Jumat, 25 September 2020

 JANGAN PERNAH KEMBALI KE SANA

 

 

Menanti  saatnya pulang

 

Alhamdulilah tiga bulan terlewati, tepatnya tgl 11 September  yang lalu. Kondisi Juragan dinyatakan dokter sangat bagus, sesuai  hasil  lab,  echografi, bekas luka operasi &  rehab fisik pada kontrol terakhir  4 september lalu. Aku tak lepas mengucap syukur dan terima kasih tak terhingga kpd Yang Kuasa dan tim dokter yang luar biasa kerjasamanya dengan keluarga pasien. Sekecil apapun informasi pasien disampaikan dengan sangat simpatik dan keramahan yang patut diacungi jempol. Aku  sampai bertanya-tanya, bagaimana rumah sakit ini dalam membina para tenaga medisnya.  Para dokternya begitu ramah kepada pasien dan keluarganya, begitu juga  tenaga perawatnya.  

Kondisi Juragan saat ini ga semudah yang dibayangkan, tapi melalui perjalanan cukup panjang dan berliku. Disamping tim medis yang luar biasa, begitu juga  doa dan support  dari keluarga, para sahabat dan teman-teman  yang  sangat berarti bagi aku. Doa dan support tersebut membuat aku tegar, kuat  dan ga sendirian.

 

Diruang perawatan after  operasi

Setelah diundur karena adanya pandemic, alhamdulilla akhirnya dihubungi  agar datang besok hari untuk  dilakukan persiapan operasi.  Juragan juga  gagah berani dan siap mental, karena udah ga tahan dengan keluhan yang dirasakan.

Pada hari  yang ditentukan persiapan operasi pun dilakukan,  dimulai dengan briefing dari perawat. Apa saja yang harus dilakukan pasien. Dilanjut  pertemuan dengan  dokter yang akan melakukan operasi beserta timnya. Dijelaskan secara detail apa yang akan dilakukan dalam operasi bental ini. Operasi bental adalah pengantian katub pada jantung dan repair pembuluh darah aorta. Juga diberitahu apa saja yang dilarang pasca operasi, berapa lama boleh aktivitas kembali dan kegiatan terakhir mengikuti tour ke ruang operasi dan ruang ICU. Jam 9 malam selesai mendampingi, aku langsung pulang dan kembali besok jam 6 pagi.

Aku dan anak2 diminta ikut mengantar juragan ke ruang operasi, kita berpisah dipintu ruangan. Operasi akan berjalan selama 5-6 jam, begitu penjelasan dokter tadi dan penantian itu terasa begitu panjang. Lantunan doa tak putus aku panjatkan, juga dari keluarga, sahabat dan teman2 yang sangat mensupport. Ditengah perjalanan operasi, menantu yang sedang menunggu kelahiran, mengeluarkan flek dan mulai mules. Aku suruh mereka berangkat ke rumah sakit dan aku akan menyusul setelah urusan juragan selesai.

 

setia merawat..hehehe

Baru tiga jam berjalan, aku dipanggil dokter. Alhamdulillah operasi sudah selesai dgn lancar dan sukses tanpa perdarahan sama sekali,  aku dan si kk diajak menemui Juragan di ruang ICU. Dia mulai sadar dengan segala selang  yang menghiasi tubuhnya dari kaki, hingga kepala. Luar biasa hebat kuasaMu yaa…Rabb dan acungan jempol buat tim dokter. Aku bisa bernapas lega dan bermunajat kalau boleh, cucu lahir setelah juragan kembali ke rumah.  Komat-kamit mulutku  melantunkan doa dengan khu’su kembali, Alhamdulillah mendapat kabar kalau belum akan melahirkan.

Cucu lahir 

Semalam diruang ICU, paginya dipindah ke ruang pemulihan. Ga gampang menunggu di masa pandemic, keluarga ga boleh ada diruang tunggu bila malam, sementara ditinggal pulang juga ga boleh. Aku mbambung tidur di mobil. Sewa kamar  disamping rumah sakit,  nyaliku ciut karena zona merah covid. Di hotel yg ga jauh pun, aku ga berani. Mobil adalah tempat teraman untukku saat itu. Hari ketiga boleh ditinggal dan aku kabur pulang, saat itu badan rasanya butuh istirahat. Dua malam dirumah, pagi ditlp dokter  agar datang ke rumah sakit, karena juragan udah akan dipindah ke ruang perawatan. Alhamdulillah…. aku bisa menemani juragan di kamar perawatan dan dihari ke delapan sudah boleh meninggalkan rumah sakit. Alhamdulillah yaa Allah…

Doa ku dikabulkan Allah,  sehari setelah juragan di rumah cucu lahir. Alhamdulillah…walau harus melalui SC karena baby kebesaran, 4,3 kg bo’…hehehe.  NikmatMu yang mana lagi yg aku dustai yaa Rabb..

Kembali  after operasi
 

Aku diberi pelatihan praktis untuk merawat luka operasi dan lainnya di rumah sehari sebelum Juragan pulang, jadi perawat pribadilah aku…hehehe….  5 hari setelah di rumah, mulai  menjalani rehabilitasi fisik sebanyak 12 x pertemuan. Jam 6 pagi kita udah jalan ke RS dan jam 10 kegiatan selesai. Juragan dilatih senam dan berjalan, untuk mengetahui  kekuatan jantungnya setelah operasi. Tapi ternyata pasiennya bandel, jadi ada 2x dia over capacity dalam berolahraga. Atau tangannya gatal, aku meleng sedikit, dia beberes dan cuci mobil. Naah…kejadian lagi, katanya berasa muter, pandangan gelap dan keluar keringet dingin.  Dasar emang orangnya ga bisa diam, jadi pengawasan diperketat.

Klo aku lagi di dapur, setiap 10-20 menit aku panggil….”Bos lagi apa?” Klo ga ada jawaban, langsung  aku cari, dan ditemui lagi  nongkrong di warung  atau ketemu teman-teman di masjid. Pokoknya berbagai alasanlah. Aku paham kok kalau dia boring di rumah dan ga ada aktivitas apa-apa, tapi mau gimana lagi. Memang hanya istirahat yang diperlukan untuk memulihkan dan menyembuhkan seperti awal.

 

Luka operasi yg sdh  bagus

Namun kejadian –kejadian kecil  tersebut  membuat kondisi juragan terus menurun,  dan akhirnya aku memutuskan untuk stop melanjutkan rehab. Sore itu dia keluar lagi  entah kemana, saat aku tinggal salat. Juragan cengar cengir saat kutemui lagi ngobrol di pos keamanan. Yaaa…emang butuh kesabaran tingkat dewa, ngadepin juragan..hehehe…

Sore itu setelah aku mandikan, merawat luka operasi dan  aku buatkan teh manis hangat dengan  camilan mari regal  sambil  nonton TV. Aku tinggal  setrika di  lantai atas. Ternyata tiba-tiba napasnya sesak,  dia  manggil2, tapi aku ga dengar.   

Saat aku turun, juragan tidur di kamar tp mukanya pucat dengan napas satu-satu. “Aku ga bisa napas, Ma.” Badannya bersimbah keringat, aku memberikan obat yang diletakan dibawah lidahnya.  Pelan-pelan napasnya mulai teratur kembali, “Alhamdulillah…udah enak napasnya Ma.”

 

Bahagia sdh bisa main dg cucu 

Aku melanjutkan memasukan  baju ke lemari, tetiba  dengar juragan teriak-teriak.  Juragan  anfal dan  ga sadar, matanya terbuka tapi ga ada reaksi. Si Ade baru pulang kantor, langsung tlp ke kantornya minta dikirim ambulan sambil nangis liat kondisi papanya  seperti itu.

Aku tetap tenang menghadapi situasi ini, karena sudah mendapat pelatihan praktis di RS jika hal ini terjadi. Satu persatu tetangga datang, karena mendengar tangisan si Ade. Juragan masih terus meracau ga jelas, pelan tapi pasti juragan mulai sadar tapi masih belum mengenal aku.  Si Ade makin meraung tangisnya dan aku tenangkan.

“Papa ga boleh dibawa ke rumah sakit Ade, kondisi pandemic seperti ini IGD bukan  tempat aman bagi penderita jantung. Kalau obat yang mama kasih sebanyak 3x dan ga ada reaksi, baru kita bawa.”  Ade mulai tenang dan juragan mulai sadar penuh, satu persatu tetangga yang dilihat dia sapa. “Ada apa Ma, kok pada ke sini?  Mama di sini aja dekat aku dan  jangan kemana-mana ya” 

Setelah tenang, aku ganti bajunya yang basah kuyup. Sejak itu juragan mulai susah makan, sering mengigil kedinginan dan sesekali  napas terasa sesak. Melihat kondisinya  yang terus menurun, aku ga mau ambil resiko.  Aku menghubungi dokternya.  dan disuruh untuk dibawa ke rs keesokan harinya.  Sesuai pesan dokternya untuk periksa darah, HB, INR dan membawa hasil echografi terakhir.  

Juragan  ga kuat  jalan jauh, terpaksa aku tinggal di mobil sementara kau mengambil  kursi roda di klinik. Ternyata hasil labnya semua turun, yang paling  parah keencerahan darahnya melambung tinggi, sementara  lainnya meluncur turun, begitu juga  tekanan darahnya hanya 70/59 aja. Ada beberapa obat yang harus diatur ulang dosisnya  dan harus  echografi kembali. Dua hari lagi kembali dengan hasil lab dan echografi terbaru.

Dua hari berikutnya, kondisinya makin  drop. Akhirnya diputuskan untuk dirawat, tapi sementara di tempatkan di IGD karena ICU penuh.  Aku lebih khawatir dengan kondisi ini dari pada saat menjalankan operasi.  Aku terdampar kembali di rumah sakit ini  tanpa membawa baju sama sekali.  Alhamdulillah selepas magrib Juragan dipindah ke ruang ICU, karena ada pasien yang dipindah ke ruang perawatan. Dokter memberitahu kondisi juragan setelah semua hasil cek keluar. Dengan INR yang tinggi tapi tidak terjadi perdarahan, maka sesak yang dirasakan karena ada cairan di selaput jantung dan harus disedot.

Untuk dapat mengeluarkan cairannya ga semudah itu, kondisi harus stabil dulu. Juragan di transfusi darah 2 kantong,  karena HB nya terjun bebas.  Si kk dan keponakan  sebagai pendonornya, Alhamdulillah  golongan darahnya sama dengan papanya. Bukan hanya itu, tekanan darah juga ikut meluncur  kebawah tapi keenceran darah berkibar diatas dengan pongahnya.

Lantunan doa ku tak putus menggedor langit, berharap semua ini cepat berlalu.  Hari pun seakan berjalan begitu lambatnya, pertanyaanku pun tetap sama saat bertemu dokter. “Bagaimana dengan HB, tensi & INR nya dokter?”   Alhamdulillah HB normal setelah transfusi, tensi pun mulai stabil. Hanya INR agak lambat bergerak turun,  sehingga belum dapat dilakukan tindakan. Di hari ketujuh  INR mulai menurun dan  dokter merencanakan akan melakukan tindakan untuk mengeluarkan cairan. Namun  hari yang ditentukan batal dilaksanakan, karena ruang tindakan full.  Akhirnya hari yang dinanti pun tiba, aku diminta ikut mengatarkan  ke ruang tindakan.

Kondisi ini membuat aku terpukul, apakah karena aku kurang ketat dalam mengawasi dan teledor dalam mengurusnya atau Juragan yang kurang mau bekerjasama melalui pasca operasi ini?   Sudahlah, rasanya aku ga perlu mencari  jawabannya. Lantunan  doa  tak putus  aku panjatkan, berharap dapat  menggedor  langit  agar Juragan ku kembali sehat. 

 

Juragan saat ini 

Kadang kita merasa orang yang paling menderita, ternyata masih ada yang tidak seberuntung kita. Diruang tunggu keluarga pasien, kami layaknya keluarga. Saling menguatkan, mendoakan dan saling bantu. Beragam kisah pilu tertuang di sini dan kita bisa bercermin, apakah perlu bersedih berlebihan menghadapi  kondisi  ini. Walau bagaimana pun rasa khawatir itu seakan merobek dinding jantungku, perih  yang tak ada duanya. Seakan separoh jiwa ini nyaris raib.

Kata pepatah “Di atas langit, masih ada langit” Kita merasa paling sedih dengan kondisi keluarga yang sedang di rawat, tapi ada orang lain yang lebih patut sedih dari kita. Seorang keluarga dari daerah harus menahan lapar, karena tidak memegang uang untuk dapat mengisi perut. Biasanya kita sama-sama berbagi dan ada pula yang biayanya ditanggung perusahaan, tapi setelah tiga tahun sudah tidak bekerja lagi dan asuransi tertebut tidak pernah diurus untuk menjadi asuransi personal.

Dokter memberitahu, kalau biaya asuransinya telah limit. Ruang ICU kelas tiga semalam biayanya 15 juta belum termasuk obat, sementara suaminya telah 10 hari di ICU.  Dia disarankan untuk mengurus BPJS agar biaya pengobatan suaminya dapat dicover. Tau ga gaes!....saat makan siang, dokter tersebut mengirimkan nasi box buat istri pasiennya dan malam pun dikirimkan kembali. Masya Allah……betapa mulianya dokter tersebut.

Ngomong-ngomong soal BPJS sesuai yang aku alami, ini luar biasa. Aku tidak banyak keluar biaya, boleh dibilang sangat sedikit.  Sejak tahun 2019 dirujuk ke sana, hanya biaya transportasi yang kami keluarkan. Semua free….bahkan aku sampai bilang serasa punya rumah sakit pribadi..hehehe

Souvenir dr  Rumah Sakit

 

Bayangkan untuk ruang ICU kelas tiga aja 15 juta perhari, kebayangkan untuk kelas satu berapa. Sementara saat dirawat terakhir, Juragan 10 hari di ruang ICU. Padahal waktu operasi hanya 2 malam di sana. Obat yang dibeli sendiri seharga 280.000, tapi itu bukan obat minum. Namun obat untuk merawat luka selama seminggu dan membeli plester seharga 32000, karena Juragan alergi dengan plester yang digunakan diruangan perawatan. Mahalan biasa  konsumsi yang nungguin kale….hahaha… Setiap bulan control dan pulang membawa obat untuk sebulan, itupun gretong.

Daftar ga perlu berdesakan, apalagi harus datang pagi-pagi. Cukup melalui online, kita akan dapat nomor urut dan harus datang jam berapa semua sudah tertulis. Enak kan! Tapi itu yang aku alaminya. Sementara surat rujukan dari klinik dekat rumah, diperpanjang 3 bulan sekali aja & ngurusnya juga ga ribet.  Pokoknya Alhamdulillah, kalau kata  si Ade. Kalau bayar pasti mama harus jula mobil, rumah dll, itu juga belun tentu cukup kali…hehehe.  Jadi BPJS itu, “Kau dicaci tapi di puja”…….

Apapun alasannya, kalau boleh milih aku ogah sakit aja aaah…..Tapi  Allah akan selalu memberikan cobaan kepada umatnya, agar lebih kuat dan banyak bersyukur.  Melihat perkembangan kondisi Juragan, aku mulai  melonggarkan aktivitasnya  sesuai pesan dokter, andai sudah tiga bulan beberapa kran aktivitas  sudah boleh  dilakukan.   Sehat ya Juragan kuuuh dan jangan pernah  kembali ke ICU lagi.

 

8 komentar:

  1. Semoga sehat selalu ya mb Ningsih untuk suaminya. Deg-degan ya kalo bandel gitu. Hehe...Alhamdulillah semua biaya terkover oleh BPJS. Bener sih, engga mau deh sakit. Semoga sehat terus semuanya. Amiiin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mba, serba salah..hhehhe
      Alhamdulillah ga ngebayang 1 katub 300jt, blm lainnya...
      Aamiin yra. Terima kaaih doanya

      Hapus
  2. Masya Allah... semoga Allah memberi kesembuhan yang sempurna pada Juragan, dn tidak ada penyakit yang tertinggal.

    BalasHapus
  3. masyaallah, saya kok berkaca-kaca ya baca ceritanya bunda ini T_T Semoga sehat selalu ya Juragannya Bunda. Semoga diberi kesabaran selalu ya bunda dan keluarga dan sehat-sehat selalu, amiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba, saya jg heran bisa begitu kuat. Alhamdulillah Allah beri saya kesehatan jd bisa merawat. Aamiin yra. Terima kasih doanya

      Hapus
  4. Masya Allah..di satu sisi suami tercinta sedang dapat cobaan, di sisi lain cucu tercinta yang ditunggu-tunggu lahir.
    Selamat untuk kelahiran cucunya Mbak Srie..Alhamdulillah sudah jadi Eyang apa Oma nih.
    Semoga setelah ini suami selalu sehat ya Mbak..meski rumah sakit dan layanannya bagus bangets , ga usah balik aja ..sehat semua ya. Aamiin!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba Dian, alhamdulillah sdh jadi Uti & Akung.
      Aamiin yra. In shaa Allah Mba, jgn sampe balik.lagi deh..hihi.
      Suwun donya ya Mba Dian

      Hapus