Selasa, 27 Februari 2018

NIKMAT MU YANG MANA LAGI YANG DAPAT KAMI DUSTAI




Kebahagiaan adalah berbagi


Assalamualaikum   

Mengarungi  biduk  rumah  tangga   selama  34 tahun, memang bukan hal mudah. Kadang ada riak menghadang, bahkan ombak dan badai pun menerjang  tapi aku dan suami alhamdulilah dapat menjaga biduk kecil kami tetap aman.  Riak itu bisa datang dari keluarga kedua belah pihak, misalnya adik/kakak, sepupu atau keluarga lainnya. Sementara ombak yang menghatam itu akan memporak porandakan biduk kecil ini, andai  ego dan emosi tak terkendali. Ombak yang datang berasal dari pihak luar  dan biasanya karena kesalahpahaman atau lebih mengedepankan ketidakpercayaan. Alhamdulillah semua badai itu bisa kita lalui sampai  saat ini. 

Keluarga kecilku

Selama itu tentu bukan hanya  riak, ombak dan badai yang selalu kita alami, kebahagiannya jauh lebih banyak  yang kami alami. Bagaimana kita membangun keluarga kecil ini dari awal dan momen bahagia pertama saat aku dinyatakan positif hamil, setelah menunggu selama tiga tahun. Namun sayang, Allah berkehendak lain, kebahagian menerima anugrah terindah tersebut harus pupus. Hanya satu minggu aku merasakan kebersamaan  dengan si kecil dan secepat itu harus pergi, karena kelainan jantung. Ini lah saat aku berada dititik paling terpuruk, bahkan suami sampai stress sehingga  jantungnya bermasalah. Seiring berjalannya waktu, kita dapat melalui ini semua dengan baik. 

Melahirkan melalui secsio pada tahun delapan puluhan, belum semodern sekarang tentunya.  Aku harus menunggu selama dua tahun untuk boleh hamil kembali sambil memulihkan kondisi. Untuk melupakan kejadian tersebut, aku masuk kantor sebelum masa cuti melahirkan selesai. Bahkan aku mengambil kuliah lagi dan  akhirnya momen bahagia itu datang kembali saat aku   melahirkan si kakak di tahun 1989 dengan selamat dan sehat, walau tetap melalui secsio. Hal itu dilakukan karena kondisi rahimku yang menempel di dinding perut.  Aah… aku gak peduli yang penting  anak lahir dengan selamat.

Si kakak & Ade
Waktu berlalu begitu indah dalam kebersamaan bersama si kakak yang tumbuh sehat dan lucu. Dan setelah kakak berusia empat tahun, aku hamil  sudah  4 empat bulan. Maklum aku gak mens setiap bulan, jadwalku hanya  3-4 x dalam setahun & aku juga gak pernah ikut KB.  Namun janin itu terkena tosoplasma dan aku perdarahan hebat, akhirnya janin  harus direlakan keluar dalam usia 20 minggu. Masih di tahun yang sama, aku diberi kepercayaan hamil kembali, tapi berbagai masalah harus aku lewati.  Ternyata rahimku sudah dalam kondisi gak bagus, hanya tinggal 30 % kata dokter. Perlu hati-hati dan perlu  penanganan khusus, apalagi usiaku  sudah hamper 35 tahun. Seminggu 2x harus suntik penguat & bolak balik harus dirawat, puncaknya saat kandungan berusia 7 bulan. Bed rest total dan gak boleh banyak gerak, gak boleh nonton TV dan gak boleh baca apapun. Kebayangkan, hanya tergolek di tempat tidur & hanya boleh berbalik ke kiri dan kanan sekali dalam sehari. Gak boleh turun dari tempat tidur, kecuali ke  kamar mandi. Itu pun jaraka tempat tidur & kamar mandi tidak  boleh lebih dari  5 langkah saja. 

Aku diperbolehkan  pulang setelah sebulan di rawat, tapi tetap hanya boleh telentang aja di tempat tidur  & itu pun tidak berlangsung lama. Aku harus dilarikan ke rumah sakit, karena perutku kontraksi hebat dan  dokter menyuruh suamiku untuk segera ke rumah sakit. Hari itu juga si baby harus dilahirkan, setelah menyelesaikan infus untuk memperkuat paru-parunya. Masalah baru timbul saat aku berada di meja operasi, ternyata  biusnya tidak membuat aku tertidur.  Akhirnya harus ditambah dosisnya,  setelah berhasil dan baby telah dilahirnya dia tidak menangis. Di tepuk-tepuk pantatnya oleh dokter anak, tangis itu juga tidak  muncul.  Namun  tangisnya pecah, saat kakinya direndam di air es. Daaan yang membuat aku sangat bahagia, setelah diberitahu kalau anaknya  Itu  seorang  perempuan.  
 
si Ade bergaya klo lagi nenen
Lengkap sudah  yang  kumiliki, si kakak laki-laki dan si ade perempuan. Subhanallah…nikmat mana lagi yang bisa aku dustai ya Rabb. Namun perjuangan itu belum berakhir, si ade gak mau menyusu dan kuning.  Akhirnya ASI diberikan dengan cara disonde lewat hidung, menurut dokter karena fungsi organ tubuhnya belum siap.  Semua ini tentu akan ada ujungnya, aku diperbolehkan pulang  tapi si ade belum.  Aku bertahan akan tetap di rumah sakit sampai si ade bisa aku boyong pulang, dengan kondisi sehat wal afiat. Mutiara hati kami ini, kini telah dewasa. Si kakak telah menikah, sementara si ade sudah bekerja.  
Pernikahan kakak

Kini masa  pensiun aku nikmati dengan penuh rasa syukur, walau semua tidak  berjalan sesuai yang  telah direncana. Namun manusia hanya bisa berencana,  semua keputusan ada ditangan Allah.   Allah tidak memberi apa yang kita minta, tapi memberi  yang dibutuhkan  dan tentu terbaik  bagi  kita.
Mengisi masa tua dengan memperbanyak  ibadah dan Alhamdulillah tepat saat pensiun tiba kami dapat dengan tenang  menjalani rukun islam ke lima  bersama-sama. Ini lah momen bahagia yang sangat luar biasa bagi kami, apalagi  waktu menunggu  antrian keberangkatan yang  tidak sampai tiga tahun. Kami sengaja memilih yang regular, agar  dapat puas menjalankan ibadah dengan waktu yang  panjang.  Subhanallah……nikmat Mu yang mana lagi yang dapat kami dustai.

Bersama Juraganku
Kelonggaran waktu saat ini aku manfaatkan untuk lebih meningkatkan  ibadah, karena  usia makin berkurang. Sementara  persiapan untuk pulang  menuju keabadian, tidak ada kepastian  kapan datangnya. Kebahagiaan   lain kini saat berbagi dengan sesama. Ternyata berbagi bukan hanya memberikan sesuatu/materi, tapi menebarkan kebaikan, ilmu dan senyum saja sudah lebih dari cukup membuat orang lain bahagia. Berbagi  kebahagiaan kepada orang lain merupakan kebahagiaan yang hakiki bagiku diusia senja.  

Awalnya aku hanya ikut kegiatan ini dari jauh, dengan cara menitipkan kepada seseorang  yang rutin mengadakan sedekah nasi. Aku suka banget dengan kegiatan ini dan berpikir untuk mencoba membuat sendiri, apalagi  waktu ku banyak senggang.  Ternyata   melakukan  sendiri  dengan berkeliling ke tempat-tempat tertentu dan  bertemu orang-orang  yang  begitu  bahagian  menerima rejeki tersebut, membuat  aku meleleh.  Duuh…Gusti,  lindungilah mereka dan limpahkan rejekinya. Tatapan bahagia mereka, membuat kebahagian tersendiri  padaku.   Yaa…Rabb….tuntuntalh aku selalu untuk selalu berbagi kepada saudara-saudara yang membutuhkan. Kebahagiaan itu akan menghampiri, saat kita mensyukuri nikmat yang Allah berikan.

Menjalanin rukun islam ke 5
#ALUMNI_SEKOLAH PEREMPUAN

10 komentar:

  1. Sejenak membaca perlahan, ah Bunda Srie senang rasanya bisa membaca flashback kisah masa lalunya Bunda. Perjalanan yang penuh cerita, apalagi pengalaman lainnya keluar negeri beluk ditulis, makin seru. Sehat terus yaa Bunda, supaya saya bisa banyak belajar menjadi Ibu yang bijak saat anak beranjak usia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah...itu harapan saya mba Dira, melalui goresan dpt bermanfaat bagi banyak.orang. suwun ya udah mampir

      Hapus
  2. Alhamdulillah ya Mbak Srie..keluarga sehat semua..anak-anak sudah dewasa. Tinggal menyukuri apa yang dianugerahkanNya dengan banyak berbagi pada sesama. Barakallah untuk Mbak Srie sekeluarga..

    Say panggil Mbak aja yaaa..karena kakak tertua saya sepertinya sepantar Mbak Srie :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Mba Dian, aamiin yra. Makasih doanya. Silakan Mba Dian, klo digroup JA mereka buasa memanggil saya dg Mak bun...hehehe

      Hapus
  3. Alhamdulillah nikmat itu terus mengalir

    BalasHapus
    Balasan
    1. In shaa Allah Mba, bwgitu juga doa saya pd kel Mba. Suwun udah mampir

      Hapus
  4. Amiin, alhamdulillah selalu dalam lindungan dan barakahNya. Amiin

    BalasHapus
  5. Sehat terus ya MakBun... senang rasanya membaca kisah hidup yang inspiratif seperti ini. Go higher, Makkk 😊😊

    BalasHapus