Rabu, 18 Juli 2018

KLOTER 43 (3) MANASIK & PERSIAPAN BERANGKAT

bersama keluarga yang mengantar
Baru berjalan selama 2 tahun menanti panggilan keberangkatan haji, ternyata aku dihubungani Kanwil Depag dan ditawarkan. Apakah aku mau dimajukan keberangkatannya? Aku bilang nanti mau tanya ke suami dulu & ternyata dia ngga mau, karena masih kerja. Takut ibadahnya ngga tenang, kalau tahun depan aku sudah pensiun, begitu alasan suami.  Akhirnya  aku menghubungi  petugas Kanwil Depagn  untuk menyampaikan penolakan atas tawarannya. Tapi saat aku telpon, petugas tersebut bilang, "Kalau ibu mau, ada tambahan biaya sebesar 7 juta untuk berdua".....katanya lagi bayarnya ke kanwil...... ealaaah...ini mah akal-akalan, karena semua pembayaran ibadah haji melalui bank. 

Aku dan suami memang sengaja ibadah haji ini, tidak menggunakan jasa KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji). Karena mendengar cerita teman & juga sudah janjian sama teman, disamping ingin berhemat juga. Lumayan loh biaya KBIH itu 5-20 juta, karena aku & suami kan di rumah jadi bisa lah mengurus sendiri untuk keberangkatan ibadah ini.

Setelah waktu yang ditunggu tiba, sejak awal tahun kita harus rajin-rajin telpon ke Kanwil Depag. Begitu pesan petugas, ternyata kita tuh ngga dihubungi. Jadi kita yang harus aktif mencari info. Sedih ya!   Taro di web site kek, biar kita ga perlu telpon & mondar-mandir ke kantor Kanwil. Maklum telpon sering sibuk, atau ditempel di papan pengumuman kantor. Jadi kita ga perlu tanya kanan-kiri. Akhirnya aku menarik kesimpulan, kenapa sebagian besar calon jamaah haji  memilih  KBIH. Mereka malas mengurus sendiri ke Kanwil Depag yang memang membutuhkan waktu, tenaga dan kesabaran tingkat dewa. 

kamar di asrama haji Pondok Gede
Kalau menurut aku sih itu pandai melihat peluang, keribetan mengurus  itu dijadikan lahan usaha & setahu aku kebanyakan pemilik BKIH adalah pegawai Depag sendiri. Kalau bukan, pasti dibelakangnya ada orang dalam yang membantu. Hal ini tentu ada sisi positif & negatifnya, apalagi peluang ini ditangkap juga oleh biro perjalanan, yang akhirnya menjamur dengan bendera Biro Perjalanan Haji Plus & Umroh. Menurut aku lagi nih, KBIH itu merupakan kepanjangan tangan Depag urusan haji, yang mungkin tidak dapat menyentuh semua calon jamaah kalau hanya dilakukan oleh Depag sendiri. Namun KBIH tetap dibawah pengawasan Depag dan ada persyaratnya sendiri.

Menurut aku pribadi sisi positifnya, calon jamaah dapat terbebas dari urusan keberangkatan sampai  selesai. Mulai dari pendaftaran, mengurus perlengkapan, dapat   kloter berapa dan berangkat tanggal berapa itu sudah bisa diketahui jauh-jauh hari. Pendek kata semua diurus oleh KBIH atau biro jasa di bidang tersebut.

Sementara sisi negatifnya, kebanyakan calon jamaah yang ikut KBIH tidak mengikuti manasik haji yang dilakukan oleh KUA di  kecamatan masing-masing, tapi mengikuti yang diselenggarakan oleh KBIH. Memang  materi yang disampaikan sama dengan yang diadakan KUA, hanya ada materi yang menurut aku tidak diberikan di KBIH. Seperti  barang-barang apa saja yang boleh dibawa dan yang tidak boleh atau kalau bahasa penerbangannya "Dangerous Goods"  Mengapa?  Karena materi tersebut hanya boleh diberikan oleh nara sumber  yang   memiliki "license yang dikeluarkan oleh Direktorat Kemanan Penerbangan, Dirjen Perhubungan Udara dan telah mengikuti training dangerous goods.

Bukan hanya sekedar pernah berkali-kali naik pesawat, lalu bisa memberikan materi tersebut.   Apalagi calon jamaah banyak yang sama sekali belum pernah naik pesawat, bahkan tidak sedikit yang buta huruf.  Menjelaskan cara menggunakan toilet aja sulit, apalagi tentang dangerous goods.

Untuk urusan yang berhubungan dengan keadaan di dalam pesawat, tidak sembarang orang dapat menjadi nara sumber. Bahkan seorang pegawai di penerbangan sekalipun, kecuali dia seorang awak pesawat yang telah mendapat pendidikan. Karena penyampai materi di dalam pesawat, rata-rata harus memiliki lisence yang dikeluarkan Dirjen Perhubungan Udara, Departemen Perhubungan. Jadi tidak sembarangan karena akan berakibat fatal. Maaf aku mengatakan ini, karena aku  paham dan   pemegang license sebagai mantan awak kabin dan instructur.
Dangerous goods
Calon jamaah KBIH diberi daftar barang yang harus dibawa, antara lain bahan-bahan makanan yang kadang dilarang. Seperti: minyak goreng, kompor listrik dan lainnya yang tentu sudah menjadi rahasia umum setiap musim haji tiba. Kecuali makanan matang yang umum, seperti rendang, empal, kering tempe/ kentang dan makanan yang diperbolehkan. Padahal kompor listrik, Magic jar dll juga tidak dapat digunakan disana, karena beda volt listrik di indonesia dengan di arab saudi. Kita bisa loh beli di sana dengan dana sharing dengan teman sekamar. Kalau hanya kangen dengan masakan indonesia, banyak kok warga kita yang berjualan selama musin haji di sekitar hotel.  Sepertinya kita harus mengubah mind set bahwa ke sana itu untuk ibadah, bukan untuk sibuk memikirkan perut. 

Setelah mendapat kepastian keberangkatan, kita wajib melapor ke kanwil Depag dan setelah itu   diminta untuk juga melapor ke KUA Kecamatan tempat tinggal. Yang menjadi pertanyaanku, mereka mencatat  menggunakan komputer. Kalau ngga online ke KUA kecamatan, kan bisa kirim data melalui email, bukan jamaah sendiri yang harus melakukannya. Iya ga sih?  Ada yang mudah kenapa dibikin ribet ya....hehehe...

Seminggu setelah itu, aku dibuat terkejut karena ada pegawai kecamatan yang datang ke rumah, perempuan lagi mengantarkan jadwal manasik. Apakah ini efek teguranku waktu melapor kesana, aku memang sempat bertanya, "Kenapa kita sendiri yang harus lapor ke sini, kan ada email kalau memang tidak ada sarana online antara kanwil Depag & KUA Kecamatan." Tapi alhamdulillah kalau memang seperti itu. Sesuai jadwal ada 7 kali manasik, 5 kali di kecamatan & 2 kali di walikota.

Manasik pertama yang ikut sangat banyak, calon jamaah hanya menandatangi absen yang telah tersedia. Manasik dibuka oleh Bapak Camat  dan Kepala KUA, acara seremonial. Dilanjut dengan materi pertama pengetahuan dan hadist2 tentang ibadah haji dan sejarah haji indoesia. Materi tentang ibadah haji sampai cara menggunakan ikhrom dan praktek tawaf di halaman kecamatan. Manasik dilakukan setiap hari  sabtu/minggu dan kita mendapat konsumsi berupa snack dan maksi dalam box.

Materi ke tiga tentang pengenalan isi kabin pesawat, cara menggunakan toilet, menaruh barang dan ukuran koper sertas tas yang akan dibagikan.  Sesuai jadwal  nara sumber adalah pegawai PT. Garuda Indonesia, tapi apa yang terjadi!!!.......Narsum digantikan oleh pegawai Depag yang katanya sudah 5 kali naik pesawat, itu pun karena dinas. Awal-awal aku masih bisa menahan diri mendengarkan uraiannya, tapi saat menyetuh hal-hal yang berhubungan dengan keselamatan penerbangan, ngawur. Akhirnya aku menemui  pegawai kecamatan & protes tentang nara sumber tersebut.

Awalnya si petugas seperti ga menanggapi keberatanku, aku minta ketemu kepala KUA.  Setelah aku jelaskan panjang lebar kepada Kepala KUA, seperti yang disampaikan itu salah & dia ga berwenang menyampaikan materi tersebut. Setelah mendengar ocehanku, Ketua KUA bertanya, "Memang ibu siapa?  Saya memang bukan siapa-siapa, tapi saya mantan awak kabin & intrucktur siswa pramugari Pak,  Jawabku rada dongkol. Sekarang kebalik, dia yang terbengong dan setelah itu meminta maaf. Aku minta materi tersebut untuk diulang oleh petugas yang kompeten, karena sangat penting. Pak KUA berjanji akan mengulangi materi tersebut dan manasik di wali kota juga akan diulang lagi. Beliau juga minta maaf, karena tidak mengerti dan menghentikan penyampaian yang sedang berlangsung. Memang kalau dipandang masyarakat umum, itu hal sepele dan toh nanti ada pendamping. Namun itu akan fatal akibatnya dalam sebuah penerbangan, apa salahnya kita menjaga segala kemungkinan yang akan terjadi. Penerbangan itu sangat tinggi resikonya, maka semua harus mengikuti ketentuan yang ditetapkan.

Setiap nara sumber yang menyampaikan materi, diakhir penyampaian selalu mempromosikan KBIH, agar calon jamaah ikut pada KBIH nya. Hal ini bikin sebel itu kata-kata promosinya, "uang 5 atau 7 juta itu ga ada artinya kalau buat ibadah, dari pada repot ngurus apa-apa sendiri."  Huuuu...nyebelin, emang ga ada kata-kata yang lebih sopan gitu?!. Tapi ada loh, seorang nara sumber yang berani tampil beda, memang dia pegawai Depag, malah aku dapat info dia seorang pejabat Kanwil Depag dan seorang ustadz. Sementara nara sumber lain promosi untuk calon jamaah ikut KBIH, tapi dia menjelaskan bahwa ada juga kelompok haji mandiri. Jadi calon jamaah dibimbing langsung oleh petugas Depag tanpa mengeluarkan biaya tambahan, selain ONH. Akhirnya banyak calon jamaah yang mengajukan diri menjadi calon haji mandiri & kami dikumpulkan dari seluruh wilayah di provinsiku.

Konsekwensi calon jamaah mandiri, semua diurus  sendiri. Sementara urusan kloter dan lainnya, diurus ketua calon jamaah mandiri. Seluruh calon jamaah mandiri membuat pertemuan sendiri dan menentukan tanda sebagai ciri khas kelompok kita & calon jamaah mandiri ini ada 1 kloter dengan jumlah 455 jamaah. Seru pokoknya, semua dikerjakan bersama, dari kita untuk kita & kompak. 
Baitullah yang aku ambil dari lantai 2
Saat pembagian koper & travel bag sambil melihat kita ada di kloter berapa. Pengambilan koper ga terlalu rumit dan aku mendapat  "Kloter 43" seperti yang aku cantumkan di judul tulisan ini. Kita berangkat 5 hari menjelang Idul Adha. Btw koper,   travel bag & tas dokumen yang diberikan, kualitasnya memprihatinkan. Roda travel bagnya  banyak yang rusak, tali tas dokumen punyaku lepas & koper banyak jahitannya yang dedel...hehehe....Kondisi tersebut  menjadi lahan penghasilan di asrama haji. Di sana sudah tersedia orang-orang yang menawarkan jasan untuk memperbaiki tas & koper calon jamaah dengan ongkos yang sudah dipatok. Jadi sepertinya mereka sudah terbiasa, karena sudah siap di asrama,  lokasi orang-orang tersebut berada dilantai kamar calon jamaah. Berarti setiap tahun kejadiannya sama dunk ya....uups.

Masalah koper kalau dilihat dari sudut pandang orang penerbangan,  memang hanya diperuntukan untuk mono use atau sekali pakai dan terbuat dari kain yang cukup tipis untuk sebuah benda yang bernama koper. Namun kapasitasnya maksimal untuk 35 kg dan sedihnya  calon jamaah ga bisa menukar koper, travel bag maupun tas dokumen, apabila saat ngambil dalam kodisi tidak bagus/rusak. Yo wis...trimo wae & mau ga mau perbaiki sendiri. Seragam batik juga bukan diberikan loh, tapi beli sendiri & Kanwil Depagmenyediakan andai calon jamaah membutuhkan. Namun jangan takut, di tanah abang batik haji mudah didapat dengan harga antara 100-200 ribu rupiah perpotong.

Calon jamaah masih mengikuti manasik yang diadakan di walikota dan aku tetap menyayangkan, penjelas tentang barang-barang bawaan yang berupa cairan dan lainnya. Kalau yang satu kelompok bersama  dengan aku, bisa aku kasih tau tapi tidak  gimana?  Bukan aku sok, tapi hal kecil seperti itu akan menimbulkan masalah bagi para calon jamaah. Masalah yang timbul di asrama, saat perlengkapan mandi yang disimpan di travel bag berisi cairan yang isinya melebihin 100 ml, tidak boleh dibawa ke dalam kabin. Harus dimasukan ke dalam koper yang diletakan di bagasi. Calon jamaah keberatan barang bawaannya harus ditinggal, akhirnya beramai-ramai mengambil koper yang telah disimpan petugas. Dengan sedikit argumentasi, bahwa itu salah satu kesalahan manasik yang kurang jelas. Petugas mengalah dan memberikan koper-koper calon jamaah yang telah siap dikirim ke bandara. 

Di asrama haji sebelum mendapatkan kamar, kita mendapatkan gelang yang bertuliskan nama calon jamaah, kloter, asal daerah dan negara, serta  hotel tempat menginap. Juga menerima uang living cost selama di Mekah, karena kita harus membeli makan sendiri.  Kita menginap semalam dan besok akan berangkat ke Jedah. Calon jamaah diberangkatkan ke bandara Soekarno-Hatta dan ternyata masih banyak yang memasukan benda cair di dalam travel bag. Akhirnya terjadi, saat melewati x-tray banyak calon jamaah yang harus merelakan  barang-barangnya diambil petugas bandara, karena isinya melebihi ketentuan.  Apapun alasannya, ya itu salah satu kejadian yang seharusnya tidak terjadi.  Bersambung





16 komentar:

  1. Serunya waktu kompak begitu yaa Bunda Srie. Ya Allah semoga segera dimampukan berangkat haji 😍 ditunggu cerita selanjutnya Bunda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siip....aamiin yra. in shaa Allah dikabulkan Mba

      Hapus
  2. "akal akalan" :)

    saya kok masih awam sekali ya dengan sistem haji ini, meskipun sudah mendaftar tapi kok rasanya masih kurang saja informasi yang saya dapatkan... :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. awalnya saya juga seperti itu Pak, tp klo kita ikut haji mandiri jangan segan bertanya ya Pak, langkah2 apa lagi yg harua diambil. Kecuali ikut KBIH. Setahu saya th ini calon jamaah diberika buku panduan, semoga buku tsb dpt menjawab keingintahuan calon jamaah. Menurut info teman yg me jadi.petugas haji, di mina maktabnya telah menggunakan tempat tidur. Bukan hanya katpet saja. Terima kasih Pak Affan Ibnu Rachmadi telah mampir, semiga dilancarkan saat ibdaha nanti.

      Hapus
  3. Owwhh gitu ya bunda, ada yg ngurus sendiri ada yg di urusin depag, supaya ngg ribet mungkin ya bun, tp lumayan juga yaa

    Eehh btw, bunda sri dulu pramugari yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba, tinggal pilih mau yang aman.
      Betul Mba, awal kerja sebagai pramugari udara hampir 10 tahun

      Hapus
  4. Wah memang harusnya penerbangan dijelaskan Sama ahlinya ya, Mak. Semoga dilancarkan ibadahnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba, karena ngga semua orang mengetahui walau dia bekerja di penerbangan. Karena semua didapat dari training yang diberkkan perusahaan. Aamiin yra.

      Hapus
  5. Pantes saja dibilang "haji" adalah lahan subur dana dikorupsi. Ternyata riweuhnya segitu banget urusannya.

    Padahal untuk ibadah, kenapa dibikin susah..Kasihan yang sudah bertahun-tahun berencana susah payah ngumpulin dana dan dipermainka oleh oknum petugas dengan ketidakprofesionalan mereka..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget Mba, sedih mengikuti aturan yang kita ngga ketahui sementera petugas kurang komunikatif. Itulah Mba Dian, udah2an ke depan akan terus diperbaiki

      Hapus
  6. Wuih, baru tahu seribetnya itu ya. Pantesan banyak "lahan" di sana. Tahun ini alhamdulillah mertua haji. Dari awal juga ngurus sendiri ke DEPAG. Sesuai jadwal tunggu 8 tahun dr saat mendaftar akhirnya berangkat. Tapi tetap lega ya, Mbak. Karena sudah menggenapkan Rukun Islam yang ke-5

    BalasHapus
  7. Urusan ibadah pun bisa juga jadi 'lahan' untuk meraup keuntungan pribadi ya Mbak. Miris. Pantesan saja orang jadi malas mengurus langsung, karena kesannya dipersulit gitu, ya. Semoga kedepannya layanan haji kita bisa lebih baik lagi ya Mbak. Aamiin

    BalasHapus
  8. Perjuangan untuk menunaikam ibadah haji ternyata sangat berat ya Bun.. bersyukur sudah bisa melewatinya dengan baik. Semoga para calon haji tahun ini juga dilancarkan semuanya. Amin

    BalasHapus
  9. Membaca ceritanya jadi mrinding, semoga dimampukan menjadi tamuNya ke Baitulloh aaamiinnn

    BalasHapus
  10. Seru sekali Mbak. Semoga mencapai haji mabrur ya. Masya Alloh

    BalasHapus
  11. Bunda senang sekali bacanya. Ikut berbahagia , ya bunda

    BalasHapus