Kamis, 11 Juli 2013

Ramadhan Terindah





 Dug…dug..dug….sahur…sahur……sahuuuurr………suara  anak-anak  menabuh bedug  yang  diletakan dalam   gerobag dan di dorong beramai-ramai, sambil  meteriakan  sahur  memecah  keheningan pagi. Rombongan ini  mengelilingi komplek untuk membangunkan  penduduk, sementara  aku telah duduk didalam mobil yang akan membawaku  bertugas.  Aku telah  menyiapkan  hidangan sahur  untuk suami dan anak-anak sejak jam satu pagi, aku telah mendahului mereka sahur. 

”Bangunkan anak-anak untuk sahur nanti jam empat saja,” pesanku pada suami sebelum  pergi.”

Ini mungkin hal biasa bagi keluarga kecilku, di saat ramadhan tiba sahur atau buka tidak selalu dapat dijalani bersama.  Hal ini membuatku  terasa berat menjalankan tugas, dimana seharusnya aku menemani  suami dan anak-anak sahur atau berbuka, tapi kadang aku entah berada  dimana. Kadang hatiku  berontak dan bertanya, kenapa aku mendapat schedule  sepagi ini?.   Adakalanya  anak-anak   protes, karena  terlalu sering  tidak di temani.  Sering kali  si bungsu  suka merengek, minta  ditemani sholat tarawih,  karena dapat tugas dari sekolah untuk mencatat  kultum ramadhan. Aku hanya bisa  membujuknya  dan berjanji akan menemaninya taraweh, kalau aku libur atau pulang tugas sore hari.  
 
Bertahun-tahun kondisi ini kujalani,  kadang sahur di dalam mobil jemputan,  apabila  sebelum waktu sahur aku harus  berangkat tugas.  Di lain waktu  aku sahur  di  kota lain  bersama  teman-teman dan begitu pula pada  saat berbuka.  Aku suka  iri meilhat orang lain yang  dapat  sahur  dan berbuka puasa  berkumpul  bersama keluarga.  Tapi itulah jalan karir yang selama ini aku rintis, sebagai seorang awak pesawat, apalagi saat ramadhan sampai Hari Raya Idhul Fitri,  schedule tugas sangat ketat dan akan kena sanksi apabila mangkir.  Sebagai seorang  ibu dan istri  saat -saat  itu memang   saat yang serba tidak nyaman bertugas. Aku selalu menguatkan hati menjalaninya dengan  ikhlas, karena itu resiko tugas. Dari semua itu ada satu yang paling menyedihkan aku, pada saat harus memenuhi kewajibanku kepada Allah, karena  terbatas  waktu untuk  menjalankan shalat  dan dalam kondisi  ala kadarnya.   Aku hanya yakin Allah pasti mengerti dan Maha Mengetahui, dalam keterbatasan waktu dan ruang, aku tetap berusaha memenuhi kewajibanku kepadaNya.

“Enak sekarang sahurnya  ada mama terus,  sholat subuhnya  bisa di masjid,” celoteh  anak bungsuku senang. Wajahnya sumringah, menggambarkan kebahagiaan yang baru aku lihat.  Kakaknya menatap lekat ke wajahku seakan mencari jawaban, kenapa mamanya sudah seminggu ini  di rumah  dan menemaninya disaat sahur dan buka.  Aku balas tatapannya dan menjawab keingintahuannya.

“Mama sudah pensiun Kak, jadi  setiap hari bisa bersama-sama anak-anak mama,”  jawabku menjawab keingintahuannya.  “Asyiiikk……” teriak kedua anakku sambil  memelukku erat.
                                                           
Memang  ramadhan  tahun ini merupakan awal  selesainya aku menjalankan tugas, karena usia dan mulai tahun ini, aku akan  selalu bersama  menemani sahur, buka dan sholat taraweh. Aku akan membayar  semua yang hilang selama ini, dalam menjalankan ibadah puasa. 

Aku bersama anak-anak  mencoba  menyusun  jadwal kegiatan  selama bulan ramadhan, bahkan sampai menu apa yang anak-anak inginkan untuk beberapa hari ke depan.  Diawali sahur bersama, sholat subuh bersama, dilanjutkan dengan tadarus sampai anak-anak  menyerah karena sudah tidak tahan lagi menahan kantuk.  Anak-anak juga  memaksa ikut membantu memasak dan menyiapkan hidangan berbuka. Bahagia rasanya  melihat anak-anak begitu senang melalui semua kegiatan ramadhan ini bersama, yaa Allah indahnya kebersamaan ini. 

Sesekali aku   mengantarkan anak-anak ke sekolah atau menjemputnya,  bahagia merebak di relung hatiku, disaat melihat senyumnya merekah ketika aku jemput. Rasa berdosa kadang menyelinap disalah satu ruang hatiku yang terdalam, berapa ramadhan   telah  kulewati  tidak   menemani anak-anakku  dan membuat mereka sedih, karena ku tinggal bertugas.  

Inilah Ramadhan  terindah yang aku rasakan selama hidupku bersama keluarga kecilku. Dimana aku dapat sepenuhnya menemani anak-anak melalui ramadhan yang penuh berkah ini,  " yaa…Allah, terima kasih atas nikmat yang tiada tara ini. Subhanallah aku masih diberi kesempatan menjalankannya bersama anak-anak." Ucapku dalam hati.

 
“Semua  itu ada waktunya, ma.  Aku juga jadi lebih  senang dan tenang karena kamu  sekarang ada di rumah terus,” ucap suamiku melihat kegiatan ku dan anak-anak di ramadhan tahun ini. 

Rabu, 12 Juni 2013

Pentingnya Komunikasi

Ketahuilah apa yang dikatakan, tapi jangan katakan apa yang telah anda ketahui.


Menurut Pengadilan Agama, dua dari tiga pasangan suami istri   bercerai akibat selingkuh. Menurut  Klinik Pasutri yang dipimpin oleh dr. Boyke, 90 prosen perselingkuhan terjadi akibat komunikasi antar pasangan suami istri  yang  tidak terjalin dengan baik. Rutinitas kehidupan yang monoton sehari-hari dan sulitnya  berkomunikasi dengan pasangan, mengakibatkan mereka mencari  teman curhat yang bukan pasangan resminya.  Inilah cikal bakal tumbuhnya perasaan lain di hati dan  menyuburkan benih-benih perselingkuhan. Jadi begitu pentingkah komunikasi itu  ?.
Jawabannya adalah  V3U (very, very, very urgent). Penting banget gitu loh !.  Ga percaya  ?.  Saya akan  mencoba menjabarkan sedikit wajah komunikasi yang tanpa kita sadari  kadang membuat darah kita mendidih, baik oleh anak, istri,  teman, keluarga dan tetangga. Mudah-mudahan  dapat menyadarkan kita, mungkin yang telah kita katakan ternyata menimbulkan suatu masalah bagi orang lain tanpa kita sadari.
Pertama : Komunikasi yang  tidak lancar antara suami istri dapat menjadi bencana rumah tangga, berupa perselingkuhan yang dialami oleh suami atau istri. Karena perselingkuhan tidak saja dimonopoli oleh kaum suami tetapi tidak sedikit yang dilakukan oleh kaum istri. Prosentasinya berimbang antara suami dan istri, kira-kira  50 : 50. Begitu data yang dikeluarkan Pengadilan Agama, seperti yang sudah saya jabarkan di awal tulisan ini. 
Kedua :  Anak yang kita kenal begitu baik di rumah dan penurut, ternyata  di luar rumah begitu liar dan diluar control kita sebagai orang tua.   Kenapa hal ini bisa terjadi ?. Mungkin komunikasi yang kita terapkan hanya satu arah, dari orang tua saja dan anak hanya sebagai penerima tanpa diberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya. “Pokoknya kamu harus begini, ga boleh  begitu, karena ibu/bapak mau kamu begini titik !” Begitu kira-kira perkataan  yang sering diucapkan orang tua kepada anaknya, tanpa menyadarinya. Memang  anak  harus menuruti  perkataan orang tuanya, tapi ingatkah kita bahwa anak adalah juga seorang individu seperti orang tua yang minta dihargai pendapatnya  dan diakui keberadaannya.  Jaman saat ini mungkin sebaiknya kita menganggap anak kita sebagai teman yang dapat saling berbagi cerita, tentunya tetap sesuai norma-norma. Untuk point pertama dan kedua, komunikasi dua arah sangat perlu diperhatikan dan dipelihara dengan baik untuk menjaga kestabilan hubungan.
Ketiga : Hubungan komunikasi antara kakak dan adik dalam keluarga  tidak selalu terbina dengan baik,  hal ini memang terdengar aneh. Karena  kita tumbuh bersama dari kecil sampai besar, tapi  karena tumbuh itulah setiap individu  masing-masing mempunyai pendapat berbeda-beda, walau mereka sekandung. Tapi mereka telah mengetahui sifat dan kebiasaan masing-masing, namun setelah mereka masing-masing berkeluarga, yang berarti bertambah dengan orang lain yang menjadi pasangan masing-masing. Tentunya   perbedaan pendapat diantara mereka semakin kompleks,   itu  hal biasa  dan  pasti dapat diatasi asal komunikasi yang baik tetap terjalin. Hal yang paling penting untuk menjaga  komunikasi adalah   tetap harus saling menghargai pendapat masing-masing dan mencari  pemahaman yang sesuai agar hubungan harmonis tetap terjaga.
Keempat  : Hubungan dengan teman dan tetangga tetap membutuhkan komunikasi yang baik, karena kita hidup tetap membutuhkan orang lain selama kita ada di dunia ini. Komunikasi disini tidak selalu harus dua arah, adakalanya kita hanya perlu menyediakan rasa empati dan telinga kita untuk  membuka hati mendengarkan cerita atau keluh kesah orang lain. Kalau saya ibaratkan disini, anggaplah diri kita sebagai tempat sampah yang menerima buangan sampah dari orang. Lalu apakah sampah tersebut akan kita berikan kepada orang lain lagi ?. Tentunya tidak bukan !.  Ya, sudah kita buang sampah tersebut ke pembuangan sampah terakhir dan  terkubur disana. Agar bau busuk sampah tidak mengganggu orang lain dan orang itu sendiri. Maksud dari perumpaan ini adalah, jika ada teman siapapun dia yang percaya kepada kita dan ingin berbagi rasa. Usahakan  cerita tersebut tidak diceritakan kembali ke orang lain, cukup ditelan sendiri saja.  Agar tidak menimbulkan masalah dikemudian hari, atau bahkan keributan yang dapat mengganggu hubungan baik kita dengan teman atau tetangga. 
Karena  setiap informasi yang disampaikan secara getok tular atau dari mulut ke mulut,  semakin banyak orang yang menyampaikan  akan semakin jauh dari aslinya. Dikhawatirkan informasi tersebut akan  ditambahi atau  mungkin ada pula yang berkurang, kecuali informasi itu dalam bentuk tertulis dijamin tidak akan ada perubahan walau  ribuan orang yang menyampaikannya. Ga percaya  ?.
Silakan anda coba dengan  lima orang saja. Caranya bisikan  satu orang yang dekat dengan anda  dengan satu kalimat saja dan biarkan orang tersebut menyampaikan bisikan anda kepada orang yang dekat dengannya dan begitu seterusnya sampai orang kelima.  Setelah itu, tanya satu-satu dari lima orang tersebut apa yang dia dengar. Dijamin, tidak semua mengatakan sesuai dengan kalimat yang dimaksud.
Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi seandainya cerita yang sebenarnya, berubah setelah ada pengurangan atau penambahan !. Informasi itu akan bertambah keruh jika diterima oleh orang yang  bersifat temperamental ( mudah marah).  Maka akan terjadi kesalahpahaman dan terjadilah keributan.  Mungkin kalimat ini perlu Anda cerna baik-baik maknanya : “Ketahuilah apa yang dikatakan lawan bicara Anda, tapi jangan katakan  apa yang Anda ketahui. Apalagi kepada orang yang tidak tepat”   
Jadi komunikasi itu memang sangat penting bagi hubungan dengan sesama manusia dan dengan Sang Pencipta, hal itu tertulis dalam Al Quran yang berbunyi : Hablum minannas dan Hablum minallah. Bagaimana kita menjaga hubungan  dengan sesama mahluk Allah dan menjaga hubungan dengan Allah SWT melalui komunikasi yang berbeda tata caranya.   Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan saat berkomunikasi dan menjalin hubungan. Ketahui siapa lawan bicara kita,  tingkat pendidikannya dan latar belakang dirinya. Akan lebih baik kalau kita juga mengetahui sifat dan karekternya. Tetap menjaga tata krama berkomunikasi dan  usahakan  tidak mengambil topik diri orang lain dalam berkomunikasi.
Sekali lagi perlu Anda ingat, ketahuilah apa yang dikatakan kepada  Anda dan  pikirkan  beribu kali, apakah Anda perlu mengatakan apa yang Anda ketahui kepada orang lain.  

Kamis, 30 Mei 2013

Seremonial Sekolah yang Kurang Bermanfaat, perlukah?




Satu bulan ke depan  tempat-tempat peminjaman uang  pasti diserbu masyarakat,   seperti pegadaian, koperasi-koperasi kantor dan begitu pula dengan bank-bank yang menyediakan pinjaman multi guna  untuk mencari pinjaman uang. Semua  pencarian   pinjaman itu, tak lain agar para orang tua tetap dapat menyekolahkan anak-anaknya. Begitulah dinamika yang tertangkap setiap awal tahun pelajaran di negeri ini.
Biaya yang harus dikeluarkan sudah dimulai sejak anak-anak memasuki semester kedua, diawali dengan  pembelian buku paket semester lanjutan. Setelah itu para  orang tua juga sudah harus menyiapkan dana untuk   mengikuti pelajaran tambahan bagi anak-anak yang akan menghadapi  ulangan akhir semester atau  ujian nasional. Ada pelajaran tambahan yang disediakan  sekolah atau melalui bimbingan belajar yang nota bene pengeluaran uang lagi kalau mau naik kelas atau  lulus ujian nasional.   
Begitu  anak-anak naik kelas atau lulus ujian, pengeluaran berikutnya sudah menanti lagi. Bagi  murid yang naik kelas, pengeluaran  biaya  daftar ulang,  pembelian  buku paket yang harganya selangit,  buku tulis, seragam dan pembelian sepatu atau tas baru sudah membuat  kepala para orang tua pusing tujuh keliling.   Sementara bagi murid yang duduk dibangku akhir sekolah, biasanya orang tua sudah diberikan surat pemberitahuan dari sekolah segala biaya yang harus dilunasi sebelum ujian dilaksanakan. Mulai dari biaya pelajaran tambahan, biaya foto untuk ijasah, pembelian baju untuk   tampil di buku tahunan dengan foto yang sesuai dengan themanya.   Dan buku tahunan tersebut  dijual dengan harga mencapai ratusan ribu rupiah, celakanya lagi buku tersebut wajib dibeli oleh setiap murid yang lulus ujian.
Saya tergelitik untuk  menanyakan perihal  buku tahunan tersebut kepada pihak sekolah, karena menurut hemat saya hal itu hanya membuang-buang uang  saja.   Ternyata hal itu bukan merupakan kebijakan sekolah, tetapi  OSIS. Tapi apakah tidak ada guru yang mengarahkan OSIS ? Dapat kita bayangkan, bagaimana jika anak yang orang tuanya tidak mampu. Jangankan untuk membeli buku tahunan, untuk biaya masuk sekolah lanjutan aja mungkin belum terbayang  dari mana  biaya akan di dapat.
Apakah para guru tidak dapat mengarahkan hal yang lebih berguna dari pada hanya sebuah buku tahunan kepada anak didiknya ?. Dan   yang membuat saya lebih terkejut mendengar  jawaban seorang guru ketika saya tanya kok bisa semahal itu harganya ?  “Harga segitu tidak seberapa dan pantaslah, karena dibuat dengan edisi sangat luks.” Begitu jawabnya. Sebenarnya yang perlu kita pertanyakan. apakah buku tersebut begitu pentingnya ? Bukanlah buku tersebut dapat dibuat  sederhana saja.
Lalu apakah  biaya itu selesai sampai di situ ?.  Oh……belum !. Begitu murid dinyatakan lulus, masih ada biaya ekstra yang harus dikeluarkan lagi dan tentunya dengan jumlah yang tidak sedikit. 
Tiga atau empat tahun belakang ini ada tren baru yang  menurut saya terlalu berlebihan atau mengada-ada, yaitu  dengan diadakannya wisuda atau pelepasan siswa tingkat SMP dan SMA yang telah lulus.  Para orang tua harus merogo sakunya lebih dalam lagi untuk  pembayaran biaya wisuda dan  dalam pelaksanaan wisuda setiap murid putri diwajibkan memakai pakaian nasional dan murid laki-laki memakai jas lengkap. Biaya yang dikeluarkan untuk menyiapkan pakaian nasional dan jas, tentunya membutuhkan biaya yang lumayan bagi saku orang tua. Apakah  perayaan ini sudah berakhir  ?. Catat pembaca, belum !. Masih ada acara berikutnya yang dikhususkan bagi seluruh murid yang lulus, yaitu  malam perpisahan murid yang biasa  disebut  promp night. . Para orang tua hanya dapat mengeluh pussiiiiiing…..!  
Dapat Anda bayangkan apabila  ada orang tua yang  ekonominya  tidak mendukung, padahal  semua acara itu  tidak dapat ditawar karena harus dan wajib diikuti oleh setiap murid. Apakah  hal  ini  tidak  dapat membuka  mata dan  hati para guru ?. Mudah-mudahan tidak ada murid yang frustasi dan melakukan nekad  karena tidak ada biaya untuk  memenuhi semua itu.
Apakah  pengeluaran biaya berhenti sampai di situ  ?. Tentunya tidak.  Perjalanan masih panjang untuk pengeluaran biaya selanjutnya. Yang lulus  SD harus mencari sekolah lanjutan pertama, yang lulus SMP harus mencari sekolah lanjutan atas dan yang sudah lulus SMA tentunya  masuk kuliah. Pasti sudah terbayang  rupiah yang akan dikeluarkan. Karena masyarakat sudah mengetahui tidak ada sekolah yang gratis, apalagi untuk biaya pertama kali masuk. Ada uang  bantuan gedunglah, ada uang pendaftaranlah dan ada saja uang lain-lain yang sebenarnya tidak perlu.
Wajib belajar  9 tahun seakan hanya sebuah slogan. Karena yang gratis hanya bayarannya, tapi untuk uang pendaftaran, uang masuk (uang pangkal) dan pembelian buku paket tetap harus keluar uang. Seandainya kita dapat menyimpan dari uang untuk perayaan kelulusan dan biaya lain yang tidak perlu.  Apalagi bagi siswa  yang akan melanjutkan ke SMP dan SMA yang terpaksa harus mendapatkan sekolah swasta karena NEM-nya kecil dan. Yang lulus  SMA harus meneruskan kuliah, tentu  sudah terbayang berapa lembaran rupiah yang harus melayang.   
Apakah  kita akan selalu menutup mata dengan hal seperti ini ? Sudah  susah mencari sekolah karena biaya yang mahal tapi di lain pihak kita dengan enaknya mengeluarkan uang hanya untuk sebuah seremonial yang kurang bermaanfaat. Sebaiknya para guru dapat mencarikan cara untuk melakukan sebuah pelepasan atau pertemuan yang sederhana tetapi berkesan bagi murid yang akan meninggalkan  sekolah. 



Selasa, 28 Mei 2013

Ada Satu yang aku Sesalkan dengan IIDN

Ultah 3tahun
Menulis adalah hal yang begitu akrab denganku sejak  aku duduk dibangku SMP, diawali dengan senangnya menulis dibuku harian. Dalam setahun aku bisa menghabiskan dua buah buku harian yang berisi seratus, sampai seratus lima puluh lembar dengan ukuran lebih kecil dari buku tulis.
Diatas tempat tidurku berserakan aneka buku bacaan, mulai dari majalah, koran, buku cerita HC. Anderson, novel sampai komik silat. Ibu selalu marah apabila hendak membelikan baju, karena aku akan bilang “Bu, boleh ditukar sama buku ngga bajunya.”  Berhubung  nilai raporku selalu baik, akhirnya ibu tidak pernah menolak setiap aku meminta dibelikan buku bacaan.
Akhirnya ibu malah memberikan aku langganan majalah remaja yang terkenal pada masa itu dan sampai saat ini, majalah tersebut masih eksis. Majalah tersebut yang memotivasi aku untuk mulai mencoba mengirim cerpen, ada beberapa kali ditolak tapi akhirnya tembus juga satu cerpenku nongol di majalah itu.  Rasa senang itu tidak dapat aku tutupi, tambahan uang jajan aku dapat dan kepada siapa saja aku pamerkan tulisan itu, termasuk kepada guru bahasa indonesiaku. Hal ini berlanjut sampai aku duduk di bangku SMA dan mendirikan majalah dinding sekolah, tetapi sayang setelah lulus aku mulai  jarang menulis lagi. Memasuki dunia kerja yang berpindah-pindah divisi, akhirnya aku  dipindahkan ke divisi humas karena sering mengirim tulisan untuk majalah kantor dan  menjadi reporter. Alhamdulilah ada  beberapa tulisanku yang pernah terbit dikoran ibu kota, berupa artikel dan resensi buku. 
Betapa sengsaranya   menulis pada tahun tujuh puluhan, naskah yang dikirim boleh ditulis tangan dan apesnya kalau tulisannya tidak jelas terbaca maka naskah jangan harap akan diterbitkan. Kadang boleh pinjam mesin ketik bapak, tapi sangat lama mengerjakannya, karena aku mengetiknya dengan sebelas jari (istilah  menggunakan dua jari telunjuk saja). Waktu tahun Sembilan puluhan aku menemukan komunitas menulis Lingkar Pena, tapi sangat sulit untuk menjadi anggotanya.  Akhirnya aku lelah sendiri  dan patah arang, tapi hal itu tidak bertahan lama. Apalagi kalau ada info  lomba cerpen atau novel, aku selalu gatal rasanya jika tidak ikut berpartisipasi. Jadi aku suka mengirimkan  cerpen atau novel yang ada di file, sayangnya belum pernah menang !.
Pada bulan april yang baru lalu aku pernah membaca di tabloid Nova tentang komunitas menulis, aku coba buka alamat webnya dan akhirnya setelah tiga kali daftar berhasil log in di Ibu-ibu Doyan Nulis. Aku tidak dapat menggambarkan betapa senangnya bisa masuk ke komunitas IIDN yang sudah puluhan tahun aku rindukan, sebagai wadah untuk aku bertanya, bertukar pengalaman dan belajar. Hal yang paling membuat aku  bahagia adalah ketika bisa berkomunikasi dengan ratunya IIDN, walau hanya melalui dunia maya. Beberapa pertanyaanku  dijawab dan menghapus rasa dahaga keingintahuanku selama ini. Tapi ada yang sangat aku sesalkan dengan IIDN, adalah kenapa setelah berusia tiga tahun aku baru menemukanmu ? mengesalkan sekalee!. 
Setelah itu, selama dua hari aku melototi si merah lappyku dan berselancar di fb IIDN yang  membuat aku berdecak kagum ketika mengetahui IIDN baru berusia  tiga tahun tetapi   sudah mengantongi angka 6.686 anggota. Sayang jempolku hanya ada empat dengan jempol kaki, kalau saja ada sepuluh masih kurang rasanya untuk mengacung buat   kehebatan IIDN.
Aku copas pelajaran dari Sang Ratu IIDN, Indari Mastuti,  Markom anu geulis LygiaPencanduhujan dan Ibu-ibu Doyan Nulis lainnya, hingga membuat adrenalin  menulisku mengila dan sulit untuk dibendung, maka lahirlah blogku dengan selamat dan cantik.  Belum genap sebulan aku menjadi bagian dari keluarga IIDN,  beberapa artikel dan opini telah aku lahirkan.  Writing is So Easy yang merupakan slogan IIDN, telah aku buktikan kebenarnya.
Begitu banyak cerita ibu-ibu yang telah berhasil menelurkan buku membuat aku  iri dan ngiler. Aku harus bisa menyusul mereka, membuat buku pasti so easy too, apalagi dengan bimbingan para pengurus IIDN yang jempolan semua. Selain itu juga didukung oleh Agensi naskah Indscript Creative yang dikelola Sang Ratu, Indari Mastuti, pastinya keinginanku membuat buku bisa terkabul. 

Indari


Aku salut dengan niat tulus Sang Ratu IIDN, indari Mastuti yang  dapat membuat ibu-ibu rumah tangga produktif  yang pada ujungnya dapat menghasilkan lembar-lembar rupiah. Apalagi saat ini sepulu prosen dari anggota IIDN sudah berhasil menjadi penulis, baik penulis artikel di media cetak dan online  serta penulis buku yang hebat. Siapa lagi yang mau terjangkit virus dahsyat menulis ? Silakan merapat ke Ibu-ibu Doyan Nulis made in Indari Mastuti. Happy  Milad IIDN tercinta dan sukses selalu membawa ibu-ibu Indonesia berkarya dan bermanfaat bagi orang lain.

Minggu, 26 Mei 2013

Ada Satu yang aku Sesalkan dengan IIDN



Menulis adalah hal yang begitu akrab denganku sejak  aku duduk dibangku SMP, diawali dengan senangnya menulis dibuku harian. Dalam setahun aku bisa menghabiskan dua buah buku harian yang berisi seratus, sampai seratus lima puluh lembar dengan ukuran lebih kecil dari buku tulis.
Diatas tempat tidurku berserakan aneka buku bacaan, mulai dari majalah, koran, buku cerita HC. Anderson, novel sampai komik silat. Ibu selalu marah apabila hendak membelikan baju, karena aku akan bilang “Bu, boleh ditukar sama buku ngga bajunya.”  Berhubung  nilai raporku selalu baik, akhirnya ibu tidak pernah menolak setiap aku meminta dibelikan buku bacaan.
Akhirnya ibu malah memberikan aku langganan majalah remaja yang terkenal pada masa itu dan sampai saat ini, majalah tersebut masih eksis. Majalah tersebut yang memotivasi aku untuk mulai mencoba mengirim cerpen, ada beberapa kali ditolak tapi akhirnya tembus juga satu cerpenku nongol di majalah itu.  Rasa senang itu tidak dapat aku tutupi, tambahan uang jajan aku dapat dan kepada siapa saja aku pamerkan tulisan itu, termasuk kepada guru bahasa indonesiaku. Hal ini berlanjut sampai aku duduk di bangku SMA dan mendirikan majalah dinding sekolah, tetapi sayang setelah lulus aku mulai  jarang menulis lagi. Memasuki dunia kerja yang berpindah-pindah divisi, akhirnya aku  dipindahkan ke divisi humas karena sering mengirim tulisan untuk majalah kantor dan  menjadi reporter. Alhamdulilah ada  beberapa tulisanku yang pernah terbit dikoran ibu kota, berupa artikel dan resensi buku.  
Betapa sengsaranya   menulis pada tahun tujuh puluhan, naskah yang dikirim boleh ditulis tangan dan apesnya kalau tulisannya tidak jelas terbaca maka naskah jangan harap akan diterbitkan. Kadang boleh pinjam mesin ketik bapak, tapi sangat lama mengerjakannya, karena aku mengetiknya dengan sebelas jari (istilah  menggunakan dua jari telunjuk saja). Waktu tahun Sembilan puluhan aku menemukan komunitas menulis Lingkar Pena, tapi sangat sulit untuk menjadi anggotanya.  Akhirnya aku lelah sendiri  dan patah arang, tapi hal itu tidak bertahan lama. Apalagi kalau ada info  lomba cerpen atau novel, aku selalu gatal rasanya jika tidak ikut berpartisipasi. Jadi aku suka mengirimkan  cerpen atau novel yang ada di file, sayangnya belum pernah menang !.
Pada bulan april yang baru lalu aku pernah membaca di tabloid Nova tentang komunitas menulis, aku coba buka alamat webnya dan akhirnya setelah tiga kali daftar berhasil log in di Ibu-ibu Doyan Nulis. Aku tidak dapat menggambarkan betapa senangnya bisa masuk ke komunitas IIDN yang sudah puluhan tahun aku rindukan, sebagai wadah untuk aku bertanya, bertukar pengalaman dan belajar. Hal yang paling membuat aku  bahagia adalah ketika bisa berkomunikasi dengan ratunya IIDN, walau hanya melalui dunia maya. Beberapa pertanyaanku  dijawab dan menghapus rasa dahaga keingintahuanku selama ini. Tapi ada yang sangat aku sesalkan dengan IIDN, adalah kenapa setelah berusia tiga tahun aku baru menemukanmu ? mengesalkan sekalee!. 
Setelah itu, selama dua hari aku melototi si merah lappyku dan berselancar di fb IIDN yang  membuat aku berdecak kagum ketika mengetahui IIDN baru berusia  tiga tahun tetapi   sudah mengantongi angka 6.686 anggota. Sayang jempolku hanya ada empat dengan jempol kaki, kalau saja ada sepuluh masih kurang rasanya untuk mengacung buat   kehebatan IIDN.
Aku copas pelajaran dari Sang Ratu IIDN, Indari Mastuti,  Markom anu geulis LygiaPencanduhujan dan Ibu-ibu Doyan Nulis lainnya, hingga membuat adrenalin  menulisku mengila dan sulit untuk dibendung, maka lahirlah blogku dengan selamat dan cantik.  Belum genap sebulan aku menjadi bagian dari keluarga IIDN,  beberapa artikel dan opini telah aku lahirkan.  Writing is So Easy yang merupakan slogan IIDN, telah aku buktikan kebenarnya.
Begitu banyak cerita ibu-ibu yang telah berhasil menelurkan buku membuat aku  iri dan ngiler. Aku harus bisa menyusul mereka, membuat buku pasti so easy too, apalagi dengan bimbingan para pengurus IIDN yang jempolan semua. Selain itu juga didukung oleh Agensi naskah Indscript Creative yang dikelola Sang Ratu, Indari Mastuti, pastinya keinginanku membuat buku bisa terkabul.
Aku salut dengan niat tulus Sang Ratu IIDN, indari Mastuti yang  dapat membuat ibu-ibu rumah tangga produktif  yang pada ujungnya dapat menghasilkan lembar-lembar rupiah. Apalagi saat ini sepulu prosen dari anggota IIDN sudah berhasil menjadi penulis, baik penulis artikel di media cetak dan online  serta penulis buku yang hebat. Siapa lagi yang mau terjangkit virus dahsyat menulis ? Silakan merapat ke Ibu-ibu Doyan Nulis made in Indari Mastuti. Happy  Milad IIDN tercinta dan sukses selalu membawa ibu-ibu Indonesia berkarya dan bermanfaat bagi orang lain.

Perempuan Indonesia


Perempuan Indonesia, ditempat saya bekerja semangat juang tidak pernah pudar dari perempuan-perempuan berumur  68-80 tahun. Mereka masih sehat, walau keluhan penurunan fungsi tubuh tidak dapat dipungkiri karena termakan usia, tapi mereka masih mampu beraktivitas dengan baik. Membuat saya berfikir, akankah saya dapat seperti mereka kelak ?

Dibagian lain perempuan-perempuan generasi kini, berjuang untuk tetap bermanfaat walau hanya mengurus rumah tangga, mereka tidak mau ketinggalan untuk sedikit menyumbangkan tenaga dan pikirannya melalui tulis-menulis yang tergabung dalam wadah IIDN-nya Mba Indira. Saya suka dengan semangat juang dan kebersamaan mereka. Setiap info lowongan untuk tulisan di media cetak dan online, diserbu apabila ada anggota yang lain memiliki info. Mereka saling membantu, berbagai informasi, belajar dan berjuang bersama, bahkan saling support. Sebenarnya pepatah yang mengatakan "dimana ada kemauan, disitu ada jalan" tidak dapat dipungkiri disini. Salut saya untuk IIDN dan Mba Indiranya.

Tidak sedikit juga perempuan-perempuan yang tidak mau mengup grade diri,  merasa tidak berguna dan tidak punya daya juang. Mereka menerima keadaannya tanpa mau berusaha untuk mengubahnya, kalaupun mau, biasanya mencari jalan pintas yang mudah dan kadang merendahkan harga diri dan martabatnya sendiri. Semoga perempuan-perempuan golongan ini dapat belajar dari perempuan-perempuan lain yang memiliki motivasi tinggi untuuk maju dan menambah wawasan, paling tidak untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi lebih baik dari dirinya.