Translate

Rabu, 15 Agustus 2018

MAGIC OF SILATURAHMI

Lomba Makan kerupuk anak2


Sebagai mahluk sosial  manusia membutuhkan orang lain untuk  saling berinteraksi, dalam keluarga maupun dilingkungan tempat tinggal.  Orang yang paling sering kita jumpai dan bersosialisasi setiap hari adalah tetangga, yang merupakan saudara terdekat kita. Untuk itu muliakanlah tetangga  dan  ketahui juga adab-adab bertetangga berdasarkan Al Quran dan Sunnah.

Ustadz Bambang

Berdasarkan hal tersebut, kita dituntut untuk mempererat tali silaturahmi terutama dengan tetangga. Pemerintah juga memfasilitasi dengan  memberikan wadah melalui rukun tetangga, untuk mengenggam erat silaturahmi.  Dilingkungan tempat tinggal ku, perangkat RT berusaha untuk menyatukan antar tetangga dengan berbagai kegiatan.

Bermaaf-maafan menjelang puasa Ramadhan
penyelenggara  berucap syukur.  Bahkan  sebagian besar warga  menyarankan, agar membuat kembali acara seperti itu.   Acara ini diisi  dengan siraman rohani yang disampaikan oleh Ustadz Bambang, yang menyampaikan point-point persiapan menyambut Ramadhan,  melaksanakan puasa dan ibadah lainnya.   Setelah itu kita yang hadir   saling bermaafan,  berharap  kesalahan dihapuskan. 

Hebohnya para Emak
Kegiatan ini ditutup dengan makan siang bersama, membuat aku baper melihat guyupnya warga dan terpancar kepuasan dari wajah-wajahnya. Sebenarnya baper itu timbul sejak memberi surat undangan,  saat melihat  respon warga yang dengan suka rela membantu dana  untuk acara ini.  “Jangan lupa, kapan-kapan bikin acara seperti ini lagi” begitu pesan warga yang hadir.

cantik diantara bapak2..hehhee
Kenapa aku menamainya “Magic of Silaturahmi?”  Magicnya adalah,  bersilaturahmi dapat membuat orang    panjang umur  dan mendatangkan rejeki seperti diriwayatkan oleh Al Bukhari:  

“Siapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturahmi niscaya umurnya akan diperpanjang dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.” 

Kevin ga bisa makan kerupuknya karena silau & ga bawa kaca mata
Dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-73, diadakan berbagai lomba untuk anak-anak dan para ibu & bapak. Alhamdulillah berjalan lancar dan senang melihat kelucuan anak-anak serta kehebohan emak-emak mengikuti lomba tersebut. Lagi-lagi respon warga dalam mewujudkan kegiatan ini begitu ruaar biasa. Bayangkan saja,  sampai detik-detik terakhir masih ada yang memberikan tambahan dana untuk kegiatan tersebut. Love u  my neighbour for magic of silaturahmi.

Aisya siap....1..2...3
 Silaturahmi warga digelar keesokan harinya, tepatnya tanggal 
12 Agustus 2018 dalam rangka momen halalbihalal. Namun bukan itu intinya, tapi  untuk saling bertatap muka dan bersapa langsung. Paling tidak bisa makan bersama dalam suasana kekeluargaan yang kental. Pada kesempatan itu pula  ditarik  arisan RT dan spontanitas Emak-emak berembuk, untuk rencana  jalan-jalan gratis keliling Jakarta dengan bus wisata. Tidak ada  pertemuan yang sia-sia dan  kebersamaan selalu membuahkan  kebahagiaan. Terima kasih untuk kebersamaannya dan sampai  bertemu pada kegiatan lainnya.

  

Lomba joget jeruk

Emak2 ga mau kalah sama anaknya                                                                                                                                                                                                   











Senin, 13 Agustus 2018

PELIBATAN KELUARGA PADA PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DI ERA KEKINIAN :


                                      Oleh:  Srie Ningsih,  6 Agustus     2018

“ SEKOLAH MERUPAKAN MITRA KELUARGA DALAM MEMBANTU PENDIDIKAN ANAK”

Pada umumnya semua pasangan  dalam berumah tangga  berharap anak-anaknya  dapat sukses  dan hidup lebih baik dari orangtunya.  Untuk itu, semua orang tua tentu sudah mempersiapkan  rencana masa depan bagi anak-anaknya.  Namun untuk mendidik  anak-anak sampai ke sana bukan hanya tanggungjawab sekolah, juga diperlukan  peran orang tua secara nyata. Kesibukan orang tua seringkali dijadikan alasan untuk melepas tanggungjawab dalam mendidik anak-anaknya dan menyerahkan   sepenuhkan kepada sekolah.

Pendidikan  utama sejatinya di rumah, karena  keluarga  adalah  pendidik terbaik bagi  anak. Untuk membentuk karakter anak sebagai individu yang siap  belajar dan berinteraksi  terhadap lingkungan, tentu dilakukan oleh keluarga. Ada pemahaman  dari seorang pendidik yang sekaligus penulis terkenal Elton Trueblood menyatakan,  bahwa “Keluargalah yang membentuk setiap individu didalamnya.”  Sekolah sebagai mitra keluarga  akan bersinergi untuk keberhasilan pendidikan  anak, yang tentu perlu  dukungan   orang tua.  

Banyak orang tua yang  salah kaprah  dengan dalih sibuk,   menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak   kepada sekolah.  Hal ini tentu  akan menghambat  proses   pengembangan akademik, keahlian, dan bakat anak. Karena  tugas keluarga dalam membentuk individu anak  yang siap belajar  terabaikan.  Suka tidak suka, akhirnya  sekolah yang  memikul  tanggungjawab  tersebut.  Sehingga proses pendidikan menjadi tidak efektif, karena  keluarga  tidak berperan sebagai mitra sekolah.  

Bahkan tidak jarang keluarga  tidak menjalankan dengan baik hubungan kemitraan tersebut, malah berlaku sebaliknya. Tidak sedikit  yang  ikut menyalahkan sekolah apabila anak ditindak karena melanggar  peraturan sekolah. Hal ini membuat anak tidak mandiri di sekolah, bahkan keluarga tidak jarang  malah mengintervensi  proses belajar mengajar anak di sekolah.


PERAN EYANG PUTRI DAN ASISTEN RUMAH TANGGA 

Kebiasaan yang berlaku dalam keluarga, ketika kakak  saya melahirkan Ibu akan menungguinya selama empat puluh hari.   Ibu datang minggu sore dan pulang hari sabtu, untuk membantu membimbing kakak  dalam merawat anaknya.   Namun ada pengecualian saat aku melahirkan, Ibu yang merawat dan mengurusi anakku  sampai berusia satu tahun.  Dengan alasan, karena aku bekerja di luar rumah  dan Ibu  mengajari dan  mengawasi  asisten yang khusus mengasuh anakku. Begitu juga saat anak kedua ku lahir yang berjarak lima tahun dengan kakaknya. Setelah itu anak sepenuhnya menjadi tanggungjawab aku sebagai ibunya dan dirawat pengasuhnya saat aku bekerja.

Praktis anak-anak selama aku bekerja, tinggal bersama pengasuhnya di rumah.  Aku memisahkan antara asisten rumah tangga yang mengurusi urusan rumah tangga dan asisten rumah tangga yang aku didik khusus untuk mengasuh anak.  Untuk  mencari seorang pengasuh anak, aku menetapkan   beberapa persyaratan  yang harus dipenuhi. 

Pendidikan : Bukan hanya bisa baca tulis, tapi minimal lulus sekolah dasar.  Hal ini  agar  pada saat anak-anak bertanya dia bisa memberikan penjelasan dengan bahasa yang baik.  Dia juga dapat membacakan buku cerita buat anak-anakku, saat aku tugas keluar kota.

Kebersihan:  Kebersihan diri sang pengasuh juga tidak kalah penting. Pengasuh anak-anak aku dapatkan dari keluarga jauh yang kebetulan tinggal di kampung dan  sudah mengenal  sang pengasuh beserta   keluarganya.  Hal ini sangat membantu aku menentukan pilihan, bahkan  kadang aku terima beres yang direkomendasikan.

Belajar: sebelum bekerja, aku  meminta tolong kepada Eyang Putri untuk mengajari cara merawat anak dan mengawasinya dalam waktu paling lama satu bulan. Setelah itu, aku cukup mengandalkan alat komunikasi berupa telepon genggam. Setiap kurang dari dua jam, aku memantau kondisi anak-anak melalui video call. Hal ini cukup membantu aku dalam mengawasi  anak-anak dari jauh dan mengecek sang pengasuh melakukan jadwal makan dan aktivitas anak sesuai dengan yang telah aku berikan.

Setiap pagi sebelum   berangkat ke kantor, aku menyiapkan sendiri  makanan untuk anak-anak. Begitu tiba di rumah  setelah membersihkan diri, aku langsung mengambil alih pengasuhan anak-anak. Hal ini aku lakukan,  agar  anak-anak tidak lengket kepada pengasuhnya dari pada kepada ibunya sendiri.   Peran sang pengasuh anak ini sangat besar dan aku hargai, sehingga dapat membuat aku tenang dalam bekerja. 

Memang tidak lelah?

Bukan tidak lelah, tapi tidak boleh lelah. Seorang ibu yang berperan ganda, sebagai  ibu rumah tangga dan bekerja, menurut pendapat aku tidak boleh mengenal kata lelah.   Namun menerima itu sebagai suatu konsekwensi atas pilihan yang diambilnya, agar anak  tetap merasakan kehangatan kasih  ibunya.

Memang sesekali Eyang Putrinya datang menjenguk cucunya, tapi Eyang Kakung sangat jarang ikut, karena  tidak tega melihat cucunya di rumah tanpa ditemani ibunya sendiri…..Itu alasan Eyang Kakungnya, karena hanya aku anak perempuannya yang bekerja di luar rumah.  Namun anak bungsu aku paling senang bila Eyang Kakungnya datang dan selalu meminta gendong. Anak-anak cukup dekat dengan ibu-bapak dari pihakku, namun sayang tidak ada yang  mengenal eyang dari pihak bapaknya, karena sudah pergi sebelum anak-anak lahir.

HUBUNGAN   KOMUNIKASI KELUARGA DI ERA DIGITAL

Untuk lancarnya operasional keluarga yang terpisah-pisah karena menjalankan aktivitasnya, dibutuhkan komunikasi yang baik antar anggota keluarga.  Di masa era digital seperti saat ini, kami kapan saja bisa saling  berkomunikasi. Aku dapat langsung mengetahui pergerakan anak-anak dan tugas-tugas apa saja yang diberikan sekolah. Bahkan si bungsu paling tidak sabar, andai mendapat tugas dari guru. Dia akan langsung menghubungiku dan memberitahu apa saja tugas yang diberikan. Bahkan tidak jarang bercerita kegiatannya selama di sekolah. 

Untuk  tugas yang diberikan, kadang ada yang perlu dibeli. Aku memanfaatkan  jam istirahat untuk mencari kebutuhan tersebut atau meminta tolong OB kantor membelikan. Maklum lokasi kantor cukup jauh dari rumah dan saat pulang, aku harus tepat waktu tiba di rumah.  Sesuai kesepakatan kami diawal setelah kehadiran anak, bahwa aku wajib  mengusahankan pulang tepat waktu untuk secepatnya dapat menemani anak-anak.  Karena   suami memang tiba di rumah lebih malam, kecuali aku ada tugas kantor yang harus diselesaikan. Saat itu suami yang akan lebih dahulu menemani anak-anak di rumah, semua itu bisa berjalan dengan mulus berkat bantuan alat komunikasi di era digital saat ini yang membantu tugas orang tua. 

SEKOLAH  SEBAGAI MITRA KELUARGA  

Sebagai ibu yang bekerja di luar rumah, aku membutuhkan sekolah yang dapat memberikan kenyamanan anak dalam belajar.  Dan dapat  menjalin hubungan dua arah antara guru dan orang tua, untuk memantau perkembangan anak.  Hal ini diharapkan  dapat  pengembangkan pendidikan akademik anak dengan  maksimal di sekolah.  Memang secara akademik menjadi tanggungjawab sekolah untuk mengembangkan anak didiknya, sementara  penanaman nilai-nilai budi pekerti, pembentukan karakter dan dapat  berinteraksi  adalah tugas dari keluarga atau orangtua. 

Sebagai orang tua yang memiliki waktu terbatas dalam membantu anak-anak belajar,  aku membutuhkan mitra yang dapat bekerjasama  untuk mewujudkan  pendidikan yang diharapkan.  Saat di rumah aku berusaha membantu anak-anak belajar dan berusaha agar tidak memberi les tambahan. Karena aku masih sanggup mengajarinya sendiri dan beberapa langkah yang aku  ambil:

Hubungan dua arah:  Sekolah sebagai mitra orang tua, aku manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Komunikasi dua arah yang rutin aku lakukan untuk mengetahui perkembangan anak. Aku berkonsultasi dengan guru kelasnya, andai  gagal  menerangkan pelajaran yang ditanyakan.  Bahkan aku pernah ikut  les matematika  bersama beberapa  wali murid lainnya dengan guru sekolah.

Ikut belajar :  Aku ikut  mempelajari bab per bab mata pelajaran sekolah anak-anak, agar dapat menjelaskan saat belajar di rumah sebelum bab tersebut dipelajari di kelas.  Si Kakak apabila penjelasan dari guru  telah dimengerti, ketika belajar di rumah dia meminta aku memberikan pertanyaan seputar pelajaran yang tadi dibahas di sekolah.  Sementara  si Ade, aku harus meringkas  dan menjelaskan menggunakan  white board.  Untuk si Kakak, akhirnya aku membuat pertanyaan-pertanyaan yang diambil dari buku pelajarannya. Untuk si Ade, aku meringkas setiap mata pelajaran guna  dijelaskan di rumah. Sampai anak-anak duduk dibangku SMA, aku masih bisa membantu pelajarannya.  

Semua itu dapat aku lakukan dengan bantuan tehnologi dan berteman dengan Mas Google. Apapun yang ingin kita ketahui dapat ditemukan, hanya dengan ujung jari. Anak-anak aku beli fasilitas  telepon genggam saat  telah duduk di bangku SMP dan   aku tegaskan bahwa  itu untuk mempermudah   komunikasi. Untuk main game,  ada waktu yang sudah kita sepakati. Kapan waktunya dan berapa lama.

LES PELAJARAN TAMBAHAN

Aku memang tidak memberikan pelajaran tambahan atau les kepada anak-anak, selain les musik dan Bahasa inggris. Kakak  les gitar dan Ade les piano, tapi semua itu atas permintaan anak-anak. Si Kakak sampai masuk kuliah, tidak pernah masuk dibimbingan belajar. Namun  saat Ade  kelas tiga SMA, aku  sudah tidak dapat mengikuti lagi pelajarannya. Bersama teman-temannya, aku   ikutkan dibimbingan belajar   untuk persiapan ujian akhir dan mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Alhamdulillah dapat di terima di PTN.

Pada era kekinian, orang tua dimudahkan dalam mencari informasi tentang segala hal. Namun dampak yang ditimbulkan pun tidak sedikit. Orang tua perlu ektra  pengawasan anak yang  dengan gawainya,   dan agama merupakan  salah satu jalan untuk  meredam pengaruh kemajuan tehnologi.  



referensi:
https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php
https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=39
http://www.penajuara.com/2018/03/lomba-menulis-blog-nasional-2018-gratis.html
Sumber gambar : Pinterest, kantor meme.blogspot
#sahabatkeluarga





Rabu, 08 Agustus 2018

MENULIS BUKU BERSAMA SEKOLAH PEREMPUAN


Buku Solo Perdana

Menjadi  seorang  penjejak  memang  ga pernah  kebayang.  Awalnya  sih  karena  senang  curhat   di buku harian, yang aku lakukan sejak kelas empat   SD.  Ibaratnya buku harian adalah tempat sampah yang menampung  rasa kesel, sedih karena dimarahi dan bahagia yang aku alami sehari-hari.  Bahkan ngga jarang  itu tulisan kabur kena tetesan air mata, saat sedih dan dada  berasa plong  setelah  semua rasa tertumpah  dalam bentuk tulisan.  Biasanya  aku nulis  diatas  tempat  tidur  dan  buku  hariannya disimpan di bawah bantal. Dijamin ngga ada yang  tau, karena  aku tidur  ditempat  tidur  tingkat  dan aku yang diatas…..…...hehehe.


Masih ingat cerita dongeng karangan  HC.Andershon?  Itu buku bacaan masa kecil, bahkan aku  rela ngga dibeliin baju asal dibelikan buku. Saat SMP coret-coret tetap masih berlangsung, bahkan beberapa cerpen diterbitkan di majalah remaja terkenal saat itu. Kirim tulisannya masih dengan ditulis tangan pula yang dikirim melalui pos.  Aku juga punya hobi membaca, kalau sudah membaca novel bisa ngga tidur sehari-semalam. Judulnya penasaraaaan….hahahaha.

Pada masa itu menjadi penulis memang belum semudah dan seindah sekarang. Paling hanya  pekerjaan sampingan saja, nyari kursus menulis juga  sulit. Tapi aku pernah ikut kursus menulis jarak jauh melalui surat-menyurat. Jadi  materi dan tugas-tugasnya dikirim melalui pos, aku punya sertifikatnya dengan nilai cukup bagus loh. Aku tetap aktif menulis buku harian dan membaca buku. Saat aku pindah tugas, aku ditempatkan di Humas dan hobi menulis makin terasah.  Salah satu tugasku adalah membuat berita untuk majalah internal kantor, jadi jurnalis akuh.  Keinginan terpendam akhirnya tersalurkan, kadang aku jadi editor untuk tulisan yang masuk dari pegawai. Ilmu yang didapat dari kursus akhirnya kepakai.

Salah satu buku antologiku yg memberi kata pengantar "Mensos RI"

Meliput kegiatan kantor dan membuatnya jadi sebuah berita di majalah internal kantor,  rasanya  campur aduk. Sering juga buat kontens untuk fyer kantor. Beberapa kali diikutkan  pada pelatihan menulis dan mengantongi beberapa sertifikat. Yang paling bergengsi saat sekolah Jurnalis di Dewan Press, dengan pengajar wartawan senior termasuk   Yakoep Oetama.  Sejak saat itu  pekerjaanku jauh lebih berwarna, bertemu orang banyak sudah biasa tapi mewawancarai pejabat dan pegawai kantor sampai ke daerah, adalah sesuatu banget. I love this job guys!

Dua kali resensi buku diterbitkan di HU. Media Indonesia, dua kali juga menjadi ghostwriter untuk direksi,   membuat buku pedoman tata persuratan & kearsipan perusahaan juga aku kerjakan. Aku juga mulai menulis novel tapi ngga berani untuk diterbitkan, lebih tepatnya belum mengetahui cara mengirim naskah ke penerbit saat itu.  Aku juga diminta sebuah organisasi  yang bergerak di bidang olahraga untuk menerbitkan tabloid  internal, memang oplahnya hanya 1000 exp, tapi  diedarkan ke 31 provinsi sampai tingkat kabupaten.  Di organisasi tersebut  berita tidak selalu hasil liputan, tapi data kegiatan dan foto-foto dikirim dari perwakilan di daerah. Sesekali saja meliput ke daerah, itu aku tekuni selama   selama 12 tahun. 

Buku Antologiku

Setelah pensiun, untuk mengisi mengisi waktu aku  menekuni dunia literasi lagi. Alhamdulilah tanpa sengaja menemukan komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis,  yang didirkan oleh Indari Mastuti di  tabloid Nova. Komunitas ini seakan menggembleng  berbagai ilmu  penulisan yang  dikupas tuntas, ada yang gratis dan berbayar secara online di FB.  Menemukan komunita ini serasa mendapat durian runtuh, bertahun-tahun mencari training seperti ini ga ada. 

Akhirnya  aku mengikuti  training Sekolah Perempuan gelombang  ke tiga, belajarnya  secara online di FB dan webinar.  Materi yang diberikan  cukup lengkap,   di sini  aku dapat  menulis  buku yang   dibimbing  langsung oleh Indari Mastuti  selama tiga bulan.  Biaya yang dibandrol saat itu sebesar satu juta dan alhamdulillah  didanai oleh kantor.  Training ini seakan menghapus dahagaku pada dunia literasi, melalui para mentor yang keren seperti  Indari Mastuti, Ida Fauziah, Juli Nava Artha dan  kepala sekolahnya Anna Farida.  Bayangin deh dimana ada sekolah yang boleh bawa anak dan selagi sang ibu belajar, eee..kepala sekolah yang momong si anak…

in house magazine

Aku seneng banget kalau dikelas, jadi murid dan dipanggil kepala sekolah dengan panggilan sayang “Non” Ini punya cerita sendiri, maklum kelas online. Kepala sekolah biasa menyapaku dengan sebutan tersebut, namun saat kopdar dia kaget, ternyata yang dipanggil Non adalah nenek-nenek…..hahaha, tapi maaf ya aku ngga mau diganti panggilannya. Biar berasa masih bocah…wkwkwkw….Nuhun Bu Kepsek.

Aku jadi lebih mengetahui pakem-pakem dalam membuat suatu tulisan, apalagi terus ikut beberapa training dengan Joeragan Artikelnya Ummi Aleeya. Ditantang langsung praktek dengan status cantic, bikin artikel di Emakpintar.com. Apalagi ikut training khusus editor, wooow  bingit tapi maaf aku nyerah dikasih tugas untuk mengedit. Matanya ngga kuat harus melototin lappy untuk mengedit buku  154 halaman…hehehe…maaf  Chika aku nyerah. 

Setelah itu  tawaran membuat buku antologi bertubi-tubi hadir, maka lahirlah antologi pertama hasil dari lomba dan salah satu yang terpilih untuk dibukukan yaitu “Anakku Mutiaraku” berasa terbang kelangit. Pelan tapi pasti satu persatu buku antologiku lahir, salah satunya “Bangga Menjadi Ibu” sebenarnya tiga tulisanku terpilih menang, hanya satu yang diterbitkan. Dan pada edisi berikutnya buku tersebut kata pengantarnya berasal dari Menteri  Sosial RI, Kofifah Indar Parawansa  yang pada suatu kesempatan bertemu aku minta beliau menandatangin buku tersebut.  Sementara buku solo belum ada jodohnya, begitu kata Indari, sabar ya. It’s ok..padahal sedih bingit…hehehe

Pembaca buku soloku

Kegilaan menulisku membuat tulisanku makin ciamik, kata Enni Kurniawati.  Ilmu yang didapat  membantu mempermudah kegiatan tersebut, tapi ada loh yang mengatakan aku penulis edan.  Pasti kecolek  salah satu tulisanku  ya? Kalau kita ga berbuat seperti yang dikatakan kenapa mesti marah?. Ada pula yang mencibir dan bilang  kalau tulisanku  ga bermutu. Hellooow…….ternyata buku antologi terus lahir, majalah dan tabloid internal perusahaan dinikmati   sampai hampir semua provinsi yang ada di NKRI loh! 

 Aku tak peduli dan jalan terus, karena dengan tulisan aku bisa meninggalkan jejak buat siapa saja, terutama anak-anakku. Tulisan itu banyak bercerita tentang kehidupan dan dapat dijadikan cermin dalam menjalani hidup bagi siapa saja yang membutuhkan. Alhamduulillah aku sudah mencicipi penghasilan dari pasukan endore dan MC, lumayan untuk bisa digunakan untuk ikut training lagi.
Memang jodoh itu hanya Allah yang mengetahui, begitu pula buku soloku. Dalam   waktu seminggu buku soloku terbit, setelah tiga tahun menanti jodoh.  Itu berkat kesaktian Kepala sekolah SP, yang  ruar biyasah. Kecup basah buat yang tercinta Anna Farida….muaaach.

Rasanya baru kemarin aku mengikuti sekolah perempuan  angkatan ketiga, ternyata sudah akan masuk angkatan ke 25. OMG….hal ini terjadi karena misi SP untuk memberikan pengetahuan menulis kepada para perempuan yang dapat menghasilkan dari rumah bagi para IRT.  Yaumil milad Sekolah Perempuan, makin sukses mendidik para perempuan untuk mandiri dan  mendapatkan penghasilan.

#ALUMNI_SEKOLAHPEREMPUAN
#sekolahperempuan