Senin, 05 Oktober 2020

MENJELAJAH NEGERI DIATAS AWAN DIENG

 

 

dokpri

Konon  ada negeri diatas awan di Indonesia, yang terletak di barat Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Negeri tersebut berada diketinggian 2.094 m dpl memiliki udara yang sejuk dengan suhu berkisar antara 6 sampai 20 derajat celcius. Negeri Tersebut bernama Dieng yang menurut sejarah adalah tempat tinggal para dewa dan dewi.  Kata dieng sendiri diambil dari bahasa Kawi yang merupakan gabungan dua kata, yaitu   “di”  yang memiliki arti tempat atau gunung. Sementara “hyang” berarti Dewa, Dihyang  atau Dieng  yang bermakna tempat para Dewa dan Dewi tinggal.

Dataran tinggi  Dieng secara administratif terletak di dua  kabupaten, yaitu Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Dieng merupakan  kawasan  vulkanik aktif yang  dapat dikatakan sebagai gunung api raksasa dan memiliki beberapa  puncak dan kepunden kawah. Hal tersebut menjadi fenomena alam yang sangat menarik untuk dipelajari dan dikunjungi.

DATARAN TINGGI  DIENG

Alhamdulillah pada tahun 2018 aku kembali berkunjung ke Dieng bersama teman-teman yang telah berusia diatas lima puluh tahun.  Sebelumnya pernah ke sana  bersama suami, pada saat bulan madu tahun 1984. Namun hanya ke kawah sinila dan sekitarnya dan belum sebagus sekarang.  Dataran Tinggi Dieng merupakan kawasan pegunungan yang terdapat di Jawa Tengah.  

Kawasan ini tidak pernah sepi pengunjung, untuk menikmati  berbagai keindahan alam ciptaan Allah yang menyajikan panorama lengkap yang mempesona, mulai dari  pegunungan, bukit, perkebunan, kawah, telaga, dan candi.  Disamping  keelokan alamnya, dieng juga kental dengan spiritual karena terdapat candi-candi kuno agama hindu.

TELAGA WARNA DAN GUA

 

dokpri

Perjalanan dari Purwokerto ke Dieng yang ditempuh kurang dari tiga jam tidak membuat rombongan ibu-ibu kelelahan. Mereka sudah tidak sabar, sehingga langsung berebutan keluar setelah pintu mobil terbuka di depan pintu masuk wisata telaga warna. Kami disambut oleh Staff Kanwil  Kementerian Pariwisata jawa tengah, yang akan memandu perjalanan menyusuri telaga warna, telaga pengilon  dan gua-gua disekitarnya.

Sambil merapatkan jaket, kita mulai menyusuri jalan menuju ke telaga warna. Dari  pintu masuk  kita diarahkan  untuk mengambil jalan yang paling kiri, setelah berjalan kurang lebih  dua ratus meter  Telaga Warna sudah terbentang di depan mata. Ibu-ibu mengabadikan diri di papan petunjuk lokasi telaga warna dan lingkungannya.

Telaga warna ini  bukan telaga biasa, karena  memiliki keunikan tersendiri yaitu  warna airnya  yang bisa berubah-ubah seperti hijau, merah, lembayung dan biru. Fenoma ini terjadi karena airnya   mengandung sulfur yang cukup tinggi. Sehingga bila terkena sinar matahari air telaga akan berubah  warnanya.  Kandungan sulfur tersebut juga yang menyebabkan telaga ini  tidak  dapat dihuni mahluk air apapun.

Didepan telaga warna/ dokpri

 

Pemandangan di sekitar telaga begitu  sempurna, karena dikelilingi lembah dan perbukitan hijau nan asri, dengan  pepohonan rindang  yang menyejukkan mata  para pengunjung. Walau jalan yang dilalui untuk menuju ke Telaga Warna  ini  tidak besar dan masih jalan tanah, namun  wisata ini  merupakan salah satu destinasi favorit para  wisatawan di  dieng.

Telaga Warna dr ketinggian/ dokpri

 

Selain Telaga warna juga terdapat  Telaga Pengilon yang letaknya bersebelahan,  memiliki keunikan warna air telaganya bening seperti tidak tercampur belerang. Karena warna airnya  yang bening, sehingga dapat  dipakai untuk berkaca, maka telaga tersebut dinamakan Telaga Pengilon. Tidak jauh dari  telaga tersebut,  terdapat beberapa gua yang bisa kita  kunjungi  yaitu goa semar, goa sumur eyang kumalasari, gua pengantin dan juga gua jaran.  Masing-masing  gua mempunyai keunikan tersendiri,  seperti gua semar yang mempunyai  kolam yang kecil di dalam gua dan air tersebut di percaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit dan juga dapat membuat   awet muda. Di depan gua semar   terdapat patung semar yang membawa kendi.

 GUA SEMAR

 

Prasasti Legenda Gua Semar/ Dokpri

Setelah puas menikmati keindahan telaga warna, kita melanjutkan perjalanan ke atas lagi  untuk  melihat gua yang ada di kawasan telaga warna dan telaga pengilon.  Jalan yang kita lalui untuk menuju ke Gua Semar, masih berupa jalan tanah dan menaik. Namun ibu-ibu   dengan semangat mengekor pemandu kita, sambil sesekali  jeprat-jepret berfoto  ria dibeberapa  view yang menarik.

Gua Semar ini berlokasi di kawasan perbukitan antara Telaga Warna dan Telaga Pengilon, yang merupakan  tempat pertapaan para raja Jawa dan pemimpin negara di masa lampau. Gua Semar terletak paling atas diantara gua-gua lain. Dari luar terlihat mulut gua  yang ditutup  oleh pintu dan pagar besi.  Sesuai informasi   ukuran luas ruangan  gua Semar  sekitar 4 meter persegi. 

Menurut mitos yang berkembang, Gua Semar ini dijaga oleh Eyang Semar dan namanya diabadikan pada gua tersebut.  Gua ini   dianggap keramat dan digunakan untuk  bersemedi dan menurut sejarah pernah digunakan sebagai tempat pertapaan  para raja Jawa dan beberapa pemimpin negara, salah satunya yaitu  Presiden Soeharto   pada tahun 1974.

GUA SUMUR

dokpri

 

Kita melanjutkan perjalanan mengikuti jalan setapak yang mulai agak menurun  untuk menuju Gua Sumur (Eyang Kumolosari). Di kanan pintu gua,  ada sebuah patung berwarna kuning keemasan.  Di gua ini terdapat kolam kecil bertuah, airnya  dimanfaatkan  untuk upacara Muspe dan Mabakti  oleh  umat Hindu dari Bali. Air kolam tersebut  dikenal dengan  nama Tirta Prawitasari dan  dijaga oleh Eyang Kumolosari,  dipercaya bisa menyembuhkan penyakit dan membuat kulit menjadi halus. 

GUA JARAN

Pintu Gua Jaran /dokpri

 

Gua berikutnya  bernama  Gua Jaran, kita berjalan agak menurun kembali untuk sampai ke gua ini.  Gua ini merupakan tempat pertapaan  Resi Kendaliseto dan Jaran dalam bahasa indonesia,  artinya kuda. Konon   kisahnya, saat hujan deras ada  seekor kuda beristirahat disana. Namun  saat  keluar, kuda tersebut berbadan dua.  Kejadian tersebut memicu    masyarakat,   mempercayai   jika ada pasangan yang sulit memperoleh keturunan, maka si istri   bisa bersemedi di gua ini   untuk memohon keturunan.

BATU SEMAR DAN   BATU TULIS

 

Batu Semar & Batu Tulis/dokpri

Batu  besar  ini   terletak di antara   Gua Semar dan Gua Jaran, yang berdiri kokoh dan tertutup lumut dan tanaman liar diseluruh permukaannya.   Di depan batu besar  tersebut, terdapat  patung berwarna kuning  keemasan, juga  terdapat   arca Gajahmada dan  sebuah batu bertuliskan Legenda Batu Tulis. Jika  diperhatikan  dari kejauhan, batu tersebut  menyerupai semar,  salah satu  tokoh pewayangan.  Maka  batu tersebut disebut Batu Semar,  pada masa lalu tempat ini digunakan untuk bermeditasi bagi masyarakat hindu. Di hari hari tertentu, ada sesaji  yang diletakkan di depan Batu Tulis.

Area Batu Tulis ini merupakan   salah satu tempat prosesi  acara ruwatan cukuran anak gimbal Dieng.   Dalam  ruwatan  tersebut, mereka   didoakan agar sukses dan mendapat kemudahan dalam belajar.  Konon katanya bila orang tua  berdoa  memohon kepada Yang Kuasa dibatu ini, agar anaknya bisa membaca, maka  akan dikabulkan.

PERTAPAAN MANDALA SARI

 

Pertapaan Mandala Sari/dokpri

Dari gua jaran kita agak naik keatassedikit menapaki tangga kecil melingkar  untuk menuju Pertapaan Mandala Sari. Di depan pertapaan ini terdapat  patung semar berwarna kuning keemasan, karena pintu tempat ini tertutup kita tidak dapat melihat ruangan dalam. Pertapaan ini masih digunakan sampai saat ini. Dari  pertapaan ini, kita  turun dengan menapaki  jalan  setapak kembali  untuk dapat sampai kembali  di pintu masuk wisata ini untuk beristirahat sejenak.   

DIENG PLATEU  THEATER

 

Dieng Theater/dokpri

Kebiasaan ibu-ibu, begitu sampai yang dicari lagi-lagi toilet…hehehe. Dan disambung dengan nongkrong di warung mencicipi kentang goreng dieng yang lezat, sambil menghimpun tenaga untuk mendaki dataran tinggi dieng menuju Jembatan Merah Putih.

Tidak jauh dari tempat kita  nongkrong, ada  Dieng Plateu  Theater.  Konsepnya seperti bioskop  komersil pada umumnya, menayangkan  film dokumenter Seputar Dataran Tinggi Dieng dengan judul “Bumi Kayangan Dieng”. Diharapkan  dapat menambah wawasan pengunjung  awal mulanya   terbentuknya dataran tinggi Dieng, berbagai objek wisatanya dan  budaya penduduk setempat.  Theater  ini diresmikan oleh Presiden SBY, berkapasitas  60 orang dan pertunjukan film tersebut  berdurasi 25 menit dengan harga tiket Rp. 4.000/orang.

 JEMBATAN MERAH PUTIH

Jembatan Merah Putih/dokpri

 

Kita melanjutkan  perjalanan menuju dataran tinggi,  setelah dibagikan tongkat yang terbuat dari.  Diharapkan tongkat tersebut dapat membantu kita untuk menapaki anak tangga yang menjulang sampai di atas dataran tinggi.  3 orang ibu mengundurkan diri, tidak ikut rombongan ke atas.  Mereka mengukur kemampuan diri, dari pada nanti merepotkan yang lain.

Kita mulai meniti anak tangga yang cukup curam, bahkan kadang hanya jalan setapak berupa tanah keras. Di pemberhentian pertama ada warung kecil, sekedar untuk beristirahat sambil minum. Sumpah perjalanan ini sangat menantang dan menguras tenaga, maklum yang jalan oma-oma.   Pelan tapi pasti kita akhirnya sampai di dataran cukup luas,   sejauh mata memandang indahnya telaga warna dan telaga pengilon dari ketinggian.   Di depan terdapat menara untuk berfoto dengan harga Rp. 5000/orang.

 Sebagian ibu ingin merasakan sensasi  berjalan di  Jembatan Merah putih.  Ternyata  jembatan tersebut merupakan wahana baru di lingkungan dieng, dan popular.  Jembatan   dengan panjang 26 meter ini,  memanjang dari timur ke barat untuk menghubungkan dua buah bukit sekitar 50 meter di atas Batu Ratapan Angin. 

Telaga Warna & Telaga Pengilon dr ketinggian/dokpri

 

Disamping dapat menikmati pemandangan area  dataran tinggi dieng, naik jembatan gantung merah putih ini akan  menimbulkan sensasi buaian yang mendebarkan. Namun jangan khawatir , setiap pengunjung  diberikan   alat pengaman berupa helm dan tali pengaman. Selain itu, ada Tim Rescue  yang   memandu saat naik ke jembatan  tersebut.  Hanya dengan uang  receh   Rp 5.000,-/orang, kita   bisa memacu adrenalin. 

Nama tersebut   diberikan   sebagai simbol kekayaan alam Indonesia sehingga tumbuh rasa cinta terhadap tanah air Indonesia. Selain itu, jembatan yang selesai pembuatannya  pada tahun 2016 ini juga  sebagai apresiasi kepada Komunitas Panjat Tebing Tim Vertikal Rescue yang menyelenggarakan Sekolah Panjat Tebing Merah Putih. Dan merupakan   penggagas pembuatan jembatan ini.  

CANDI ARJUNA

 

Candi Arjuna/dokpri

Tak terasa waktu sudah rmenunjukan, jam dua belas siang dan saatnya  mengisi perut.  Kita makan siang sambil menikmati  wedang uwuh, yang bisa membuat tubuh menjadi hangat. Selesai makan siang, langsung salat dan dilanjut mengunjungi Candi Arjuna.  Kita cukup berjalan kaki dari lokasi tempat makan siang  ke  komplek candi arjuna.  Ada sebagain candi yang rusak dan sedang berusaha untuk dipugar.  Komplek candi ini selain candi arjuna, juga terdapat  Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra.

Kompleks Candi arjuna ini, diperkirakan   dibangun pada awal abad 9 M  dengan  ciri khas  pintunya  menghadap ke barat dan atapnya meruncing ke atas. Candi ini  dikelilingi oleh bukit yang asri dan indah,  sejauh mata memandang.   Dipelataran  candi  ini lah,  biasa diadakan acara   Dieng Culture Festival dan Jazz Atas Awan. Hanya itu wisata negeri diatas awan yang bisa  kita jelajahi  kali ini, In shaa Allah lain waktu bisa kembali lagi.

 

referensi

#IDN Time

#Wikipedia

#guide tour

#mytrip

Jumat, 25 September 2020

 JANGAN PERNAH KEMBALI KE SANA

 

 

Menanti  saatnya pulang

 

Alhamdulilah tiga bulan terlewati, tepatnya tgl 11 September  yang lalu. Kondisi Juragan dinyatakan dokter sangat bagus, sesuai  hasil  lab,  echografi, bekas luka operasi &  rehab fisik pada kontrol terakhir  4 september lalu. Aku tak lepas mengucap syukur dan terima kasih tak terhingga kpd Yang Kuasa dan tim dokter yang luar biasa kerjasamanya dengan keluarga pasien. Sekecil apapun informasi pasien disampaikan dengan sangat simpatik dan keramahan yang patut diacungi jempol. Aku  sampai bertanya-tanya, bagaimana rumah sakit ini dalam membina para tenaga medisnya.  Para dokternya begitu ramah kepada pasien dan keluarganya, begitu juga  tenaga perawatnya.  

Kondisi Juragan saat ini ga semudah yang dibayangkan, tapi melalui perjalanan cukup panjang dan berliku. Disamping tim medis yang luar biasa, begitu juga  doa dan support  dari keluarga, para sahabat dan teman-teman  yang  sangat berarti bagi aku. Doa dan support tersebut membuat aku tegar, kuat  dan ga sendirian.

 

Diruang perawatan after  operasi

Setelah diundur karena adanya pandemic, alhamdulilla akhirnya dihubungi  agar datang besok hari untuk  dilakukan persiapan operasi.  Juragan juga  gagah berani dan siap mental, karena udah ga tahan dengan keluhan yang dirasakan.

Pada hari  yang ditentukan persiapan operasi pun dilakukan,  dimulai dengan briefing dari perawat. Apa saja yang harus dilakukan pasien. Dilanjut  pertemuan dengan  dokter yang akan melakukan operasi beserta timnya. Dijelaskan secara detail apa yang akan dilakukan dalam operasi bental ini. Operasi bental adalah pengantian katub pada jantung dan repair pembuluh darah aorta. Juga diberitahu apa saja yang dilarang pasca operasi, berapa lama boleh aktivitas kembali dan kegiatan terakhir mengikuti tour ke ruang operasi dan ruang ICU. Jam 9 malam selesai mendampingi, aku langsung pulang dan kembali besok jam 6 pagi.

Aku dan anak2 diminta ikut mengantar juragan ke ruang operasi, kita berpisah dipintu ruangan. Operasi akan berjalan selama 5-6 jam, begitu penjelasan dokter tadi dan penantian itu terasa begitu panjang. Lantunan doa tak putus aku panjatkan, juga dari keluarga, sahabat dan teman2 yang sangat mensupport. Ditengah perjalanan operasi, menantu yang sedang menunggu kelahiran, mengeluarkan flek dan mulai mules. Aku suruh mereka berangkat ke rumah sakit dan aku akan menyusul setelah urusan juragan selesai.

 

setia merawat..hehehe

Baru tiga jam berjalan, aku dipanggil dokter. Alhamdulillah operasi sudah selesai dgn lancar dan sukses tanpa perdarahan sama sekali,  aku dan si kk diajak menemui Juragan di ruang ICU. Dia mulai sadar dengan segala selang  yang menghiasi tubuhnya dari kaki, hingga kepala. Luar biasa hebat kuasaMu yaa…Rabb dan acungan jempol buat tim dokter. Aku bisa bernapas lega dan bermunajat kalau boleh, cucu lahir setelah juragan kembali ke rumah.  Komat-kamit mulutku  melantunkan doa dengan khu’su kembali, Alhamdulillah mendapat kabar kalau belum akan melahirkan.

Cucu lahir 

Semalam diruang ICU, paginya dipindah ke ruang pemulihan. Ga gampang menunggu di masa pandemic, keluarga ga boleh ada diruang tunggu bila malam, sementara ditinggal pulang juga ga boleh. Aku mbambung tidur di mobil. Sewa kamar  disamping rumah sakit,  nyaliku ciut karena zona merah covid. Di hotel yg ga jauh pun, aku ga berani. Mobil adalah tempat teraman untukku saat itu. Hari ketiga boleh ditinggal dan aku kabur pulang, saat itu badan rasanya butuh istirahat. Dua malam dirumah, pagi ditlp dokter  agar datang ke rumah sakit, karena juragan udah akan dipindah ke ruang perawatan. Alhamdulillah…. aku bisa menemani juragan di kamar perawatan dan dihari ke delapan sudah boleh meninggalkan rumah sakit. Alhamdulillah yaa Allah…

Doa ku dikabulkan Allah,  sehari setelah juragan di rumah cucu lahir. Alhamdulillah…walau harus melalui SC karena baby kebesaran, 4,3 kg bo’…hehehe.  NikmatMu yang mana lagi yg aku dustai yaa Rabb..

Kembali  after operasi
 

Aku diberi pelatihan praktis untuk merawat luka operasi dan lainnya di rumah sehari sebelum Juragan pulang, jadi perawat pribadilah aku…hehehe….  5 hari setelah di rumah, mulai  menjalani rehabilitasi fisik sebanyak 12 x pertemuan. Jam 6 pagi kita udah jalan ke RS dan jam 10 kegiatan selesai. Juragan dilatih senam dan berjalan, untuk mengetahui  kekuatan jantungnya setelah operasi. Tapi ternyata pasiennya bandel, jadi ada 2x dia over capacity dalam berolahraga. Atau tangannya gatal, aku meleng sedikit, dia beberes dan cuci mobil. Naah…kejadian lagi, katanya berasa muter, pandangan gelap dan keluar keringet dingin.  Dasar emang orangnya ga bisa diam, jadi pengawasan diperketat.

Klo aku lagi di dapur, setiap 10-20 menit aku panggil….”Bos lagi apa?” Klo ga ada jawaban, langsung  aku cari, dan ditemui lagi  nongkrong di warung  atau ketemu teman-teman di masjid. Pokoknya berbagai alasanlah. Aku paham kok kalau dia boring di rumah dan ga ada aktivitas apa-apa, tapi mau gimana lagi. Memang hanya istirahat yang diperlukan untuk memulihkan dan menyembuhkan seperti awal.

 

Luka operasi yg sdh  bagus

Namun kejadian –kejadian kecil  tersebut  membuat kondisi juragan terus menurun,  dan akhirnya aku memutuskan untuk stop melanjutkan rehab. Sore itu dia keluar lagi  entah kemana, saat aku tinggal salat. Juragan cengar cengir saat kutemui lagi ngobrol di pos keamanan. Yaaa…emang butuh kesabaran tingkat dewa, ngadepin juragan..hehehe…

Sore itu setelah aku mandikan, merawat luka operasi dan  aku buatkan teh manis hangat dengan  camilan mari regal  sambil  nonton TV. Aku tinggal  setrika di  lantai atas. Ternyata tiba-tiba napasnya sesak,  dia  manggil2, tapi aku ga dengar.   

Saat aku turun, juragan tidur di kamar tp mukanya pucat dengan napas satu-satu. “Aku ga bisa napas, Ma.” Badannya bersimbah keringat, aku memberikan obat yang diletakan dibawah lidahnya.  Pelan-pelan napasnya mulai teratur kembali, “Alhamdulillah…udah enak napasnya Ma.”

 

Bahagia sdh bisa main dg cucu 

Aku melanjutkan memasukan  baju ke lemari, tetiba  dengar juragan teriak-teriak.  Juragan  anfal dan  ga sadar, matanya terbuka tapi ga ada reaksi. Si Ade baru pulang kantor, langsung tlp ke kantornya minta dikirim ambulan sambil nangis liat kondisi papanya  seperti itu.

Aku tetap tenang menghadapi situasi ini, karena sudah mendapat pelatihan praktis di RS jika hal ini terjadi. Satu persatu tetangga datang, karena mendengar tangisan si Ade. Juragan masih terus meracau ga jelas, pelan tapi pasti juragan mulai sadar tapi masih belum mengenal aku.  Si Ade makin meraung tangisnya dan aku tenangkan.

“Papa ga boleh dibawa ke rumah sakit Ade, kondisi pandemic seperti ini IGD bukan  tempat aman bagi penderita jantung. Kalau obat yang mama kasih sebanyak 3x dan ga ada reaksi, baru kita bawa.”  Ade mulai tenang dan juragan mulai sadar penuh, satu persatu tetangga yang dilihat dia sapa. “Ada apa Ma, kok pada ke sini?  Mama di sini aja dekat aku dan  jangan kemana-mana ya” 

Setelah tenang, aku ganti bajunya yang basah kuyup. Sejak itu juragan mulai susah makan, sering mengigil kedinginan dan sesekali  napas terasa sesak. Melihat kondisinya  yang terus menurun, aku ga mau ambil resiko.  Aku menghubungi dokternya.  dan disuruh untuk dibawa ke rs keesokan harinya.  Sesuai pesan dokternya untuk periksa darah, HB, INR dan membawa hasil echografi terakhir.  

Juragan  ga kuat  jalan jauh, terpaksa aku tinggal di mobil sementara kau mengambil  kursi roda di klinik. Ternyata hasil labnya semua turun, yang paling  parah keencerahan darahnya melambung tinggi, sementara  lainnya meluncur turun, begitu juga  tekanan darahnya hanya 70/59 aja. Ada beberapa obat yang harus diatur ulang dosisnya  dan harus  echografi kembali. Dua hari lagi kembali dengan hasil lab dan echografi terbaru.

Dua hari berikutnya, kondisinya makin  drop. Akhirnya diputuskan untuk dirawat, tapi sementara di tempatkan di IGD karena ICU penuh.  Aku lebih khawatir dengan kondisi ini dari pada saat menjalankan operasi.  Aku terdampar kembali di rumah sakit ini  tanpa membawa baju sama sekali.  Alhamdulillah selepas magrib Juragan dipindah ke ruang ICU, karena ada pasien yang dipindah ke ruang perawatan. Dokter memberitahu kondisi juragan setelah semua hasil cek keluar. Dengan INR yang tinggi tapi tidak terjadi perdarahan, maka sesak yang dirasakan karena ada cairan di selaput jantung dan harus disedot.

Untuk dapat mengeluarkan cairannya ga semudah itu, kondisi harus stabil dulu. Juragan di transfusi darah 2 kantong,  karena HB nya terjun bebas.  Si kk dan keponakan  sebagai pendonornya, Alhamdulillah  golongan darahnya sama dengan papanya. Bukan hanya itu, tekanan darah juga ikut meluncur  kebawah tapi keenceran darah berkibar diatas dengan pongahnya.

Lantunan doa ku tak putus menggedor langit, berharap semua ini cepat berlalu.  Hari pun seakan berjalan begitu lambatnya, pertanyaanku pun tetap sama saat bertemu dokter. “Bagaimana dengan HB, tensi & INR nya dokter?”   Alhamdulillah HB normal setelah transfusi, tensi pun mulai stabil. Hanya INR agak lambat bergerak turun,  sehingga belum dapat dilakukan tindakan. Di hari ketujuh  INR mulai menurun dan  dokter merencanakan akan melakukan tindakan untuk mengeluarkan cairan. Namun  hari yang ditentukan batal dilaksanakan, karena ruang tindakan full.  Akhirnya hari yang dinanti pun tiba, aku diminta ikut mengatarkan  ke ruang tindakan.

Kondisi ini membuat aku terpukul, apakah karena aku kurang ketat dalam mengawasi dan teledor dalam mengurusnya atau Juragan yang kurang mau bekerjasama melalui pasca operasi ini?   Sudahlah, rasanya aku ga perlu mencari  jawabannya. Lantunan  doa  tak putus  aku panjatkan, berharap dapat  menggedor  langit  agar Juragan ku kembali sehat. 

 

Juragan saat ini 

Kadang kita merasa orang yang paling menderita, ternyata masih ada yang tidak seberuntung kita. Diruang tunggu keluarga pasien, kami layaknya keluarga. Saling menguatkan, mendoakan dan saling bantu. Beragam kisah pilu tertuang di sini dan kita bisa bercermin, apakah perlu bersedih berlebihan menghadapi  kondisi  ini. Walau bagaimana pun rasa khawatir itu seakan merobek dinding jantungku, perih  yang tak ada duanya. Seakan separoh jiwa ini nyaris raib.

Kata pepatah “Di atas langit, masih ada langit” Kita merasa paling sedih dengan kondisi keluarga yang sedang di rawat, tapi ada orang lain yang lebih patut sedih dari kita. Seorang keluarga dari daerah harus menahan lapar, karena tidak memegang uang untuk dapat mengisi perut. Biasanya kita sama-sama berbagi dan ada pula yang biayanya ditanggung perusahaan, tapi setelah tiga tahun sudah tidak bekerja lagi dan asuransi tertebut tidak pernah diurus untuk menjadi asuransi personal.

Dokter memberitahu, kalau biaya asuransinya telah limit. Ruang ICU kelas tiga semalam biayanya 15 juta belum termasuk obat, sementara suaminya telah 10 hari di ICU.  Dia disarankan untuk mengurus BPJS agar biaya pengobatan suaminya dapat dicover. Tau ga gaes!....saat makan siang, dokter tersebut mengirimkan nasi box buat istri pasiennya dan malam pun dikirimkan kembali. Masya Allah……betapa mulianya dokter tersebut.

Ngomong-ngomong soal BPJS sesuai yang aku alami, ini luar biasa. Aku tidak banyak keluar biaya, boleh dibilang sangat sedikit.  Sejak tahun 2019 dirujuk ke sana, hanya biaya transportasi yang kami keluarkan. Semua free….bahkan aku sampai bilang serasa punya rumah sakit pribadi..hehehe

Souvenir dr  Rumah Sakit

 

Bayangkan untuk ruang ICU kelas tiga aja 15 juta perhari, kebayangkan untuk kelas satu berapa. Sementara saat dirawat terakhir, Juragan 10 hari di ruang ICU. Padahal waktu operasi hanya 2 malam di sana. Obat yang dibeli sendiri seharga 280.000, tapi itu bukan obat minum. Namun obat untuk merawat luka selama seminggu dan membeli plester seharga 32000, karena Juragan alergi dengan plester yang digunakan diruangan perawatan. Mahalan biasa  konsumsi yang nungguin kale….hahaha… Setiap bulan control dan pulang membawa obat untuk sebulan, itupun gretong.

Daftar ga perlu berdesakan, apalagi harus datang pagi-pagi. Cukup melalui online, kita akan dapat nomor urut dan harus datang jam berapa semua sudah tertulis. Enak kan! Tapi itu yang aku alaminya. Sementara surat rujukan dari klinik dekat rumah, diperpanjang 3 bulan sekali aja & ngurusnya juga ga ribet.  Pokoknya Alhamdulillah, kalau kata  si Ade. Kalau bayar pasti mama harus jula mobil, rumah dll, itu juga belun tentu cukup kali…hehehe.  Jadi BPJS itu, “Kau dicaci tapi di puja”…….

Apapun alasannya, kalau boleh milih aku ogah sakit aja aaah…..Tapi  Allah akan selalu memberikan cobaan kepada umatnya, agar lebih kuat dan banyak bersyukur.  Melihat perkembangan kondisi Juragan, aku mulai  melonggarkan aktivitasnya  sesuai pesan dokter, andai sudah tiga bulan beberapa kran aktivitas  sudah boleh  dilakukan.   Sehat ya Juragan kuuuh dan jangan pernah  kembali ke ICU lagi.