonsumsi beberapa herbal yang selama ini cukup memberi efek nyaman dibadan. Setiap pagi aku minum infus water air pare dalam kondisi perut kosong. Jadi 5 iris pare digelas, aku seduh dengan air panas dan setelah dingin baru diminum. Juga meminum air nabiz, yaitu air rendaman kurma. 3 atau 5 butir kurma yang waktu subuh aku rendam dengan segelas air, dan diminum pada waktu sore atau malam hari, kurmanya juga aku makan. Selain minum obat dari dokter. Aku minum obat herbal yang terdiri dari madu, temulawak, daun meniran dan daun kelor yang aku beli. Saat ini sudah menghabiskan 3 botol dan memberikan efek napsu makan aku makin baik (tadinya ga mau makan, apalagi kalau mendekati waktu rawat), berat badanku naik  4 kg,  dan  sudah tidak cepat lelah lagi. Kuat berdiri lama dan jalan jauh, juga sudah bisa lari pagi lagi. Alhamdulillah…..semoga bisa terus membaik…Aamiin yra dan Allah mengijabah doa-doa yang dilantunkan keluarga dan teman-teman yang begitu perhatian memberikan supportnya.

Berhubung sudah setahun, aku akan diberikan obat untuk membersihkan zat besi di ginjal  yang tertimbun, akibat transfusi darah. kata dokternya obatnya mahal.....in shaa allah bisa kebeli.

Jadwal control terakhir tanggal 7 juli dan ternyata sudah harus dicas lagi, karena HB hanya 7. Aku kaget juga saat dokter bilang masuk rawat, karena ga prepare baju. Rasanya baru bulan lalu dirawat dan ternyata….sekarang sudah bulan juli…hahaha..

Aku masih nawar, boleh masuk besok pagi kah?  Dokter tertawa dan menjawab boleh, tapi pemerinksaan before rawat hari ini. Besok pagi tinggal masuk dan langsung transfuse 2 kantong. Cek darah, cek antigen, rongent, rekam jantung, booking kamar dan booking darah ke bank darah. Semua selesai malam itu more less jam 9 malam.

SAku juga harus cek keratin dalam darah untuk mengetahui zat besi yang tertimbun di ginjal, karena transfuse berulang. Hal itu harus dibersihkan dengan mengkonsumsi obat yang akan diresepkan dokter dan katanya obatnya mahal. Aku juga ditawarkan untuk melakukan tes  untuk  mengetahui mutasi gen yang terbentuk, seperti JAK2. Kalau hasilnya positif, maka akan diberi obat yang harganya sangat mahal. Untuk 10 tablet seharga 30 jt dan sebulan jadi 90 juta.

“Fungsinya obat itu untuk apa dokter?”

“Untuk memperpanjang waktu transfusi, jadi bisa hanya 3-6 bulan sekali. Tapi bisa juga tidak ada perubahan dan tetap seperti saat ini.”

“Waduh…..saran dokter gimana?”  Ade,  jawil tanganku: “Beli obatnya jual rumah kontrakkan dulu ya Ma?”

Dokternya tertawa mendengar omongan Ade.

“Itu ga harus kok, kalau   ga mau juga tidak masalah. Memang hasilnya juga tidak terlalu berguna.”

Untuk cas kali ini, akan ditransfusi 750 ml darah yang terbagi dalam 3 kantong. 2 kantong besok pagi dan satu kantong lagi. Sayangnya, tiba di rumah Ade di kabari kalau darahnya ada item yang tidak cocok karena sudah berkali-kali transfuse. Saat ini masih di amprah (aku ga ngerti ini diapakan) dan harus discrening, juga akan diberikan obat sebelum transfuse dilakukan. Yaa…wis manuut!

Jam 8 pagi aku sudah masuk kamar dan dipersiapkan untuk transfuse, kantong pertama hanya berisi 195 ml. Satu kantong dengan durasi 4 jam dan berakahir jam 12 siang, tunggu  2 jam dan baru mulai kantong kedua dengan isi 205 ml. Magrib selesai dan dilanjut besok 1 kantong lagi.

Jam 8 pagi kantong terakhirpun mulai dipasang, tapi sayang hanya berisi 210 ml. Jadi total tidak sampai 750 ml, hanya 620 ml.  Masih nunggu 4 jam lagi setelah kantong ke tiga selesai, dapat dilakukan cek darah lagi  untuk mengetahui  HB nya setelah transfuse.  Alhamdulillah…setiap habis transfuse HB melonjak naik, jadi boleh pulang. Kalau kata dokter dan perawat, “Ibu itu cepat naik HBnya, tapi juga cepat turun…hehehe”

Aku begitu bersyukur, keluarga dan teman-teman begitu hebat dalam memberikan support.  Hal itu membuat semangatku melambung tinggi, apalagi lantunan doa yang terus diberikan semoga Allah ijabah. Aamiin yra, Terima kasih ku untuk dukungan moril dan materil, juga doa-doanya. Semoga Allah memberikan kita semua kesehatan membalas kebaikan teman-teman.

Aku tidak pernah tau sampai kapan aku akan melakukan transfusi, apakah selamanya sampaai jiwa terlepas dari raga atau sembuh total. Itu hanya Allah yang punya kuasa, aku hanya ikhlas menjalani dan memohon kemurahanNYA menjawab doa-doa kita.

Senin, 05 Juli 2021

MEMILIH SEKOLAH

 

 

 

Memilih Sekolah 

 

Sekolah yang menjadi pilihan ku

Memilih sekolah buat anak memang bukan perkara mudah. Setelah menjalani pendidikan pertama di lingkungan rumah, tiba  saatnya  anak untuk bersekolah  agar mendapat  bekal pengetahuan, wawasan dan ketrampilan yang lebih luas sesuai tingkatan usianya.   

Sebagai ibu rumah tangga yg bekerja diluar rumah dari pagi hingga petang, membuat aku memilih sekolah yang muatan agamanya lebih banyak. Hal itu aku ambil dengan pertimbangan, menumbuhkan kemampuan beragama yang benar. Menurut aku pendidikan agama merupakan landasan dasar  bagi pencapaian tujuan pendidikan akhlak. 


 

Menurut aku pendidikan awal anak-anak dari TK sampai SMP, wajib bermuatan agama yang lebih besar. Untuk aku memang sudah  mengincar  sebuah sekolah swasta yang menyediakan  jenjang TK sampai SMP, setelah lulus SMP anak-anak boleh memilih sekolah negeri. Aku mencanangkan beberapa syarat penting untuk menentukan sekolah bagi anak-anaku, antara lain:

1.    Muatan agama lebih banyak

Aku merasa pendidikan dasar agama perlu ditekankan pada  anak sejak usia dini sampai tingkat SMP. Di rumah pun aku memasukan anak-anak ke Taman Pendidikan Al Quran dekat  rumah setelah pulang sekolah. Aku ingin anak-anak memiliki dasar agama, agar memiliki aqidah  kuat, berkarakter dan berakhlakul karimah.  Untuk itu selepas dari sekolah menengah pertama, anak-anak aku bebaskan untuk masuk ke SMA negeri.  Tentunya dengan syarat sekolah negeri unggulan, agar situasinya tidak terlalu beda jauh dengan sekolah yang ditinggalkan. 

2.    Kurikulum sekolah

Sudah setahun aku mengikuti dan bertanya tentang sekolah yang aku nilai sesuai dengan kriteria yang diperlukan. Kurikulum merupakan salah satu hal utama dalam mencari sekolah bagi anak-anak, dan  aku coba mencari informasi ke pihak sekolah. Alhamdulillah, kurikulum yang disampaikan sesuai dengan yang aku harapan. Muatan pendidikan agamanya porsinya cukup besar, bahkan ada kegiatan ekskul belajar membaca Al Quran dengan baik dan benar.

3.    Hubungan kemitraan yang baik dengan pihak sekolah

Aku ingin antara rumah dan sekolah bisa bekerjasama demi keberhasilan anak. Jadi aku menyerahkan anak ke sekolah, lalu lepas tangan begitu saja. Namun orang tua bisa bekerjasama dengan pihak sekolah, utamanya para guru dalam memberikan informasi perkembangan anak. Jalinan komunikasi yang baik antara guru dan orang tua menjadi begitu penting, sehingga aku atau guru dapat kapan saja memberikan informasi tentang perkembangan anak. Guru juga tidak sukan untuk meminta bantuan kepada orangtua tentang tujuan bersama yang akan dicapai dalam proses pembelajaran.  Hal ini diharapkan  orangtua dan guru memiliki cara pandang  sama tentang tujuan proses pembelajaran.

4.    Sarana dan prasarana sekolah

Sekolah itu merupakan rumah kedua bagi anak, sekolah yang baik menurut aku dapat memenuhi kebutuhan anak didiknya dan mereka nyaman didalamnya. Sekolah tersebut lengkap memiliki gedung sendiri, masjid, perpustakaan, sarana olahraga, taman yang terawat, alat peraga, sarana kesenian dan katin yang bersih.

5.    Sekolah memiliki tingkat pendidikan dari TK sampai SMP

Syarat berikutnya, sekolah memiliki jenang pendidikan dari TK sampai SMP. Hal tersebut aku perlukan agar tidak perlu repot mencari sekolah lagi saat naik ke  jenjang berikutnya.

6.    Lokasi sekolah

Lokasi sekolah juga menjadi pertimbangan yang perlu aku pikirkan. Sekolah tidak terlalu jauh dari rumah dan sejalan dengan rute yang aku lalui untuk berangkat ke kantor.  Aku dapat   mengantar anak-anak ke sekolah  saat akan berangkat ke kantor, dan pulang dengan jemputan sekolah. 

Syarat tersebut hanya ada di sekolah swasta yang sudah  aku incar, lokasinya tidak terlalu jauh dan semua sesuai dengan yang persyaratkan. Sekolah tersebut menjadi sekolah pertama bagi si Kakak dan juga adiknya.   

Aku bersyukur masa anak-anak ku sekolah, tehnologi belum sehebat sekarang. Gawai juga masih baru keluar dan belum ada akses ke internet. Aku salut  kepada orang tua terutama para ibu di era tehnologi  seperti saat ini. Apalagi di masa pandemi ini,  melihat bagaimana para orang tua berjuang  membantu  anak-anak yang belajar di rumah melalui online yang tentunya tidak mudah. 

 


Dunia bergerak begitu cepat, anak-anak telah melalui pendidikannya dengan baik. Si kakak selesai kuliah pada tahun 2007, sementara adik lulus tahun 2012 dengan predikat cum laude dalam waktu tiga tahun, dengan IPK nyaris sempurna. Alhamdulillah selesai kuliah dilanjut dengan bekerja dan sekarang telah memiliki kehidupan masing-masing.

Diakhir tulisan ini, aku bersyukur dapat memilih sekolah yang tepat bagi anak-anakku dan membekalinya dengan  ilmu yang baik dan semoga dapat bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. 

 


 

Artikel ini diikutkan dalam Tantangan Artikel Pasukan Blogger Joeragan Artikel bulan Juni 2021 dengan tema “Memilih Sekolah”

Rabu, 09 Juni 2021

KEBERSAMAAN ITU MEMANG INDAH

Kebersamaan itu Memang Indah

Hotel Pullman

 

Sudah dua kali Idul Fitri kami tidak berkumpul bersama, begitu juga semua keluarga yang lain. Covid 19 telah memisahkan antar keluarga, kerabat, teman dan lainnya. Tanpa terasa sudah satu tahun pandemi ini melanda dunia, semoga cepat berlalu dan kita bisa hidup normal kembali. Namun untuk mengusirnya diperlukan kepedulian, kesadaran, kerja sama dan peran serta semua lapisan masyarakat. “jadi Jangan lupakan PROKES” untuk kepentingan kesehatan bersama.

Thanks for 2 drivers


Tapi pada kesempatan kali ini, kami bisa bisa sekedar melepas rutinitas dan stress untuk berhaha…hihihi bersama adik, kakak dan keponanakan.  Maaf kali ini hanya khusus emak-emak ajah hehehe…. Tau dunk gimana hebohnya kalau emak-emak denger slentingan berita mau jalan? Dari urusan makanan, dress code dan siapa aja temen di mobil jadi topik utama di WAG. Kita ga muluk-muluk juga mau  perginya, cuma mau kulineran dan cari tempat untuk spot berfoto ria.  

B'gaya abiiiz

 

Emak-emak dibawa ke tempat yang ada spot fotonya aja udah girang bener!. Apalagi udah dipamerin foto tempat-tempat yang bakal disambangin aja, udah siap lah dengan segala assesoris yang kudu dibawa. Biar keren kalau di foto, apa lagi ada DC. Isi lemari semua diaduk dah, biar dapat yang maching antara baju, sepatu, tas dan obat kewren…alias kaca mata…hahahaha. Emak-emak dilawan!.

Berawal dari ngobrol di WAG, akhirnya aku ditawaran kudu kulineran karena BB terjun bebas abis puasa dan kelelahan. Cepet bener responenya…..yang langsung difollow up Santi dan Ipit. Dengan iuran seratus rebo doang kita udah bisa maksi di tempat yang keren dan ke obyek wisata lainnya.  Biaya segitu free ongkos, karena ada donatur transportasi lengkap dengan supirnya….wkwkwk.. Ssstt…..sopirnya cuantik2, malah kita ditraktir baso segala…hehehe…

Panitia mengatur jadwal acara secara fleksibel.  tempat yang akan dikunjungi,  resto untuk maksi dan  tempat wisata lain yang mau disambangi dijalur pulang.   DC dan perlengkapan lainnya juga udah diinfo, tinggal menghitung hari dah.

Time to refreshing

 

Hari yang ditunggu akhirnya tiba, aku disusulin karena belum sampe dititik temu..hehehe. Sampe sana masih nunggu satu orang yang ga ada kabar, sementara dihubungin ga bisa.  Rombongannya  ditelpon ga ada yang diangkat,….hallooo… where are you guys?   Padahal waktu terus berlalu, walau akhirnya ada yang jawab setelah beberapa kali di telpon. Mereka udah nunggu dititik pertemuan…weallaaah..

Begitu kita lewatin dan ngasih tanda, ga ada yang respone karena asyiik main hp. Di telpon juga ga ada yang angkat…..refoot daah…hahaha. Hampir 15 menitan baru ada yang respone dan jalanlah kita, iring2an. Kita buka bekel dari rumah dah, isi perut ada arem2. the anget dll. Jalan udah mulai padat dan diujung jalan ada persimpangan, ke kiri arah taman safari dan ke kanan arah ciawi. Yang duduk dibelakang udah juling cari-cari mobil satunya dan udah ga keliatan ada dibelakang kita. 


 

Antrian panjang untuk keluar tol juga udah mengular, kita sabar menanti sambil jelalatan cari mobil satunya. Eee…tau2 ada kabar dia udah keluar told an protes ditinggal. Kalau ditinggal kenapa kita yang ada dibelakang yak…wkwkwkw….Panitia berpikir keras biar bisa nyusul tapi pake tangan orang lain. Naah…..gojeg jadi pilihan tepat untuk jemput dan memandu sampai ke Hotel Pullman. Bereees dah…..

Sejam lebih kita ngantri untuk keluar tol dan akhirnya bisa lepas dari antrian itu. Alhamdulillah…….dasar emak-emak solehah, keluar ternyata udah satu jalur  dan ditolong Pak Ogah nyebrang untuk masuk hotel Pullman. Muataab….tinggal nunggu babang gojeg nganter  mobil yang satu.

Resto Iron Bee

 

Akhirnya tuh babang gojeg nongol dan kita cuuzzz….ke taman bunga, jeprat-jepret dengan aneka gaya, pokoknya happy dah…. Setelah puas kita melincur ke dalam hotel untuk cari spot foto yang keren. Waah…ternyata tuh hotel 100 X luas lapangan bola..hahaha, guede bingit. Kita trobos sana-sini, naik turun tuh jalannya cuma buat f-o-t-o. Tapi emang keren bingit pemandangan tuh hotel, bahkan ada sawahnya segala. Sampe ada yang ga tahan liat pisang tanduk gelatungan, diparanin deh dan pulang nenteng 2 tas plastik lumayan gede.,,,hihihi.


 

Puas main di hotel dan perut udah mulai keroncongan, kita cuuz lagi ke  Iron Bee Resto. Setelah menyusuri jalan yang cukup untuk dua mobil tapi kudu gentian, akhirnya sampe deh. Liat saung lesehan diatas dengan bantal-bantal gede, glosor deh kita sambil nunggu makanan datang. Tapi berhubung udah laper bingit, sambil nunggu pesanan datang, kita sikat dulu bekel sarapan yang masih tersisa. Ada gorengan, bihun goreng, arem2 dan buah yang ludes dalam sekejap.


 
Ikan duyung b,gaya

Udah kekenyangan, ketiup angin sepoi-sepoi diatas bantal pula, otomatis mata merem melek minta istirohat. Pada glosor deh, malah satu supir tepar pules kekenyangan, apa kecapean? Tau dah ga jelas, soalnya antara kenyang dan lelah beda tipis lah…wkwkwk

Resto besar begini  musolahnya kuacil pake bingit, cuma muat buat dua orang aja. Apalagi kalau yang salat Nita sama Emi, penuh dah tuh musolah…hahaha.

Primadonanya...ups.

 

Setelah cukup leyeh-leyeh dan melepas lelah da nisi perut, kita jalan lagi dengan tujuan pulang lewat sentul dan mampir ke obyek wisata disekitarnya. Naah….dapat deh obyek wisata baru katanya di babakan madang. Kedatangan kita disambut lagu dangdut dan kita gatal kan kalau ga goyang. Sampe yang pake tongkat aja gam au ketinggalan tuh asyiik goyang…..tariiiik mang!!!.

Poll gayanya

 

Wisata tersebut berupa kali dengan batu-batu besar dan pengunjung dapat berenang. Kita dapat menyewa saung untuk duduk-duduk seharga dua puluh ribu sampe lima puluh ribu kalau ditambah tiker. Kita dapat turun ke kali, walau airnya deres tapi hanya sebetis orang dewasa atau hanay duduk-duduk disaung sambil mendengarkan organ tunggal di sebuah panggung kecil atau kulineran. Jam 17.10 menurut jam tangan aku, rombongan angkat kaki untuk pulang dengan pesan “Kalau ada tukang bakso atau mie ayam yang enak kita makan dulu”  hehehehe….muantab kan!!.

Makan bakso kitah

 

Perut udah keisi bakso disekitaran sentul, mare kita pulang. Kita berpisah begitu masuk tol. Mobil satu menuju arah lenteng agung, nganter Ibu Suri dan asistennya. Mobil kedua nganter Inces ke bintaro dan sampai jumpa di perjalanan berikutnya. Kapan? Doain aja ada donatur yang biayain…wkwkwkw

 

 #happy2barengadikkkkeponakan

#hotelpullmanciawisentul

#Makasihguys&sorry