Jumat, 29 September 2017

LOMBA SENAM BUGAR ANAK INDONESIA PERWOSI




Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (PERWOSI) menggelar Lomba Senam Anak Indonesia (SBAI) Tingkat Nasional Tahun 2017. Lomba ini resmi dibuka oleh Ibu Joko Widodo yang didampingi Ibu JK, pada tanggal 22 Agustus 2017 di Wisma Kementrian Pemuda & Olahraga, Senayan yang dihadiri oleh Menko Kemaritiman, Mendikbud, Ibu-ibu menteri Kabinet Kerja & undangan lainnya


Dalam sambutannya Ibu Iriana Joko Widodo mengajak anak untuk jangan lupa untuk "selalu berdoa, belajar dan berolahraga"

Lomba ini digelar selama dua hari dan
mempebutkan Piala Ibu Negara untuk Katagori A, Piala Menteri P & K untuk Katagori B, Piala Menteri Pemuda & Olahraga bagi Katagori C dan uang pembinaan.

Lomba ini diadakan untuk lebih memasyarakatkan olahraga dikalangan anak-anak dan perempuan. Gerakan senam ini mengambil beberapa gerakan dari cabang olahraga. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak lebih mengenal beragam cabang olahraga melalui senam tesebut. Diharapkan anak-anak indonesia menjadi sehat dan bugar.

Lomba dibagi dalam 4 katagori, yaitu : Katagori A untuk anak-anak sekolah dasar, Katagori B untuk Dewasa, Katagori C untuk anak & dewasa serta Katagori D bagi perorangan. Lomba yang baru pertama kali diadakan ini, diikuti oleh 74 tim Katagori A, 36 tim Katagori B, 14 tim Katagori C dan ratusan peserta Katagori D yang berasala dari 17 provinsi di indonesia.

Daerah Istimewa Yogyakarta menyabet juara disetiap katagori dan Ketua Umum Perwosi punya cara sendiri dalam menyapa para peserta lomba. Seluruh peserta, panita & juri saling berpegangan tangan membentu lingkaran dan dibakar dengan lagu-lagu perjuangan yang membuat semangat. Ketua umum Ibu Devi Pandjaitan berpindah posisi dari satu tempat ke tempat lain, menyapa dan bernyanyi bersama. Sampai bertemu tahun depan dan tetap rutin berolahraga anak-anak indonesia.

Allah membalikan keadaannya






Kami berteman sudah lebih dari tiga puluh tahun, tempat kerja yang mempertemukannya. Kita sering  dinas keluar kota bersama dan itu terjadi  sejak  masih sama-sama gadis belia. Tak sengaja kita  membeli rumah di daerah yang sama dan ternyata  tinggal   bersebelahan, bahkan tembok samping kita saling menempel.

Melihat secara lahiriah keduanya biasa saja, sang suami bekerja di perusahaan penerbangan terbesar di Indonesia, sebagai flight enginer. Saat baru pindah    kami sering ngobrol dibelakang rumah. Duluuu….masih pake pompa tangan dan kalau lagi nyuci kita sambil ngobrol,  dia selalu numpang menjemur pakaian di jemuran samping rumah yang dibuatkan suami. Tapi lama-lama ada aja yang dimintanya, mulai dari sabun cuci, bumbu dapur dan lainnya. Bahkan menguasai jemuranku, dia bilang “kamu jemurnya setelah baju-bajuku kering, karena takut   kecampur sama baju-baju kamu” Pertama aku diam dan mencuci  kalau dia tidak mencuci, tapi lama-lama kesel juga.  Itu kan jemuran  punya ku, kenapa aku yang harus tersingkir. 

Suatu hari aku menjawab saat aku nggak boleh menjemur baju karena dia mau menjemur. “Yaaa…jangan jemur di sini lah kalau takut kebawa aku”  hihiiii..aku ketawa dalam hati, emang mau jemur di mana dia. Alhamdulilah dia nggak jawab apa-apa dan menjemur ditempat kosong setelah aku menjemur.

Seminggu setelah menikah aku   pindah ke rumah ini. Rumah yang  aku beli setelah setahun bekerja. Walau  beli dengan cara dicicil, tapi  hasil keringat sendiri.   Maklum rumah tangga baru, masih kosong alias belum banyak isinya.  Utamanya  ada tempat tidur, lemari baju, meja makan dan alat-alat dapur. Ruang tamu cukup pakai karpet & aku baru bisa merenovasi kamar mandi aja, tapi belum sanggup bikin pagar. Tetangga juga baru  tiga  orang dari lima belas rumah saat aku pindah, bahkan listrik belum masuk rumah. Tapi Pak RT baik hati, dia mencantolkan listrik dari tiang listrik di depan rumah dan taraaa…..terang deh. Maklum rumah KPR, kendaraan baru ada becak untuk keluar komplek. Untung ada jemputan setiap kerja, jadi nggak repot cari angkot. Itu kondisi pada tahun delapan puluh empat dan sekarang sangat strategis, karena dikeliligi mall, jalan tol, bahkan mau kemana aja sangat mudah aksesnya.

Seiring berjalannya waktu ekonomiku mulai stabil, tapi belum selesai dalam membantu biaya adik-adik sekolah. Ya udah…yang penting ada tempat berteduh, renovasi nanti aja kalau udah ada biaya yang penting nggak ada yang bocor…hehehhe….Sementara tetangga sebelah rumahnya hampir selesai direnovasi, kendaraan roda empat baru  juga terlihat parkir didepan rumahnya. Ngiri?.....maaf nggak ada dalam kamusku rasa itu, aku sudah biasa dididik untuk berjuang setiap ingin mendapatkan sesuatu. Nanti akan tiba waktunya. 

Naah…pada suatu siang, aku sowan ke rumah sebelah ingin lihat rumahnya setelah direnovasi. Setelah melihat-lihat, aku iseng aja tanya “Habis berapa nih?”  
“Waah… kamu nggak bakalan mampu deh  kalau aku sebutin.”   Suaminya juga ikut nimbrung, “Tau dunk gimana orangtuaku. Tempat tinggal aja didaerah elit di Jakarta.” Hehehehe…..aku hanya tertawa mendengar jawabannya.

Allah memang mboten sare, dia ternyata harus resign karena telah berbadan dua. Namun menurut aku, toh suaminya masih bekerja dan dia nggak menanggung biaya adik-adiknya.  Tapi ternyata penghasilan suaminya tidak sebesar istrinya,   ekonominya mulai goyang. Loh kok aku tau sih?......Taulah, karena  dia mulai mengganggu aku. Minta ini, minta itu, bahkan berani membuka tutup saji meja makanku dan mencomot masakanku. Ealaaah…..norak banget sih! Apalagi ditambah anak pertamanya lahir dan air susunya tidak keluar! Bayangin beli susu, udah bikin dia puyeng kepala. Akhirnya terjadilah tragedi rumah tangga, mulai sering cekcok dan setiap terjadi dia larinya ke rumahku. Bener-benar ngga beruntungnya aku…hihihi.  Sejauh ini ya aku berusaha untuk membantunya, terutama mengurus anaknya kalau mereka sedang cekcok.  Ternyata cekcok tersebut makin hari makin hebat, ibaratnya nggak ada hari tanpa cekcok dan telah sampai ke telinga orangtua si suami.

Kemana orangtuanya bercerita saat datang?... Sama aku dan minta tolong memantau keadaan rumahtangga anaknya untuk dilaporkan ke mereka. Yuhuuuuu….aku dan suami berpandangan, lalu meluncurlah kekesalan sang ibu mertua.  “Rumah sudah dibagusin,  minta beli mobil  juga dibeliin. Kok hasilnya seperti ini?” Keluh sang mertua dan aku hanya senyum sambil mendengarkan tumpahan hatinya. Ternyata  si suami anak pertama, memiliki  enam adik dan orangtuanya tajiiiiir. Aku iri?.... Sekali lagi TIDAK! Aku bahkan bangga telah dididik orangtuaku untuk bisa mandiri, menapaki hidup rumah tangga dari bawah dan berusaha membangun dengan keringat sendiri. Lebih nikmat rasanya, tanpa merepotkan orangtua setelah berumah tangga. Kalau bangga dengan kekayaan orangtua..yaa..percuma.

Aku malah bangga dapat mandiri dan merintis rumah tangga dari bawah tanpa merepotkan orangtua. Saat aku pindah rumah, ada beberapa alat rumah tangga yang akan disediakan orangtuaku, tapi aku tolak dengan halus. Aku hanya ingin berusaha  sendiri,   aku hanya butuh doa restunya saja   agar bisa membangun rumah tangga ini sampai maut memisahkan.  Dalam benakku, merintis hidup dengan perjuangan bersama sesuai rencana kita berdua. Hal ini tentu akan memberikan pelajaran terbaik buatku dan suami, seperti yang selama ini dajarkan kedua orangtuaku.

Akhirnya aku   bersedia menjadi penengah, untuk memenuhi permintaan kedua mertuanya. Aku tulus  membantu, dia kan temanku. Setiap saat sang mertua menghubungi aku untuk mengetahui perkembangan hubungan anaknya, dan allhamdulillah akhirnya damai kembali. Namun kesombongan masih saja diperlihatkan. Menanggap dirinya anak orang kaya  yang rumah orangtuanya  terletak di daerah elit di Jakarta, terus saja diikrarkan kesemua orang. Hampir  semua tetangga pernah diajaknya   cekcok, tapi setelah mengetahui karakternya  mereka maklum dan nggak melayani.

Kejadian besar menimpa suaminya yang tiba-tiba dipecat dari tempatnya bekerja, karena sering ribut dengan melakukan demo.  Untungnya masih diberikan uang pesangon, tapi uang kesehatan dan pension diambil semua sekaligus. Terus…tau apa yang dilakukannya?....dia hidup laksana bergelimangan harta, setelah uang habis dia berusaha mencari pekerjaan kembali. Namun sayangnya, kalau bukan sebagai manager, semua ditolaknya. Setelah  tiga tahun menganggur, temanku mulai mencarikan pekerjaan untuk suaminya ke teman-temannya. Sayangnya, berita tentang kelakuan suaminya sudah banyak diketahui orang dunia penerbangan.  Tidak satupun  perusahaan   yang  bersedia  menerimanya. Sementara yang menopang kebutuhan hidup sehari-hari, anaknya yang telah bekerja di kapal pesiar dan bantuan orangtuanya.

Terus saja seperti itu, sementara teman-teman kantor seangkatannya telah hidup lebih mapan, bahkan melebihi dirinya.  Dia tetap hidup bergaya borju yang mengandalkan orangtua, anak-anaknya kuliahpun ditanggung orangtuanya. Namun tidak ada perubahan sikap yang terlihat, sementara hutang di mana-mana termasuk kepada ku. Setelah ibu mertuanya meninggal, dia mendapatkan warisan uang tunai sebesar 1M (menurut cerita maminya, saat aku jenguk di rumah sakit). Berapa besarpun uang yang diberikan, pasti akan habis dan itu pun demikian. Dua tahun uang ludes, akhirnya tanpa malu pinjam uang kesana-kemari. Bahkan kepada orang-orang yang dulu dia hina, dan rela menipu tetangga dengan banyak dalih.  Kemarin istri teman kantor suaminya, cerita padaku. “Dulu aku dihina karena dari kampung dan sering suamiku dibodoh-bodohi. Sekarang dia nggak malu minta uang sama suamiku. Ternyata Allah membalikkan keadaanya, sekarang dia berada dibawah dan mungkin inilah buah dari kesombongannya”.

Selasa, 19 September 2017

Belajar buat Blog


Malam ini aku dapat wawasan baru tentang blog, bagaimana membuat, mendandani dan mengubah tema serta lainnya dari Mentor cantik Mba Widyanti Yuliandari. Menurut info dan sumber yang pernah saya baca, beliau mendapat fulus dari mengblog. Kapan ya...aku bisa seperti itu? #ngarep.com#.

Aku punya blog bikin sendiri dengan membuka-buka si Mbah Google, walau keliatan jadul tampilannya. Namun aku cukup seneng, karena bisa bikin blog sendiri dengan meraba-raba & alhamduliilah jadi. Itu terjadi tahun 2010 kalau ga salah & mulai deh curhat berhamburan di blog, sayangnya nulisnya ga rutin. 
Tapi tantangan dari Guru SP Mba Ida  Fauziah yang setiap bulan bikin lomba nulis (kalau boleh dibilang begitu), dengan aneka tema. Alhamdulillah dapat terpilih mendapatkan pulsa berkali-kali, juga terpilih menjadi penulis artikel terbaik dan tiga diantaranya sudah dibukukan. Malah salah satu buku antaloginya, dicetak ulang dalam rangka hari Kartini dengan Kata Pengantar dari Menteri Sosial Kofifiah Indar Parawansa. Bangga?...Pasti!..

Alhamdulilah banget bisa ikut training ini, karena aku pengen sekali bisa kaya orang lain yang blognya bisa dipasangin iklan dan disambangin banyak orang. Tapi syaratnya aku harus makin rajin nulisnya dengan artikel yang menarik tentunya. Jangan kesal ya Mba Wid kalau nini-nini ini banyak tanya...hehhehe...
Aku berharap training ini dapat membuka wawasanku lebih jauh tentang blog. Suwun yo Mba.

                                                                  Foto Slide by Widyanti Yuliandari

Minggu, 02 Juli 2017

KLOTER 43 (2) IBADAH HAJI

Niat berangkat haji memang ada tapi untuk mewujudkannya belum terpikir sama sekali. Aku masih memikirkan masa depan anak-anak dengan mendepositokan  biaya untuk kepentingan pendidikannya. Karena tanpa diduga perusahaan tempatku bekerja nyaris kolaps & membuka peluang untuk pensiun dini.

Pesangon dan uang pensiun sekaligus yang aku terima memang tidak sedikit jumlahnya, makanya aku bagi tiga. Untuk peganganku, si kakak dan Ade yang aku depositokan atas nama masing-masing. Hal itu aku lakukan takut akan terjadi tidak sesuai rencana seperti saat ini. Walau suami masih tetap bekerja.

Ternyata inilah jalan yang ditunjukan Allah untuk mengundangku ke rumahnya, Baitullah. Tiba-tiba suami bilang, akan menjual mobil. Saat sebuah mobil baru diantar ke rumah, suami menyerahkan amplop coklat berisi uang hasil menjual mobil yang lama. Waduuuh.....dapat dari mana dia bisa ganti mobil baru ya? 
Ternyata uang fasilitas kendaraan  dari kantornya keluar, alhamdulillah. Entah ada dorongan atau pikiran dari mana, malamya aku bilang, "besok kamu ijin ngga masuk kantor ya. Anterin aku ke bank untuk simpan uang ini" sambil menunjukkan amplop coklat yang dia berikan tadi sore. "Tumben, biasanya juga kamu pergi sendiri" jawabnya.
"Wis ikut aja, sekali-kali nganterin kenapa sih" jawabku sambil mengodanya.

Aku percaya kalau Allah sudah berkehendak, Kun Faya Kun. Maka jadilah, tanpa ada yang bisa menghalangi. Biasanya suami itu paling susah kalau disuruh ijin & hari itu ya manut aja tuh. Keesokan  harinya aku dan suami saat menunggu panggilan dari teller di counter sebuah bank, mem baca-baca brosur produk bank tersebut. Dan kok aku tertarik dengan brosur setoran awal keberangkatan haji. Saat nomor antrian dipanggil, aku malah menunjukan brosur tersebut dan bilang mau setor awal haji aja.

Aku tanya-tanya ke security dan disarankan untuk ke customer service dan itulah awal ku mendaftar  haji. Suamiku sendiri kaget, saat aku bilang mau daftar haji aja. Hehehehe......karena dari rumah memang tidak ada niat untuk mendaftar haji. Alhamdulilah...yaa Rabb, begitu  tak terduga hidayah yang Kau berikan kepada kami.   Aku tak habis-habisnya bersyukur, bahkan suamiku masih merasa ga percaya dengan keputusanku. "Mungkin uang hasil menjual mobil ini, memang Allah beruntukan untuk ongkos kita berhaji, Pa" Jawabku memastikan.

Akhirnya terjadilah traksaksi pendaftaran keberangkatan haji  kami, hanya karena diluar rencana kita ga membawa surat-surat yang diperlukan, selain hanya KTP.   Pihak bank langsung memproses dan kami mendapat  nomor antri untuk tahun keberangkatan yang istilahnya sudah mendapat nomor kursi. Hanya besok tinggal melengkapi dengan photo copy surat nikah & pas foto. Setelah menyerahkan persyaratannya,  kami  tinggal melapor ke Kanwil Depag sesuai alamat tinggal. Alhamdulillah semua selesai dengan lancar & suami hanya bisa terbengong-bengong sampai brebes mili, sementara  aku masih  belum percaya  dengan kejadian ini. Masya Allah......ini bagai mimpi yang bisa datang kapan saja, di rumah suami masih bolak-balik bertanya. Apa memang aku sudah merencanakan ini? Sumpah...ngga sama sekali.  Aku sendiri aja masih belum percaya, tapi melihat map kuning dengan kop bertuliskan "Departemen Agama. Calon peserta Haji."

Setelah santai aku mengambil map tersebut dan membaca dengan tenang. Subhanallah.....ternyata kami hanya menunggu antrian  selama 3 tahun saja dan waktu keberangkatan suami sudah pensiun. Memang itu kehendaknya, biar bisa tenang beribadah, katanya. Yaa.....Allah betapa indah nikmatMu.

Saat  melapor ke Kanwil Depag, kami minta  mengisi formulir dan lumayan antri. Namun ada yang aneh menurut aku nih. Calon jamaah disebelah aku duduk, ternyata sudah pernah berhaji dan mengisi formulir dengar jujur. Namun saat  dicek  petugas dengan enteng bilang. "Jangan ditulis sudah pernah haji  Pak. Nanti dicoret, diganti aja formulirnya dengan yang baru dan isi belum pernah ibadah haji"  Wuiiiik.....aku memandangi si petugas dan di calon bergantian, tapi yang dipandang cuek aja tuh. Seperti ngga merasa salah, mau ibadah kok  diajarin berbohong  sama petugas...ckckckc..
Padatnya jamaah di musim haji yang melakukan tawaf

Sebelum ke kanwil ini kami foto dulu sesuai yang diberitahu bank waktu mendaftar & ternyata foto kami ngga diterima. Katanya fotonya di sini dan bayar sekian......hehehe....sia-sia foto yang tadi di studio, padahal cukup banyak cetaknya. Yo wis...ternyata ini bisa dijadiin penghasilan tambahan kali ya....hehehe Setelah selesai, disuruh nunggu sampai tahun yang ditentukan dan akan dihubungi, kata petugasnya. Ok....
Bersambung ...



Rabu, 21 Juni 2017

RUMAH KONTRAKAN


Barusan mendapat kabar dari adik yang mengurusin rumah kotrakanku. Katanya penghuni rumah nomor satu pindah tadi sehabis magrib, tepatnya kabur. Kunci rumah dibawa dan rumah ditinggalkan tanpa dikunci. Kabar itu didapat dari penghuni kontran nomor dua melalui WA. Dia belum bayar uang kontrakan bulan lalu pula. Padahal dia sudah menghuni rumah kotrakanku selama enam tahun dan aku harus panjang sabar menghadapinya. Orangnya nggak punya sopan santun dan kalau bayar kontrakan sesuka dia waktunya. 

Hasil gambar untuk gambar rumah kontrakan
                                                 kira-kira seperti ini desing kontrakanku

Padahal kontrakan ini aku bangun untuk menyambung  hidup, karena dari situlah biaya rumah tanggaku setelah pensiun. Maklum nggak punya pensiun bulanan, tapi ternyata mengelola kontrakan kecil seperti itu sebagiannya adalah membantu orang. Karena penghuninya kebanyakkan keluarga sederhana, tapi memang hanya satu dua orang yang berlaku seperti itu. Dan kalau menurut aku itu adalah karakter yang memang udah dibawa dari sononye. Menyebalkan, apalagi kalau waktunya bayar. Ternyata galakan dia...hehehe
Padahal sudah beberapa kali aku bebaskan dari kewajibannya membayar. Bermacam alasannya, yang suami di PHK, belum terima gaji dalan seribu macam alasan. Yo wis sing waras ngalah, tapi menurut adikku. Aku terlalu baik, jadi dia berbuat seenaknya.

Jadi saudara-saudara menyandarkan hidup dari kontrakan kecil itu, nggak bisa menjadi lancarnya pembayaran setiap bulannya. Belum lagi mereka tidak merawat rumah tersebut seperti rumahnya. Jadi setiap ganti penghuni, ada saja yang harus diperbaiki. bahkan ada yang membawa serta pompa air dan bak mandi yang dari ember besar. Semoga aja para penghuni disadarkan Allah yak

Atau benar kata adikku, aku terlalu baik. Bahkan saat akan dianikan biaya sewanya, aku selalu menanyakan kepada para pengontrak. Apakah setuju dinaikan sebesar sekian? Aku kan kasian juga kalau mereka keberatan karena keterbatasan dana. Ya itulah seperti aku bilang, mengontrakkan rumah lebih banyak sisi sosialnya. Tapi siapa yang mikirin aku ya, kalau dapurku nggak ngebul karena nggak pada bayar sewanya.

#Edisikeselsamakontrakan no1#

Selasa, 20 Juni 2017

KLOTER 43 (1) UMROH


Setiap muslim tentu  ingin berkunjung ke Mekah untuk memenuhi rukun islam ke lima, yaitu berhaji. Minimal dapat  umroh, sementara rejeki biar Allah yang mengaturnya. Hanya kita tidak dapat memungkiri, bahwa ketentuan & kehendak Allah itu pasti. Saya yakin setiap umat muslim, pasti ingin dapat ke tanah suci, baik berhaji maupun umroh. Namun kita ketahui untuk  mendapatkan undangan dari Allah agar dapat sampai disana itu yang sulit. Kok begitu? Ya iyalah kalau pemilik rumah nggak memberikan undangan gimana mau sampai disana. Ga percaya?

Yuuk mari kita bahas. Banyak orang yang memiliki rejeki berlebih dan untuk sampai ke Mekah, tentu bukan sesuatu yang sulit. Dana yang tersedia sudah tersedia, tapi kalau Allah belum mengundangnya atau menggerakan hatinya untuk berniat. Yaaa.. ngga akan bisa tentunya.  Coba perhatikan, begitu banyak orang yang memiliki uang banyak & mobil berderet di garasi dan  belum berhaji, bahkan umrohpun belum. Aku percaya hal itu, karena Allah belum menggerakan hatinya untuk ke sana dan pastinya belum bersiap mengirimi orang tersebut undangan berhaji.  Sementara seorang tukang beca, dan tukang urut selama 30 tahun menabung agar bisa menginjakan kakinya di rumah Allah serta memenuhi panggilannya. Iya nggak sih?

Aku mengalami sendiri tetiba ingin berumroh dan hanya dalam waktu seminggu, mendaftar & persiapan lalu bisa berangkat. Semua begitu mudah, seorang teman mengajukan diri untuk membantu mengurus tiket & vaksin. Teman lain memberikan bekal  obat-obatan dan yang mengurusi ke travel bironya. Subhanallah...dimudahkan.

Mina pada th 1995, tempat melempar jumroh
                                                        
Pada saat itu, aku  sendiri sedikitpun belum  terlintas untuk bisa berhaji bareng suami. Aku sedih berangkat umroh sendiri, karena suami belum mau ikut. Jadi berangkatlah aku sendiri dan ternyata aku sangat beruntung karena tidak harus membayar tiket pesawat. Gratis dapat dari perusahaan, bahkan aku dapat tambahan 100 real dari travelnya karena jadi kepala rombongan.

Subhanallah....begitu beruntungnya  aku, pada  saat itu  masih bisa melihat makam Nabi Muhammad SAW yang masih terbuka. Jadi hanya tanah yang nisannya hanya sebuah batu, dipagar setengah tembok dan atasnya ditutup dengan papan, tapi jamaah dapat melihat ke dalam dengan jelas. Bergeser ke kanan dari makam Nabi, terdapat mimbar nabi & alhamdulillah aku dapat sholat persis di tengah antara makam &  mimbar Nabi Allah. Jamaah  umroh masih  belum sepadat sekarang dan waktu pelaksanaan juga cukup lama, yaitu dua belas hari pul di sana.

Aku bahagia dapat melihat langsung sumber sumur air zam zam yang terletak tidak jauh dari Ka'bah dan berwudhu di sana. Kapan saja kita bisa bolak-balik ke masjidil haram, karena hotel tempatku menginap terletak tidak lebih dari 10 langkah saja. Makananpun selalu tersedia di hotel, dengan menu indonesia. Aku bisa berpuas-puas menyiram air zam-zam dari ujung kepala sampai kaki. Jadi di sumur tersebut, ada seperti wastafel dengan gelas kaleng yang diikat rantai. Di depan pintu sebelum kita masuk ke sumur, ada ubin yang lebih rendah dan dialiri air yang berfungsi untuk kita cuci kaki.

Saat  di Madinah hotelnya lebih dekat lagi dengan Masjid Nabawi, keluar hotel sudah ada di halaman masjid aja. Pertama sampai di Madinah, kita disambut hujan deras. Halaman Masjid Nabawi tergenang air, namun dalam sekejap air tersebut hilang tanpa bekas, sementara penduduknya keluar semua untuk menampung air hujan dan beramai-ramai mandi hujan.

Di tahun itu menyiapkan perlengkapan umroh  tidak semudah sekarang. Dulu mencari baju muslim sangat sulit karena masihh belum marak seperti saat ini. Aku  khusus menjahit pakaian muslim berwarna putih dan dengan model   celana panjang longgar dan baju muslim panjang 3 stel. Namun disana aku lebih nyaman menggunakan baju muslim, model celana panjang, baju dan mukena panjang yang menutupi bokong. Kita harus hati-hati dalam berpakaian selama di sana, kalau tidak mau  di tegur askar  yang mengatakan "haram...haram Siti Rahma" kalau pakaian atas kita tidak menutupi bokong. Juga harus ekstra hati-hati kalau nggak mau dibawa kabur supir taksi.

Jam besar di Mekah, dulu belum ada dan disekitar  halaman Masjidil Haram & Masjid Nabawi, penuh dengan pedagang mulai dari pernak-pernik sholat sampai karpet & perhiasan emas. Jika waktunya sholat, dagangan mereka tinggal tanpa di tutup apapun, kecuali toko emas, etalasenya ditutup dengan kain.   Saat itu 1 US dollar masih Rp. 300 aja.

Di Jabal Rachma
                                                               
Kalau di masjid Nabawi, saat kita   berwudhu yang terletak   di sisi kanan, andai kita menghadap kiblad. Kita berwudhu bisa  memandang ke pemakaman. Pintu masuk ke dalam masjid juga hanya satu, yaitu dari makam Nabi yang ada kubah warna hijau. Saat  aku berhaji, semua sudah berubah total. Menu makan dengan ikan atau daging onta yang masih alot, sementara sayur asam yang isinya terong medan (terong sebesar jari dan berwarna hijau). Kita makan di hotel dengan prasmanan dan tersedia susu bubuk merk klim yang gurihnya selangit. Karena belom ada yang jualan seperti sekarang, kalaupun ada yang daging kebab dan martabak telor yang keras karena terigu doang tanpa ada telurnya.
Di Jabal Rachma & nampak dikejauhan Arofah tempat wukuf saat musim haji
                                        
Sementara air zam-zam belum tersedia   di Masjid Nabawi, seperti sekarang yang disediakan dalam   tong-tong dari alumunium dan gelas plastik. Tanah arab masih gersang, belum sehijau sekarang. Betapa terkejutnya aku ketika kembali ke sana semua sudah berubah 180 derajat dan sangat modern. Namun sayangnya aku tidak dapat lagi melihat makan Nabi, karena sekarang hanya terlihat bangunan yang ditutup dengan dinding serba hijau. Sholat jauh dari mimbar Nabi, karena dibatasi partisi yang paten dan hanya ditandai dengan karpet warna hijau, itulah raodah. Kita juga belum menemukan payung raksasa yang super keren.

Keluar dari pintu hotel kita sudah berada di halaman Masjidil Harom. subhanallah, beruntungnya Allah telah mengundangku di saat semua masih bisa disaksikan masih apa adanya. semoga aku bisa kembali kesana membawa anak-anak ku umroh.
                                                       halaman masjid Qiblatain




Minggu, 04 Juni 2017

RISOLES AYAM KULIT TAHU


Memasak itu butuh kreativitas biar ga monoton & menggugah selera anak. Bisa juga buat menekan biaya dan menghemat waktu. Modalnya hanya niat & kemauan, karena tanpa dua faktor tersebut ga akan jadi Mak.  Satu macam isi tapi bisa berbagai macam rupa, yang pasti menyehatkan dan terjamin kebersihannya.

Aku sendiri bingung memberi nama adonanya, tapi bisa digunakan untuk somay, ekado, risoles ayam, nuget ayam dan cabe isi ayam. Yuuuk kita mulai dengan bahan2 utama :

Bahan isi:
1/2kg ayam fillet, cincang
2 batang daun bawang iris halus
2 bh wortel iris dadu kecil
1 bh tahu cina besar haluskan
3 siung bawang putih cincang
2 lembar kulit tahu (potong menjadi 48 lbr)
4 bh sosis ( 1 bh potong jadi 8) bisa diganti keju
1 btr telur
Garam, gula, lada

Cara membuat:
-Campur ayam cincang, tahu, telur,  garam, gula & lada, aduk rata. lalu masukan  wortel & daun bawang.
-Ambil 1 lembar kulit tahu, letakan 1 sendok makan munjung adonan, beri sosis di tengahnya & bungkus seperti risol. Lakukan sampai bahan adonan habis (bisa jadi 40-50 bh).
-Lalu kukus selama 15 mnt, angkat & goreng untuk dihidangkan.

Cara lain:
Ambil daun pisang, lalu letakan adonan secukupnya & letakan sosis ditengahnya  & gulung seperti lontong lau semat dengan tusuk gigi dikedua ujungnya. Lalukan sampai adonan habis (bisa 4 bungkus)
Kukus selama 15 mnt, angkat. Potong2 tipis & goreng jika ingin dihidangkan.






anda juga bisa mencobanya dengan memasukan ke dalam cabai besar seperti ini, setelah itu tinggal digoreng.




Selamat mencoba