Kamis, 19 Desember 2019

DESTINASI WISATA TURKY HARI KEDUA HIPPODROME SQUARE, BLUE MOSQUE DAN HAGIA SOPHIA ISTAMBUL


Blue Mosque & Hagia Sophia

Lelah yang mendera setelah mengunjungi  Istana Topkapi, Istiklal Street, Taqsim Square dan dilanjut menelusuri Selat Bosphorus.  Ditutup dengan makan malam bersama dan check in hotel, istirahat dulu kita.

Setelah  istirahat semalam di hotel Marriott Courtyard Istambul, kamarnya cukup besar dan nyaman  untuk melepas penat seharian. Setelah bersih-bersih  langsung melayang dialam mimpi, alhamdulillah tenaga sudah kembali pulih dan siap  melanjutkan ke destinasi wisata berikutnya. Diawali dengan mengisi perut di pagi hari daaan semua sumringah cerah, secerah DC yang digunakan. Kaos Orange! Terima kasih Ibu Kentjana syantik, kita jadi ikut syantik dengan kaosnya.

Di pelatan Hagia Sophia
Tau ngga gaiis….aku gemas melihat peserta terkecil kita. Dia juga pakai kaos yang sama dan menggunakan manset tangan warna hitam, karena kaosnya berlengan pendek. Lucuuuuu banget sih Aida. Dia juga bikin aku kaget dan merasa bersalah. Jadi saat  mau membantunya turun dari bus, aku mengulurkan tangan dan bilang: “Come  on baby”  dan spontan dia menarik tangannya dan bilang:

“I am not baby!” dengan mimik cemberut……..hahaha, aku cepat meralat. “Ok, pretty girl”

Dia kembali mengulurkan tangan meraih tanganku  dan tersenyum, lalu melompat turun….iiiih…lucu bingiiit deh kamu.  Itu bukan kejadian  terakhir, saat kita akan turun dari kamar dengan menggunakan lift. Aku kira semua sudah naik, Aida naik bersama Opungnya. “Ok, udah semua kan?” aku siap akan melepas tombol close pintu lift. Naaah….si Pretty girl  nyaut sambil menatapku, “Not yet, wait my Mom”

Lihat gayanya si cantik Aida
Pecahlah  tawa penumpang yang ada  lift.  Waduuuh…..Aida, kamu tuh pinter dan  gemesin bingit!.
Sambil menunggu berangkat,  lobby hotel dipenuhi lautan baju orange dan heboh berfoto ria dengan berbagai gaya. Ada satu foto yang jadi favoritku,  mau tau kah?...... Foto si cantik Aida dengan Mominya dengan baju seragam dan mimik yang lucu. Kompakan gitu dengan sang mama, nanti aku posting fotonya ya.  Akhirnya woro-woro dari Pak Andre  agar ebo-ebo naik ke bus dan jangan lupa memeriksa barang bawaan masing-masing, apakah sudah naik kebagasi bus. Yuuk…mari berangkat!

Lobby hotel  menjadi  orange















HIPPODROME SQUARE

Perjalanan  pertama  hari ini akan menuju ke Hippodrome, yang merupakan Arena Balap Kuda pada era bizantium. Lokasinya di depan  Blue Mosque atau Masjid biru.  Perjalanan dari hotel ke hippodrome hanya memakan waktu kurang dari satu jam.  Kita turun ngga jauh dari lokasi dan melewati pertokoan, café dan rumah gaya Turky. Aku suka melihat bangunan rumah ala turkey, menurut aku bentuknya  seperti korek api kalau dilihat dari kejauhan dan berjajar rapih, dengan warna-warna cerah.

Monumen Hoppodrome
Naaah….saat menuju ke hippodrome kita melewati  jajaran rumah dengan warna cat mencolok,   ada yang sama dengan warna DC kita, ada juga biru, kuning dan merah..hehehe…. Ngga mau kehilangan momen, ebo-ebo langsung berswafoto dengan background rumah tersebut, matching deh sama baju kita, walau fotonya harus ati-ati karena di jalan kecil dan   bus atau mobil berlalu lalang. 

Jajaran rumah minimalis aneka warna
Mungkin kita hanya berjalan kaki 500 meter  dari tempat turun bus ke hippodrome. Terhampar  taman dengan rumput hijau yang diatasnya bertabur bunga aneka warna, juga  berdiri  Monumen Hippodrome dengan tinggi sekitar 117 meter dan panjang 480 meter. Kita coba mengabadikan monument tersebut, tapi sayang kita tidak  ke lokasi air mancur Jerman yang merupakan pintu masuk ke Hippodrome. Obyek lainnya yang terdapat di  Hippodrome Square sekarang, seperti  Obelisk Mesir, Serpent/Spiral Column dan Konstantin II Obelisk


Taman dan halaman Hippodrome yg berabur bunga
Menurut sejarah,  Hippodrome Square dibangun pada awal abad ke-2 oleh Septimius Severus untuk tempat  hiburan publik.   Hippodrome berlokasi  di alun-alun Masjid Biru  dan sangat strategis.  Hippodrome pada zaman Bizantium digunakan  sebagai  tempat  orang berkumpul  dan berlangsung selama-berabad-abad. Tempat tersebut  menjadi saksi berbagai peristiwa, seperti perkelahian gladiator,  balap kuda dan tempat terjadinya  peristiwa berdarah. Pada jaman   Kesultanan Utsmaniyah yang berhasil   menaklukan  Konstantinopel,  Hippodrome Square  masih digunakan seperti itu.

Menurut  cerita  Qinan yang berhasil aku tangkap, Hippodrome Square atau alun-alun Hippodrome dulu merupakan  sebuah area yang menjadi pusat kegiatan olahraga dan dapat menampung  peserta sebanyak delapan kereta kuda berkompetisi di lintasan balapnya.  Satu tim terdiri dari dua kereta kuda, selain itu alun-alun  tersebut digunakan untuk kegiatan  sosial Konstantinopel,  yang merupakan ibu kota Kekaisaran Bizantium di masa tersebut.  

BLUE MOSQUE
 
Blue Mosque dg 6 menaranya (foto: Republika)

Persis di depan monumen Hippodrome kita masuk, dengan melewati  tembok berwarna hitam yang ngga bisa dibilang pintu. Hanya tembok tanpa pagar.  Ternyata kita telah memasuki halaman Masjid Biru atau Blue Mosque yang teduh, dengan rindangnya pepohonan dan terdapat kursi panjang. Kita maju sedikit terdapat toilet dan berjajar tempat wudhu masjid.  Aku dan ebo-ebo  ngga mau menyia-nyiakan waktu untuk salat di masjid tersebut. Apalagi masih dalam waktu duha, kapan lagi bisa salat di sana. Bisa buat cerita ke anak cucu kalau eyangnya  pernah salat di Masjid Biru,,,hehehe 
Pelataran dalam Blue Mosque dgn latar belakang menara

Setelah selesai wudhu kita mulai melangkah memasuki  komplek masjid. Aku takjub melangkah ke halaman atau teras  dalam masjid,  terlihat menara masjid yang mirip dengan pinsil diraut. Langsing-langsing  seperti akyu…hihihi…GR.   Ada  6 buah  menara yang dimiliki  Blue Mosque, aku mencoba berfoto dihalaman tersebut dengan latar belakang menara yang megah.

Bagian dalam Masjid Biru
Untuk masuk ke dalam masjid kita diarahkan  masuk disebelah kiri dari tempat aku masuk tadi. Dipintu masuk tersebut  disediakan plastik untuk menyimpan alas kaki. Aku langsung mengambil tempat untuk mulai salat Lailatul masjid dan dilanjut dengan duha. Karpet berwarna merah yang menutup lantai masjid begitu lembut menyapa telapak kaki pengunjungnya. Menurut kisah, karpet yang digunakan adalah karpet yang terbuat dari benang sutra yang  berasal dari tempat pemintalan sutera terbaik di turkey. Sementara  lampu-lampu minyak yang terbuat dari kristal merupakan produk impor, ikut mempercantik  ruang dalam masjid.  

Selesai salat, aku, Bu Niek dan Tante  Lies berkeliling  masjid yang dibangun antara tahun 1609 dan 1616 atas perintah Sultan Ahmed I.  Tetiba dipanggil  Bu Subagyo yang minta ditemani berfoto di dalam Masjid hehehe…….terima kasih  Bu Bagyo.  Akhirnya diberi nama Masjid Ahmed I, dan setelah wafat beliau di  dimakamkan di halaman masjid. Masjid ini terletak di kawasan tertua kota terbesar di turkey, yaitu   Istambul. Pada  jaman itu lokasi masjid merupakan pusat Konstantinopel, yaitu ibu kota Kekaisaran  Bizantium.  
 
Salah satu dindingnya 
Jaraknya juga tidak terlalu jauh dengan Istana Topkapı, tempat kediaman para Sultan Utsmaniyah.  Masjid ini  juga dekat dengan Situs Hippodrome dan hanya beda satu blok dengan Musium Hagia Sophia, atau tepatnya berhadapan dengan museum tersebut.   
 
Design dalam masjid dg nuansa biru
Lalu dari mana nama Masjid Biru itu di dapat?  Anda akan mendapatkan  jawabannya setelah   masuk ke dalam. Karena  seluruh interior dalam masjid ini, dihiasi  dengan 20.000 keping keramik berwarna biru. Keramik tersebut, bukan sembarang keramik tapi  keramik  yang diambil dari tempat kerajinan keramik terbaik di daerah Iznik. Yang merupakan daerah  penghasil  keramik nomor wahid dan terkenal di  Turky. 

Kubah masjidnya
Sedefhar Mehmet Aga merupakan arsitek andal yang  diberi mandat untuk membangun masjid ini.  Struktur dasar bangunan ini hampir berbentuk kubus, berukuran 53 X 51 meter.  Kiblat  Masjid Biru  diarahkan menghadap langsung ke Makkah, dengan mihrab yang terbuat dari marmer  yang dipahat dengan hiasan stalaktit dan panel incritive dobel di atasnya. Tembok disekitarnya dipenuhi dengan keramik. Masjid ini didesain, walau  dalam kondisi  penuh jamaah, semua makmum  dapat melihat dan mendengar Imam. 

Kalau kita menghadap ke depan, maka di dinding sebelah kanan terlihat beberapa arti ayat suci Al quran. Seperti Surat An Nur, Al Araaf, Ar Rad tapi aku kurang mengerti maksud gambar yang terdapat tulisan-tulisan arab tersebut. Karena didinding di depannya terdapat gambar seperti  roda.
Masjid Biru yang elok  ini, memiliki 6 menara dengan  diameter kubahnya sebesar 23,5 meter dan tinggi kubah 43 meter, dan kolom beton berdiameter 5 meter. Masjid ini adalah satu dari dua buah masjid di Turki yang mempunyai enam menara dan  yang satu lagi berada di Adana.
Mimbar & Mihrab Blue Mosque

Masjid ini menyimpan barang-barang dan hadiah berharga, seperti Al Quran bertuliskan tangan. Keramik yang menghiasi dindingnya  bermotifkan daun, tulip, mawar, anggur, bunga delima atau motif-motif geometris. Kita akan merasa sejuk berada di dalamnya, karena terdapat 260 jendela di dalam masjid ini. 

Menurut cerita masjid biru ini saat dibangun, Sultan Ahmed I  meminta dibuatkan 4 menara yang terbuat dari emas. Sayangnya sang arsitek,  salah dengar.  Karena  kata emas  dan  enam dalam bahasa Turki hanya  beda tipis.  Kata  “altin” yang berarti emas dalam bahasa turkey, didengar sang arsitek “alti” yang berarti  6.  Namun Alhamdulillah Sultan terpukau dengan enam menara yang unik tersebut.

Konon kabarnya 6 menara tersebut,    jumlahnya  sama dengan  menara  di  Masjidil Haram  Makkah saat itu. Hal tersebut  mengakibatkan Sultan Ahmed I mendapat kritikan tajam, sehingga untuk meredam kritikan tersebut  beliau menyumbangkan biaya untuk pembuatan menara ketujuh di Masjidil Haram.
                                                        
Berbagai  gaya Ebo-ebo di dalam Masjid Biru
                                        
Blue Mosque atau Masjid Biru, hingga saat ini  masih berfungsi sebagai tempat ibadah.  Hal tersebut sesuai dengan tujuan Sultan Ahmed I pada saat membangunnya,  dan dapat  menampung hingga 10 ribu Jemaah.

Puas berkeliling di ruang dalam masjid ini,  dan jeprat-jepret juga tak dilewatkan ebo-ebo untuk mengabadikan arsitektur unik  masjid  yang bernuansa biru. Waktu  yang diberikan  sudah berakhir,  kita harus  sudah  bergeser  ke tempat lainnya yaitu Hagia Sophia. Suara Qinan sudah memanggil untuk berkumpul kembali.

Pintu Depan Masjid Biru





Ada aturan bagi yang akan  berkunjung ke masjid biru, para wisatawan diminta  berpakaian sopan saat memasuki area  masjid. Bagi perempuan sebaiknya  menggunakan pakaian tertutup dan berkerudung, ada penjaga yang selalu  mengingatkan di depan pintu masuk. Bagi pengunjung  muslim  dapat  melakukan salat sunah, setelah masuk ke dalam masjid.  







HAGIA SOPHIA/ AYA SOFYA 
 
Aku  dg background Hagia Sophia
Setelah keluar dari Blue Mosque, kita masih sempat foto bersama ditangga  pintu masjid. Halaman depan masjid yang  teduh, setelah semua ebo-ebo  berkumpul kita mulai bergerak  menuju Hagia Sophia yang lokasinya  di depan Masjid Biru.  Dijalan  raya  disebelah kiri terdapat halte bus umum, seperti bus way kalau di Jakarta. Bus-bus besar bertulisan “Istambul” yang  wara-wiri menurunkan dan menaikan penumpang, tapi  aku ngga  tau berapa ongkos naik bus tersebut.  

Aku gabung dengan  ebo-ebo kembali dan   diberikan alat bantu dengar, tapi sayang alat tersebut ngga berfungsi dengan baik.  Tapi kita, tepatnya aku ngga tau untuk apa alat tersebut…hehehe

Saat mengantri untuk masuk di area  Hagia Sophia,  berbaur  dengan pengunjung lainnya.  Disebelah tempat aku  mengantri,  banyak pengunjung yang membeli tiket masuk melalui mesin, seperti  mesin ATM gitu. Aku sempet  ngintip  dilayar yang  ditampilkan,    harga tiketnya 35 lira per orang.  
 
Hasil jepretan sambil antri masuk, Hagia Sophia digunakan untuk Gereja selama 915 th & Masjid 482 tahun

Setelah masuk kita kumpul mendengarkan penjelasan Qinan,  persis di depan pintu masuk  Hagia Sophia. Di tempat  itu terdapat reruntuhan batu marmer yang menurut  Qinan, itu  bekas reruntuhan pagar dari  Hagia Sophia. Ada yang tau apa arti  Hagia Sophia?  ……  Baiklah, aku  kasih tau aja ya, arti dari Hagia Sophia adalah “Kebijaksanaan Suci”  yang merupakan landmark kota Istanbul selain Blue Mosque. 
Busway ala Turky

Walau Hagia Sophia  wujudnya terlihat seperti masjid, tetapi bangunan tersebut  justru pertama kali difungsikan sebagai bangunan katedral Ortodoks dan tempat kedudukan Patriark Ekumenis Konstantinopel. Bangunan megah yang didirikan  pada tahun 537 M ini,  sangat bersejarah bagi umat manusia  khususnya bagi umat Kristen dan Islam tersebut.  Pada  tanggal1 Februari 1935 oleh Republik Turki di tetapkan  sebagai museum,  dan dibuka  untuk umum  dengan jam operasional bagi pengunjung  pada  jam 9-19.00 malam (kata tulisan dipapan  pemberitahuan diatas   loket penjualan tiket…hehehe).



Briefing Qinan dipintu sebelum masuk ke Hagia Sophia

Struktur bangunan Hagia Sophia yang sekarang, merupakan hasil kerja dari arsitek bernama Isidoros dan Anthemios.  Kaisar  yang berkuasa saat itu meminta menggunakan  bahan-bahan terbaik, yang bisa ditemukan dari kota-kota sekitar untuk membangun hagia sophia. Beberapa pilar yang ada  diambil langsung dari Mesir dan kini memiliki 104 pilar. Bangunan ini digunakan sebagai gereja selama hampir seribu tahun, tepatnya 916 tahun. Pada tahun 1453 M, Konstantinopel ditaklukkan oleh Utsmani di bawah kepemimpinan Sultan Mehmed II, yang kemudian memerintahkan mengubah gereja utama Kristen Ortodoks menjadi masjid dan  digunakan sebagai masjid  selama 482 tahun.  

Saat digunakan sebagai masjid berbagai lambang Kristen seperti lonceng, gambar dan mosaik yang menggambarkan Yesus, Maria, orang-orang suci Kristen, dan para malaikat ditutup dengan plester dan dekorasi bertulisan ayat-ayat Al Quran. Berbagai atribut Keislaman seperti mihrab, mimbar dan  gentong air dari marmer untuk berwudhu. Disamping itu ada empat menara  dibangun  saat difungsikan sebagai masjid  yang mengelilingi  hagia Sophia,  semakin menambah kesan megah dari situs peninggalan di Kota Istanbul itu.    
Bagian dalam dg 2 lambang agama 

Konon katanya Hagia Sophia saat itu dihiasi dengan emas, bertahtakan permata pada dinding gerejanya, ratusan lukisan mozaik dan hasil karya seni lainnya menambah indah bangunan tersebut. Gereja  berlantai tiga  ini dibuat oleh Kaisar Justinian hanya dalam waktu 6 tahun,  tidak satupun bangunan yang dapat menyaingi luas dan tinggi kubahnya di abad 16 sampai Blue Mosque dibangun. 
Ebo-ebo dg latar belakang lambang 2 agama

Saat melangkah masuk ke Hagia Sophia, suatu simbol dua agama berdampingan terlihat jelas dari  pintu masuk. Karena dulunya sempat digunakan menjadi bangunan gereja ortodoks, Katolik, dan Islam, beberapa simbol dari masing-masing kepercayaan pun banyak bertebaran di dalam bangunan Hagia Sophia. Yang menarik  perhatian aku, di depan terpampang tulisan Allah SWT dan Muhammad SAW yang  mengapit gambar Bunda Maria tengah memangku Yesus.  Pemandangan itu menggoncang  kalbuku, betapa begitu  kental  dalam memakna toleransi beragama di masa itu.

Kubah dgn jendelanya & pintu masuk
Kekaguman  lain saat  melihat kubah raksasa yang menjadi atap dari bangunan, tampak benderang oleh cahaya matahari yang masuk melalui jendela yang mengelilingi dasar kubah. Ditambah dengan penerangan lampu gantung di tengah kubah, menambah ke kagumanku.  Aku berjalan kearah kiri dan terdapat sebuah gentong dari marmer yang berfungsi sebagai tempat wudhu. Keindahan arsitekturnya luar biasa, saat  aku ke sana   bangunan  ini sedang dalam perbaikan. 

Coba menengadah ke atas,  dilangit-langitnya terlihat lukisan dari potongan mozaik  yang merupakan ilustrasi gambar nabi Isa, Bunda Maria dan malaikat bersayap. Dari jutaan kepingan mozaik yang terbentuk berbagai gambar, dapat dibayangkan,  kesulitan dalam menyusun bentuk dan warnanya,  agar  menjadi gambar yang utuh.  Menurut aku ini adalah peninggalan sejarah yang sangat mengagumkan,  di masa itu  sudah menghasilkan karya yang sedemikian indah  dan bertahan selama ribuan tahun. 
Mengabadikan diri di depan lambang 2 agama

Sayang  aku tidak sampai naik ke lantai  dua, menurut cerita  disana terdapat  sebuah galeri yang menyimpan  banyak foto,  gambar  dan   lukisan simbol-simbol agama Kristen. Ada juga lukisan Kaisar Constantine dan istrinya yang mengapit Bunda Maria.

Setelah puas mengexplor bagunan unik Hagia Sophia, kita  dapat melepas lelah  sambil   mengisi perut atau sekedar melepas dahaga di  café-café   yang terletak  diluar bangunan megah ini.  Di situ terdapat  juga toko souvenir yang kita butuhkan.  

Ebo-ebo tau ngga sih, kalau  di belakang Hagia Sophia terdapat bangunan makam atau mausoleum? Rasanya Qinan ngga menginformasikan hal itu ya, atau  aku yang ngga dengar. Jadi menurut informasi di belakang  bangunan Hagia Sophia merupakan   makam para Sultan beserta keluarganya, misal Sultan Murad III, Sultan Mehmet III, Sultan Selim  dan lainnya. 
Gentong marmer yg digunakan untuk wudhu

Museum  unik ini, mungkin hanya satu-satunya di dunia kita dapat  melihat lambang dua agama dipajang sejajar. Pada tahun 2014, Hagia Sophia atau Aya Sophia  merupakan  museum kedua di Turki yang paling banyak dikunjungi. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kementerian Budaya dan Pariwisata Turki,  museum ini  dikunjungi oleh  3,3 juta  pelancong  per tahunnya. Ckckckck….

Museum Hagia Sophia  pada tahun 1985, ditetapkan sebagai World Heritage Site  oleh UNESCO karena  peradaban sejarahnya, keunikan arsiteturnya  dan situs ini telah berusia ribuan tahun. 

Jadi saran aku,  kalau Anda ke Turki  jangan pernah melewatkan untuk berkunjung  ke Museum Hagia Sophia, Blue Mosque dan Museum Topkapi yang menyimpan barang-barang peninggal para Nabi.  Lokasinya tidak terlalu jauh dan destinasi wisata tersebut berdekatan.
Menunggu jemputan di depan resto Korea

Time for lunch, dan katanya kita akan makan di resto korea yang lokasinya tidak jauh dari Hagia Sophia.  Kita cukup berjalan kaki, sambil cuci mata  took-toko souvenir yang berjajar disepanjang perjalanan kita menuju resto. Tapi tau ngga? Ternyata itu resto, lokasinya lumayan jauh dan ada ebo-ebo yang mulai mengeluh karena jauh. Maklum perut udah  kroncongan minta diisi…..hahahaha….

Terbayarlah jalan kaki ke resto ini, karena menunya cukup familiar dengan lidah kita.  Selesai makan, sambil menunggu bus yang menjemput  ada yang sibuk berfoto ria. Ada juga yang borong souvenir di toko seberang.

Petualangan ngebolang hari ini akan ditutup dengan perjalanan panjang menuju Canakkale.

 Aku & biduan dadakan dr Poso




Untuk mengisi waktu ya tidur lah, tapi kok sayang karena pemandangan sepajang jalan begitu sayang buat dilewatkan. Untuk mengisi waktu, lahirlah penyanyi-penyanyi dadakan yang lumayan sih.  Apalagi  Ebo Ella & Ebo Intan mengontrak khusus penyanyi dari Poso, dengan lagu favoritnya….apa ya? 

 "Pak Kapten minta dowit jo ngana"  ..hahaha.









Evelyn bergerak, maka mulut terus bagoyang






Ternyata bukan hanya menyanyi  badanpun ikut bagoyang, begitu juga dengan mulut….mengunyah tanpa henti karena makanan tak berhenti beredar. Evelyn  rajin menservice penumpang yang tak bosan menggoyang mulut...hihihi...
Terima kasih Evelyn.

Kita masuk ke provinsi Canakkale sudah menjelang malam dan langsung menuju Hotel Iris, yang lokasinya dilingkungan perumahan atau vila-vila gitu.  Makan malam di hotel dan lanjut istirahat.
Lingkungan hotel tersebut begitu tenang, layaknya sebuah komplek perumahan. Cocok buar istirahat & yang mengejutkan, ada beberapa anjing liar yang berkeliaran tapi ngga mengganggu, Bahkan jinak, jadi seneng deh lihatnya.


Nantikan kisah petualangan di hari ke tiga, menuju Ancient City of Troy dan Pergamon Acropolis.

Selasa, 10 Desember 2019

Disclosure





Blog pribadi ini milik saya, Srie Ningsih yang merupakan tempat  menceritakan pengalaman mendidik anak, berbagi kebahagiaan bersama teman-teman masa lalu dan masa kini, ngebolang ke obyek wisata dalam dan luar negeri.  Juga  kejadian sehari-hari bersama keluarga, kuliner untuk keluarga, memory perjalanan ibadah, hasil liputan, review dan kejadian lucu di rumah. In shaa Allah semua tulisan dapat dipertanggungjawabkan dan  berharap semua tulisan tersebut dapat bermanfaat bagi pembaca.

Saya menjauhi tulisan yang berbau SARA dan ponografi. Saya  terbuka untuk bekerjasama dalam mereview produk/jasa, resensi buku, Content Writing, artikel dan semua postingan tidak semuanya berbayar.  Saya dapat dihubungi untuk bekerjasama di ningsih811148@gmail.com atau mom_edtwo@yahoo.com


Minggu, 24 November 2019

AKHIRNYA AKU NGEBOLANG KE TURKY 1





TOPKAPI PALACE, ISTIKLAL STREET,  BOSPHORUSCRUISE & TAKSIM SQUARE

Di dalam Istana Topkapi

Merhaba………halloo…bahasa indonesianya.

Pada bulan februari 2018, aku menulis di blog dengan judul “Kapan ya Bisa Ngebolang  ke Turky?  Tulisan itu setelah  menyambangin Dubai dan alhamdulillah doa tersebut   terkabul,  aku baru kembali dari  Turky  dan mengexplor tempat-tempat eksotis perdaban dunia di sana. Cekidot linknya:

shttps://ningsihali.blogspot.com/2018/02/kapan-ya-bisa-ngebolang-ke-turki.html://


Bukan untuk persiapan ke turky aku belajar bahasanya.  Ikutan aja saat ditawarin  dikomunitas  nulis, belajar  via online dari Mba Nina Kirana  yang memang menetap di Turki. Sayang kemarin ngga bisa ketemuan. Tapi ternyata aku bukan murid yang baik, karena sering bolos dan hasilnya nol..hihihi….

 Ngitung aja hanya ingat:  bir, iki dan uech aja, lainnya lupaaa. Daaan yang paling apal ya “Merhaba & Gun ay  dan”  apalagi belajarnya udah 2 tahun yang lalu (alesan ngeles)....hahahaha.


Taman di dalam Istana Topkapi
Kali ini  trip  ke negara Om Erdogan bersama Ebo-ebo  syantik  en rempong. Lemari-lemari kecil,  eeet …..salah koper besar aneka warna  berderet  siap masuk bagasi. Apa yang terjadi kalau hampir 30 Ebo- ebo pulkumpul?  Hebuoh dan makanan yang dibawa  udah beredar, mulai dari telor pindang, permen dll. Itu masih di bandara Soetta loh!.

Siap berangkat

Setelah itu ada yang ribut  lapaaaar, termasuk akuh, hahaha…..maklum udah jam 8 malam.
Seketika terciumlah bau mie goreng GM, Sate ayam khas Senayan dan banyak lagi  sebelum  masuk  boarding gate. Bahkan ada tart ulang tahunnya Ebo Ella, yang bertambah usianya dihari tersebut. Jadi nanti dipesawat tinggal tidur, maklum udah larut  malam take offnya (boardingnya agak telat, otomatis take off ikut telat).

Bosannya jadi pax

Kebayang  ngga sih  jadi penumpang dalam  perjalanan selama 12 jam di perut  pesawat?  

Benar-benar melelahkan dan boring abiiiz.  Aku lebih milih tugas terbang  dari pada jadi penumpang, untuk penerbangan jarak jauh begini  hehehe. Judulnya bosen!!... Tidur udah, nonton udah, baca udah dan main game juga udah,   tapi  membuang  rasa bosan  itu ternyata ngga gampang.  Rasanya  pengen deh gantiin tuh teman sejawat,   disuruh  di pantry manasin makanan, atau prepare  trolly atau debarase aja  juga mau deh (alesan aja, maklum tetiba  disergap rasa kangen terbang) hehehe……

Jam enam kurang lima menit  pagi local time,  main gears  pesawat udah touch down. Rada kasar sih landingnya, mungkin karena angin yang cukup kencang.   Dan kita disapa angin dingin yang mengigit kulit,  saat  keluar dari pesawat.   Jadi rapatkan jaket dan cepat naik ke bus, untuk menuju  terminal  maklum ga pakai garbarata.

Sampe kita di Istambul

Dua belas jam perjalanan yang melelahkan, sirna begitu melihat dunia belahan lain. Kita  akan menunggu bagasi di  jalur 25, begitu pemberitahuan dari  si cantik Evelyn. Lumayan jauh & Ebo-ebo sudah antri di toilet sambil  menunggu bagasi keluar.  Sambil memanfaatkan waktu,  camera hp mulai beraksi . Pendek kata ga keabisan gaya bagi ebo-ebo untuk memanfaatkan moment!.  “Di sini Mba, yang ada tulisannya Turky,” pinta ebo cantik sambil menyodorkan hpnya.  “Sekarang di sini, background tulisan Istambul.” Begitu pula dengan ebo-ebo yang lain, seneng aja liat ebo-ebo begaya….seru lah!.

Gais….di mari troly itu ga gratis loh!. Jadi harus memasukan koin 1 lira ke mesin, maka lampu diujung rel troly akan menyala. Itu lah saatnya Anda bisa mengambil troly dan lampu akan mati setelah troly keluar. Melihat bagasi yang dibawa, tentu aja ada yang butuh troly. Namun sayangnya kita ngga diinfo harus menyediakan koin untuk bisa menggunakan troly. Masalahnya  ngga ada yang punya koin. Boro-boro pegang  koin, bekal di dompet  rata-rata pecahan 100 lira atau dollar. Cieilaaah….banyak yak sangunya? Hahaha…..

Terdengar deh suara gremengan kesal, karena ga terinfo ketentuan menggunakan troly. Padahal bagasinya besar dan berat pastinya. Tau kan kalau di luar negeri,  ga ada porter yang bisa dimintain tolong seperti  di tanah air.  Hehehehe…..  Santai gais….banyak tenaga sukarelawan siap bantu!. 

 Nunggu bagasi di terminal
Akhirnya urusan bagasi beres dan siap nunggu bus jemputan. Naaah…..kita diminta mengikuti Evelyn,  mengekorlah semua dibelakang sambil terseok-seok membawa bagasi. Tetiba Pak Andre  bilang “kita harus balik lagi menuju pintu keluar. Pintu keluarnya disebelah sana,”  sambil menunjuk pintu keluar yang lokasinya ngga jauh dari tempat pengambilan bagasi.  

“What, Jadi tadi  mau kemana?  Yaa..wis balik badan dengan kuciwa, dan tau dunk suara tawon koor mulai kedengeran..hihihi…

Alhamdulilah akhirnya kita sudah duduk maniz di bus yang menjemput dan berkenalan dengan Qinan, tour guide setempat yang  lumayan fasih berbahasa Indonesia. Katanya belajar Bahasa Indonesia selama tiga bulan di yogya, lumayan  bagus sih walau kadang susunan katanya kebalik-balik. Terciptalah kata “Ebo-ebo” yang diucapkannya  kala menyapa kita, yang sebenarnya ibu-ibu….hehehe. Ada pula kata-kata gaul  yang dikuasainya,  kita ketawa mendengarnya.  “Cap cus ebo-ebo”  yang diucapkan dengan dialek yang lucu.

Yg sudah bersama lemarinya...ups...bagasinya..hihi
Meluncur dari  bandara menuju obyek wisata pertama yang akan kita kunjungi adalah “Topkapi Palace” yang lokasinya tidak terlalu jauh dari bandara  istambul.  Tempat  ini merupakan istana tertua di dunia, yang  didirikan  di atas reruntuhan kuno para kaisar Bizantinum. Istana yang  masih berdiri kokoh ini, memiliki pemandangan yang sangat indah. Dari istana ini terlihat keindahan Tanjung Golden Horn, Selat Bosphorus, dan Laut Marmara dengan kapal-kapalnya.




Istana Topkapi
Halaman depan Topkapi Palace, dg dinding 5 km

Istana Topkapi  dibangun sekitar tahun 1465M atas perintah Sultan Mehmet II. Pada tahun 1953 Sultan Mehmet II, yang merupakan Sultan Kekaisaran Ustmaniyah/ Ottoman berhasil menjatuhkan Kekaisaran Bizantinum. Dalam Bahasa Turky disebut Topkapi Sarayi artinya   Cannongate Palace atau Istana dengan pintu gerbang berhias meriam. Karena di depan gerbang istana di tampilkan meriam-meriam yang digunakan untuk merebut kota Istanbul yang dulu dikenal sebagai Konstatinopel.

Istana Topkapi
Istana dengan  luas  700.000 M2  ini, dikelilingi  tembok sepanjang 5 km. ini dulunya  merupakan pusat administrasi Kekaisaran Ustmaniyah. Istana yang sangat besar dan mewah tersebut merupakan  kediaman Sultan beserta keluarga  dan para pelayan setianya.  Istana Topkapi mempunyai  banyak bangunan kuno   dengan berbagai hiasan unik di dalamnya.  
 
Bangunan di depan Istopkapi & pintu masuk istana
Kenapa Istana Topkapi banyak dikunjungi? 

Karena di istana ini  yang kini  dijadikan museum, banyak menyimpan  peninggalan langka dan bersejarah dari para Nabi, terutama  Nabi Muhammad SAW.  Bagi  umat Muslim, tempat ini tentu menjadi salah satu  yang memiliki  makna  besar   dan wajib  dikunjungi  kalau  berkunjung ke  Turky. 

Sebelum masuk ke dalam  istana ini, di halaman  depan gerbang itu terdapat sebuah bangunan seperti rumah kecil yang bernama Fountain of Sultan Ahmed III dan di sana berkeliaran anjing liar yang jinak. Saat itu ada tiga anjing tiduran di depan rumah kecil tersebut, seperti dia penjaganya. 

Bangunan istana yang dikeliling tembok tinggi  masih terlihat kokoh itu,  mulai kita  masuk ke sebuah pintu gerbang yang bernama Bab i-Humayun. Setelah masuk  agak ke dalam  tampak   taman asri yang luas dengan hamparan  rumput yang menghijau, juga jajaran kursi-kursi taman.  

Taman tersebut menjadi sasaran  para ebo-ebo  dan aku untuk berswafoto. Viewnya memang indah dan menajubkan. Puas menikmati taman tersebut, kita masuk ke pintu  gerbang berikutnya  yang merupakan gerbang utama istana, bernama Bab as-Salam. Kita harus melalui x-ray.  Harga tiketnya katanya 25 Lira, more less Rp. 75.000 an (1 Lira: Rp. 3000). 
 
Taman di dalam dengan bunga yang aneh bentknya

Disebelah kiri ada bangunan  yang  cukup padat pengunjung dan  aku mencoba  masuk.  Ternyata  bangunan tersebut  adalah Musium tempat  menyimpan  barang-barang para Nabi dan sahabatnya yang dikenal  dengan nama “Sacred Relics atau Holy Relics.” 
 
Ruang Holy Secret
Ruang Musium tersebut,  dulunya merupakan  ruang pribadi sultan. Aku mulai terdiam  melihat & membaca papan keterangan  kecil disamping barang-barang tersebut. Bayangkan bisa melihat  pedang, tapak kaki Nabiallah, juga tongkat Nabi Musa. Mata mulai berembun, betapa aku beruntung dapat melihat langsung benda-benda tersebut. Sumpah, ngga percaya! Tapi kini aku berdiri didepan barang-barang tersebut, Masya Allah.

Aku fokus mengamati satu-persatu dan mengabadikannya.  Di ruangan ini untuk  pertama kalinya aku melihat tongkat Nabi Musa, yang digunakan untuk membelah laut. 
 


Pedang Nabi Daud, pedang Umar bin Khattab, pedang Ali bin Abi Thalib, pedang Utsman bin Affan dan pedang Hussain yang merupakan cucu Rasulullah beserta benda lainnya. Terima kasih tak terhingga buat Bu Devi tercinta,  telah membawa aku sampai  ke tempat ini.

Pedang Rasulullah
Aku pindah ke ruang sebelah terdapat  Jejak Telapak Kaki,  sehelai rambut dan jenggot, selembar surat,   Nabi Muhammad  SAW dan tempat minum serta lainnya yang pernah digunakan Nabi Ibrahim, sorban Nabi Yusuf yang di simpan dalam  etalase kaca. Juga sebuah Hajar Aswad  yang  pengikatnya sudah rusak. Di ruang ini aku di tegur petugas, karena dilarang memotret.  Aku minta maaf karena ngga memperhatikan kalau ada  larangan untuk  mengambil foto.  

Tongkat Nabi Musa

Aku bergeser  lagi ke ruang lainnya  yang merupakan ruang terakhir di Musium ini.  Di ruang ini terpampang etalase dinding  baju Fatimah putri Rasullullah dan baju Hussain cucu Rasullullah,  serta Al Quran. Diantara ruang kedua dan ketiga, di situlah orang/ Qori yang dari tadi suara merdunya terdengan melantunkan ayat-ayat suci Al Quran secara live.

 Pertanyaannya, kenapa barang-barang langka tersebut   bisa  ada di Istana Topkapi? 

Di era tersebut, para sultan Ottoman yang merupakan  Khalifah Islam  abad ke-16 memiliki tugas untuk memelihara dan memperbaiki Ka'bah di Mekkah.   Banyak  benda-benda berharga yang harus diganti dari waktu ke waktu, dan benda yang lama dibawa ke Istana Topkapi.  Benda-benda langka tersebut  menjadi koleksi peninggalan suci dan bisa aku nikmati  tadi.  Rasanya saat  di dalam museum tadi, aku dapat membayangkan seperti apa sosok Nabi Akhir Jaman tersebut. Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad, waala ali Muhammad.

Tapak kaki Nabi Muhammad
Aku memang tidak memasuki setiap bangunan dilingkungan istana tersebut, mungkin tidak termasuk dalam paket tour ini. Soalnya  hanya mendengar cerita  dari Qinan, tapi  ngga kita kunjungi. Seperti Istana Harem atau keputren, yang menurut cerita Qinan adalah tempat tinggal para selir. Lokasi istana ini jaraknya hanya beberapa meter dari Musium Benda-benda para Nabi, atau  ruang Sacred Relics. 

Sebuah bangunan yang lumayan ramai dengan antrian pengunjung yang panjang, ternyata bangunan itu adalah istana Harem atau  Keputren kalau di Jawa. Menurut info untuk masuk ke Istana Harem, kita harus membeli karcis lagi.   

Menurut  Qinan di tengah-tengah  istana harem  terdapat sebuah taman yang teduh dengan pepohonan yang rindang. Istana ini letaknya berseberangan dengan bangunan dapur, tapi kenapa dekat dengan dapur ya?. Mungkin biar ada alasan kalau mau ketemu selir, bilangnya mau minum dan mengambil ke dapur. Hahaha….. 


Tapak kaki & surat Rasulullah, Pedang Ali, sorban Nabi Yusuf, Hajar Aswad & Al quran Fatimah
Istana Harem

Istana Topkapi ini  dikelilingi dengan pemandangan yang indah, apalagi  kalau berjalan sekitar 10 meter dari balkon paviliun terdapat sebuah bangunan istana kecil dengan interior full keramik.  Dari tempat ini   pemandangan selat Bosphorus yang membelah benua Asia dan Eropa dengan kapal-kapal yang hilir mudik, Galata Bridge, Galata Tower dengan bangunan di sekitarnya, dan masjid Sulaymaniye terlihat cukup jelas. 

Pak Andre dan Qinan sudah ngasih aba-aba untuk kumpul dan menuju ke bus, untuk lanjut ke obyek berikutnya. Yeeeh….kita jelong-jelong ke Istiklal  Street.

Istiklal  Street atau Istiklal Caddesi  
 
Shopping time at Istiklal Street
Perjalanan dari Istana Topkapi ke Istiklal Street hanya membutuhkan waktu kurang dari tiga puluh menit. Kita turun dari bus dan mulai menyusuri jalan istiklal, yang memang dikhususkan untuk pejalan kaki. Sepanjang jalan ini, dikiri dan kanan jalan berjajar pertokoan berupa butik, toko buku,  kafe, bar, restoran, pub, kedai kopi, patisseries.  Menurut cerita  samping  itu juga terdapat  bioskop bersejarah,   gereja  St Antoine dan  Santa Maria. Juga   gedung konsulat dan galeri seni inovatif. Trem kota yang berlalu lalang, menambah semaraknya  suasana di daerah  tersebut.

Time for shopping ebo-ebo!!!....Melihat pasmina  yang dipanjang berjajar dengan aneka motif, bikin ebo-ebo mana tahaaan. Pilih-pilih…cocok dengan corak dan harga, barangpun berpindah  tangan.  Mba Hana ngeborong baju model batman,ups….salah deh. Baju hangat dari rajutan, yang langsung digunakan. Kereen pokoknya Mba Hana. “Bu Poppy ngeborong apa, sepatu kah?” Tadi ngeliat Bu Poppy menyelinap ke toko sepatu…hehehe.

“Mpok Menik beli apa lagi tuh!  Hayoo....sisain yang lain belanjanya  ya, hehehe…..

B'gaya dulu sebelum  mborong
Katanya  kalau mau melihat kehidupan sehari-hari  masyarakat di Istanbul,  datanglah ke istiklal street.  Tapi hati-hati tas ya kalau di sana,  dompet bisa berpindah tangan.  Pak Andre nyaris jadi korban, pelakunya ngga seperti  copet di indonesia.  Keren gitu  tampilannya, sampai kita ngga ngenalin kalau itu copet. Menurut  cerita  rakyat Om Erdogan,  mengklaim kalau  di İstiklal Caddesi atau Istiklal Street   setiap harinya ada sekitar 3 juta orang yang berlalu-lalang di sana. Istiklal Street ini kalau di indonesia, tempat nongkrong tapi untuk semua umur.

Aku sih ngga terlalu jauh menyusuri jalan istiklal tersebut, tapi menurut Qinan jalanan panjang ini memiliki banyak gang dengan dekorasi yang cantik dan unik, bagus untuk  berswafoto.  Atau  bisa  berfoto dengan  background   trem kuno yang  menarik. Aku pernah naik trem seperti itu di solo, waktu jaman Jokowi wali kotanya. 
Wajah yg abis borong



Yg happy di Istiklal Street
Nongki dan ngupi-ngupi

Taksim Square
 
Suasana sore di Taksim Square

Penjual bunga disepanjang taksim square

Taksim Square merupakan  kawasan kehidupan malam, belanja, dan makan malam yang sibuk di istambul. Seperti  Istiklal Street, Anda dapat  menikmati makan malam di restoran yang terletak di puncak gedung dengan pemandangan Selat Bosphorus. 







Selat Bosphorus
 
Selat Bosphorus dg jembatan yg menghubungkan Benua Asia & Eropa

Setelah berkenalan  dengan  hidangan  negara Om  Erdogan,  kalau kata Ebo Ella hanya berupa 3T (terong ungu, timun dan tomat) dan sedikit nasi + lauk sebagai makanan utama,  cukup lah untuk  mengisi perut.  Kini saatnya kita kita jalan ke eropah, hahaha….. Coba bayangin aja menjelajah benua asia dan eropa hanya dalam satu waktu perjalanan. Cuma satu setengah jam aja! Kok bisa?

Itu lah hebat dan uniknya, karena rakyat Om Erdogan ini tinggal di dua benua. Dengan jumlah penduduk sebanyak 81 juta jiwa, 70% masyarakatnya  tinggal  di Benua Asia.  Sementara 30% lagi berlokasi di Benua Eropa, kedua benua tersebut dipisahkan oleh Selat Bosphorus. Selat tersebut menghubungkan antara Laut Marmara dan Laut Hitam, juga menjadi selat tersibuk dalam melayani kapal-kapal yang hendak menuju ke laut hitam.  Kapal-kapal yang akan ke laut hitam harus melalui selat tersebut dan tentu harus mengurus adminstrasinya. Coba berapa pemasukan Turky dari ijin untuk melintas selat tersebut (begitu kata Pak Andre..hihihi..). 

Diatas Bosphorus Cruise
Sejak zaman kejayaan Yunani sebelum era Byzantium dan Usmani,  Selat Bosphorus  Tukri telah menjadi pusat rempah-rempah yang ramai. Selat yang memiliki panjang 30 km, dengan lebar maksimum 3.700 meter pada bagian utara, dan minimum 750 meter antara Anadoluhisarı dan Rumelihisarı, merupakan  saksi Al-Fatih saat menaklukkan Konstantinopel. Selat ini juga menjadi urat nadi pelayaran bagi kapal-kapal yang akan menuju ke laut hitam (copas dari Qinan…hahaha).

Jadi kita mau diajak Qinan, Pak Andre dan Evelyn  ke   dermaga Eminonu untuk naik Bosphorus Cruise,  untuk menyusuri selat ini melihat daratan Turki dibenua Eropa dan dibenua Asia.  Kapal yang kita gunakan lumayan besar, terdiri dari dua lantai. Lantai bawah terdapat jajaran kursi penumpang dan resto, sementara lantai atas lebih terbuka sehingga kita  dapat bebas melemparkan pandangan menikmati indahnya panorama. 

Di sisi kiri dan kanan kapal para penumpang dapat menyaksikan beragam landmark dan bangunan berarsitektur khas eropa, asia, bahkan mediterania. Pemandangan mengagumkan seperti ini akan terus bermunculan mulai dari sisi utara bosphorus maupun di bagian sebelah selatannya. Bosphorus merupakan selat tersibuk, 

Diatas Bosphorus Cruise dg pemandangan yg luar biasa
Kesempatan baik ini, dengan view yang ruar biyasah keren tentu ngga akan disia-siakan untuk berfoto ria dalam berbagai gaya.  Sementara yang dilantai bawah, menghangatkan badan dengan berline dance. Perjalanan selama  satu setengah jam tak membuat bosan, karena   indah  pemandangan yang dilalui. 

Ada dua jembatan yang melintas di Selat Bosphorus, yang pertama   memiliki panjang 1.074 meter dan diselesaikan pada 1973.  Jembatan Fatih Sultan Mehmet dengan panjang 1.090 meter, merupakan jembatan ke dua yang  pembangunannya  selesai pada tahun 1988. Jembatan kedua ini terletak  sekitar 5 km disebelah utara jembatan pertama.

Satu setengah jam sudah berlalu,  awak kapal sudah melempar sauh dan kapal merapat di dermaga. Artinya petualangan  di selat bosphorus berakhir, badan  sudah minta istirahat untuk  menghimpun tenaga buat petualangan besok.

Marriott Courtyard hotel Istambul
Itulah perjalanan terakhir untuk hari pertama, kini saatnya check in di Hotel Marriot Courtyard Istambul. Sebelum masuk kamar, kita makan malam dulu dan bertemu kembali dengan menu 3T.
Tunggu lanjutan ngebolang ke “Blue Mosque, Hagia Sophia dan perjalanan menuju Canakkale” dihari kedua.