Rabu, 26 Mei 2021

Pengalaman Memaafkan

 

                                                Pengalaman Memaafkan

 


 

Memaafkan memang mudah diucapkan tetapi sangat sulit dilakukan.  Padahal  memaafkan mampu menambah kemuliaan seseorang, sebagaimana diriwayatkan dalam  Hadish Muslim No. 2588: “ Apabila seseorang  memaafkan, maka Allah akan memuliakannya, dan ini telah dikabarkan Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Tidaklah seseorang memaafkan kecuali Allah akan menambah kemuliaannya.”

Namun hatiku masih merasakan sakitnya dibohongi berkali-kali, membuat ucapan permintaan maaf  adik iparnya  belum dapat diterima.  Kejadian itu terus saja membayang dipelupuk matanya setiap mengingat betapa uang pensiun yang diterima untuk biaya kuliah anak bungsunya raib ditangan adik iparnya.

Berawal dari permintaan tolong, adik ipar butuh biaya untuk anaknya sekolah dan menawarkan sapi peliharaanya untuk aku gantikan. Tidak tega dan berpikir tidak mungkin akan ditipu, aku pun membayar  seekor sapi limousine yang sangat besar dan sedang hamil seharga enam juta. Dengan janji akan merawat sapi tersebut dan dana perawatan akan aku kirim setiap bulan. Namun setelah berjalan  tiga   tahun, aku berniat menjual induk sapi yang ditaksir seharga tiga puluh juta untuk biaya si bungsu masuk kuliah. Namun apa yang terjadi diluar perkiraan, aku hanya diberi uang penjualan sapi seharga enam juta saja dengan alasan kondisi sapi yang sakit.

Namun saat kami pulang kampung, medapat cerita dari keluarga lainnya kalau induk sapi telah dijual adik ipar seharga  dua puluh juta. Setelah itu sapiku diganti dengan anak sapi yang baru gede, begitu kata sepupu yang tinggal tidak jauh dari rumah adik ipar. Aku makin meradang saat menanyakan kondisi anak sapi yang telah dilahirkan. Dengan enteng dijawabnya, bahwa anak sapi telah dijual ketika berumur satu tahun. Aku tidak banyak bertanya lagi dan menasehati agar tidak berbuat curang, karena semua perbuatan aka nada balasannya.

Kejadian berikutnya membuat aku tidak dapat memaafkannya dan bahkan melupakannya kalau dia adalah adik iparku. Pada suatu saat dia akan menikahkan anak pertamnya dan butuh biaya besar dan berniat menjual tanah warisan dari orang tuanya. Dia menawarkan tiga ratus meter persegi yang berlokasi tidak jauh dari rumahnya. Kita sama-sama melihat tanah tersebut dan aku setuju untuk membelinya setelah melihat surat tanahnya.

Namun ternyata dia menawarkan semua tanhanya seluas lima ratus meter persegi, aku pun setuju dan uang aku transfer. Sayangnya aku lupa meminta kwitansi pembeliannya dan saat aku minta, dia bilang tidak perlu.  Dia pernah mengabarkan kalau harga tanah ditawar  lima ratus ribu rupiah per meter persegi, karena akan dibangun stadion olahraga. Namun warga bertahan dengan harga satu juta per meter pesegi. Aku pun manut dan ternyata stadion tersebut telah berdiri dengan megah persis disamping kanan tanah milikku, sementara disebelah berdiri rumah sakit haji dan sebuah universitas.

Memaafkan itu Menyambung Tali Silaturahmi.

Bertahun-tahun itu berjalan dan aku berniat menjual tanah tersebut untuk  biaya  pernikahan anakku.  Aku tidak pasang harga, sudah satu juta per meter persegi dari ku. Tapi adik ipar terus berdalih macam-macam dan tidak mengakui pernah menjual tanahnya kepadaku. Aku kaget dan anakku yang kecil  yang kebetulan seorang pengacara akan membawa kasus ini ke pengadilan. Namun setelah aku pikir-pikir, tidak perlu melayani orang seperti ini.  Aku tunggu saja niat baiknya, tapi ternyata memang tidak punya niat baik.  Dia terus berkelit  mengatakan tidak pernah menjual tanah tapi pinjam uang.

Aku ikuti  saja dan terima  kalau dia akan kembalikan uang  sebagai bayar  hutang. Aku hanya mengatakan, “Ingat ya terima pengembalian uang ini, tapi kamu yakin mau bermain-main dengan urusan tanah?”

Dia tetap bertahan mengatakan tidak pernah menjual tanah dan tidak ada buktinya. Aku memang salah tidak meminta kwitansi pembeliannya saat itu. Aku melupakan begitu aja kejadian tersebut, walau sangat sulit. Anggap saja memang itu bukan rejekiku.

Setelah berjalan lima tahun, tiba-tiba adik ipar menghubungiku dan meminta maaf.  Aku masih belum percaya dia meminta maaf dan setelah aku cari info, ternyata tidak lama setelah kejadian tersebut dia banyak mengalami kejadian. Anak-anaknya satu persatu bercerai, adik ipar dan suaminya juga sakit-sakitan. Melihat kepedihan yang dia alami yang katanya  akibat perbuatannya kepadaku.

Memang tidak mudah memaafkan begitu saja, tapi melihat sendiri kondisi keluarganya membuat aku luluh dan ikhlas memaafkannya. Hal ini memperbaiki hubungan ku dengan adik ipar yang selama ini kurang baik. Aku juga mendapat pelajaran, bahwa setiap perbuatan akan kembali kepada diri kita sendiri. Perasaan yang paling indah adalah terjalinnya kembali silaturahmi dan membuat dada yang sesak selama ini, menjadi plong.

Senin, 24 Mei 2021

3 JENIS PENDIDIKAN DI INDONESIA

 

3 Jenis Pendidikan di Indonesia

 


Ibu merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya.  Hal itu terjadi karena  seorang anak sudah memiliki keterikatan secara fisik dan psikis dengan ibunya sejak dalam kandungan dan dalam aktivitas sehari-hari. Jenis pendidikan yang tidak didapat  di sekolah,  dari ibu lah sumbernya.  Seperti  pendidikan    budi pekerti, agama, etika, moral, sopan santun dan bagaimana bersosialisasi dengan lingkungan. Ibu memegang peranan penting pada jenis pendidikan informal bagi anak-anaknya.

Untuk itu lah anak perempuan harus sekolah tinggi dan menghilangkan sterotype yang salah di masa lalu. Anak perempuan hanya cukup dapat membaca dan menulis, karena mengurus urusan domestik rumah tangga antara dapur, sumur dan kasur.  Makin berkembangnya  kehidupan, membuat kesempatan  meraih ilmu setinggi-tinggi  bagi anak perempuan sudah tidak ada halangan lagi.  Bahkan kesempatan belajar antara anak laki-laki dan perempuan sudah sejajar kini. 

Pendidikan di Negara tercinta ini selain pendidikan informal yang didapat dari rumah dan  pengalaman hidup sehari-hari. Pendidikan informal berlangsung sepanjang hidup. Pendidikan Informal ini mempunyai  prinsip sebagai berikut:

ü  Tanpa persyaratan  harus dilengkapi.

ü  Proses belajar  dilakukan oleh keluarga dan lingkungan sekitar.

ü  Tidak menggunakan kurikulum.

ü  Pendidikan dilakukan secara terus-menerus, dimana pun dan kapanpun.

ü  Orang tua merupakan  tenaga pengajarnya.

Disamping pendidikan informal, terdapat pendidikan formal dan non formal. Pendidikan formal merupakan sebuah kegiatan yang sistematis, memiliki jenjang dan terstruktur dimulai dari taman kanak-kanak sampai  perguruan tinggi. Pendidikan formal ini memiliki prinsip sebagai berikut:

-          Ada  syarat tertentu bagi peserta didik.

-          Memiliki kurikulum yang jelas.

-          Materi pembelajaran   bersifat akademis.

-          Pelaksanaan  pendidikannya butuh proses yang cukup lama.

-          Para tenaga pengajar harus memenuhi klasifikasi tertentu.

-          Ijasah sebagai syarat penting untuk melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi.

Satuan pendidikan  formal  antara lain sebagai berikut:

-          Taman Kanak-kanak (TK).

-           Raudatul Athfal (RA).

-           Sekolah Dasar (SD).

-          Madrasah Ibtidaiyah (MI).

-          Sekolah Menengah Pertama (SMP).

-           Madrasah Tsanawiyah (MTs).

-          Sekolah Menengah Atas (SMA).

-           Madrasah Aliyah (MA).

-          Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

-          Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK).

-          Perguruan Tinggi

Pendidikan berikutnya disebut Pendidikan non-formal yang dapat  dilaksanakan secara berjenjang,  terstruktur dan mandiri. Pendidikan non formal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang membutuhkan  untuk mengembangkan potensi yang dimiliki, menambah ketrampilan  dan melengkapi pendidikan formal. Pendidikan Non Formal  mempunyai prinsip sebagai berikut:

-          Memfokuskan pada pelajaran   yang sesuai dengan kebutuhan.

-          Menggunakan kurikulum   yang sifatnya fleksibel.

-          Waktu pelaksanaanya  relatif singkat.

-          Menggunakan metode pembelajaran yang partisipatif.  

-          Pengajar  bertindak sebagai  fasilitator.

Macam Pendidikan non formal sebagai berikut:

-          Kelompok bermain (KB).

-          Taman penitipan anak (TPA).

-          Tempat-tempat Kursus.

-          Sanggar Tari, Senam, Lukis dan lainnya.

-          Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat.

 

Di Indonesia pendidikan formal masih sangat dipandang wajib dan harus dilaksanakan, karena ijasah merupakan syarat mutlak yang  harus dimiliki setiap orang terutama untuk disektor formal. Sementara keahlian yang tanpa memiliki ijasah kebanyakan dipandang sebelah mata.  Namun dengan perkembangan yang begitu pesat di era tehnologi, sector non formal mulai diperhitungkan.

Apalagi  di era digital seperti saat ini,  pendidikan dapat dilakukan dari mana saja tanpa perlu kehadiran peserta didik.  Kemajuan tersebut juga memaksa para tenaga pengajar melakukan pembaharuan, yaitu mengubah  cara  mengajar. Begitu pula para siswa dalam belajar dan  dalam memahami materi pembelajaran yang diberikan.  Namun dampak negative  dari tehnologi ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi para guru, terutama para orang tua.   

Jadi dari 3 jenis pendidikan yang ada di negara tercinta ini, tentu satu dan lainnya dapat saling mendukung sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat.

 

 

Sabtu, 22 Mei 2021

HASIL DARI KEBIASAAN MEMBACA

 

 
Buku Solo

Dengan membaca aku dapat berbagi cerita dan menyampaikan inti cerita tersebut kepada teman-teman. Mereka senang mendengarnya   dan tidak lupa aku selipkan nilai kebaikan dari dongeng tersebut. Bahkan ada teman yang meminjam buku  tersebut. Itu yang aku lakukan setelah  membaca buku dongeng koleksi ku, ketika   masih  kelas empat sekolah dasar. Aku merasa selangkah di depan teman-teman karena banyak membaca dan berharap ada teman yang tertarik ikut membaca.

Sejak  kelas empat  sekolah dasar, aku  mulai senang membaca. Buku dongeng  HC. Anderson semua aku lahap abis, bahkan rela menukar baju baru dengan sebuah buku. Jadi kalau Ibu mau membelikan baju, aku selalu menawar. Apakah boleh uang buat membeli baju, dibelikan buku cerita saja?. hehehe...

Adakalanya Ibu tetap membelikan baju, tapi dengan bonus membelikan aku buku cerita juga. Namun tidak jarang, benar-benar hanya dibelikan buku. Hanya buku yang dibelikan lebih banyak, sesuai harga baju. Kebiasaan tersebut berlanjut sampai SMA, tapi yang dibaca mulai  beralih ke novel dan buku apa saja yang ada. Waktu SMP selain membaca buku, juga senang membaca cerpen, karena Ibu berlangganan  majalah "Gadis"  untukku.

Akhirnya  aku dapat membuat cerpen dan beberapa kali diterbitkan di majalah gadis.  Saat itu menulisnya dikertas folio bergaris dengan tulisan tangan. Biasanya Bapak yang menyediakan kertas tersebut. Honor yang didapat, lumayan buat jajan dan membeli buku.

Ketika SMP  selain  dikenal  sebagai kapten tim basket sekolah, aku juga dikenal sebagai penulis cerpen yang  digandrungi  ceritanya oleh teman-teman. Maklum ceritanya kebanyak kejadian diseputar sekolah yang aku oleh menjadi sebuah cerpen.  Waktu SMA sama seperti itu, hanya teman-teman  mengenal tulisan-tilisanku melalui  mading sekolah.  Keren kan?.  

salah satu artikel

 

Kutu Buku

Kutu buku, itulah lebel yang diberikan ibu kepadaku. Di rumah memang aku lebih banyak membaca. Buku bertebaran di atas tempat tidurku dan tidak boleh ada yang memindahkannya. Aku bisa tidak tidur kalau membaca buku belum sampai selesai, terutama diakhir minggu. Ibu dan bapak hanya geleng-geleng kepala, kalau melihat aku dikamar tenggelam dalam tumpukan buku dan tidak bisa diganggu. Sayangnya pda masa itu, di sekolah tidak ada perpustakaan. Aku mengumpulkan uang jajan, agar dapat membeli buku.

Terminal bus lapangan banteng menjadi tempat aku berburu buku murah, setiap pulang sekolah. Terminal ini letaknnya tidak jauh dari rumah, cukup ditempuh dengan berjalan kaki selama sepuluh menit. Aku bisa berjam-jam nongkrong di depan penjual buku yang digelar sepanjang pintu keluar terminal. Sesekali aku beli di terminal senen, bila ingin mencari buku-buku terbitan baru. 

 

Beberapa buku antologiku

Mau Bisa Membuka Jendela Dunia

Hayo….siapa yang tidak tertarik bisa membuka jendela dunia?.

Kalau kita bisa membuka jendela dunia, berarti kita juga dapat melihat semua yang ada di luar sana. Dengan membaca bukan hanya dapat membuka jendela dunia, tapi juag dapat mengubah pola pikir.   Ngga percaya?  Silakan buktikan sendiri. 

Dengan membaca  banyak pengetahuan yang aku dapat, sehingga pola pikir jadi lebih  luas. Banyak ide bermunculan  dan  juga bisa mendatangkan  penghasilan.  Aku beberapa kali mendapat honor dari Koran Media Indonesia dengan mengirimkan resensi buku, artikel di Tabloid  kontan dan juga dari majalah info wisata perusahaan yang diperuntukan bagi penumpang pesawat udara.

Dulu tehnologi belum seperti sekarang, untuk  mendidik anak  aku dapat dari buku. Walau  buku parenting belum semarak sekarang dan bukulah sumber  informasi yang aku butuhkan.   Gramedia yang terletak di Pasar Baru Jakarta  merupakan tempat langgananku, karena lokasinya tidak jauh dari kantor.  Setelah bekerja di kantor, kemampuan menulisku makin berkembang.  Perusahaan memberi kepercayaan kepadaku untuk  menjadi  anggota redaksi majalah internal perusahaan.  Untuk mendukung pekerjaan, perusahaan mengirim  aku  sekolah jurnalis di Dewan Press.  Alhamdulillah, aku pernah menjadi murid Jakob Oetama pemilik Koran Kompas. 

Pemred di tabloid ini

 

Kegiatan membaca makin gencar,  karena aku juga ditunjuk sebagai Kepala Perpustakaan perusahaan. Setiap bulan ada sepuluh buku koleksi terbaru  perpustakaan yang harus aku baca, agar dapat membuat katalognya. Bahkan setelah pensiun, aku dipinang seorang mantan bankir karena kesukaanku membaca untuk bekerja diperusahaannya. Tiga tahun aku mengabdi di perusahaan tersebut dan diminta untuk freelancer di salah satu organisasi olahraga, sebagai pemimpin redaksi tabloid internal selama dua belas tahun.

Aku tidak pernah menduga membaca dapat memberikan begitu banyak lompatan dan pengalaman yang mewarnai perjalanan hidup.  Salah satu alasan aku  membaca adalah untuk mendapatkan ide yang bermunculan, bak jamur dimusim penghujan dan   ide tersebut  melahirkan  satu buku solo dan empat puluh lebih buku antalogi. Juga artikel di media online di usia yang sudah tidak muda lagi.