Jumat, 25 September 2020

 JANGAN PERNAH KEMBALI KE SANA

 

 

Menanti  saatnya pulang

 

Alhamdulilah tiga bulan terlewati, tepatnya tgl 11 September  yang lalu. Kondisi Juragan dinyatakan dokter sangat bagus, sesuai  hasil  lab,  echografi, bekas luka operasi &  rehab fisik pada kontrol terakhir  4 september lalu. Aku tak lepas mengucap syukur dan terima kasih tak terhingga kpd Yang Kuasa dan tim dokter yang luar biasa kerjasamanya dengan keluarga pasien. Sekecil apapun informasi pasien disampaikan dengan sangat simpatik dan keramahan yang patut diacungi jempol. Aku  sampai bertanya-tanya, bagaimana rumah sakit ini dalam membina para tenaga medisnya.  Para dokternya begitu ramah kepada pasien dan keluarganya, begitu juga  tenaga perawatnya.  

Kondisi Juragan saat ini ga semudah yang dibayangkan, tapi melalui perjalanan cukup panjang dan berliku. Disamping tim medis yang luar biasa, begitu juga  doa dan support  dari keluarga, para sahabat dan teman-teman  yang  sangat berarti bagi aku. Doa dan support tersebut membuat aku tegar, kuat  dan ga sendirian.

 

Diruang perawatan after  operasi

Setelah diundur karena adanya pandemic, alhamdulilla akhirnya dihubungi  agar datang besok hari untuk  dilakukan persiapan operasi.  Juragan juga  gagah berani dan siap mental, karena udah ga tahan dengan keluhan yang dirasakan.

Pada hari  yang ditentukan persiapan operasi pun dilakukan,  dimulai dengan briefing dari perawat. Apa saja yang harus dilakukan pasien. Dilanjut  pertemuan dengan  dokter yang akan melakukan operasi beserta timnya. Dijelaskan secara detail apa yang akan dilakukan dalam operasi bental ini. Operasi bental adalah pengantian katub pada jantung dan repair pembuluh darah aorta. Juga diberitahu apa saja yang dilarang pasca operasi, berapa lama boleh aktivitas kembali dan kegiatan terakhir mengikuti tour ke ruang operasi dan ruang ICU. Jam 9 malam selesai mendampingi, aku langsung pulang dan kembali besok jam 6 pagi.

Aku dan anak2 diminta ikut mengantar juragan ke ruang operasi, kita berpisah dipintu ruangan. Operasi akan berjalan selama 5-6 jam, begitu penjelasan dokter tadi dan penantian itu terasa begitu panjang. Lantunan doa tak putus aku panjatkan, juga dari keluarga, sahabat dan teman2 yang sangat mensupport. Ditengah perjalanan operasi, menantu yang sedang menunggu kelahiran, mengeluarkan flek dan mulai mules. Aku suruh mereka berangkat ke rumah sakit dan aku akan menyusul setelah urusan juragan selesai.

 

setia merawat..hehehe

Baru tiga jam berjalan, aku dipanggil dokter. Alhamdulillah operasi sudah selesai dgn lancar dan sukses tanpa perdarahan sama sekali,  aku dan si kk diajak menemui Juragan di ruang ICU. Dia mulai sadar dengan segala selang  yang menghiasi tubuhnya dari kaki, hingga kepala. Luar biasa hebat kuasaMu yaa…Rabb dan acungan jempol buat tim dokter. Aku bisa bernapas lega dan bermunajat kalau boleh, cucu lahir setelah juragan kembali ke rumah.  Komat-kamit mulutku  melantunkan doa dengan khu’su kembali, Alhamdulillah mendapat kabar kalau belum akan melahirkan.

Cucu lahir 

Semalam diruang ICU, paginya dipindah ke ruang pemulihan. Ga gampang menunggu di masa pandemic, keluarga ga boleh ada diruang tunggu bila malam, sementara ditinggal pulang juga ga boleh. Aku mbambung tidur di mobil. Sewa kamar  disamping rumah sakit,  nyaliku ciut karena zona merah covid. Di hotel yg ga jauh pun, aku ga berani. Mobil adalah tempat teraman untukku saat itu. Hari ketiga boleh ditinggal dan aku kabur pulang, saat itu badan rasanya butuh istirahat. Dua malam dirumah, pagi ditlp dokter  agar datang ke rumah sakit, karena juragan udah akan dipindah ke ruang perawatan. Alhamdulillah…. aku bisa menemani juragan di kamar perawatan dan dihari ke delapan sudah boleh meninggalkan rumah sakit. Alhamdulillah yaa Allah…

Doa ku dikabulkan Allah,  sehari setelah juragan di rumah cucu lahir. Alhamdulillah…walau harus melalui SC karena baby kebesaran, 4,3 kg bo’…hehehe.  NikmatMu yang mana lagi yg aku dustai yaa Rabb..

Kembali  after operasi
 

Aku diberi pelatihan praktis untuk merawat luka operasi dan lainnya di rumah sehari sebelum Juragan pulang, jadi perawat pribadilah aku…hehehe….  5 hari setelah di rumah, mulai  menjalani rehabilitasi fisik sebanyak 12 x pertemuan. Jam 6 pagi kita udah jalan ke RS dan jam 10 kegiatan selesai. Juragan dilatih senam dan berjalan, untuk mengetahui  kekuatan jantungnya setelah operasi. Tapi ternyata pasiennya bandel, jadi ada 2x dia over capacity dalam berolahraga. Atau tangannya gatal, aku meleng sedikit, dia beberes dan cuci mobil. Naah…kejadian lagi, katanya berasa muter, pandangan gelap dan keluar keringet dingin.  Dasar emang orangnya ga bisa diam, jadi pengawasan diperketat.

Klo aku lagi di dapur, setiap 10-20 menit aku panggil….”Bos lagi apa?” Klo ga ada jawaban, langsung  aku cari, dan ditemui lagi  nongkrong di warung  atau ketemu teman-teman di masjid. Pokoknya berbagai alasanlah. Aku paham kok kalau dia boring di rumah dan ga ada aktivitas apa-apa, tapi mau gimana lagi. Memang hanya istirahat yang diperlukan untuk memulihkan dan menyembuhkan seperti awal.

 

Luka operasi yg sdh  bagus

Namun kejadian –kejadian kecil  tersebut  membuat kondisi juragan terus menurun,  dan akhirnya aku memutuskan untuk stop melanjutkan rehab. Sore itu dia keluar lagi  entah kemana, saat aku tinggal salat. Juragan cengar cengir saat kutemui lagi ngobrol di pos keamanan. Yaaa…emang butuh kesabaran tingkat dewa, ngadepin juragan..hehehe…

Sore itu setelah aku mandikan, merawat luka operasi dan  aku buatkan teh manis hangat dengan  camilan mari regal  sambil  nonton TV. Aku tinggal  setrika di  lantai atas. Ternyata tiba-tiba napasnya sesak,  dia  manggil2, tapi aku ga dengar.   

Saat aku turun, juragan tidur di kamar tp mukanya pucat dengan napas satu-satu. “Aku ga bisa napas, Ma.” Badannya bersimbah keringat, aku memberikan obat yang diletakan dibawah lidahnya.  Pelan-pelan napasnya mulai teratur kembali, “Alhamdulillah…udah enak napasnya Ma.”

 

Bahagia sdh bisa main dg cucu 

Aku melanjutkan memasukan  baju ke lemari, tetiba  dengar juragan teriak-teriak.  Juragan  anfal dan  ga sadar, matanya terbuka tapi ga ada reaksi. Si Ade baru pulang kantor, langsung tlp ke kantornya minta dikirim ambulan sambil nangis liat kondisi papanya  seperti itu.

Aku tetap tenang menghadapi situasi ini, karena sudah mendapat pelatihan praktis di RS jika hal ini terjadi. Satu persatu tetangga datang, karena mendengar tangisan si Ade. Juragan masih terus meracau ga jelas, pelan tapi pasti juragan mulai sadar tapi masih belum mengenal aku.  Si Ade makin meraung tangisnya dan aku tenangkan.

“Papa ga boleh dibawa ke rumah sakit Ade, kondisi pandemic seperti ini IGD bukan  tempat aman bagi penderita jantung. Kalau obat yang mama kasih sebanyak 3x dan ga ada reaksi, baru kita bawa.”  Ade mulai tenang dan juragan mulai sadar penuh, satu persatu tetangga yang dilihat dia sapa. “Ada apa Ma, kok pada ke sini?  Mama di sini aja dekat aku dan  jangan kemana-mana ya” 

Setelah tenang, aku ganti bajunya yang basah kuyup. Sejak itu juragan mulai susah makan, sering mengigil kedinginan dan sesekali  napas terasa sesak. Melihat kondisinya  yang terus menurun, aku ga mau ambil resiko.  Aku menghubungi dokternya.  dan disuruh untuk dibawa ke rs keesokan harinya.  Sesuai pesan dokternya untuk periksa darah, HB, INR dan membawa hasil echografi terakhir.  

Juragan  ga kuat  jalan jauh, terpaksa aku tinggal di mobil sementara kau mengambil  kursi roda di klinik. Ternyata hasil labnya semua turun, yang paling  parah keencerahan darahnya melambung tinggi, sementara  lainnya meluncur turun, begitu juga  tekanan darahnya hanya 70/59 aja. Ada beberapa obat yang harus diatur ulang dosisnya  dan harus  echografi kembali. Dua hari lagi kembali dengan hasil lab dan echografi terbaru.

Dua hari berikutnya, kondisinya makin  drop. Akhirnya diputuskan untuk dirawat, tapi sementara di tempatkan di IGD karena ICU penuh.  Aku lebih khawatir dengan kondisi ini dari pada saat menjalankan operasi.  Aku terdampar kembali di rumah sakit ini  tanpa membawa baju sama sekali.  Alhamdulillah selepas magrib Juragan dipindah ke ruang ICU, karena ada pasien yang dipindah ke ruang perawatan. Dokter memberitahu kondisi juragan setelah semua hasil cek keluar. Dengan INR yang tinggi tapi tidak terjadi perdarahan, maka sesak yang dirasakan karena ada cairan di selaput jantung dan harus disedot.

Untuk dapat mengeluarkan cairannya ga semudah itu, kondisi harus stabil dulu. Juragan di transfusi darah 2 kantong,  karena HB nya terjun bebas.  Si kk dan keponakan  sebagai pendonornya, Alhamdulillah  golongan darahnya sama dengan papanya. Bukan hanya itu, tekanan darah juga ikut meluncur  kebawah tapi keenceran darah berkibar diatas dengan pongahnya.

Lantunan doa ku tak putus menggedor langit, berharap semua ini cepat berlalu.  Hari pun seakan berjalan begitu lambatnya, pertanyaanku pun tetap sama saat bertemu dokter. “Bagaimana dengan HB, tensi & INR nya dokter?”   Alhamdulillah HB normal setelah transfusi, tensi pun mulai stabil. Hanya INR agak lambat bergerak turun,  sehingga belum dapat dilakukan tindakan. Di hari ketujuh  INR mulai menurun dan  dokter merencanakan akan melakukan tindakan untuk mengeluarkan cairan. Namun  hari yang ditentukan batal dilaksanakan, karena ruang tindakan full.  Akhirnya hari yang dinanti pun tiba, aku diminta ikut mengatarkan  ke ruang tindakan.

Kondisi ini membuat aku terpukul, apakah karena aku kurang ketat dalam mengawasi dan teledor dalam mengurusnya atau Juragan yang kurang mau bekerjasama melalui pasca operasi ini?   Sudahlah, rasanya aku ga perlu mencari  jawabannya. Lantunan  doa  tak putus  aku panjatkan, berharap dapat  menggedor  langit  agar Juragan ku kembali sehat. 

 

Juragan saat ini 

Kadang kita merasa orang yang paling menderita, ternyata masih ada yang tidak seberuntung kita. Diruang tunggu keluarga pasien, kami layaknya keluarga. Saling menguatkan, mendoakan dan saling bantu. Beragam kisah pilu tertuang di sini dan kita bisa bercermin, apakah perlu bersedih berlebihan menghadapi  kondisi  ini. Walau bagaimana pun rasa khawatir itu seakan merobek dinding jantungku, perih  yang tak ada duanya. Seakan separoh jiwa ini nyaris raib.

Kata pepatah “Di atas langit, masih ada langit” Kita merasa paling sedih dengan kondisi keluarga yang sedang di rawat, tapi ada orang lain yang lebih patut sedih dari kita. Seorang keluarga dari daerah harus menahan lapar, karena tidak memegang uang untuk dapat mengisi perut. Biasanya kita sama-sama berbagi dan ada pula yang biayanya ditanggung perusahaan, tapi setelah tiga tahun sudah tidak bekerja lagi dan asuransi tertebut tidak pernah diurus untuk menjadi asuransi personal.

Dokter memberitahu, kalau biaya asuransinya telah limit. Ruang ICU kelas tiga semalam biayanya 15 juta belum termasuk obat, sementara suaminya telah 10 hari di ICU.  Dia disarankan untuk mengurus BPJS agar biaya pengobatan suaminya dapat dicover. Tau ga gaes!....saat makan siang, dokter tersebut mengirimkan nasi box buat istri pasiennya dan malam pun dikirimkan kembali. Masya Allah……betapa mulianya dokter tersebut.

Ngomong-ngomong soal BPJS sesuai yang aku alami, ini luar biasa. Aku tidak banyak keluar biaya, boleh dibilang sangat sedikit.  Sejak tahun 2019 dirujuk ke sana, hanya biaya transportasi yang kami keluarkan. Semua free….bahkan aku sampai bilang serasa punya rumah sakit pribadi..hehehe

Souvenir dr  Rumah Sakit

 

Bayangkan untuk ruang ICU kelas tiga aja 15 juta perhari, kebayangkan untuk kelas satu berapa. Sementara saat dirawat terakhir, Juragan 10 hari di ruang ICU. Padahal waktu operasi hanya 2 malam di sana. Obat yang dibeli sendiri seharga 280.000, tapi itu bukan obat minum. Namun obat untuk merawat luka selama seminggu dan membeli plester seharga 32000, karena Juragan alergi dengan plester yang digunakan diruangan perawatan. Mahalan biasa  konsumsi yang nungguin kale….hahaha… Setiap bulan control dan pulang membawa obat untuk sebulan, itupun gretong.

Daftar ga perlu berdesakan, apalagi harus datang pagi-pagi. Cukup melalui online, kita akan dapat nomor urut dan harus datang jam berapa semua sudah tertulis. Enak kan! Tapi itu yang aku alaminya. Sementara surat rujukan dari klinik dekat rumah, diperpanjang 3 bulan sekali aja & ngurusnya juga ga ribet.  Pokoknya Alhamdulillah, kalau kata  si Ade. Kalau bayar pasti mama harus jula mobil, rumah dll, itu juga belun tentu cukup kali…hehehe.  Jadi BPJS itu, “Kau dicaci tapi di puja”…….

Apapun alasannya, kalau boleh milih aku ogah sakit aja aaah…..Tapi  Allah akan selalu memberikan cobaan kepada umatnya, agar lebih kuat dan banyak bersyukur.  Melihat perkembangan kondisi Juragan, aku mulai  melonggarkan aktivitasnya  sesuai pesan dokter, andai sudah tiga bulan beberapa kran aktivitas  sudah boleh  dilakukan.   Sehat ya Juragan kuuuh dan jangan pernah  kembali ke ICU lagi.

 

Selasa, 21 Januari 2020

HARI KE TIGA KE ANCIENT CITY OF TROY SANG LEGENDA, BERGAMA & ANCIENT PERGAMON ACROPOLIS


Di depan Replika Patung Kuda Troy

Perjalan hari ke tiga kita akan mengunjungi Acient City of Troy, Bergama & Pergamon Acropolis. Kita juga sudah di Canakkale dan akan berjalan ke Bergama, Izmir dan berakhir di kota Kusadasi.
 

Perjalanan  dari  kota Istambul  ke  Canakkale di tempuh selama lima jam,  tapi jangan  coba-coba kalau ke sana pada saat Idul Fitri. Menurut cerita teman waktu tempuh bisa molor sampai 12 jam,  karena  pada saat liburan Lebaran masyarakat Turki  akan menginap di vila-vila yang terdapat di  Canakkale dan itu yang menyebabkan  lalu lintas macet total. 
 
Turky diwaktu malam diambil dr kapal fery
Kondisi tersebut ngga beda jauh ya dengan Indonesia, hanya  di sini macet karena masyarakat pulang kampung. Sementara di sana macet karena mereka akan liburan  ke wilayah pantai. Canakkale  dipilih warga Turki untuk berlibur, karena kota ini terletak di region Laut Aegean dan terlihat tampak cantik di segala musim dengan  deretan pantai yang cantik dan bersih.


Untuk menuju ke Canakkale  kita  akan menyebrangi selat Dardanelles dengan  kapal ferry melalui  Pelabuhan Istambul. Saat memasuki wilayah pelabuhan, ternyata lalu lintasnya  cukup padat. Akhirnya   Qinan memutuskan untuk melalui  jalur lain, agar  bisa cepat sampai di pelabuhan ferry tersebut.  Pelabuhan Istambul  merupakan  sebuah terminal penumpang untuk jalur jelajah, yang terletak di kawasan Karaköy.  
 
 Di atas kapal fery
Kapal fery  tersebut  tidak terlalu besar  dan  kita naik ke anjungan  untuk bisa melihat pemandangan malam,  tapi udara  dingin yang mengigit menembus  kulit membuat aku merapatkan jaket…hehehe  Dianjungan terdapat café dan ebo-ebo  menghangatkan diri dengan memesan teh panas atau kopi.  Bagi Ebo-ebo yang butuh  ke toilet, harus sabar menanti antrian yang mengular.  Penyebrangan kapal ferry ini memakan waktu  kurang lebih 30 menit, untuk sampai di Canakkale. Setibanya di canakkale, kita langsung  menuju hotel  untuk makan malam & beristirahat.





ANCIENT CITY OF TROY
Sejarah Troya
Perjalanan  hari kedua ini  cukup melelahkan, tapi Alhamdulillah terbayar dengan beristirahat nyaman di hotel Iris.  Hotel ini jauh dari keramaian dan  nyaman banget buat istirahat. Pada saat sarapan, baru tau kalau hotel ini terletak dibibir pantai.  Ok…Ebo-ebo, siap untuk petualangan berikutnya?  Kita akan memulai  ngebolang hari ini ke Ancient City of Troy. Seperti biasa Pak Andre dan Qinan ngga pernah bosan mengingatkan   ebo-ebo  untuk  naik ke bus &  mengecek koper masing-masing.
 
 Reflika Patung Kuda Troy


Bus siap berangkat dan  ngga sampai satu jam kita telah tiba di Ancient City of Troy. Pemandangan pertama yang terlihat adalah replica Patung Kuda Raksasa yang berdiri gagah di tengah  lapangan, layaknya tuan rumah yang menyambut kedatangan para wisatawan. Karena untuk menuju Situs Ancient City of Troy, terletak  dibelakang patung kuda tersebut.Ada tangga kecil diantara kedua kaki belakang untuk pengunjung  masuk ke perut kuda, aku dan beberapa ebo mencoba naik untuk berfoto ria. Perut kuda tersebut terdiri dari dua lantai  dan hanya untuk spot foto bagi yang  minat. 

Tembikar sbg kulkas & pipa air di Ancient City Troy

Namun Qinan mengajak ebo-ebo untuk kearah belakang patung tersebut dan Situs Peradaban Ancient City Troy berawal. Dihalaman sebelah kanan terdapat beberapa peninggalan seperti pipa cukup besar sebagai saluran air dan gentong besar yang dulunya berfungsi sebagai kulkas atau tempat menyimpan makanan. Qinan terus mengajak melangkah lebih kedalam lagi dan ada pohon surga, kata Qinan. Pohon tersebut  merupakan pohon buah Tin atau Ara yang dalam bahasa latinnya disebut Ficus Carica. Kenapa disebut “Pohon Surga?” Karena  pohon tersebut merupakan pohon ketiga yang disebutkan di Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen, juga  dalam Al Quran  dengan Surah At-Tin. 
 
Pohon Tin
Naah….terpampang  reruntuhan legenda kejayaan masa lampau Kota Troy yang pertama kali ditemukan oleh Charles Mc. Lahren di tahun 1822. Penggalian dilanjutkan oleh arkeolog Jerman Schlieman dari tahun 1870-1890. Kota tersebut sudah berusia 4000 tahun  berada di dekat Desa Hisarlik, 30 km barat laut ibu kota Canakkale, Turki. Situs ini termasuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1998.

Menurut sejarah, pada jaman itu   diperkirakan telah berdiri satu kerajaan bernama Troy dengan pusat kota didekat laut Aegean.  Pada masa itu masyarakatnya telah memiliki peradaban budaya yang cukup canggih. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya tembikar untuk tempat penyimpanan  makanan  dan minyak zaitun,  juga pipa sistem saluran air.

Situs Ancient City Troy
 Selain sarat dengan sejarah dan mitos, reruntuhan kota ini juga memanjakan mata dengan    pemandangan  yang  indah. Di sini terdapat  sisa  teater kecil  dan  tembok panjang yang legendaris di cerita Troy.  Menurut informasi wisatawan  yang berkunjung ke sini penasaran akan cerita Perang Troy.
Situs Ancient City Troy & reruntuhannya
Sebelum meninggalkan  situs ini,  Ebo-ebo  mencari toilet dan antrian ke tempat ini cukup panjang.  Memang  saat untuk ngedrain, apalagi udara dingin ikut andil  menguatkan keinginan ke kamar kecil……hehehe.  Sabar  menanti  ya Bo-ebo. 

BERGAMA
Komandan Qinan & Pak Andre sudah  memberi instruksi untuk bergerak menuju bus dan siap ke Bergama. Bus mulai bergerak menuju pusat penjualan  alat kecantikan yang berbahan dasar minyak zaitun. Sepanjang  perjalanan disamping  jalan yang mulus, pemandangan yang indah dan  banyak perkebunan  zaitun. Ternyata Bergama merupakan  pusat perkebunan zaitun di Turky.
 
Salah satu perkebunan zaitun

Akhirnya kita tiba di satu toko yang menjual  alat-alat kecantikan dan perawatan tubuh. Tau kan  bagaimana kalau Ebo-ebo masuk toko?  Hihihihi……Semua kosmetik dan perawatan tubuh dari ujung rambut sampai ujung kaki, tersedia di sini. Tinggal pilih, apalagi ada buy 2 get 1, waaah….liat Mpok Meniek menenteng  keranjang belanjaan   yang  terisi penuh.  Pokoknya ga beda jauh sama yang lain deh,  Bu Kentjana, Bu Elina juga Bu Lily  semua  menjinjing keranjang belanjaan yang sarat isi……hehehe.



Minyak zaitun yg aku beli
Ada yang menarik perhatian aku  saat di luar tempat ini, yaitu pohon zaitun yang sarat buahnya dan menjadi incaran ebo-ebo untuk berfoto. Sementara  Bu Devi, Bu Subagyo dan  beberapa ibu duduk dikursi apa ya namanya?  Kalau aku sih nyebutnya  bale tapi  ada atapnya  gitu, sambil nunggu ibu-ibu lain yang masih heboh belanja. Aku ambil kesempatan tersebut buat membidikkan camera foto kepada Bu Niniek dan Tante Lies, foto dibawah pohon zaitun.

Toko alat kecantikan & perawatan tubuh dgn minyak zaitun

Kalau shopping pasti lupa waktu kan, tapi kali ini ngga karena panggilan perut yang sudah kroncongan.  Mariiii….maksi. Di hari ketiga ini makan masih ngga terlalu masalah, karena lauk bekal dari Indonesia masih ada….hihihi.  Ada Nova yang selalu nenteng  tupperwear berisi balado teri medan, ada rending dan kerupuk ikan siap jadi eman maksi kita selalu.  Tapi aku memandang nasi yang dihidangkan, gimana gitu…hahaha. 

 
Kakak adik bergaya di bawah pohon zaitun
Tiga hari disana aku perhatikan setiap makan itu menunya sama, hanya lauknya berbeda,  pembuka: salad, roti dan sup. Main coursenya nasi sedikit, sama daging seperti dibikin perkedel atau lainnya.  Lumayan enak, walau lama-lama gimana gitu…hahaha. Untuk dapat variasi makanan korea dan cina, itu bonus banget lah.











PERGAMON ACROPOLIS
 
Kereta gantung, maket & peta acropolis
Lanjut perjalanan kita ke Pergamon Ackropolis yang terletak di provinsi Izmir.  Perut sudah terisi dan tenaga telah pulih, sekarang siap menyambangi Pergamon Acropolis yang letaknya  lumayan tinggi.  Kurang lebih satu jam perjalanan kita telah sampai ditujuan dan ternyata untuk bisa sampai ke kota kuno Acropolis,  kita harus naik Kereta Gantung dari stasiun yang terletak di sisi timur Bukit.  Sebelumnya kita naik lift ke lantai atas (hanya 2 lantai) dan lanjut naik kereta gantung untuk sampai ke Pergamon Acropolis. Di dalam kereta gantung  yang kapasitas 6 orang, tapi kalau paxnya kecil bisa 8 orang selama  15 menit aja. Aku luput melihat pemandangan ke bawah dan sekeliling,  karena sibuk berserfi ria di dalam…hahaha. 
 
salah satu reruntuhan Acropolis
Setelah  sampai kita harus  keluar melalui pintu kaca, terlihat beberapa toko penjual souvenir.  Ebo-ebo ada yang beli topi khas turkey dan langsung digunakan untuk bergaya lah…hehehe. Topi yang terbuat dari kain bermotif khas turkey tersebut, seperti kopiah tapi ada kain yang ngawir dibelakangnya. Liat aja  Ebo Ella, Bu Diana, Bu Yogi, Mba Rini langsung pakai n cucok banget. 

Qinan mengajak kita untuk mulai  menyusuri situs ini, dengan langkah awal  melewati  jembatan kecil yang terbuat dari kayu.  Lokasi  situs ini  terletak diatas bukit, jadi pelan-pelan kita mulai naik. Tapi ngga terlalu curam dan berkumpul di depan  peta situs ini, disebelah kiri lokasi peta, terdapat maket tempat ini.  Sejauh mata memandang reruntuhkan bangunan  dan batu marmer besar-besar berserakan dari reruntuhan bangunan masa lalu.
 
berbagai expresi didalam kereta gantung
Pergamon Acropolis sebagian besar didirikan di atas bukit, yang merupakan salah satu karya unik dari pemukiman lama sebagai kota pegunungan yang terpotong karena kurangnya dataran alami. Situs ini   dulunya merupakan kota metropolitan yang terdiri dari rumah,  kuil, istana, perpustakaan, teater paling curam di dunia dengan kapasitas 10.000 kursi  menghadap ke Asclepium dan heroon tempat para pahlawan dikuburkan. Juga bangunan-bangunan penting lainnya. Sisa-sisa kota kuno Pergamon merupakan  salah satu harta budaya paling penting di Turki, yang  terletak di distrik Bergama, 29 kilometer timur pantai Dikili.  Penjelasan dari Qinan, yang  hapal diluar kepala.

Ebo-ebo mulai bubar dan menapaki jalan yang cukup  besar berlantai kayu, untuk menuju situs Pergamon Acropolis.  Sejauh mata memandang  terhampar reruntuhan dari batu marmer. Aku terus berjalan dan masih terlihat sisa reruntuhan  Gedung Perpustakaan dengan pilar-pilarnya yang masih kokoh.  Aku coba melihat ke bawah dan tampak bekas  reruntuhan teater dengan deretan  kursi tribunnya.
 
theater terlihat dr atas
Sejauh kita memandang memang hanya tinggal puing-puing reruntuhan bekas sebuah kota yang  terawat dengan baik, sebagai saksi sejarah peradaban dunia  yang dapat dikunjungi wisatawan. 

Konon katanya  kota yang terletak  diatas tersebut, dibagi menjadi tiga bagian utama. Bagian tertinggi dan terlindung dari acropolis ini terdapat istana, kuil, waduk air, sumur, dan waduk raja, air mancur milik keluarga kerajaan dengan bangsawan. Pada masa pemerintahan Eumenes II,   dibangun tembok yang mengelilingi kota agar aman. Di bagian ini, juga terdapat Kuil Athena yang terletak di bagian bawah bangunan. Ada  perpustakaan dan Kuil Trajan. 

Bayangin aja di jaman itu sudah ada  perpustakaan yang terletak antara kuil Traianeum dan Athena, dengan koleksi bukunya sebanyak  200.000 buah  milik Pergamus.   Keren kan? Perpustakaan loh!

Bagian tengah Acropolis dari Utara ke Selatan berisi tempat kudus Demeter yang dikenal sebagai dewi kesuburan.  Sementara  bagian bawah Pergamon merupakan  jantung kota tempat fasilitas perdagangan  dilakukan. Di sini  merupakan pusat  fasilitas komersial, dan  sebagai jantung utama kota pada masa itu.

Acropolis

Sudah puas mengamati dan berfoto di situs Pergumon Acropolis, Ebo-ebo melepas lelah sambil menunggu yang lain. Eeee….ada juga yang langsung ngeborong souvenir, aku juga ikut2 beli deh dan lumayan beli 4 buah batu keberuntungan dapat bonus 1 dompet…hehehe….


B'gaya dekat Pergamon Acropolis
Ada cerita yang  bikin aku parno, tapi  pasti yang lain sama deh kalau ngalamin sendiri. Ceritanya  aku  mau ke toilet, yang letaknya disebelah kiri  gedung  kereta gantung dan turun agak ke bawah.  Waktu sampai di depan toilet  itu ngga  ada orang, selain petugasnya 3 orang  anak muda.   Aku ngga berani masuk, gila aja sendirian bo!. Ngga ada pengunjung lainnya.  Kalau sampai diapa-apain, teriak aja ngga bakalan ada yang dengar. Aku jadi ragu-ragu untuk masuk, padahal  udah diujung run way  alias kebelet banget  nih (maaf). 
 
 Runtuhan dari marmer yg berserakan
“Two lira, Mam.” Kata salah satu anak muda penjaga tersebut.  Tanganku sudah menggenggam koin 2 lira untuk biaya menggunakan toilet, tapi rasa ragu begitu kuat menguasaiku. Salah satu yang sudah menerima koin ku ternyata mengetahui ketakutanku dan dia bilang, “I am Muslim.” Lalu temannya juga mengatakan yang sama, tapi itu ngga jaminan kan?.......Yaa…Allah, lindungilah aku.


Alhamdulillah tetiba  ada tiga  turis Jepang datang. Aku langsung masuk dan berusaha keluar sebelum tuh orang jepang keluar  “Thank you gays” sambil jalan  keluar dan  respone si petugas  bikin aku melempar senyum. Dengan sedikit membukuk ketiga anak muda itu mengucapkan salam. “Assalamualaikum. Thank you, Mam.” 
 
“Waalaikum salam, sorry gays” jawabku sambil berlalu dari tempat itu. Bukan su’uzon, tapi lebih berhati-hati boleh kan?  Apalagi ini di Negara orang. 
 
Santai menanti yg  mborong
Kembali ke barisan, hehehe…ikut nimbrung lagi ke toko souvenir  nemenin Bu Niek pilih-pilih pasmina. Puas menikmati  peninggalan peradaban dunia Pergamon Acropolis dan  blanja-blanji leh oleh. Kita siap berangkat  menuju   kota Kusadasi dengan waktu tempuh selama dua jam, untuk makan malam dan lanjut beristirahat di Asayra Thermal Hotel di kota Kusadasi.
 
Hotel kita di kota Kusadasi
Tau kah gaiiiis, kalau nama hotelnya ditambah dengan kata “Thermal?”
Artinya air panas yang digunakan hotel tersebut, merupakan air panas alam. Sudah kebayang kan segernya mandi dengan air panas alam? Apalagi dengan badan yang sudah lelah seperti sekarang. Namun yang namanya Ebo-ebo ngga ada matinye!  Sepanjang jalan masih on terus dan mulut tetap bagoyang, mengunyah camilan yang tak putus beredar….hahahaha….

Ok gais,  sampai bertemu besok kita akan explore Ephesus Pamukkale (Tungguin cerita berikutnya yang ngga kalah  seru).