Kamis, 24 Maret 2016

ANAK MANDIRI ADALAH DAMBAAN SETIAP ORANG TUA



   
Menumbuhkan karakter mandiri  pada anak tidak dapat dilakukan secara instan, tentunya  dibutuhkan proses latihan yang panjang dan memerlukan pengorbanan dari orang tua. Kemandirian dapat dilatih sejak dini dari hal-hal yang  paling  mudah. Peran orangtua dan  lingkungan  merupakan suatu hal  yang  penting,   mengingat bahwa kemandirian pada anak tidak bisa terjadi dengan sendirinya. Namun   perlu dilatih orangtua.    



Latihan dapat dilkukan pada saat anak mulai mengerti  dan bisa berjalan, karena memudahkan dalam meakukannya. Mulailah dengan hal-hal kecil, dengan mengajarinya mengambil mainananya sendiri & merapihkan kembali setelah selesai bermain.  Dalam mengajari dilakukan sesuai tingkatan usia. Misalnya ajari untuk belajar makan sendiri, membuka baju sendiri dan lainnya dan tetap  dalam pengawasan Anda. Sebagai orang tua Anda harus mau berkorban dan sabar dalam melatihhnya. Memang semua dilakukan tidak sempurna, tapi  seiring bertambahnya usia akan baik hasilnya. Hal yang terpenting beri anak kesempatan untuk melakukannya semua aktivitasnya sendiri, sehingga ras percaya diri anak juga akan tumbuh.   

Setelah anak mulai masuk sekolah tentu orangtua dapat mengajari untuk merapihkan  buku pelajarannya, menyiapkan seragam sekolah dan menyimpan sepatu sekolah pada  tempatnya. Ingat ya bu, perasaan kasian Anda pada saat melatih akan  mebuahkan kegagalan, yang utama biarkan anak berusaha untuk melakukan sendiri aktivitas yang dibutuhkan sesuai usianya. Sementara orangtua terus melatih  dengan sabar. Untuk tingkat usia remaja orangtua mulai dapat memberikan tanggungjawab melaksanakan tugas rumah tangga. Misal, menyapu, mengepel dan mencuci piring minimal piring bekas yang dipergunakannya.

Masa Dewasa
Ketika anak duduk dibangku SMA Anda sudah dapat melatihnya dengan berbagai pekerjaan rumah tangga, bahkan dapat mulai melatih mengatur uang sakunya. Pada usia ini anak dianggap sudah cukup dewasa dan dapat diajak berdiskusi dalam masalah sehari-hari. Akan lebih baik anak dilibatkan dalam memecahkan masalah di rumah, agar anak terbiasa dan mulai mengetahui permasalah dalam menjalankan hidup.

Pada tingkat sosial ekonomi menengah keatas, kebiasaan para orangtua memanjakan anak dengan fasilitas dan tenaga yang mengerjakan urusan rumah tangga, sehingga anak menjadi manja dan tidak mau berusaha untuk meraih sesuatu. Pada ekonomi menengah kebawah banyak orangtua dalam keterbatasannya, membuat anak mau berusaha untuk mendapatkan sesuatu.Semua ini memang tidak mudah, tetapi bukan tidak mungkin. Pengalaman saya sebagai orangtua yang bekerja dapat menerapkan semua kemandirian pada anak sesuai dengan usianya cukup berhasil. Bahkan anak saya yang kecil pada saat usianya lima tahun, meminta untuk tidak perlu lagi menggunakan PRT. Sementara anak yang besar sejak kelas empat  sekolah dasar sudah meminta uang saku diberikan setiap minggu. Hal ini membuat saya langsung mengajari cara mengelola uang sakunya. Saya membiasa anak-anak menabung sejak mulai duduk di taman kanak-kanak dengan menggunakan celengan di rumah dan setiap bulan dibuka untuk dipindahkan ke bank yang saya buat atas nama mereka masing-masing. Untuk memotivasi anak-anak rajin menabung dari uang sakunya, saya membuat aturan. Siapa saja yang uang sakunya dalam seminggu masih sisa, saya memberikan tambahan 10% dari sisa tersebut. Pada saat anak-anak telah lulus SMA dan memiliki KTP, buku tabungan, kartu ATM saya serahkan untuk dikelola masing-masing anak. Anak-anak senang menerima, apalagi melihat tabungan mereka yang mencapai jutaan. Namun setelah itu, buku tabungan dan kartu ATM anak-anak serahkan ke saya untuk  disimpan. Namun kebiasaan menabung dan mengatur uang sudah dimengerti anak-anak. 

Semua pekerjaan rumah dikerjakan bersama dan dibagi,  anak-anak menyiapkan perlengkapan sekolah, baju, botol minum dan bekal sendiri. Saya urusan dapur, suami urusan cucian dan anak-anak mencuci piring dan menyapu & mengepel lantai rumah. Setelah dewasa urusan rumah tangga dibagi rata.  Saat anak pertama saya mulai memasuki dunia kerja, pekerjaan rumah tangga tetap mendapat bagian untuk dikerjakan.

Untuk mendidiknya benar-benar mandiri dalam mengatur ekonomi dan pekerjaan rumah tangga, saya mengaturnya lebih kepada menyiapkan diri anak hidup mandiri dengan penghasilannya sendiri. Langkah awal saya mengajaknya membicarakan penghasilannya, untuk apa saja digunakan dan bagaimana mengaturnya. Pertama untuk ikut asuransi masa tua, membeli kebutuhan sendiri, seperti biaya membeli pakaian, uang transport dan keperluan pribadinya (sabun, shampo, parfum dll) dan menabung bahkan camilan saya minta untuk bayar sendiri. Kadang suami mengatakan saya "sadis" tapi itu semua untuk kebaikannya. Sementara makan sehari-harikan masih saya tanggung. Orangtua memang harus tega melakukannya untuk kebaikan masa depan anak. Malah anak saya ada menyisihkan uang saku untuk adiknya yang masih kuliah dan memberi uang tambahan belanja untuk saya. Namun uang pemberiannya saya simpan, apabila suatu saat dia butuh sesuatu saya pergunakan uang pemberian tersebut.

Harapan saya dengan kemandirian anak-anak mereka dapat saya tinggal kapanpun, mereka sudah siap. Umur manusiakan hanya Allah yang mengetahui. Disamping itu uang penghasilannya digunakan dengan bijak dan bermanfaat. Orangtua mana sih yang tidak mendambakan anaknya dapat mandiri?




 

Sabtu, 05 Maret 2016

S E L I N G K U H


Menurut kamus besar bahasa Indonesia selingkuh berarti tidak jujur, curang, serong. Selingkuh juga diartikan mendua hati atau cinta segi tiga, tapi menurut psikolog Zainoel B. Biran selingkuh adalah ketika seseorang melakukan suatu tindakan yang tidak sesuai dengan komitmennya. Selingku itu sendiri juga dibagi menjadi dua : Selingkuh fisik dan selingkuh emosional. Selingkuh fisik artinya kita melakukan kontak fisik dengan lawan jenis yang bukan pasangan resmi kita. Selingkuh emosional lebih berrupa perasaan kita terhadap orang lain yang bukan pasangan resmi kita.

Menurut psikoloq Zainoel, pemicu terjadinya selingkuh adalah kebosanan pada rutinitas yang monoton, kecewaa pada pasangan, sekedar iseng, kemapanan finacial, komunikasi dengan pasangan yang tidak harmonis. Menurut Penelitian di klinik pasutri, 60 penyebab selingkuh adalah komunikasi dan puber kedua.

Bagi para selebritis dan kalangan menengah keatas, selingkuh dianggap bagian dari gaya hidup. Virus selingkuh memang sedang mewabahh dan hebatnya bukan hanya menyerang para selebritis dan kalangan mengengah keatas saja, tapi sudah pula menjangkiti masyarakat kelas bawah. Demikian diungkapakan Direktur Lembaga Advokasi Hal Asasi Manusia dan Bantuan Hukum (LABH) Halimah Ginting di Yogyakarta. Celakanya lagi generasi muda kita yang masih bau kencur sepertinya sudah mengerti apa itu TTM nya Ratu, Shepianya SO-7 dan Demi Waktunya Ungu yang bercerita tentang perselingkuhan yang selalu didengarnya dari stasiun TV & radio.

Sebagian orang yang berselingkuuh seringkali menyebutnya sekedar selingan. Namun mesti hanya sebuah selingan, sebuah hubungan yang tidak sekedar teman biasa tetap punya kemungkinan untuk melibutkan emosi dan fisik keduanya secara lebih intens. Kehidupan mapan memang seringkali diiringi dengan rutinitas yang membosankan. Kondisi seperti ini pada suatu titik orang tersebut akan mencari penyegaran agar keluar dari rutinitasnya dan bertemulah dengan seseorang yang cocok untuuk diajak jalan, makan bersama dan curhat.

Bagi para pelaku, selingkuh diartikan sebagai selingan indah, rumah tangga utuh. Sensasi yang dirasakan seseorang ketika bertemu dengan seorang yang cocok dengannya atau mempunyai tempat yang khusus di hati, tak ubahnya seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Perubahan perilaku dimulai begitu selingkuh mulai terjadi. Misalnya ingin tampil lebih modis, lebih perhatian dengan pasangan yang dimaksud sebagai penebus kesalahan dan kadang memancing pertengkaran agar ada alasan untuk keluar rumah.

Namun benarkah selingkuh itu selingan indah, rumah tangga utuh?. Jika data yang di dapat dari Pengadilan Agama menyatakan bahwa dari 10 keluarga yang bercerai, satu diantaranya karena selingkuh dan rata-rata setiap dua jam, ada tiga pasangan suami istri bercerai karena selingkuh. Ketahuilah, selingkuh memang indah pada awalnya, tetapi dapat dipastikan akan menjadi neraka diakhir cerita bagi seluruh keluarga. Sehingga berubah menjadi selingan indah, rumah tanggah runtuh atau selingan indah, karier runtuh, seperti yang terjadi pada mantan anggota DPR kita dan seorang artis.

Untuk mencegah agar virus selingkuh tidak menyambangi pasangan kita, ada beberapa kiat yang mungkin berguna.
Pertama : Menjaga jarak dari seseorang yang menarik dan menggoda mengingat akibat dan tindakan main api itu.
Kedua : Pertebal keimanan anda, ingatlah bahhwa selingkuh adalah suatu dosa besar yang harus dipertanggungjjawabkan dipengadilan akhirat.
Ketiga : Memelihari keintiman emosional dengan menjaga komunikasi suami istri, saling sharing dan support.
Keempat : Memelihara keintiman seksual dengan melakukan aktivitas seks dengan tehnik dan variasi baru untuk menghindari kejenuhan.

jadi jangan coba-coba min api, karena Anda akan terbakar atau jangan coba-coba main air, karena Anda akan basah....hehehehe.

Kamis, 28 Januari 2016

ANDAI KU BISA SELALU MENYAMBANGI SAHABAT-SAHABATKU…





Teman dan sahabat saya memang tidak terbilang, banyak yang biasa bertatap muka tapi banyak juga yang berinteraksi di dumay, alias dunia maya.  Dengan kemajuan tehnologi seperti sekarang  semua teman terasa  dekat dan kapan waktupun dapat berinteraksi.  Kalau sendirian ga berasa sepi, asal wi-fi on atau  paket hp masih ada aja. Pokoknya  berasa dunia ada digenggaman deh hehehhe……

Ada teman yang ngobrol melalui BB, path, ada juga yang ngeline atau ngewaslap….eeee….salah…wa. Kalau  lewat  twitter  sangat  jarang, mungkin pada malas karena space untuk tulisan terbatas.  Apalagi melalui SMS…udah ga jaman dan ngurangi pulsa pula……wkwkwkw.. ..

Ada ucapan salam setiap pagi, siang, sore bahkan malam dari sahabat melalui group BB atau WA. Ngobrol ngalor ngidul, becanda, betukar foto kegiatan atau informasi yang bermanfaat serta postingan lelucon yang bikin ngakak. Semua lengkap di benda kecil dalam genggaman yang bernama hp. Bukan hanya itu, ada juga promosi barang atau makanan serta siraman rohani yang menambah keimanan kita. 


 Coba Tanya deh siapa yang ke dapur ga bawa hp?  Intinya kemanapun hp ga bakalan di tinggal, tapi inget ya kalau sedang ngurusin anak dan suami, lupakan sejenak hp nya. Pergi hp ketinggalan….serasa ada yang ilang deh, betul ga?..........itulah hebatnya hp sekarang.

Belum lagi melalui facebook, kita dapat berinteraksi dengan siapa saja teman kita di seluruh dunia. Saya malah banyak belajar dari komunitas di facebook dan bertemu teman-teman yang sudah seperti saudara sendiri walau ada yang belum pernah bertemu. Dulu suami saya sangat melarang sama bermain facebook, karena dia mendapat masukan yang salah dari teman-temannya. Saya berargumen, jangan ambil sisi negatifnya dunk. Dengan facebook saya bisa memantau akun anak-anak & saya mendapat banyak pengetahuan yang luar biasa…hehehhe….akhirnya  suami malah ikut berfacebook ria.

Kalau pikiran saya sedang  ngelantur,  saya bisa terbang seketika menyambangi Mba Devy di nganjuk. Pengen ikut bikin bumbu pecel Mba Vy yang luar biasa echo & ikut memetik buah-buahnya di kebun dekat rumahnya. Kadang pengen bantuin Rif’ati Djunet, ibu guru yang nyambi bikin kue dan jualan jus kalau dia lagi kerepotan.

Kadang janjian dalam dumay sama Mba Candra Nila Murti di Solo, ketemu di depan toko deket tikungan katanya. Mbuuuh…tikungan mana, siapa tau bisa ikut selfie sama dia…..hehehhe.  Atau pengen hahaha…hihihih…sama Inon, Presda Sari, Ely Nooraeni, Millah Kamilah guragan kue tea,  Ibu Kepsek Anna Farida yang udah janji mau nyubit Non kalau ketemu. Apalagi bisa sampe ketemu Mba Indari Mastuti….wah…wah..wah…luar biasa pokoknya. Kadang saya ke malang tapi juga ga bisa ketemu Mba Noor  Ruly Abiz Wigati, spesialis parenting. Pengen juga  nyambangin  Dara Lana Tan, kalau dia sedang repot ngurus  barang-barang donasi. Kan kalau saya bisa terbang, bisa cari sendiri teman-teman yang ingin saya kunjungi. Dan masih banyak teman dumay saya yang selalu ku rindu untuk dapat bertemu, andai masih ada waktu dan kesempatan.

Melalui status mereka saya berinteraksi  & dapat merasa apa yang sedang dikerjakan bahkan yang sedang dialaminya…lebay ya?....tapi iya kok, bener deh. Semua  pertemanan itu dapat menambah ilmu dan pengetahuan saya, dari status yang dibuat atau artikel yang dikirim. Apalagi Mba Indari Mastuti, ga pernah ada bosannya ngasih masukan & ajakan untuk terus menulis dan berbisnis yang yahuuut……….
Sementara ini dengan teman-teman group wa saya bisa jalan, makan bersama, berwisata dll. Dengan yang tinggal tidak jauh dari tempat tinggal saya bisa sesekali dating kalau ada acara 7 pasti hebooooh di rumah Mba Indari, markas Sekolah Perempuan. Yaaaa….Allah, semoga semua teman, sahabat & saudara-saudara saya selalu dalam lindunganmu, disehatkan badannya, dilimpahkan rejekinya, dipanjangkan umurnya untuk beribadah kepadaMu serta tali silaturahmi kita tetap terjaga dengan baik. Aaamiiin YRA.

Rabu, 27 Januari 2016

BERGAYA DENGAN KARTU KREDIT, AWAS HUTANG MENCEKIK








                                                            Contoh Kartu Kredit


 Dua puluh tahun yang lalu untuk menyajukan pembuatan kartu kredit tidaklah mudah. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain slip gaji  asli dengan limit gaji pertahun  minimal sekian dan  ada teman yang memberikan rekomendasi. Yang menawarkan pun bank yang bersangkutan, melalui  nasabah yang telah memiliki kartu kredit.
Memang pada saat itu memiliki kartu kredit menjadi prestise tersendiri, gaya & keren pokoknya. Pada kalangan pemegang kartu kredit saat itu menyebutnya uang  plastic & masih eklusif karena tidak sembarang orang yang memilikinya. Sementara aku kurang lebih hamper 25 tahun sebagai pemegang kartu kredit. Gaya kan?!.....hehehehe…. Padahal bos di kantor selalu menawarkan untuk memberikan rekomendasi pembuatan kartu kredit aku. Namun selalu aku tolak, karena masih mikir kegunaan & untung ruginya. Maklum aku bukan bos kan, yang uang iuran tahunan & tagihannya aja kudu bayar sendiri. Ga seperti boslah, tinggal gesek, tagihan  kantor yang bayar. Siapa yang mau nolak kalau gretong ya…wkwkwkwk.
Bermula pada suatu kejadian darurat yang aku alami, tengah malam perlu uang. Secara dulu belum ada ATM kaya sekarang yang bisa kita sambangin kalau butuh uang kapanpu. Akhirnya aku Tanya-tanya sama bos tentang kartu kredit itu. Panjang lebar dijelaskan & aku juga tanya mendetail tentang kartu tersebut, pendek cerita setelah menunggu dua minggu, kartu kredit udah ditangan.
Aku mulai mempelajari penggunaan kartu tersebut, tapi intinya kita harus bijak menggunakan kartu tersebut. Dan yang  paling penting diingat “Kartu kredit itu bukan uang kita, kalau dipakai kita harus bayar sesuai tagihhan.”  Untuk aku kartu kredit itu sangat menolong dikala darurat, cerita di suatu malam bapak aku sakit & dilarikan ke rumah sakit. Karena yang terdekat rumah sakit swasta, pihak rumah sakit minta uang jaminan sekian juta. Sementara kami ga pegang uang sebanyak itu & mau cari kemana malam-malam begini?. Dulu, kalau  perlu uang yan tunggu bank buka, ATM belum ada.  Padahal bapak harus ditanganin segera, akhirnya aku coba ke loket & menanyakan apakah bisa bayar dengan kartu kredit?..... Alhamdulillah….boleh!.....
Bapak segera ditangani, sementara aku ngurus penggesekan kartu. Pada saat itu kalau gesek kartu ga semudah sekarang, tapi si kasir harus mencari  dibuku besar apakah no kartu aku valid dan bisa dipakai. Bahkan ada yang harus telepon ke bank yang mengeluarkan kartu tersebut. Pokoknya ribet, makanya dulu banyak orang yang sebel kalau ngantri di kasir kalau di depan kita ada yang membayar dengan kartu kredit. Karena prosesnya lamaaaaa…..hehehhe
Ketika kartu kredit booming  & menjadi gaya hidup?  Para agen penawar kartu kredit bertebaran dimana-mana. Ga perlu slip gaji dan tetek bengek, tinggal tandatangan aja, tanpa perlu waktu lama kartu kredit sudah bisa digenggaman. Pagu limit memang tidak besar, berkisar 2 juta s/d 5 juta. Namun seiring berjalannya waktu dan kewajiban kita membayar tagihan berjalan lancar tanpa tunggakan, pagu limit akan dinaikkan. Tapi dulu uang 2 juta itu udah gede bingiiit loh.
Pokoknya masa itu gaya deh kalau punya kartu kredit, berasa kaya pengusaha muda & ekslusiflah….hahahha…

KALAP SAAT BELANJA
Memang setiap orang punya kebutuhan berbeda & berbeda pula dalam cara pandang terhadap sebuah kartu kredit. Untuk aku, kartu kredit digunakan secermat mungkin, karena itu bukan uang tabungan kita. Sekali gesek utang boooo!....kudu dibayar. Kalau aku pakai buat belanja, berarti aku udah punya dana untuk membayarnya dengan lunas. Hanya nunda pembayaran selama sebulan aja, lumayan.
Jadi jangan coba-coba belanja mengguunakan kartu kredit, apabila kita tidak memiliki dana untuk membayarnya. Memang bank memberikan kita keringanan untuk membayar limit terendah dari tagihan atau dicicil per bulan. Namun semua perlu diperhitungakan kalau ga mau kecekik hutang.
Kebiasaan yang terjadi pada pemegang kartu kredit  pada tingkat ekonomi menengah kebawah, merasa bahwa kartu kredit itu adalah dana segar yang disediakan untuk shopping. Iya ga?........ Jadi gesek sana, gesek sini sampai kalap  deh kalau shopping. Maklum ga berasa ngeluaran uang kan &  ga jarang sampai   melebihin dana yang tersedia. 
Pada saat tagihan datang…..baru deh pada nyengir.  Gilanya lagi, mereka bukan hanya punya satu kartu kredit  loh…! bisa dua atau tiga dari bank yang berbeda.   Kalau yang otaknya kriminal biasanya menggunakan kartu kredit hanya satu tahun pertama saja, karena gratis iuran tahunannya. Akhirnya mereka hanya membayar minimum tagihan saja atau dicicil sampai selesai. 

HUTANG YANG MENCEKIK
Shopping…shopping & shopping….lupa diri kalau untuk membayar dengan cara gesek sana, gesek sini ada konswensi yang harus dibayar. Tagihan bertumpuk sementara belanjaan yang lalu aja belum lunas dibayar, karena hanya membayar minimum tagihan. Bunga terus berjalan yang jumlahnya makin hari makin besar. Kalau sebulan kena bunga 2,7 % coba hitung kalau makin bertumpuk?. Karena bunga dihitung  bukan dari sisa tagihan, tapi dari tagihan awal. Kalau mereka sudah terbelit begini sampai tercekik hutang,  biasa sulit di telepon, bahkan di datangi ke kantor pun berkelit tidak ada di tempat.
Itulah saatnya mereka mulai menuai hutang yang makin lama menggunung dan akhirnya mencekik leher. Anda tau siapa yang akan kena getahnya?  Keluarga…! Kalau mereka mencantumkan alamat rumah dengan nomor telepon, namun ada lagi yang kena getahnya. Keluarga yang mereka tuliskan data nama, alamat & nomor telepon yang dicantumkan diaplikasi permohonan saat awal buat. Mereka juga tidak minta ijin mencantumkan    nama, alamat & nomor keluarga lainnya. Bahkan yang lebih gila lagi ada yang mencantumkan nama, alamat & nomor telepon tetangga.
Ini bencana yang tidak main-main bagi keluarga maupun keluarga lain yang nama, alamat & nomor teleponnya tercantum pada aplikasi permohonan. Mereka bisa berkelit  & sembunyi, apalagi sekarang telepon yang mereka berikan no hp, yang bisa mereka buang & ganti no lain. Sementara keluarga?  Hellooo…..yang diminta no telepon rumah….abislah di terror bahkan di santronin sama depkolektor di rumah. Di maki, di bentak & diancam, jadi makanan sehari-hari keluarga yang kena getahnya dan ga ngerti apa-apa. Pernah ga ya mereka  berpikir sebelumnya, kalau masalah ini bisa merepotkan dirinya, keluarga & orang lain. Mereka yang menikmati uangnya, tapi keluarga atau orang lain yang kena getahnya.  
 Nyebalin  tauuu!!!!!.....

BIJAK MENGGUNAKAN KARTU KREDIT.
Sebaiknya kendalikan kartu kredit Anda, bukan Anda yang dikendalikan kartu kredit. Krtu kredit itu dibuat untuk memudahkan orang dalam bepergian & bertransaksi. Artinya orang yang bepergi atau hendak belanja ga perlu bawa uang banyak-banyak yang memenuhi dompet atau tasnya, disamping ga aman juga ribetkan ngitungnya. Jadi terbantu dengan   kartu kredit tersebut. Cukup satu kartu semua pembayaran beres…gitu kira-kira slogan bank untuk kartu kredit.
Jangan sekali-kali menggunakan kartu kredit untuk belanja dengan jumlah besar, kalau Anda ga punya dana untuk membayarnya. Jadi gunakan kartu kredit untuk membeli sesuatu, jika Anda memang memiliki dananya. Kalaupun tetap mau beli tapi ga ada dananya, perhitungkan Anda dapat mencicilnya dalam beberapa bulan. Setelah lunas baru Anda pergunakan kembali kartu tersebut.
Pengalaman aku menggunakan kartu kredit selama hampir 25 tahun tidak pernah ada masalah, bahkan aku mendapatkan berbagai macam hadiah dan fasilitas yang luar biasa. Salah satunya  “kepercayaan bank” yang mengeluarkan kartu kreditku. Awal limit yang diberikan hanya 2 jt, saat ini tembus puluhan juta, bahkan mendapat kartu lain yang dapat aku gunakan untuk mengambil tunai kapanpun  tanpa  bayar iuran tahunan & tinggal pilih mau dibayar berapa kali dengan bunga ringan. Itu penghargaan & kepercayaan yang aku dapat dari bank, karena ketaatan & kedisiplinanku dalam menggunakan kartu kredit.
Jadi lunasinlah  tagihan kartu kredit berapapun nilainya, maka aturlah penggunaan kartu sesuai dengan kondisi keuangan Anda. Percayalah, dengan membayar lunas setiap tagihan, Anda tidak akan kena bunga apapun. Namun Anda diuntungkan dengan pembayaran yang ditunda sampai bulan berikut setelah beanja baru Anda bayar.  
·         Jangan jadikan kartu kredit sebagai gaya hidup tanpa ada tanggungjawab.
·         Kalau Anda  termasuk orang yang tidak dapat mengatur keuangan dengan cermat, hindari memiliki karteu kredit.
·         Hiduplah sesuai dengan kemapuan Anda, jangan besar pasak dari tiang.
·         Hutang tidak dilarang tapi berhutanglah untuk hal-hal yang priemer, bukan barang konsumtif
·         Sebaiknya Anda memiliki   ATM aja, yang bisa digosok dimana aja tanpa ada resiko. Karena kalau dana ada Anda, ATM bisa digunakan sementara kalau tidak ada dana ya Anda tidak perlu membeli.
·         Tempatkan diri Anda di posisi orang yang di terror atasa utang Anda, apakah Anda bersedia diperlakukan seperti itu.
Ok guys….semoga bermanfaat.