Senin, 25 April 2016

MENJENGUK BUNGA SAKURA DI JEPANG




Mengunjungi  Negara Jepang  tentu  ga puas apabila belum melihat indahnya  bunga sakura, cantiknya gunung fuji yang  berselimut salju dan  tempat wisata lainnya.  Haneda  Internasional  Airport Tokyo, merupakan airport yang dibuat dari hasil reklamasi  laut, sangat indah dilihat dari kejauhan. Di airport ini aku pertama kali menjejakan kaki di Negeri Sakura. Airport yang cukup padat,  menurut info dalam sejam terdapat 35 kali pergerakan pesawat yang  take off maupun landing. Apalagi april ini jepang sangat padat dikunjungi wisatawan karena ingin menyaksikan bunga sakura mekar. 

Kesan pertama negeri ini  bersih, teratur dan cepat. Masyarakatnya disiplin,  ramah dan jujur, budaya antri terlihat dimana-mana. Orang Indonesia di jepang bisa loh ngantri, ga seperti di Negaranya sendiri main serobot….hehehe. Pelayanan bagasinya cepat, begitu pula dengan imigrasinya. Melihat antrian mengular, walau sudah  cukup banyak  counter yang dibuka, pegawai imigrasi dengan sigap membuka counter yang lain. Seakan tidak mau tamunya menunggu terlalu lama dalam antrian, jadi memberikan pelayanan sebaik mungkin.
Dari bandara  Haneda  kita langsung menuju  salah satu   mall terkenal di Tokyo, yaitu Diver City  di Odaiba. Ternyata mall dimana aja sama, ya ga beda jauh sama Sency lah, tapi yang menarik di mall ini sebelum masuk ke pintu mall, kita  disambut  dengan Robot  Gundam. Tepatnya di halaman mal berdiri dengan gagah Robot  Gundam yang  sangat besar dan dijual juga miniatur robot tersebut. Kalau kita menengok ke sebelah kiri dari pintu masuk mall…hmmm..terlihat hamparan  bungan tulip berwarna kuning & merah yang sangat cantik. Setelah puas jeprat jepret  di tempat itu, kita perlu mengisi perut dulu sebelum ke  Ueno Park.

                                                        B'gaya dengan robot Gundam

Ueno Park merupakan taman   sakura  yang  terdapat 1000 pohon sakura di Tokyo. Jalan masuk ke taman Ueno Park terdapat jejeran lampion berwarna putih yang cukup unik. Padatnya pengunjung  yang ingin menyaksikan bunga sakura, tidak terlalu menyulitkan karena  pengunjungnya  tertib dan menjaga kebersihan. Pada musin sakura bermekaran di jepang itu artinya tahun ajaran baru untuk menerima murid baru & bagi perusahaan  juga membuka  lowongan kerja.  Kebiasaan lain orang jepang pada saat sakura bermekaran adalah bertamasya, mereka sudah memilih tempat di bawah pohon sakura, bahkan menjaganya selama beberapa hari agar dapat berkumpul bersukaria bersama teman-teman maupun keluarga sambil menikmati indahnya bunga sakura.  Mereka menggelar tikar atau alas plastic dengan membawa perbekalan makanan, bahkan kantong tidur.  Seru ngeliatnya….tapi yang lebih seru, walau ditempat keramaian  tidak terlihat sampah berserakan, walau dipojok-pojok yang biasa terlihat sebaran sampah. Disini tidak terlihat…..bersih pokoknya.  Salah satu budaya orang jepang  yang patut ditiru, yaitu  kebiasaan tidak membuang sampah sembarangan.  Kalau tidak menemukan tempat sampah, maka sampahnya akan dikantongi atau disimpan ditas & akan dibuang bila  menemukan tempat sampah. Ga jarang loh malah dibawa pulang dan dibuang di rumah.  Jadi  ga ada tuh disana pemandangan mobil mewah melempar sampah atau tissue keluar  dari jendela……hehehehe… 

                                                    Di Taman Ueno Park atau Taman Sakura

Konon  katanya  pada saat salju mencair, maka bunga sakura  mulai bermekaran. Bunga sakura  bertahan  selama 2 minggu & pada saat itu  tidak ada satu lembar daun sakura dipohonnya. Jadi hanya ada batang dan bunga, sejauh mata memandang  hanya ada bunga yang berwarna putih dan merah muda, luar biasa indah.  Puas menyaksikan Bunga sakura, perjalanan lanjut ke salah satu  Kuil terkenal di Tokyo, namanya Asakusa  Kannon Temple.  Kuil ini berdiri megah  dengan  halaman yang cukup luas, satu kuil besar merupakan tempat sembahyang dan tidak boleh sembarangan didalam sana. Disamping kanan kuil terdapat sumur atau tepatnya pancuran air yang konon apabila meminum airnya  atau buat cuci muka  dapat awet muda & panjang umur.  Agak kedepan dari tempat air ini terdapat  tungku api yang menyala, ditempat ini konon katanya bila asapnya ditiup-tiup atau diusahakan mengenai tubuh atau anggota tubuh yang dipercaya dapat melancarkan rejeki dan juga kesehatan. Kalau kita berjalan ke depan menjauhi tungku akan terlihat lampion besar berwarna merah  yang tergantung di tengah  pintu keluar kuil dan dikanan kiri berjejer toko-toko yang menjajankan makanan dan souvenir khas jepang, kawasan ini disebut Nakamise Souvenir Arcade.
                                                           Kuil Asakuza Kannon

                                                           Mencoba air dari pancuran

 Lelah blanja blanji kita lanjut menuju resto untuk makan malam, tadi siang makan sabu-sabu & goreng2an, sekarang makan bakar-bakaran yang nikmat ruar biasa  lalu  lanjut check in ke hotel Metropolitan Tokyo….istirohat dulu.
Hari ketiga b’fast di hotel dengan menu variatif & kita akan menuju Nikko untuk menyambangi Edo wonderland, yang akan di tempuh dalam waktu 2 jam dari Tokyo.  Jalanan yang sepi membuat ibu-ibu pada nyenyak di dalam bus, apalagi udara cukup dingin diluar.
Di Edo Wonderland  menelurusi hidup pada jaman edo atau jaman Ninja. Disini dipertunjukan menggunakan samurai, ada pertunjukan kehidupan jaman itu serta pertunjukan bagaimana kehidupan Geisa yang dikemas sangat apik & lucu. Disini terdapat patung emas yang di papan tertulis O-Edo Tenmangu Shrine  yang  dulunya merupakan orang yang sangat baik. Ditempat ini juga pengunjung dapat berfoto dengan menggunakan kimono & didandani selayaknya orang jepang dengan biaya 3000 yen untuk 2 kali gaya berfoto yang berbeda. Tanpa terasa waktu udah siang & perut udah minta diisi, jadi cuuuus…  dulu ke resto di kawasan Edo wonderland yang ruar biasa eunaaaak. 
                                                         Ninja beraksi di Edo Wonderland

Time to Ginza…..dimana katanya di pusat pertokoan ini kita bisa membeli mainan anak-anak yang diproduk oleh jepang, juga tas & baju made in china tapi yang kw1 gitu, juga disini pusatnya penjualan kit kat green tea & pocky yang paling murah, yaitu di supermarket Donki.
                                                                 Pertokoan Ginza
 
Jalan-jalan di sekitar ginza pada saat sabtu & minggu ditutup untuk kendaraan, jadi pengunjung bebas berfoto ria dengan berbagai gaya di tengah jalan pertokoan yang berlatar belakang jajaran toko-toko berbagai kebutuhan. Rasanya ga puas berkeliling  &  belanja disini tapi kita sudah harus makan malam dan kembali ke hotel…….lalu mengunjungi patung  Hachiko, yaitu anjing yang sangat setia kepada pemiliknya.  Ada yang  pernah nonton  filmnya kah?  Pemainnya si ganteng Richard Gere yang  berperan sebagai si professor & patung anjing ini terletak di Stasiun Kereta Shibuya. Di Shibuya ini terdapat persimpangan tersibuk di dunia, konon katanya. Hachiko tunggu kedatanganku yaaaa……..
                                                    Patung anjing Hachiko di stasiun shibuya

Ternyata ga semua ikut ke Shibuya, yo wis yang mau azaaaa. Sayangkan udah sampai Jepang masa dilewati, apalagi lokasinya ga terlalu jauh dari hotel kita menginap. Setelah rembukan mau naik apa ke shibuya, akhirnya diputuskan kita naik commuter linenya jepang bo! Karena kalau naik taksi kita kelebihan 1 satu orang , disana naik taksi tidak boleh lebih dari 3 orang aja…. Di jepang ini kalau kita akan menuju ke suatu tempat dengan menggunakan taksi, sementara jaraknya tidak terlalu jauh tapi jalannya harus memutar karena satu arah. Tau apa yang akan dilakukan supir taksinya?....Dia kasih tau kita arah untuk berjalan ke tujuan & dia tidak mau mengantar karena jalan kaki lebih dekat. Tuuuh….hebatkan kejujurannya masyarakat jepang, ini hal baik yang harus ditiru masyarakat Indonesia.
                                                     Mau naik commuter linennya jepang

Tau ga sobat kalau bikin SIM mobil di jepang itu super duper susah & muahal selangit. Menurut info sampai puluhan, bahkan ratusan   juta, sementara mobil pribadi hanya dapat dikendaraan oleh orang yang namanya sudah terdaftar.   Jadi kalau mobil keluarga yang terdaftar atas nama siapa supirnya, missal nama si bapak. Yaaaa hanya si bapak yang boleh menyupir mobil keluarga itu, yang lain hanya boleh jadi penumpang. Namun bila ingin dapat digunakan oleh semua anggota keluarga, bisa aja asal plat nomornya harus diganti warna kuning….hehehhe……pantesan jalan-jalan di Tokyo sedikit bingit mobil yang wara wiri. Lancar pokoke.
Stasiun kereta menuju Shibuya ternyata ga jauh-jauh amat dari hotel kita menginap, yup…9 orang udah siap jalan  nengok si Harchiko. Ga sampe 10 menit kita udah ada di stasiun  Ikebukuro yang lumayan padat orang berlalu lalang.  Kita membeli tiket kereta melalu mesin tiket (seperti ATM gitu & di Indonesia juga udah ada loh mesin penjualan tiket CL). Kita hanya memilih tujuan yang terpampang dilayar, lalu akan keluar harga tiket. Pilih lalu  klik dan masukan uang, maka tiket akan keluar dan kalau ada kembalian juga akan keluar.  Bedanya dengan tiket CL di Indonesia, kita kalau ga punya kartu e-toll atau e-money yang telah diisi uang. Kita beli kartu tiket seperti kartu ATM seharga Rp. 10.000 + ongkos ke tujuan & kartu tersebut yang digunakan untuk masuk ke peron & naik ke kereta. Setelah sampai ditujuan kartu tersebut berfungsi untuk keluar & masuk peron, bila telah sampai ditujuan. Kartu tersebut dapat dipulangkan ke loket & uang Rp. 10.000 dikembalikan.
Sementara tiket CL Jepang berupa kerta persegi panjang dgn ukuran 10 x 5 cm. Untuk masuk ke peron, silakan tiket dimasukan, pintu akan terbuka & tiket akan keluar kembali. Jangan lupa ambil tiketnya kembali, karena tiket tersebut akan digunakan untuk keluar stasiun setelah sampai ditujuan. CL di jepang ga beda jauh dengan CL di Indonesia, sama pokoknya tapi bedanya penumpang ga sampai umpel-umpelan. Kalau penuh mereka akan naik kereta berikutnya.
Ada cerita lucu saat kita naik CL ini. Konon ceritanya para lelaki di jepang, ada yang alisnya ditata rapih seperti alis kaum hawa. Lelaki yang beralis seperti itu atau lelaki yang beranting adalah sebagai tanda kalau itu seorang gigolo..Waaaah…. ingat cerita itu jadi  sepanjang  jalan & di dalam kereta kita jadi shu’uzon, sambil lirik lirik mencari lelaki yang beralis rapih….hehehehhe…….ternyata memang ada tapi   yang beranting-anting selama perjalanan hanya menemukan satu orang aja. Hanya butuh waktu 10 menit & melewati 1 stasiun akhirnya kita sampai di shibuya yang memang padat walau udah jam 9  malam. Kita bertemu dengan patung Hachiko, memegangnya, mengabadikannya  & berfoto dengan latar belakang simpang shibuya yang terkenal tersibuk di dunia itu.
Puas  mengelus patung hachiko dan berfoto bersamanya, time to go home…….@Metropolitan Hotel.

Hari ke empat kita akan menuju ke Gunung Fuji di daerah Hamamatsu, dengan waktu  tempuh kurang lebih  3 jam dari Tokyo. Sepanjang  perjalanan kita disuguhkan   pemandangan yang luar biasa indah, kalau diperhatikan rumah maupun gedung atau bangunan di jepang tidak ada yang menempel satu dengan lainnya. Hal ini merupakan peraturan pemerintah, karena kita ketahui bahwa jepang adalah Negara yang rawan gempa. Bahkan bahan bangunanpun tidak yang berat-berat seperti disini, menggunakan bata dan beton. Disana dindingnya kalau diketok2 ada bunyinya, karena terbuat dari pahan ringan. Seperti fiber gitulah. Jadi kalau ada gempa, bangunan itukan begerak, dengan jarak yang diberi bangunan tersebut akan lentur bergoyang dan tidak bersentuhan dengan bangunan lain. Pendek kata space tersebut untuk memberikan ruang bagi rumah atau bangunan saat terjadi gempa tidak saling bersinggungan & meminimalkan agar bangunan tidak rubuh.
                                                               Di level 1 Gunung Fuji


Tiba di lokasi gunung fuji, mendapat  kabar kalau cuaca kurang bersahabat. Sayangnya kita jadi ga bisa masuk ke level 5 mendekat ke gunung fuji, cukup di level 1 & melihat gunung fuji yang berselimut salju dari kejauhan.  Namun disini masih ditemui tumpukan salju yang belum mencair. Lumayaaaan…bisa remes remes salju & b’gaya dengan background gunung fuji. Gunung fuji ini berdiri kokoh dengan ketinggian 3776 meter diatas permukaan laut & gunung ini terletak di daerah Hamamatsu. Menurut cerita nih ya, di dekat gunung fuji ini ada sebuah lembah yang bernama  “Jukai” lembah ini biasa digunakan untuk hara-kiri penduduk yang merasa memang harus mengakhiri hidup karena sesuatu sebab. Konon katanya juga dalam setahun ada 1000 orang yang mengakhiri hidup di lembah ini,  yang juga katanya cukup angker….iiiiiih…..serem ya.

Perjalanan dilanjut untuk makan siang, dari cuaca yang cerah walau berangin di gunung fuji kini mulai berkabut dan terasa beeeeeeerrrrr….makin dingin & kabut makin tebal, padahal abis maksi mau melihat pemandangan indah di sekitar danau Ashi.  Saatnya  mengelilingi danau Ashi dengan cruise….udah makin dingin &  kabut tambah tebal, jadi hanya ngerasain naik cruise aja deh.  Pemandangan indahnya ga keliatan, tertutup kabut tebal..yaaaa..sebagai penggantinya kita dapat berfoto ria diatas cruise. Ya sudah ber keliling  danau Ashi dengan cruise sambil nonton orang pacaran….hahahha…..Isti & Nova bingung liat orang kasmaran ini.

                                               Naik cruise ke danau ashi

Makan lageeee…….dingin-dingin makan menu hangat ala pedesaan, tapi makan ramen dingin dengan kuasnya yang muantab, ok juga.  Siap-siap check in hotel di pedesaan dengan bangunan hotel yang megah diatas bukit dengan gaya arsitektur  kerajaan gitu. Nah di hotel ini, namanya Omaezaki Hamaoka Courses. Ada yang menarik di hotel ini, ada pemandian Onsen. Yaitu kolam air belerang tapi ada syaratnya sebelum nyemplung dikolam itu, kita harus mandi & keramas dulu. Mandinya juga harus tanpa busana  selembarpun   dan nyebur berame-rame, tapi khusus buat perempuan aja kok.  Air belerang yang panas dengan aroma yang khas, ditambah suara cekikikan yang pada berendem…waaaah…sensasi yang tak terlupakan pokoke….hehehehe….dan berendemnya ga boleh lama-lama, cukup 10-15 menit aja tapi itu udah lebih dari cukup untuk menghilangkan rasa lelah & pegal-pegal disekujur badan…juga jadi suegeeeer.
                                                        Setelah mandi belerang di Onshen

Dalam perjalanan dari danau Ashi ke hotel, aku sempet melihat ada rumah mungil dengan halaman lumayan besar disampingnya & ditanami padi. Ada juga yang ditanami sayur-sayuran & di daerah ini banyak terdapat kincir angina  yang digunakan sebagai pembangkit listrik.  Ga terasa udah hari kelima aja, kita b’fast dengan menu ala pedesaan. Ikan kembung dipanggang dengan rasa yang sangat gurih & eunaak tenan, dengan menu lengkap lainnya. Ternyata hotel ini memiliki pemandangan yang luar biasa indah dan dibawah dekat lahan parkir berjejer pohon sakura. Ga mau menyia nyiakan kesempatan, tustel ditangan kiri  & hp di kanan mulai beraksi mengabadikan momen-momen indah tersebut. Ada sakura dalam pelukan, ada melompat lebih tinggi, gaya foto model di tangga dll pokoke kereeen abiiiiz deh. Tapi tiba-tiba di semprit sama Maria…..check out….mana kunciiiiii, ayooo…koper kumpulin…hahaha..
                                                      Ini kereta cepat (Shinkansen) Jepang

Ready to go to  Kyoto by Bullet train or Shinkansen….hurry up…hurry up…..dari stasiun  shinkansen     Hamamatshu,  kita akan ke Kyoto naik kereta super cepat 300 km/jam dengan waktu 1 jam 10  menit aza, dengan harga tiket 17.500 yen (kurs 1 yen = Rp. 120). Muahal ya tiketnya.  Ternyata kabin kereta shinkansen ga ubahnya seperti kabin pesawat loh, ada juga pramugari yang wara wiri pake trolly  nawarin makanan & minuman. Tapi ngeliat penampilannya, seperti bukan pramugari deh. Petugas pantry atau restorasi kali ya, abis ga keren bajunya. Malah kerenan securitynya yang wara wiri juga. Akhirnya kita sampe di Kyoto. Kyoto merupakan Kota Budaya, ya boleh dibilang Yogyanya Negara Jepang.  Rombongan kaya pengungsi jalan masing-masing menenteng  tas atau koper keluar stasiun menuju bis yang udah nungguin kita.  Di jepang yang kena lampu merah bukan cuma kendaraan, tapi orang juga kena lampu merah. Jadi kalau mau nyebrang nunggu lampunya ijo dulu deh, kalau nerobos karena  ga ada mobil yang lewat, jadi aneh &  diliatin orang…..hehehhehhe... Pokoknya disetiap lampu merah pasti ada zebra cross nya untuk tempat orang menyebrang & biasanya penuh dengan orang yang akan menyebrang, karena menanti lampu lalu lintas berganti hijau.  

Saatnya menuju kuil budha kuno yang sudah 10 kali dipugar, kuil ini merupakan warisan budaya Dunia  & Presiden Amerika Ronald Reagen pernah kesini. Namanya Kyomizu Temple. Letaknya diketinggian dengan pemandangan yang menajubkan. Biasanya pengunjung bisa menggunakan kimono disini. Ngomong-ngomong soal kimono, jadi kimono itu ada 2 jenis.  Kalau kimono yang suka dipake sehari-hari dengan bahan yang tipis dan ga ribet harus sanggulan, itu namanya “yukata” nah kalau yang satunya lagi ya kimono yang dipake berlapis-lapis dengan sanggulan khasnya serta obi (ikat pinggang) yang seperi bantal itu & ribet tata cara pemakaiannya. Kalau sanggulnya ada yang ready to use gitu, tinggang dipasang aja dikepala, kaya wig.

                                                                      Kyomizu Temple
Jalan menuju ke Kuil  Kyomizu ini berjajar toko-toko menjual makanan, es cream & aneka souvenir. Sini aku ikut-ikut blanja-blanji deh, karena emang belum beli apa2 selain kitkat green tea pesenan anak2.
Trus siap siap ke Osaka untuk menuju pusat pertokoan Shinsabashi Shopping Street, Dotonbori & borong borong juga di Umeda sampe  gempor keluar masuk toko. Banyak yang mau dibeli tapi yen udah ludes….hahhahaha….ada temenku yang penasaran beli tas disini tapi ga kebagian..hihihihi…katanya mau balik ke jepang cari tasnya lagi…wkwkwwk…..aku diajak ya Bu Endang.

Hari ini ditutup dengan borong-borong koper yang lagi sale, selamat dorong ya bu ibu….hehehhehehe…makmal  terakhir di jepang & check in di Miyako Hotel. Nama hotelnya kaya nama magic jar ya…hahahha……Eeee….setelah diperhatiin, ternyata supir bis kita si Michael Hanada ternyata alisnya ditata….hahahha…ga percaya? Perhatiin deh fotonya, aku sampe bela belain minta foto bareng dia, buat bukti aja…wkwkkwkkw…..

                                                     Oshaka International airport Jepang
Negara Jepang memang dikenal teguh dengan adat istiadat & budayanya, tapi namanya juga  suatu Negara pasti mengundang wisatawan untuk berkunjung ke negaranya, terutama ke objek-objek wisatanya. Hanya ya untuk memuahkan para tamu atau wisatawan maulah menggunakan bahasa & tulisan yang dapat dimengerti oleh bangsa lain. Di Jepang semua menggunakan  bahasa jepang dan diperparah lagi  juga menggunakan tulisan kaji yang  ga dimengerti sama sekali. Di Cina juga tulisannya tidak umum tapi di hotel mereka  menuliskan dengan tulisan latin tuh. 

Kebetulan teman sekamar aku gembok kopernya ga bisa dibuka dengan anak kunci yang ada,   aku juga muali mencoba ikut  membuka dengan anak kuncinya, tapi sayangnya tuh gembok tetap bertahan ga   mau  buka.  Temen mulai panik karena ga bisa ganti pakaian & spontan aku menuju ke telepon kamar untuk minta bantuan  Housekeeping  atau  Technisi hotel, tapi  aku blongo di depan  pesawat telepon tersebut karena  tulisan di pesawat telepon itu  dengan bahasa kaji…..hadeuuuu….puyeng ga tuh!. Sudah gitu teman malah ngoceh ngoceh lagi, bikin  sebel aja. Help me……gimana kalau begini coba?.  Menghubungi tour guide nya ga diangkat-angkat lagi…..toloooong deh!     Masa sih untuk di hotel bintang seperti ini coba menggunakan  bahasa  umum, minimal bahasa inggris  atau  minimal jangan pakai  tulisan kaji gitu..  Akhirnya  tour guide bisa dihubungi dan karena dia dari local jepang, yaaaa….gampang aja tuh dia baca huruf kaji di telepon.  Ga sampai 10 menit, datanglah petugas tehnisi hotel seorang cewek dengan membawa tang sangat besar &  cekriiis…..putuslah gemboknya. Bahkan di Pusat Pertokoan, aku  mencari suatu barang & menanyakan dengan bahasa inggris…hehehehee…. Banyak yang ga ngerti juga. Akhirnya pake bahasa tarzan deh.  Semoga  jepang  mau ya menggunakan tulisan latin  ditempat tempat  yang memang  umum digunakan  wisatawan. Mudah-mudahan cerita ngalor ngidulku ke jepang bisa dipahami dan menambah sedikit pengetahuan yang baca ya.  Aaaamiiin YRA.


  

13 komentar:

  1. Mbak Srie baca ini serasa ikut juga jalan-jalan saya. . Komplit
    Jepang memang juaraaa untuk kedisiplinan, keteraturan, etika.. Hadeh mupeng ke sana saya.
    Banyak yang bisa kita pelajari dari budaya mereka ya
    Salut sama Jepang!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah...
      Betul Mba, saya salut dg warga jepang. Di pertokoan Ginza saya & beberapa teman mau kembali ke hotel, kita mau naik taxi aja. Tp begitu tanya aupir taxi, dia ga mau & nyuruh kita jalan aja. Alasannya: klo naik taxi jalannya muter & anda harus bayar ongkos, tp klo jalan lebih dekat & ga perlu ongkos. Dia kasih tau arah ke hotel & hehehe ga sampe 10 mnt udah sampe.
      Semoga bisa sampai jepang Mba

      Hapus
  2. Ceritanye lengkap dan runtut banget. Saya yang sampai hari ini masih bercita-cita ke Jepang jadi dapat banyak info dari sini. Thanks ya, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah...seneng rasanya klo tulisan bisa evuat yg baca senang & bisa mengambil manfaatnya. Semoga cepat samapi jepang ya mba

      Hapus
  3. Wah, Jepang adalah salah satu tujuan traveling saya. Pingin liat bunga Sakura. Makasi ceritanya yg komplit pliit

    BalasHapus
  4. Bunda Sri bikin ngiler banget ini. Jepang ada dalam bucketlist traveling keluarga kami sampe saat ini. Semoga bisa ke sana juga. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin yra. Semoga cepat terwujud ya Mba...rugi klo ga kesana loh...hehhe

      Hapus
  5. Jepang Negara impian yang ingin aku kunjungi, bu.
    Senang banget bisa baca cerita ini.
    Terima kasih untuk sharingnya ya, bu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Woow...gitu ya...semiga cepat terwujud ya Mba Egy. Makasih juga sdh mampir

      Hapus
  6. Waaaah keren di Jepang. Bs foto di patung Hachico yang famous ituuuh :D bersih ya Bu disana. Wow banget deh :)

    BalasHapus
  7. Thanks for info. Kunjungi website kami juga ya https://bit.ly/2QTudQW


    BalasHapus