Berpuluh tahun kami sekeluarga belum pernah dirawat di rumah sakit, kecuali aku yang empat
kali hamil dan harus masuk rumah sakit karena melahirkan. Walaupun harus
melalui operasi ceasar tapi alhamdulillah tidak karena sakit serius.
Semoga tidak sampai ada yang dirawat karena sakit serius. Namun tidak kali
ini, akhir februari Jurgan merasa
sesak napas disertai nyeri di dada & memutuskan untuk ke
dokter.
Dari sanalah berawal, Juragan diminta untuk periksa ke dokter jantung dan
diindikasi ada penyumbatan di jantung.
Bahkan juga didiagnosa ada
pembekakan di jantung & diberi obat untuk waktu satu minggu. Saat kembali
control membuat aku kaget, karena harus dilakukan tindakan pemasangan
ring di tempat yang tersumbat. Kami minta dirujuk ke rumah sakit besar yang
dipilih dan disetujui.
Saat ke rumah sakit yang dirujuk
dan dilakukan pemeriksaan, langsung ditentukan tanggal untuk dilakukan
tindakan. Berita ini membuat aku bagai
disambar petir, gelegarnya menggetarkan hatiku. Juragan terlihat shock dan lebih banyak terdiam. “Sakit ga ya Ma?”
“Biasa aja, kan hanya dilakukan dari nadi ditangan,” jawabku
menenangkannya. Aku mencari tau apa yang
dimaksud dengan “tindakan” tersebut. Alhamdulillah ternyata benar, pemasangan
ring dilakukan seperti pasang infus yang disebut dengan “Angiography”. Aku jadi
agak tenang, maklum Juragan takut dengan jarum.
Angiography adalah pemeriksaan pembuluh darah menggunakan
zat kontras khusus dan memanfaatkan rontgen.
Waktu yang ditentukanpun tiba,
Juragan harus mulai rawat inap dan mulai rewel saat akan dipasang infus. Kerewelan yang membuat aku senyum-senyum,
kadang lucu dan membuat perawat menggodanya.
Termasuk si kakak yang paling suka gangguin papanya…hehehe
Sejak jam tiga pagi Juragan diberi makan terakhir sebelum puasa
dan persiapan lainnya. Lagi-lagi Juragan protes karena perawat mau memeriksa
daerah pribadinya..hahaha….
Jam tujuh pagi Juragan sudah diawa ke ruang
tindakan, karena pelaksanaan akan dilakukan jam 8. Baju ruang tindakan sudah
digunakan & Juragan makin mengunci mulutnya, karena tegang. Saat tidakan pun tiba, aku diminta masuk oleh
dokter untuk menyaksikan tindakannya. Ketegangan Juragan membuat tindakan
melalui pergelangan tangan tidak dapat dilakukan dan akhirnya dibatalkan.
Tindakan dilakukan dari lipatan paha dan setiap erangan kesakitan Juragan,
mataku berembun.
Pada saat terjadi hal sesuatu, sampai 5 orang perawat
semua masuk diruang tindakan dan membuat air mataku mengalir. Anakku panic, melihat dokter yang tadi
melakukan sambil menerangkan. Kini semua serius dan tidak ada lagi canda untuk
mengganggu juragan agar tidak tegang.
“Papa, Ma!” ucap anakku sambal memalingkan muka dari monitor didepannya. Kami semua terdiam,
ketegangan menguasai ruangan tersebut. Ternyata jantungnya membengkak, sehingga
alat yang digunakan tidak dapat mencapai titik penyumbatan. Alat ini sudah
termasuk yang paling besar, tapi kurang
besar lagi dan ringpun terlalu kecil diukuran normal. Akhirnya tindakan gagal
dan dijadwal ulang dua minggu berikutnya, sambil menyiapkan alat yang
dibutuhkan.
![]() |
Hasil kontrol terakhir |
“Yaaa…..Rabb, kupasrahkan semua
ini dengan kehendakmu. Sembuhkan suami hamba.” Doaku dalam hati. Ada lagi yang membuat aku terkejut, ternyata
hasil lab kondisi ginjalnya sudah sangat menurun. Semua ini membuat dadaku
bagai digodam dengan sangat keras, yang membuat
aku sesak napas. Selama ini kami sehat-sehat saja, tapi kenyataan ini ga
bisa aku pungkiri.
Pada control terakhir setelah
pulang dari rawat inap, hasil malah kurang baik. Ada kebocoran pada klep
jantungnya, begitu kata dokter sambil memperlihatkan foto hasil
pemeriksaan. Rasanya tubuhku tanpa tulang, mendadak lemas. Seorang perawat
memberi segelas air & samar aku mendengar penjelasan dokter apa yang terjadi dan apa saja yang akan
dilakukan.
Inilah hari-hari yang begitu berat,
perasaanku tidak karuan. Inilah kado dari Allah di hari jadiku. Kebahagian dan
kesedihan, bak dua sisi mata uang. Semoga aku dapat melalui ini dengan baik dan
Juragan dapat sembuh seperti semula Aaamiin yra.