Rabu, 15 Juni 2016

SEDEKAH BUKAN HANYA MILIK ORANG BERDUIT AJA CIIIIIN…………




Sedekah bukan hanya milik orang yang berduit  saja.  Catat ya Ciiiiin….”bukan hanya milik orang berduit saja.”  Setiap manusia di muka bumi ini  dapat bersedekah asal punya niat dan mau melakukannya dengan ikhlas, walau kita tidak memiliki harta berlimpah. Sedekah itu tidak melulu dalam bentuk materi, tapi  bisa dalam berbagai bentuk. Sedekah  merupakan  salah satu contoh  manusia dalam merugi, karena ketidaktahuannya.  Allah akan melipatgandakan harga orang yang bersedekah, bukan malah berkurang. Padahal sedekah merupakan amalan paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah.


Para sahabat   Rasulullah SAW bertanya, dengan apa kami bisa sedekah padahal kami  tidak memiliki harta. Rasulullah SAW   menjawab,   “Bukankah Allah telah menjadikan untukmu sesuatu yang dapat disedekahkan? Setiap kalian  bertasbih adalah sedekah, setiap bertahmid adalah sedekah, setiap bertahlil adalah sedekah dan beristiqfar adalah sedekah.  Maka  perbanyaklah  tasbih, tahlil dan tahmid, istiqfar atau bahkan dzikir-dzikir lainnya setiap saat.”  

Rasulullah menambahkan menyuruh pada kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, menyingkirkan batu, duri, paku atau tulang dari jalan adalah sedekah. Bahkan   hubungan intim dengan isteri yang halal  adalah sedekah.  Begitu mudahnya untuk bersedekah, marilah mulai peduli dengan lingkungan kita untuk.  Hal sepele dengan menyingkirkan  sesuatu benda yang dapat membahaya orang lain adalah sedekah, lalu apakah kita tidak tertarik melakukan   kebaikan tersebut ?  
                                                           menyingkarkan paku di jalan

Begitu luasnya makna sedekah, bahwa  segala bentuk keg iatan yang kita lakukan  dan diniatkan  dengan ikhlas karena Allah, serta tidak melanggar syariah-Nya, maka itu akan terhitung sebagai sedekah.  Menyumbangkan tenaga untuk kegiatan social dengan mengantarkan  kepada  orang yang membutuhkan adalah sedekah, bahkan ada komunitas yang menyalurkan sedekah setiap hari dengan dana dari para donator yang mungkin tidak sempat melaksanakannya sendiri. Para anggotanya yang bergerak melakukan kegiatan ini adalah sedekah. 


Dalam sebuah hadits dari Al-Miqdan bin Ma’dikarib Al-Zubaidi ra,  Rasulullah SAW. berkata, “Tidaklah ada satu pekerjaan yang paling mulia yang dilakukan oleh seseorang daripada pekerjaan yang dilakukan dari tangannya sendiri. Dan tidaklah seseorang menafkahkan hartanya terhadap diri, keluarga, anak dan pembantunya melainkan akan menjadi sedekah.”  Naaah…para suami yang berjuang mencari nafkah buat keluarganya adalah sedekah. 

Menolong orang yang membutuhkan, menahan diri dari perbuatan  buruk dan mencegah  perbuatan buruk, itu merupakan sedekah serta melerai  atau mendamaikan orang yang berselisih adalah sedekah.  Menjenguk orang sakit  adalah sedekah dan bersikap ramah serta memberi  senyum manis bagi siapa saja adalah sedekah. Begitu mudahnya Allah memberikan nikmat kepada umatnya, namun sayang  kadang tidak dihiraukan dengan dua kemungkinan. Mungkin belum mengetahuinya atau belum berniat melakukannya. Come on guys…….mau kapan lagi kita menimbun kebaikan untuk bekal kembali ke akhirat. Apakah akan menunggu tua?  Ingat lah Allah memanggil umatnya bukan karena tua, bukan karena sakit, namun memang sudah waktunya. Menurut sebuah nasehat kubur, bahwa alam kubur adalah tempatnya binatang binatang yang menjijikkan maka racunilah ia dengan amal sedekah.  Jadi masih mau menunda untuk bersedakah kah kita?

Alangkah baiknya  kita   mendidik anak-anak kita sejak dini  untuk  bersedekah. Toh……. Sedekah tidak selalu berbentuk  uang,  ajarkan dari yang mudah. Seperti ramah  dan memberikan senyuman kepada sesama,  hal ini akan menjadi   kebiasaan yang baik bagi anak  dan  akan melekat selama hidupnya.
Apakah buah karya para penulis yang bermanfaat adalah sedekah? Waullahu alam bi sowab.


#ALUMNI_SEKOLAHPEREMPUAN
  

Senin, 30 Mei 2016

MEMBENTUK AKHLAK ANAK




Sebagai ibu rumah tangga yang bekerja diluar rumah, memang tidak mudah untuk  dapat berperan penuh sebagai ibu rumah tangga dalam mengurus rumah tangga dan anak-anak. Kita  dituntut  harus benar-benar  cermat dalam membagi  waktu kalau ga mau keteteran. Kunci utamanya adalah disiplin, harus cekatan dan ga ada kamus menunda pekerjaan, apalagi bilang  lelah.  Itu inti utama saya ketika suami mengatakan boleh tetap bekerja setelah menikah.



Urusan anak menjadi merupakan  prioritas paling utama buat saya.  Memang ada pengasuh yang membantu menjaga anak-anak saat saya di kantor, tapi saya tidak mau anak-anak bergantung penuh ke pengasuhnya. Semua makanan dan keperluan anak-anak saya dan suami yang menysiapkan sebelum kami berangkat ke kantor. Sepulang kantor saya langsung mengambil alih anak-anak dari pengasuhnya. Untuk mencari pengasuhpun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Minimal harus lulus sekolah dasar, bisa mengasuh anak dan sabar.
Semua itu saya lakukan agar pengasuhnya tidak sembarangan dalam memberikan jawaban atas pertanyaannya, jika saya tidak di rumah. Saya hanya ingin  anak-anak mendapat pendidikan pertamanya dari orangtuanya sendiri. Ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya saya pegang betul aturan itu.
Kita ketahui bersama  anak-anak terlahir  bagai flashdish kosong yang siap diisi dengan segala adab yang dibutuhkan untuk  bekalnya dalam mengarungi hidup di dunia dan selamat di akhirat. Untuk itu saya menetapkan kalau anak-anak mulai masuk PAUD sampai SMP, wajib di sekolah yang mengajarkan pendidikan agamanya lebih banyak dan lingkungan yang mempunyai hubungan komunikasi yang baik antara guru, anak dan orang tua.  Hal ini   mempunyai tujuan agar akhlak anak terbentuk dengan baik sesuai adab yang berlaku sejak dini. Singkat kata mempersiapkan anak untuk berakhlak baik dalam berhubungan dengan  Sang Pencipta (Habluminallah) dan sesama manusia (hablumminannas),harus dipupuk sejak dini. Namun hai itu bukan perkara mudah tentunya,  tapi saya mempunyai keyakinan apabila sejak kecil kita latih lama-lama akan  terbiasa. Untuk itu dalam memberikan pengajaran, saya  bukan hanya menggunakan    teori melalui   omongan tapi lengkap dengan contoh yang  saya dan suami lakukan. Biasanya anak-anak akan lebih mudah dan cepat mengerti bila kita memberikan contoh dari pada hanya melaluui omongan saja.  Saya ingin anak-anak sedini mungkin mengenal pendidikan akhlak dari lingkungan rumah, karena  setiap manusia lahir sudah dibekali naluri  dan hastrat  oleh Allah. Kedua hal ini yang mendorong lahirnya tingkah laku dan tingah laku ini yang mesti saya arahkan.
 Disamping itu, anak-anak tentunya mewariskan sifat-sifat tertentu dari kedua orangtuanya, juga adat dan kebiasaan yang berulang ulang yang terjadi dilingkungan, tentunya akan ikut berperan dalam pembentukan akhlak anak. Jika lingkungan tempat tinggal kita   bersikap baik maka anak pun akan cenderung bersikap baik. Sebaliknya jika lingkungannya buruk maka anak akan cenderung bersikap buruk. 
 Beruntungnya  saat anak-anak kecil, tehnologi belum secanggih sekarang.  Jadi saya lumayan mudah dalam menerapkan pendidikan akhlak pada anak-anak. Dengan kebiasaan yang baik dalam  lingkungan keluarga yang baik dan  pendidikan agama yang dimulai sejak dini, saya berharap akhlak anak-anak  yang ditanami  dengan nilai-nilai agama dan norma norma yang berlaku, dapat terbentuk dengan baik.  Alhamdulillah  seirig berjalannya waktu, anak-anak masih dalam koridor yang sesuai dengan norma dan akhlak yang terbentuk sangat menggembirakan kami orangtuanya. Namun tidak ada yang sempurna di dunia ini selain Allah, namanya anak-anak selalu ada kenakalan yang dibuat dalam bergaul, tapi Alhamdulillah  masih tergolong   normal dan masih bisa diperbaiki.     Anak-anak kini sudah menginjak dewasa, sudah mengerti mana yang patut dilakukan dan tidak.  Apalagi di  era digital seperti sekarang ini, tentu tugas orangtua bukan semakin mudah dalam mendidik  anak-anak, agar berakhlak baik
 

 #sekolah_perempuan#

 

Senin, 16 Mei 2016

RUMAH DINAS BUKAN WARISAN




                            Semoga hal ini tidak terjadi lagi, ingatlah bahwa rumah dinas bukan warisan


Saya besar di lingkungan komplek ABRI, anak kolong kata gaulnya. Pokoknya dari dibrojolin sampai dewasa ya tinggal di rumah dinas & keluar setelah menikah. Maklum bapak seorang anggota TNI yang mendapat fasilitas rumah tinggal untuk kami sekeluarga. Awalnya kami tinggal di komplek ABRI di daerah Jakarta Pusat  yang lokasi tidak jauh dari kantor bapak. Rumah peninggalan belanda dengan 2 kamar tidur yang sangat besar, karena kami keluarga besar setiap  kamar diskat menjadi 2, jadilah kami memiliki 4 kamar yang diisi dengan tempat tidur tingkat agar semua anak mendapat tempat. Dibagian depan rumah bapak menambah 1 kamar lagi untuk anak yang sudah besar. Selain rumah fasilitas lain yang di dapat bagi anak-anak komplek yaitu pemutaran film sebulan sekali, itu kira2 tahun tujuh puluhan. Memang hiburan belum ada. Selama tinggal dikomplek setahu saya bebas dari membayar listrik & PBB, bahkan sarana olahraga tersedia bagi anak anak. Ada lapangan bola, volley & badminton.
Dulu anak anak komplek sering terlibat perkelahian antar komplek ABRI, makanya terkanla kalau anak-anak kolong itu nakal-nakal katanya hehehhehe……..sebenarnya bukan nakal tapi mau menunjukan jati diri siapa yang paling kuat diantara komplek ABRI yang ada. Gitu kali ya…..

Ketika saya duduk di akhir SMA, kami dipindahkan ke komplek ABRI yang dulu itu kita sebutnya tempat jin buang anak, karena sangat jauuuuh. Belum ada listrik, angkutan umum juga susah. Jadi kami berangkat sekolah ikut numpang di mobil jemputan orangtua kami, sampai bisa menyambung dengan angkutan umum. Bayangkan dari pusat kota dipindah ke pedalaman…hehehhe…bapak mendapat rumah di hoek dengan kelebihan tanah yang lumayan, karena semua ukuran rumah sama hanya 2 kamar & yang membedakan kami mendapat kelebihan tanah. Bapak segera menambah kamar untuk anak-anaknya yang julahnya ruar biasa…..wkwkwkkwk…..Disini kami mulai membayar listrik yang kita gunakan setelah  jaringan listrik masuk tapi tetap tidak membayar PBB rumah.
Saya sangat beruntung  bapak mendapatkan fasilitas rumah, bayangkan kalau ga dapat. Mau tinggal dimana? Sementara penghasilan bapak untuk bayar uang sekolah anak-anaknya aja ga cukup, alhamdulilah dibantu ibu dengan keahliannya memasak. Jadi ga bermimpi bisa membeli rumah dari penghasilan bapak. Hebatnya bapak ga pernah bilang kalau rumah yang kita tempati adalah milik kita, ini milik Negara. Jadi pastinya akan diambil oleh negara kalau bapak & ibu sudah ga ada.  Setelah bapak pension, alhamdulilah salah satu anaknya diterima bekerja di tempat bapak walauu buukan sebagai anggota TNI. Akhirnya rumah kami bisa dibalik nama dengan nama anak bapak yang bekerja disitu, tapi tetap statusnya ya rumah dinas. Jadi jangalah rumah dinas direnovasi, perbaiki aja yang perlu. Gitu kata bapak. Menurut  bapak juga, rumah ini merupakan  penghargaan Negara kepada  bapak yang telah  mengabdi sejak jaman perang, jadi rawat dengan baik & kita ga tau kapan akan diminta kembali.
Itu yang terekam dibenak saya sampai saat ini, makanya bapak & ibu selalu bilang: setelah menikah kalian harus pindah. Terserah mau ngontrak atau sudah beli rumah, supaya kalian bisa mandiri dan tentunya punya rumah sendiri. Jadi ga seperti bapak yang tidak punya rumah seumur hidup…hehehe..
Sekarang marak komplek ABRI rumahnya dikosongkan secara paksa, karena orangtuanya (bapak/ibunya) telah tiada dan rumah dinas tersebut ditempati anak-anaknya.  Bahkan cara pengosongan pun kadang terlihat ga manusia. Namun menurut pendapat saya, ga mungkin kalau para keluarga tersebut itdak mendapat surat pengosongan sebelumnya. Kadang mereka merasa itu hak mereka atas pengabdian orangtuanya. Sedihnya lagi para petugas yang datang dengan peralatan lengkap, seperti hendak menghadapi para demontran atau hendak perang…hehehhehe….namun menurut saya, mungkin hal tersebut dilakukan hanya untuk berjaga-jaga seandainya terjadai hal hal yang tidak diinginkan seperti ditempat lainnya.
Kalau dari kacamata saya sebenarnya kedua pihak  sama sama salah. Pihak anggota yang mendapatkan fasilitas mungkin tidak terinfo kalau rumah dinas tersebut, harus dikembalikan atau akan diambil setelah anggota TNI yang menggunakan sudah tidak ada beserta istrinya. Sementara dari pihak pengelola rumah dians ABRI juga tidak benar dalam mengadministrasikan semua fasilitas perumahan anggotanya, serta tidak pernah di cek. Mana yang sudah harus diambilkembali dan mana yang masih dapat digunakan. Hal ini yang memicu konflik antara petugas & anak-anak anggota yang tetap menempati rumah dinas tesebut. Semoga Markas Besar ABRI sudah berbenah diri dalam pengurusan asset ABRI untuk anggotanya.
Masih menurut saya nih….secara logika namanya juga rumah dinas, yaaa…kalau orangtua sudah pada ga ada kan ga bisa jadi  hak anak-anaknya kan. Harusnya Markas ABRI yang menangani masalah perumahan, punya daftar tuh, siapa aja anggotanya yang sudah meninggal, begitu juga dengan istrinya. Jadi bisa langsung menginfo keluarganya untuk mengembalikan rumah tersebut. Dengan cara ini, diharapkan drama pengosongan yang seperti penggusuran ga terjadi. Namanyan rumah dinas yang memang ga bisa diwariskan! “Jadi harus diingat bahwa rumah dinas bukan warisan dari orangtua.” Jadi janganlah sampai bilang, “ini toh balasan Negara kepada orangtua saya?”  Menurut saya lagi nih, sudah cukup Negara memberikan fasilitas tempat tinggal dari saya, kakak2 saya dari lahir sampai menikah. Bahkan sampai kita punya anak, bayangkan sudah berapa tahun orangtua kita menikmati fasilitas rumah tersebut. Betul ga?......Maaf ya para penghuni komplek yang mengalami hal ga mengenakkan tersebut, tapi sekali lagi mari kita renungkan dengan tenang. Insya Allah tidak terjadi lagi, apalagi di komplek tempat terakhir orangtua saya tinggal.
Saya juga menyayangkan ada keluarga yang menggunakan rumah dinas dijadikan tempat kos-kosan atau dikontrakkan. Ada juga anggota TNI yang  bisa memiliki rumah dinas lebih dari satu dengan menggunakan nama orang lain. Kalau seperti ini kan pihak Markas besar yang salah toh?. Hehehehe…

Pasti ada yang komentar, terang aja kamu ga ngalami diusir dari rumah!!!........

Iya emang ga ngerasain karena orangtua saya dulu udah memberitahu, bahwa ini rumah dinas…rumah dinas. “Jadi sana kamu pada beli rumah sendiri kalau udah mampu”….gitu disuruh bapak dulu.
Kalau dikantor saya dulu, ada beberapa perumahan pegawai tapi semua rumah tersebut dibayar oleh pegawai atau dibeli dengan cara cicil melalui KPR atau tunai sesuai harga yang berlaku. Tentunya  ada   kemudahan dari perusahaan. Jadi yuuuk…saudara-saudaraku yang tinggal di komplek ABRI seperti saya dulu, mulailah mengubah mindset, bahwa  “Rumah Dinas  Bukan Warisan Orangtua” kecuali telah ada transaksi jual beli secara sah.